Jumat, 22 November 2013

Dan Bayi itu pun Lahir dengan Posisi Sungsang...




Pagi itu perutku rasanya gak nyaman. Kontraksi kehamilanku yang sudah beberapa hari belakangan terasa, pagi itu semakin menguat saja rasanya. Kusibukkan diriku dengan mengerjakan beberapa kertas kerja, tapi rasa gak nyaman itu tetap ada. Ah, braxton hicks.. pikirku. Toh usia kehamilanku baru 34 minggu, masih 6 minggu lagi dari hari perkiraan lahir. Kulanjutkan pekerjaanku.

Di tengah-tengah mengetik, mmm.. tadi di rumah sudah BAB kok sekarang terasa mulas lagi ya? Aku pun pergi ke toilet. Dan masyaalloh.... betapa terkejutnya aku ketika kutemukan bercak darah di sana. Tenang... tenang.. jangan panik. Walaupun gemeteran aku berusaha berpikir dan bersikap tenang. Oke, nelpon suami, dan nelpon Pak Ucok drivernya anak-anak untuk menjemput dan mengantarku ke dokter. Kubereskan meja, berkas-berkas dan fileku, kemudian kubikin surat cuti. Kuambil cuti tahunanku yang tersisa 4 hari karena aku yakin dokter pasti menyuruhku bed rest lagi paling tidak 3 hari. Kubikin juga surat cuti melahirkan untuk berjaga-jaga siapa tahu ternyata bayiku lahir. Done.

Jemputan datang, dan aku pergi. Mau pamit sama temen seruangan, gak ada orang karena jam istirahat mereka semua sedang keluar makan siang atau sholat. Ku-SMS saja anggota timku, "Bro aku pulang ya, mau ke dokter, tolong bilangin Pak Supervisor. Kalau besok aku gak masuk berarti aku cuti. Surat cutinya ada di mejaku, tolong urusin. Kalau setelah 4 hari aku gak masuk juga, masukin cuti bersalinku yang ada di laci. Makasih yaa.."

Aku biasa periksa kehamilan ke dr. Tina Dewi di RS Hermina, tapi aku ragu-ragu mau ke sana. Takutnya ternyata bayiku lahir, aku gak mau lahiran di RS Hermina karena jauh dari rumah. Penginnya lahiran di RS Al Islam yang deket rumah saja, biar gak repot bolak balik yang nemeninnya.

Tapi di RSAI ke dokter siapa? Tiga kali melahirkan di RSAI aku selalu dibantu dr Tita, tapi dr Tita sekarang sudah gak praktek di RSAI lagi. Ada beberapa rekomendasi dokter dari temen, tapi rasanya kurang sreg. Dr Tita yang pernah kutemui di RS Hermina (ketika dr Tina Dewi gak ada aku ke dokter lain yg ada di situ dan baru tahu ternyata dr Tita praktek di Hermina juga) merekomendasikan dr Anisa di RSAI. Dr Anisa ini anak dr Tita. Pernah sih konsul ke dr Anisa, dan secara umum memuaskan. Meriksanya detil, dan gak pelit ngasih penjelasan (kalau ibunya kan agak 'pendiam'). Tapii... untuk membantu proses persalinan kok aku ragu-ragu... abis, masih muda bangeet... DSOG juga sih.. tapi aku tetep lebih mantep kalau dipegang dokter senior.

Ah melahirkan sih sama bidan juga bisa, kenapa harus dokter senior? Aku tahu. Tapi kan kehamilanku ini termasuk kehamilan beresiko, jadi ya rasanya lebih tenang aja kalau dibantu dokter senior. Beresiko? Yup. Pertama, aku hamil di usia yang sudah dianggap beresiko untuk hamil, 37 tahun. Kedua, usia kehamilanku baru 34 minggu, dan perkiraan berat janinku baru 2,2 kg. Ketiga, posisi janinku ini masih sungsang, kepalanya belum turun.

Di dekat rumahku ada RS bersalin dan temanku pernah merekomendasikan dokternya. Ya sudahlah kucoba ke sana. Masuk RSHB, celingak-celinguk sendirian, nanya-nanya, dan daftar.

"Mau kontrol Bu?"

"Mmm.. gak sih mbak, mau periksa. Ini tadi ada flek."

"Ooo.. paling sama bidan aja Bu. Dokternya sudah pulang."

Diperiksalah aku sama bidan di situ.
"Bu ini sudah bukaan 6."

Apaaa?? Tanganku langsung dingin.

