Rabu, 13 November 2013

Mie Instan, Dicaci Tapi Dicari

Ketika jauh dari tanah air, Indomie salah satu yang dikangeni :)

Pulang ngaji sehabis Isya di masjid dekat rumah, Aa Youri langsung masuk ke dapur.

"Makan pakai apa Ma?"

"Itu udah mama gorengin ayam. Ada tahu juga." Cuma dua macem itu yang kumasak dengan sisa energi sepulang bekerja dan menempuh perjalanan macet melelahkan.

"Pengin makan yang berkuah Ma, Aa bikin Ind*mie aja ya? Aa makannya pakai nasi deh.."

"Jangan lah A.. Gak sehat. Mending beli capcay aja sana. Tuh lagi berhenti di depan rumah Pak Tomy."

"Gak mau ah.. Gak enak. Eh tapi Aa mau kalau mie. Aa beli mie goreng aja ya?"

"Ya udah deh sana... Jangan lupa bilang gak pakai pecin (maksudnya vetsin alias MSG :)) yaa..."

Dan gak lama kemudian pesanan Aa pun datang. Sepiring mie goreng hangat dengan aroma yang sangat menggoda, lengkap dengan acar timun, taburan bawang goreng, dan kerupuk. Eh tapi.. tapi... di balik kerupuk ituu... mie dan kawan-kawan pelengkapnya (baso, sosis, pokcay, kol, ayam) kenapa berwarna merah menyala gitu? Hadeuh.... saosnyaa...

Ini sih namanya lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Ehhh, pas gak nih pemakaian peribahasanya? Maksudnya gini, menghindari mie instan yang -katanya- gak sehat eh malah dapet mie yang sangat boleh diragukan kesehatan dan kelayakmakanannya. 

Gini nih akibat terprofokasi media. Takuuut banget makan mie instan (ya gak takut-takut amat sih, tapi minimal makan  mie instan sambil sedikit merasa bersalah. :)) tapi hantem aja makan / jajan masakan pinggir jalan, makanan kaki lima, yang gak ada jaminan kebersihan maupun kesehatannya, dengan tanpa rasa bersalah, atau dengan rasa bersalah di bawah rasa bersalahnya makan mie instan.

Coba lihat mie gorengnya si Aa ini. Mie yang dipakai merk apa, gak tau. Teregristrasi BPOM RI atau gak, ada ijin Menkes atau gak, dan ada label halal MUI atau gak, gak tau. Bisa jadi mienya mengandung bahan pengawet, pewarna, dan bahan lain yang tidak layak konsumsi. Belum lagi basonya, sosisnya. Mengandung borax atau formalin gak tuh? Saosnya? Hii... warnanya aja merah menyala gitu. Pengawet, pasti. Pewarna non makanan? Iyaa... sering lihat berita tentang itu.

Tapi... kok ya sering ya aku beli mie, kwetiauw, atau capcay (ngerasa beli 'makanan sehat' kalau beli capcay) di abang-abang yang lewat atau yang mangkal di pinggir jalan ya? Hadeuuh...

Kayanya mending bikin Ind*mie deeh... lebih murah, lebih enak, praktis, dan bisa 'dimodifikasi' menjadi sedikit lebih menyehatkan dengan penambahan telur, pokcay, dan tomat.

Eh tapi kan mie instan itu pencetus kanker? 
Kata siapa?
Kata BBM yang beredar... kata email yang diforward entah berapa ribu kali... kata ibu-ibu di grup.... kata... kata siapa ya?
Nah....
Bisa dipertanggungjawabkan gak tuh beritanya?

Banyaaaak banget berita beredar di jaman media sosial ini. Kita jadi mudah mendapatkan informasi. Tapi sayangnya tidak semua informasi itu benar dan dapat dipercaya.
 Tentang mie instan yang bumbunya gak boleh direbus, tentang tahu yang berbahaya bila dimakan bareng sama bayem, tentang timun yang gak boleh ini itu, tentang ancaman kalau tidak memforward pesan ini, tentang fatwa-fatwa dan hukum agama yang seolah-olah benar padahal gak jelas sumbernya, dll dsb.

Nah, tentang mie instan ini, karena penasaran kenapa begitu banyak yang 'benci' (tapi diam-diam rindu) beberapa bulan yang lalu aku cari-cari informasi. Seberapa berbahayanya sih?

