Jumat, 22 November 2013

Dan Bayi itu pun Lahir dengan Posisi Sungsang...




Pagi itu perutku rasanya gak nyaman. Kontraksi kehamilanku yang sudah beberapa hari belakangan terasa, pagi itu semakin menguat saja rasanya. Kusibukkan diriku dengan mengerjakan beberapa kertas kerja, tapi rasa gak nyaman itu tetap ada. Ah, braxton hicks.. pikirku. Toh usia kehamilanku baru 34 minggu, masih 6 minggu lagi dari hari perkiraan lahir. Kulanjutkan pekerjaanku.

Di tengah-tengah mengetik, mmm.. tadi di rumah sudah BAB kok sekarang terasa mulas lagi ya? Aku pun pergi ke toilet. Dan masyaalloh.... betapa terkejutnya aku ketika kutemukan bercak darah di sana. Tenang... tenang.. jangan panik. Walaupun gemeteran aku berusaha berpikir dan bersikap tenang. Oke, nelpon suami, dan nelpon Pak Ucok drivernya anak-anak untuk menjemput dan mengantarku ke dokter. Kubereskan meja, berkas-berkas dan fileku, kemudian kubikin surat cuti. Kuambil cuti tahunanku yang tersisa 4 hari karena aku yakin dokter pasti menyuruhku bed rest lagi paling tidak 3 hari. Kubikin juga surat cuti melahirkan untuk berjaga-jaga siapa tahu ternyata bayiku lahir. Done.

Jemputan datang, dan aku pergi. Mau pamit sama temen seruangan, gak ada orang karena jam istirahat mereka semua sedang keluar makan siang atau sholat. Ku-SMS saja anggota timku, "Bro aku pulang ya, mau ke dokter, tolong bilangin Pak Supervisor. Kalau besok aku gak masuk berarti aku cuti. Surat cutinya ada di mejaku, tolong urusin. Kalau setelah 4 hari aku gak masuk juga, masukin cuti bersalinku yang ada di laci. Makasih yaa.."

Aku biasa periksa kehamilan ke dr. Tina Dewi di RS Hermina, tapi aku ragu-ragu mau ke sana. Takutnya ternyata bayiku lahir, aku gak mau lahiran di RS Hermina karena jauh dari rumah. Penginnya lahiran di RS Al Islam yang deket rumah saja, biar gak repot bolak balik yang nemeninnya.

Tapi di RSAI ke dokter siapa? Tiga kali melahirkan di RSAI aku selalu dibantu dr Tita, tapi dr Tita sekarang sudah gak praktek di RSAI lagi. Ada beberapa rekomendasi dokter dari temen, tapi rasanya kurang sreg. Dr Tita yang pernah kutemui di RS Hermina (ketika dr Tina Dewi gak ada aku ke dokter lain yg ada di situ dan baru tahu ternyata dr Tita praktek di Hermina juga) merekomendasikan dr Anisa di RSAI. Dr Anisa ini anak dr Tita. Pernah sih konsul ke dr Anisa, dan secara umum memuaskan. Meriksanya detil, dan gak pelit ngasih penjelasan (kalau ibunya kan agak 'pendiam'). Tapii... untuk membantu proses persalinan kok aku ragu-ragu... abis, masih muda bangeet... DSOG juga sih.. tapi aku tetep lebih mantep kalau dipegang dokter senior.

Ah melahirkan sih sama bidan juga bisa, kenapa harus dokter senior? Aku tahu. Tapi kan kehamilanku ini termasuk kehamilan beresiko, jadi ya rasanya lebih tenang aja kalau dibantu dokter senior. Beresiko? Yup. Pertama, aku hamil di usia yang sudah dianggap beresiko untuk hamil, 37 tahun. Kedua, usia kehamilanku baru 34 minggu, dan perkiraan berat janinku baru 2,2 kg. Ketiga, posisi janinku ini masih sungsang, kepalanya belum turun.

Di dekat rumahku ada RS bersalin dan temanku pernah merekomendasikan dokternya. Ya sudahlah kucoba ke sana. Masuk RSHB, celingak-celinguk sendirian, nanya-nanya, dan daftar.

"Mau kontrol Bu?"

"Mmm.. gak sih mbak, mau periksa. Ini tadi ada flek."

"Ooo.. paling sama bidan aja Bu. Dokternya sudah pulang."

Diperiksalah aku sama bidan di situ.
"Bu ini sudah bukaan 6."

Apaaa?? Tanganku langsung dingin.

"Ibu sendirian?" tanya bidan itu yang (kayanya) melihatku dengan kasihan.

"Iya. Sama sopir sih."

Kemudian kuceritakan kondisi terakhir janinku ketika kontrol. Tentang usia kehamilanku yang baru 34 minggu, tentang beratnya yang baru 2,2 dan tentang posisi sungsangnya. Bidan yang ramah itu menyarankan aku ke RSAI saja karena di RSHB tidak ada ruangan NICU seandainya nanti bayi yang kulahirkan perlu dirawat di ruang NICU.

Masuk ke UGD RSAI, setelah ditangani dan ditanya ini itu, aku ditanya, mau sama dokter siapa? Sahabatku Ami dokter di Hermina, gak bisa ngasih rekomendasi karena dia baru pindah ke Bandung dan belum tahu dokter-dokter di Bandung. Kutanya seorang teman sesama ortu di sekolah anakku, dokter di RSAI, dan dia menjawab dokter A atau B (setelah kuberikan syarat-syarat aku maunya dokter yang begini begini begitu :)) Kutanya temanku yang apoteker di situ dan dia pun merekomendasikan dokter B. Tapi aku pernah denger cerita temanku yang lahiran dibantu dokter B katanya kurang oke.