"Ibu sendirian?" tanya bidan itu yang (kayanya) melihatku dengan kasihan.

"Iya. Sama sopir sih."

Kemudian kuceritakan kondisi terakhir janinku ketika kontrol. Tentang usia kehamilanku yang baru 34 minggu, tentang beratnya yang baru 2,2 dan tentang posisi sungsangnya. Bidan yang ramah itu menyarankan aku ke RSAI saja karena di RSHB tidak ada ruangan NICU seandainya nanti bayi yang kulahirkan perlu dirawat di ruang NICU.

Masuk ke UGD RSAI, setelah ditangani dan ditanya ini itu, aku ditanya, mau sama dokter siapa? Sahabatku Ami dokter di Hermina, gak bisa ngasih rekomendasi karena dia baru pindah ke Bandung dan belum tahu dokter-dokter di Bandung. Kutanya seorang teman sesama ortu di sekolah anakku, dokter di RSAI, dan dia menjawab dokter A atau B (setelah kuberikan syarat-syarat aku maunya dokter yang begini begini begitu :)) Kutanya temanku yang apoteker di situ dan dia pun merekomendasikan dokter B. Tapi aku pernah denger cerita temanku yang lahiran dibantu dokter B katanya kurang oke.

"Dokter A atau dokter B bagusan mana suster?" aku balik nanya ke suster jaga di UGD yang menanyaiku tadi.

"Sama bagusnya Bu.. sama-sama sudah senior."

Akhirnya kupilih dokter A. Dikasih obat penguat kandungan, suntikan penguat paru janin, dan diharuskan bed rest lah aku. Dan bu dokter ini menyayangkan tindakan bidan di RSHB yang melakukan pemeriksaan dalam, karena itu menambah kontraksi.

Duh inget si kecil di rumah bersama mbah pengasuhnya. Suamiku yang baru datang menemani pun kusuruh pulang saja selepas maghrib, kasihan anak-anak di rumah. Biarlah aku istirahat sendiri saja di RS, toh sudah ditangani dokter, dan ada suster yang siap siaga membantu.

Malam itu aku ditest CTG untuk mengetahui kondisi janin, detak jantung, dan kontraksiku. Gak ngerti cara baca alat-alat medis itu, kubaca wajah dua suster yang menanganiku itu.

"Kenapa Suster?" tanyakau ketika melihat ekspresi aneh mereka.

"Mm ini bu... hasil testnya belum bener kayanya. Bentar ya bu saya benerin dulu posisinya."

Mereka tetap dengan ekspresi itu.

"Ada apa sih?"

"Ini Bu, kontraksinya kuat banget kalau lihat hasil testnya."

"Oo.. emang iya sih.. kerasa."

"Loh.. ibu kerasa? Gak sakit Bu? Saya pikir alatnya yang salah, kok Ibu tenang-tenang aja gitu kaya gak kerasa apa-apa."

"Ah udah biasa Teh.. udah keempat kali, hehe.." padahal sih ya emang karena gak sakit, cuma kerasa kenceng-kenceng gitu. Udah biasa juga sih, udah beberapa hari kerasa kenceng perutnya.

"Ya sudah Bu, ibu istirahat saja ya. Ini diminum dulu obatnya. Kalau ibu perlu apa-apa, tekan tombol ini."

Dia pergi, aku pun tidur.

Keesokan paginya kusuruh suamiku ngantor saja, aku merasa baik-baik saja. Dan hari ini hasil test CTG menunjukkan kontraksi sudah berkurang. Alhamdulillah... aku sangat bersyukur. Tentu saja aku sangat menginginkan bayiku lahir sesuai tanggal perkiraan, agar dia lebih siap. Berat badannya cukup, paru-paru dan organ penting lain sudah siap, dan posisinya pun posisi siap lahir bukan sungsang seperti sekarang. Membayangkan harus melahirkan bayi berposisi sungsang membuatku ngeri. Ngeri kalau lahir spontan dan ternyata di tengah jalan aku gak kuat mengejan (faktor U dong) dan bayi terjepit lehernya.. ah.. naudzubillahi min dzalik. Ngeri juga membayangkan kalau harus melahirkan dengan operasi cesar. Aku hanya bisa berdoa dan berdoa saja. Sempat terlintas pikiran iseng, kalau lahir hari ini, tanggalnya bagus, 21.11.12. Tidak, aku tetap pengin bayiku lahir awal Januari sesuai perkiraan. Aku mencoba khusyu' berdoa lagi.