Dan akhirnya kutemukan sebuah blog keren milik ibu Zullies Ikawati, seorang Profesor di bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik, lulusan S1 Farmasi UGM, doktor Ehime University School of Medicine Japan, dan menjadi profesor di usia 40 tahun! Ternganga-nganga aku baca tulisannya. Ya maklum lah aku awam dengan dunia farmasi dan bahan-bahan kimia. Tapi penjelasannya masuk akal dan nalarku. Langsung follow dong pastinya...

Dan artikel yang paling kucari selain tentang mie instan adalah tentang MSG. Penting ini. Walaupun di rumah aku sama sekali gak pernah masak menggunakan tambahan MSG maupun bumbu penyedap seperti mas*ko atau r*yco, tapi sehari-hari kami sekeluarga rasanya gak pernah lepas dari mengkonsumsi MSG ini. Yakin. Makan siang kami di kantin, catering sekolah, di restoran, jajan baso, somay, kerupuk, rasanya semua gak ada yang bebas MSG.

Pembahasannya tentang mie instan baca langsung di blog bu Zullies di sini ya..
Tentang MSG klik di sini.

Intinya begini, (ini kucopy dari blog bu Zullies) Monosodium glutamate atau  MSG adalah bentuk garam natrium dari glutamat. Jika MSG ditambahkan pada makanan, ia memberikan fungsi penyedap yang mirip dengan glutamat yang alami. MSG hanya terdiri dari air, natrium, dan glutamat. Glutamat dijumpai secara alami pada keju, susu, jamur, daging, ikan, dan berbagai sayuran. Glutamat juga diproduksi oleh tubuh dan merupakan senyawa vital dalam fungsi otak.

Tubuh kita bereaksi terhadap glutamate yang berasal dari MSG dengan cara yang sama dengan terhadap glutamate alami. Tubuh hanya akan mengenali glutamate, dan tidak membedakan dari mana asalnya,  apakah berasal dari keju, tomat, jamur, atau berasal dari MSG.

Glutamat akan diabsorbsi oleh usus melalui suatu system transport aktif ke dalam sel mukosa usus di mana mereka akan dimetabolisir menjadi sumber energi yang penting. Glutamate yang bisa mencapai sirkulasi darah sangat sedikit. Kadar glutamate dalam darah baru akan meningkat signifikan hanya jika glutamate dikonsumsi dalam jumlah besar (>5 g MSG), itupun akan kembali ke level normal dalam waktu dua jam. Konsumsi MSG sangat kecil pengaruhnya terhadap kadar glutamat pada ASI, dan MSG juga tidak bisa menembus plasenta. Glutamat juga sangat sulit menembus sawar darah otak.

MSG merupakan salah satu komponen makanan yang paling banyak diteliti. Telah banyak jurnal sains internasional  yang melaporkan tentang MSG dari segala aspeknya. Di banyak negara di dunia, MSG dilaporkan aman dikonsumsi.
   
Jadii..... Tentu saja pilihan kembali ke tangan kita, mau mengkonsumsi MSG atau tidak. Tapi dengan mengetahui apa sebenarnya MSG itu mungkin akan membuat kita lebih bijak memilih, gak kaya contohku di atas. Gak mau mie instan, pilih beli mie dorong yang lewat. Gak mau pakai MSG, tapi lupa bahwa ada bahan yang jauh lebih berbahaya dan gak layak konsumsi dalam sepiring mie goreng non MSG tadi. Ya, borax, formalin, pengawet, pewarna non makanan (ini sering banget ditemui loh..) yang tentu saja harus lebih diwaspadai daripada MSG yang gurih itu..

 




25 komentar:

  1. Waaaah.... kereen sangking penasarannya sampai searching gitu ya....
    Kalau mie instan aku batasin.mbaa di rumah. Jajan juga jarang. Tapi alasannya ekonomis (mahal), bukan semata alasan kesehatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga mbak, gak pernah nyetok mie instan di rumah... soalnya kalo ada di lemari anak2 jadi suka pengin bikin wae.. Tapi ya itu deh, ketika dihadapkan pada pilihan mie instan atau mie goreng abang2 lewat yg gak jelas komposisinya, kayanya mending mie instan yang sudah teregristrasi bpom dan ada standar sni deh yaa... menurutku sih sebuah perusahaan besar akan ketat quality controlnya untuk menjaga nama besarnya.
      Sarapan dan makan malem kami semua makan masakan rumah mbak (seringnya), tapi makan siang ya masing2... aku dan suami makan di kantin atau warung atau rumah makan atau food court atau apalah.. dan anak2 abege itu makan dari catering sekolah.

      Hapus
  2. Dilema memang urusan begini ya mbak.. menghindarkan dari mi instan tapi anak di suruh makan bakso yang kita beli selagi pulang kantor.. Kalo nurutin makan masakan sendiri, jatuhnya itu lagi itu lagi... anak-anakku gak banyak pilihan soalnya untuk urusan makan.
    Tapi bener.. kembali ke kita masing-masing.. alhamdulillah anak-anakku kalo makan yang ada MSGnya sekarang malah komen kenapa masakannya ada rasa MSG.. sensitif sudah lidah mereka karena gak pernah masak pake MSG

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo nurutin makan masakan sendiri, aku gak ada energi lagi Kaaa.... hihi.... jadi ya cuma sarapan dan makan malem yang msh sering masakan sendiri.
      Bakso aku suka beli ke pabrik yang yakin dengan kualitasnya, ada sertifikasi halal mui dan teregristrasi bpom. segitunya ya sampe beli ke pabriknya haha... soalnya suamiku penggemar baso bangeeet... jadi ya kalo beli di pabriknya ini bs lebih murah dan jauh lebih fresh dibanding yg sudah masuk supermarket (dg merk yg sama). Nah karena baso selalu tersedia di freezer anak2 jd jarang beli baso (kalo emaknya mah teteup hihi...). kalo anak2 mau kita bikinin kuahnya aja pakai kaldu yg biasanya aku juga selalu punya stok di freezer, atau ya direbus aja tuh basonya trus dimakan dicocol ke kecap... mmm... jadi ngiler pagi2 bayangin baso hihi..

      Hapus
    2. Wah.. mau dong baksonya buat buka puasa ntar.. hehehhe... iya mbak, aku juga akhirnya pilih-pilih kalo beli makanan, yang kudu ini-itu dan lebih mudah karena anak-anak sudah terbiasa beli apa-apa ya kudu liat sertifikasi halalnya kan???

      Hapus
  3. Kalo liat berita ttg makanan di Jakarta dan sekitarnya ini, pasti jd g nafsu makan apa-apa mbak :P

    Anak-anakku kalo dimasakin sayur direbus g pake garem masih mau, dikasih bakso yang berMSG juga mangap :P

    Semoga ke depan bisa lebih bener yaa ngurusin diri, suami, dan anak2 ttg makanan :P

    Makasih mbaak sharingnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa... serem banget ya liat liputannya di TV... dan tetep beredar bebas loh makanan2 gak layak makan berpengawet-pewarnakain-borax-formalin-dan-entahapalagi itu walopun udah sering jadi berita. Gak tau deh siapa yg harus bertanggung jawab... ya minimal diri kita yg bertanggung jawab menjaga apa yg boleh masuk ke mulut kita dan keluarga kita sendiri.

      Hapus
  4. Tapi emang krn msg nya kebanyakan kali yah yg bikin makanan pinggir jalan itu rasanya nikmati sekali. Jangan sering, kalau sekali2 baru nikmat.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kata temenku makin jorok tukang jualannya, makin enak makanannya.. haha... quote ngawur.. :))

      Hapus
  5. berbagai pendapat tenttang MSG banyak kita temui, ada yang pro dan ada yang kontra, namun di rumah saya , MSG sudah tidak dipakai sejak beberapa tahun lalu.....
    btw- maaf, numpang promo , aku lagi buat GA loh.... siapa tahu berkenan untuk ikutan...
    http://hariyantowijoyo.blogspot.com/2013/10/masuk-neraka-siapa-takut.html
    salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh judul GAnya.. bisa menuai pro dan kontra kaya MSG :))