Sore hari suamiku datang bersama anak-anak, dan kerepotan membujuk Javas kecil -yang menagis tentu saja- ketika tiba waktunya pulang. Gak tega melihat anak-anak akhirnya aku menyerah dan membiarkan suamiku memanggil bala bantuan, mendatangkan mertuaku untuk menemani anak-anak di rumah.

Keesokan harinya mertuaku datang. Walau aku masih merasakan beberapa kontraksi, hasil test CTG di hari ketiga itu semakin mebaik, dan dokter pun mengijinkanku melanjutkan bed rest di rumah alias boleh pulang. Yeay... seneng dong... tapii... deg-degan juga. Bed rest di rumah, bisakah? Ibu-ibu di rumah pasti banyak urusan ini itu, dan Javas yang berusia 2 tahun pasti membutuhkan perhatian yang lumayan besar. Ah kan ada Eyang dan ada mbah pengasuh Javas.

Jam 2 siang aku sampai di rumah. Suamiku pun berangkat ke kantor lagi. Ibu mertuaku bolak-balik ke kamar nanya aku perlu apa, mau makan apa, mau diambilin apa. Javas main di luar bersama mbah pengasuhnya, Neysa dan Youri sekolah. Ya sudah aku tiduran saja. Bales BBM beberapa temen yang menanyakan aku cuti ke mana, buka-buka Facebook dan Twitter.

Mau tidur, gak bisa, perut rasanya gak nyaman. Mau makan, gak selera. Kontraksi terasa lagi. Sore hari Youri yang sudah pulang kuminta menemani dan mencatat jam tiap aku terasa kontraksi. Duh.. terasa tiap setengah jam. Selepas maghrib suamiku pulang dan kontraksi makin terasa, baik kekencangan maupun kekerapannya. "Sudah, tidur aja, obatnya diminum lagi." kata suamiku. Kuminum obat pengurang kontraksi itu, dan masih terasa saja. Kutelpon RS dan minta disambungkan ke bidan yang tadi siang berpesan kalau ada apa-apa telpon dia aja. "Istirahat saja Bu, minum obatnya. Kalau kontraksi terasa tiap 10 menit, segera ke rumah sakit."

Masih dan makin terasa. "Pa, harus ke RS lagi nih kayanya."

"Bentar lah, aku sholat Isya dulu, mandi dulu."

"Gak bisaa... ini sakit bangeet.." sambil ganti baju dan sambar tas.

Suamiku bengong. "Beneran?"

"Iyaaa..."

Pamit sama mertuaku yang lagi nonton TV bersama anak-anak, "Nitip anak-anak ya Bu, ini kerasa mau lahir kayanya."

Mertuaku pun bengong, "Loh katanya boleh istirahat di rumah? Oh ya.. ya.. sudah sana berangkat. Tenang aja, banyak-banyak berdoa saja."

Pamit ke anak-anak dan kuminta mereka mendoakan mamanya.

Masuk mobil, dan "Papaaaa.... cepeeet...."

Suamiku yang masih pakai baju kerja itu lari-lari buka pager dan berangkatlah kami ke RS.
Jalan menuju RS yang banyak berlubang membuat suamiku menyetir pelan-pelan, seperti permintaanku selama ini (ya iyalah nyetir di jalan jelek bawa orang hamil). Tapi kali ini, "Papaa.... cepeeet... ini sakiit..."

Baru sekitar 10 menit sejak berangkat, kontraksi hebat pun terasa. Aku yang sudah 3 kali melahirkan tahu betul bahwa ini sudah saatnya. Kutenangkan diri dan berusaha berkomunikasi dengan bayiku, "Tenang ya Dek... sabar ya Sayang... nurut sama Mama Sayang... jangan keluar dulu ya... bantu mama Dek.." dan suamiku pun makin panik.

Sampai di UGD RSAI, aku bertemu lagi dengan suster jaga yang menanganiku 3 hari yang lalu. "Ibu yang kemarin?" Kujelaskan secara singkat bahwa baru tadi siang aku diijinkan pulang setelah bed rest 3 hari dan ternyata sekarang terasa mau melahirkan.

"Sama dokter A ya Bu?"

"Yang lain aja deh... dokter B." Ya, aku merasa kurang puas saja dengan penanganan dokter A kemarin.
Suster itu keluar dan datang suster lain meminta data-dataku. Ough... kontraksi terasa lagi. Suster yang mendataku, menanyakan dari awal kapan mens terakhir, umur dll bla bla bla kumarahin. "Ini udah mau lahiir.... datanya ada semuaa di atass... (di ruang kebidanan maksudnya) huaa.... cepeettt....". Untung suster pertama masuk lagi dan langsung membawaku ke ruang kebidanan.