      Hapus
  6. mbak, aku tersinggung nih, sebagai pecinta indomie. *maaf ya, nggak pake bintang, sengaja!* haha..
    Di rumah, udah beberapa bulan ini selalu ada stok mie goreng 1 dus. Soalnya selain sangat membantu di saat2 genting, aku emang doyan siihh.. huahaha..(sekarang ada adik ipar yg tinggal sama kami, jadi emang itu mie itung2annya buat jaga2 kalo dia kelaperan dan nggak ada makanan di rumah)
    A3 kujatah makan indomie, seminggu paling banter sekali, kalo weekend. Dan biasanya bikin 2 bungkus, ku bagi 3, dan bumbunya paling sauprit, mereka udah senengggg banget. Dan ketentuan seminggu sekali ini kadang suka molor jadi 2 minggu sekali, malah pernah nyaris sebulan mereka nggak minta, ya nggak ku kasih. Hihihi..
    Di rumah aku ada royco, ku pake kalo beneran nggak PD sama rasa masakan yg kubikin. So far sih makenya masih itungan sedikiiitttt pisan. Beneran cuma buat nambahin rasa PD aja, hihihi. Utamanya sih main di garem sama gula aja. :)
    Tapi sama kayak gorengans, indomie ini emang salah satu guilty pleasure banget, yah.Dan susaaaahhh move on-nya...! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaa kok tersinggung sih.. bukannya tulisan ini membela indomie yg lebih bisa dipertanggungjawabkan dan lebih layak makan dibanding mie yg lewat depan rumahku? :))
      Duluuu aku juga suka nyetok sedus.. tapi sekarang anak2 udah gede udah bisa masak sendiri, stop lah.. dan sama, makan indomie dibatesin seminggu atau dua minggu sekali. Tapi bodohnya aku, si aa jajan seblak hampir tiap hari hahaha paraaah..... harusnya ini yg lebih dibatesin kan ya..
      jangan move on dari indomie laah... cinta indomie ini salah satu bukti cinta tanah air.. haha apa coba. Tapi tanya aja orang2 yg tinggal di luar negri.. indomie is the best katanya.. kata emak sejagat :))

      Hapus
    2. haha, tersungging, maksudnya... :P
      indomie ini paling cocok dimakan kalo kepala spanneng, mbak. Pake telor dan cabe rawit yang banyaaakkk... :D
      Haha, iya... pernah baca blognya temen yg di ostrali, pas ibunya dateng nengok, minta dibawain indomie se dus, gara2nya di kota tempat dia tinggal nggak ada yg jual. Ish, kasimaaaannn, deh.. :D

      Hapus
  7. wah makasih ya infonya bu
    aku juga suka nih ama indomie rebus, apalagi yg kaya dijual di kampus dulu pake bawang goreng, dan dikasih saos belanda (ituu saos warna oranye yg entah bahannya dari apa itu hahaha). Di rumah jg kusiapin bawang goreng dan saos belibis buat menyamai citarasa indomie warung.

    tapi sejak mencoba food combining,
    mie instan udah kutinggalin.



    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha saos belanda...

      Wah baru tau kalo food combining ngelarang makan indomie.. bukannya boleh asal gak dibarengin protein hewani?

      Hapus
    2. oo boleh ya?
      baiklah aku akan makan indomie lagi

      Hapus
    3. hahaha... mana aku tahu? aku bukan pelaku FC...

      Hapus
  8. tadi pagi aq beli indomie rebus di kantor..untuk mengobati sakit hatiku telat 8 menit setor jempol..hahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha beneerrr... obat sakit hati dan obat kepala spanneng spt kata baginda ratu di atas hihi...
      kadang2 makan indomie juga sebagai perayaan atau hadiah buat diri sendiri atas sebuah pencapaian... berhasil beresin dapur yang berantakan dan cucian piring segunung misalnya haha..

      Hapus
  9. Mbaaak, kari ayam itu faveku ihihiiy. Kalo aku emang gak nyetok Indomie, mbak, makanan yang gampil itu pasti ada si telur. Kalo mi instan udah jelaslah pakemnya di rumah ini, si Edi longgar setelah no ART itupun juga buat yg kau bilang 'hadiah' buat diri sendiri (diri gue aja sih, Edi kagak huahaha). Terakhir makan dua bulan lalu, berusaha fair ke krucils sih sekarang, kita larang dia makan masa aku makan (macam kiefci juga aduh enaknya itu kulitnyaaa). Royco dkk juga aku gak punya, tapiiii...aku punya MSG andalan lainnya dong.Kecap, kecap asin, kecap inggris, minyak wijen , saos tiram ahahahaa itu kan sebenernya msg juga kaaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga berusaha fair ke anak2 ndang... makanya aku makan indomienya di kantor hahaha..... fair kok licik ya, makan diem2 biar gak ketahuan...

      Hapus
    2. aku juga suka kari ayam... dan indomie goreng tentu saja. tapi indomie kari ayam yg di foto itu rasanya jauh berbeda dg indomie kari ayam di indonesia..

      Hapus
  10. Ah, mie goreng itu enak banget mbaaa hehehe. Aku kalo makan mie goreng, masih merasa 'aman' karena gak pake kuah. Nah kalo mie rebus, biasanya air rebusannya dibuang dulu baru dikasih air panas yang dimasak terpisah hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa... itu air rebusan mie instan berbahaya itu beneran ato cuma mitos ya? ragu2 tapi teteup.... merasa mie goreng lebih aman hihi...

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...