"Suamiku manaaa...."

"Tenang Bu, Bapak sedang mengurus administrasi."

Di ruang kebidanan, para suster dan bidan pun masih mengenaliku.

"Dokter A?" tanya suster kebidanan. "Bukan, ibu ini mau dokter B aja." jawab suster UGD.

"Terseraaaah... dokter siapa aja yang ada sekaraang.. ini udah kerasa bangeet...!!" ini teriakan si pasien alias aku tentu saja.

"Dokter jaga sekarang dokter A Bu, tapi masih di perjalanan," jawab suster kebidanan.

Astaghfirullah... aku beristighfar  dalam hati. Kenapa sih aku ini? Sombong dan sok tahu banget.. Kalau memang dokter A yang harus menolongmu, kenapa harus ditolak?

"Huaa,,,, suamiku mana?"

"Bentar Bu, masih di bawah."

"Kalau dokternya gak dateng-dateng gimanaaa... huhuhu...." aku setengah menangis sambil digantiin baju oleh tim suster dan bidan itu.

"Tenang aja Bu, gak akan kami biarin. Pasti kami bantu."

"Anak keempat ya Bu? Anak pertama berat lahirnya berapa? Kedua? Ketiga?"

Entah kujawab apa pertanyaan suster yang itu.

"Oh udah lengkap nih.." kata suster (atau bidan?) satu lagi yang memeriksa dilatasi servix (bukaan).

Suamiku pun muncul.

"Sudah siap ni Pak."

"Dokternya?"

"Belum datang Pak. Gak papa kok Pak, bisa kami bantu."

"Posisinya sudah benar?"

"Masih sungsang. Tapi gak papa, bayinya kecil kok. Insyaalloh gampang."

"Huaa.... cepeet....!!!"

"Ambil nafas Bu, tenang, jangan teriak-teriak, nanti tenaganya habis. Nah, ayo. Yaaa, bagus. Yaa... terus.. Ibu jangan berhenti! Jangan berhenti! Ayo dorong lagi. Nanti bayi ibu gak bisa bernafas!"

Dan tepat pukul 22.00 lahirlah bayi itu...


Sekitar 5 menit kemudian, datanglah dokter, mengeluarkan placenta, dan finishing lainnya.
Alhamdulillah... Allohu akbar..

Di usia yang sudah tidak lagi muda aku masih dikaruniai kesempatan dan kekuatan untuk merasakan sebuah proses luar biasa melahirkan seorang generasi penerus umat manusia, dengan cara mudah. Jam 9 malam berangkat ke RS, jam 9.30 masuk rumah sakit, dan jam 10 lahirlah si bayi.


Aku dan suamiku berpelukan, menangis, dan tak bisa berkata-kata.

Kami namakan bayi itu Muhammad Jindra Rafasya, seorang laki-laki berakhlak terpuji berkedudukan tinggi dengan sifat rendah hati, itu harapan kami yang tersirat dari namanya.


Dan hari ini, bayi itu berusia 1 tahun. Selamat ulang tahun sayangku.. Jadilah orang sholeh yang membawa manfaat bagi sekitarmu, dan bahagialah hidupmu, di dunia maupun akheratmu.

22 November 2012, Javas Resmi menjadi Aa Javas.
Februari 2013, setelah sembuh dari sakit.

Maret 2013, bermain cilukba bersama Aa Youri.

April 2013, nduut berkat ASIX.

Juni 2013, bersama sahabat tersayang, Aa Javas.



 
9 Agustus 2013

7 September 2013

Oktober 2013, udah kaya anak gede aja gayanya.
Nov 13, sudah setahun. Hobinya main air, merangkak naik tangga, & nyemburin makanan :D

31 komentar:

  1. *mrebes mili

    Selamat ulang tahun yang pertama Jindra. Semoga jadi anak sholeh penyejuk hati orangtuamu ya naak :D

    *fotonya keren sekalii :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.... makasih Kiky..
      Emm iya itu bikin foto di Little Step, mereka emang spesialis foto bayi.. bagus2 deh hasilnya, bagus2 propertinya..

      Hapus
  2. Selamat ulang tahun Jindra! Semoga semua keinginan orang tua terpenuhi yah :D Aminn

    BalasHapus
  3. slamat ulang taun, ganteng... Smoga Allah mengabulkan doa mama ya...
    seru ih cerita kelahirannya, mb. klo udah anak ke4 itu bukaannya cepet ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Makasih Nia..
      emang iya.. makin sering melahirkan, proses bukaan itu makin cepet katanya..
      Tapi tetep aja gak nyangka bakal secepat itu... huhu... nyaris lahir di mobil dia :))

      Hapus
  4. Selamat ultah ke-1 Jindra, semoga jadi anak yang berbakti kepada orang tua :D

    BalasHapus
  5. selamat ultah jindra...,bacanya prses kelahiran jindra seru banget mba :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih dian... kayanya semua cerita melahirkan itu seru yaa.. dan menegangkan. Jindra ini termasuk mudah lah yaa.. cuma sekitar sejam mules2nya.. temenku ada yg sampe 3 hari mules2, dan bukan disuruh jalan2 lagi sama dokternya, tapi disuruh lari2 dan LOMPAT! huhu ngebayanginnya aja nyeri...

      Hapus
  6. Waaah... pantesan tau tau mba Tituk udah 'ilang' aja dari kantor. Ternyata....
    Met milad baby Jindra. Cepet gede dan semoga terkabul semua doa Mama dan Papamu. Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbaak... belum ada rencana cuti sama sekali lha wong perkiraannya masih lama, 6 minggu lagi... jadi ya cuti dadakan deeh...
      aamiin... makasih doanya ya mbak..

      Hapus
  7. ikut deg2an bacanya hehehe, met ultah jindra :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih yaa....
      deg2an takut lahir di mobil yaa.... :p

      Hapus
  8. wah, handsome young man! meski sulit syukurlah semuanya lancar, ya. babynya sehat :D jadi ingat ibuku cerita dulu waktu aku lahir lehernya terlilit tali pusat. syukurlah tumbuh dengan normal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih indi.... wah kok bisa niy penulis ngetop nyasar ke sini :))
      terlilit tali pusat? rada bikin merinding yaa... kalo gak cepet2 ditangani bahaya ituu..
      syukurlah bisa lahir dan tumbuh dengan normal, bahkan cantik! :)

      Hapus
  9. Selamat ulang tahun, Jindra! Officially a toddler ya, sayang! Ditambahkan segalaaaa yang baik dalam hidupmu yaaaa. Ganteng amat sih kamuuu *tante lemah liat yang putihputih dan ini mukanya semi bule arab gitu deeeeh*
    Mbak aku mewek pas yg kau ngomong ke Jindra suruh sabar. Jadi keinget pas melahirkan krucils juga ngajak ngomong bayi di dalam perut yang mau keluar itu rasanya bedaaa banget sama pas diajak ngomong pas di perut pas lagi biasa biasa aja. Itu kerasa kerjasamanya ya mbak, dan kalo pas aku suka deg-degan karena mikir, bayi-bayiku sedang melakukan bagiannya, aku harus lakukan bagianku juga. *dan sambil nahan sakitnya itu makjaaaaang*.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makacih tantee.. sini deh disun sama bule arab hihihi....
      beneer banget ndang, kalo pada kondisi 'normal' kan ngajak ngomong bayi di perut itu yaa gitu deeh, tapi pada saat itu bener2 kerasa ngobrol beneran... dan tiap aku ngomong sama bayiku selama di jalan itu suamiku makin panik aja, ya karena dia juga udah nangkep beda nih obrolannya hahaha....

      Hapus
  10. Met milad Jindra sayang... semoga jadi anak salih... dan tante ikut mengaminkan doa Mama-Papa..
    Baca ceritanya ikut mules mbak, hihihihihi... dan yang bikin gemes pas sempet-sempetnya si suster nanya-nanya riwayat yang dulu... sama pas aku lairan yang keempat kemarin.. karena pindah tempat bersalin ya jadi kudu semacam wawancara dulu sambil nyengir2 gitu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih tante ika....
      hihi aku kesel ditanya2 lagi kan baru tadi siang keluar dari RS masa malem hrs ngulangin lagi didata dari awal? tapi ya karena emang aku masuk ruang bersalin tanpa medrec sih... belum ketemu kayanya kan suamiku juga baru daftar di bawah.. dia nanya2 berapa kg anak ke 1 2 3 buat memperkirakan aku bisa melahirkan normal/gak dg bayi sungsang itu...

      Hapus
  11. Selamat genap setahun, Muhammad Jindra Rafasya, cah bagus, ganteng, kasep....
    Semoga sehat terus ya, Nak.
    Mbak, aku megap2 baca postingan ini. Jadi, lahirnya BB berapa itu si bayi cakep? Tapi rejeki ya, lahir cukup sama bidan. Eh, itu dokter dateng cuma ngurusin plasenta, bayarannya sama kayak bantuin lahiran nggak, sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin... makasih yaaa...
      itu pertanyaan orang keuangan banget hahaha... pas didorong pindah ke ruang rawat aku juga mampir dulu ke si mbak perawat di meja resepsionis nanyain tadi itu dokter cuma gitu doang aku kena tarif bidan ato dokter nih lahirannya? si resepsionis ya gak tau lah yaa... bukan urusan dia kalii hihi... pas liat bill tagihan kulihat rincian biaya lahiran itu cuma ditulis gini: 'Tenaga medis 1 juta.' Nah itu 1 juta kayanya kan biaya bidan ya? gak mungkin dokter segitu kan? soalnya pas javas aja udah lebih dari itu...
      mm.. murah sih biaya lahirannya, tapi kaaan... sebelumnya pake acara bed rest 3 hari... itu lumayan juga sih hehe...
      tapi ah gak papaaa.... dibanding anugrah luar biasa bayi cute ituu semua biaya gak ada apa2nya.
      lahirnya 2,5 kg... alhamdulillah cukup, gak masuk kategori prematur utk BBnya walo blm cukup bulan.

      Hapus
  12. Alhamdulillah..
    udah gedeeee!
    Seru ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa udah bukan bayi lagi... toddler dong sekarang :D

      Hapus
  13. Ah mbaaa.. deg-degan baca proses kelahirannya.. Tapi alhamdulillah si adek sehat yaaa.. dan happy birthday buat adek Jindra! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa.... alhamdulillah sehat dan cepet gede ;)
      makasih yaa....

      Hapus
  14. Hallo mba salam kenal yaa^^ suka bangettt liat fotonya si baby, Ya Allah gemuknyaaaa! Kasep! Itu pas brp bulan mba fotonya?dmn fotonya? *jiaaahhh :p bagus siiih hehe..
    Mba masih semangat banget yaa anak ke 4, tp tetep rasanya luar biasa ya?byk orang yg kapok lahiran soalnya -_- aku baru selesai lahiran malah kyknya pgn lagi hahaha, plooongg!
    Selamat 1 tahun Jindra :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai fenti,,, salam kenal jugaa.. makasih ya udah mampir :)
      itu foto jindra usia 4,5 bulan, bikin foto di little step kids foto studio, di bandung.
      emang bagus2 sih.. jadi mupeng liat foto2 bikinan dia di facebook.. (cari aja ya ;)) walo pas bayar rada2 nyesek hihihi... kalo lagi main ke bandung mampir aja bikin foto.. dijamin kebobolan hahaha.. soalnya kan si baby difoto beberapa kali, trus nanti kita sortir mana yg mau diambil mana yg dibuang.. lah ternyata hasilnya lucuw2 semuwaa.... walo niatnya cuma bikin 10 foto, bisa jadi akhirnya kita bayar 50 foto hahaha... jd kuatkan hati sebelum mencoba ;)
      Iyaaa.... abis lahiran itu plooong... walo setelahnya ya kerasa macem2 ini itu, capek, kurang tidur, tapi teteuup..... hepi dan gak kapok hihi... kalo gak inget umur udah mau kepala 4 mah masih belum kapok hehe...

      Hapus
  15. gantengnya jindra...
    selamat ulang tahun pertama sayang.
    semoga jindra semakin pinter, sehat , soleh dan berbakti ya nak.
    btw fotonya bagus ya? jadi pengen deh fotoin haziq kayak itu. hihi..
    tapi di palembang dimana ya? eeaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... makasih vivi...
      Bawa aja haziq ke studio foto... trus bilang aja pengin difoto kaya gini .. hahaha...
      siniii... main ke bandung ajaaa... ;)

      Hapus
  16. huaaa,,,baca ini jg ikut deg2an,inget aq dulu juga gitu,minggu ke 35,BB bayi msh 2.1, tp emang udh pengen kluar kyknya,tp akhirnya SC karena pembukaannya ga lanjut,tp itu jg karena diobati dokternya supaya g kontraksi ,huffttt..
    btw suntikan penguat paru2 rasanya asik y mbak?hihihihihi

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...