"Dokter A atau dokter B bagusan mana suster?" aku balik nanya ke suster jaga di UGD yang menanyaiku tadi.

"Sama bagusnya Bu.. sama-sama sudah senior."

Akhirnya kupilih dokter A. Dikasih obat penguat kandungan, suntikan penguat paru janin, dan diharuskan bed rest lah aku. Dan bu dokter ini menyayangkan tindakan bidan di RSHB yang melakukan pemeriksaan dalam, karena itu menambah kontraksi.

Duh inget si kecil di rumah bersama mbah pengasuhnya. Suamiku yang baru datang menemani pun kusuruh pulang saja selepas maghrib, kasihan anak-anak di rumah. Biarlah aku istirahat sendiri saja di RS, toh sudah ditangani dokter, dan ada suster yang siap siaga membantu.

Malam itu aku ditest CTG untuk mengetahui kondisi janin, detak jantung, dan kontraksiku. Gak ngerti cara baca alat-alat medis itu, kubaca wajah dua suster yang menanganiku itu.

"Kenapa Suster?" tanyakau ketika melihat ekspresi aneh mereka.

"Mm ini bu... hasil testnya belum bener kayanya. Bentar ya bu saya benerin dulu posisinya."

Mereka tetap dengan ekspresi itu.

"Ada apa sih?"

"Ini Bu, kontraksinya kuat banget kalau lihat hasil testnya."

"Oo.. emang iya sih.. kerasa."

"Loh.. ibu kerasa? Gak sakit Bu? Saya pikir alatnya yang salah, kok Ibu tenang-tenang aja gitu kaya gak kerasa apa-apa."

"Ah udah biasa Teh.. udah keempat kali, hehe.." padahal sih ya emang karena gak sakit, cuma kerasa kenceng-kenceng gitu. Udah biasa juga sih, udah beberapa hari kerasa kenceng perutnya.

"Ya sudah Bu, ibu istirahat saja ya. Ini diminum dulu obatnya. Kalau ibu perlu apa-apa, tekan tombol ini."

Dia pergi, aku pun tidur.

Keesokan paginya kusuruh suamiku ngantor saja, aku merasa baik-baik saja. Dan hari ini hasil test CTG menunjukkan kontraksi sudah berkurang. Alhamdulillah... aku sangat bersyukur. Tentu saja aku sangat menginginkan bayiku lahir sesuai tanggal perkiraan, agar dia lebih siap. Berat badannya cukup, paru-paru dan organ penting lain sudah siap, dan posisinya pun posisi siap lahir bukan sungsang seperti sekarang. Membayangkan harus melahirkan bayi berposisi sungsang membuatku ngeri. Ngeri kalau lahir spontan dan ternyata di tengah jalan aku gak kuat mengejan (faktor U dong) dan bayi terjepit lehernya.. ah.. naudzubillahi min dzalik. Ngeri juga membayangkan kalau harus melahirkan dengan operasi cesar. Aku hanya bisa berdoa dan berdoa saja. Sempat terlintas pikiran iseng, kalau lahir hari ini, tanggalnya bagus, 21.11.12. Tidak, aku tetap pengin bayiku lahir awal Januari sesuai perkiraan. Aku mencoba khusyu' berdoa lagi.

Sore hari suamiku datang bersama anak-anak, dan kerepotan membujuk Javas kecil -yang menagis tentu saja- ketika tiba waktunya pulang. Gak tega melihat anak-anak akhirnya aku menyerah dan membiarkan suamiku memanggil bala bantuan, mendatangkan mertuaku untuk menemani anak-anak di rumah.

Keesokan harinya mertuaku datang. Walau aku masih merasakan beberapa kontraksi, hasil test CTG di hari ketiga itu semakin mebaik, dan dokter pun mengijinkanku melanjutkan bed rest di rumah alias boleh pulang. Yeay... seneng dong... tapii... deg-degan juga. Bed rest di rumah, bisakah? Ibu-ibu di rumah pasti banyak urusan ini itu, dan Javas yang berusia 2 tahun pasti membutuhkan perhatian yang lumayan besar. Ah kan ada Eyang dan ada mbah pengasuh Javas.

Jam 2 siang aku sampai di rumah. Suamiku pun berangkat ke kantor lagi. Ibu mertuaku bolak-balik ke kamar nanya aku perlu apa, mau makan apa, mau diambilin apa. Javas main di luar bersama mbah pengasuhnya, Neysa dan Youri sekolah. Ya sudah aku tiduran saja. Bales BBM beberapa temen yang menanyakan aku cuti ke mana, buka-buka Facebook dan Twitter.

Mau tidur, gak bisa, perut rasanya gak nyaman. Mau makan, gak selera. Kontraksi terasa lagi. Sore hari Youri yang sudah pulang kuminta menemani dan mencatat jam tiap aku terasa kontraksi. Duh.. terasa tiap setengah jam. Selepas maghrib suamiku pulang dan kontraksi makin terasa, baik kekencangan maupun kekerapannya. "Sudah, tidur aja, obatnya diminum lagi." kata suamiku. Kuminum obat pengurang kontraksi itu, dan masih terasa saja. Kutelpon RS dan minta disambungkan ke bidan yang tadi siang berpesan kalau ada apa-apa telpon dia aja. "Istirahat saja Bu, minum obatnya. Kalau kontraksi terasa tiap 10 menit, segera ke rumah sakit."

Masih dan makin terasa. "Pa, harus ke RS lagi nih kayanya."

"Bentar lah, aku sholat Isya dulu, mandi dulu."

"Gak bisaa... ini sakit bangeet.." sambil ganti baju dan sambar tas.

Suamiku bengong. "Beneran?"

"Iyaaa..."

Pamit sama mertuaku yang lagi nonton TV bersama anak-anak, "Nitip anak-anak ya Bu, ini kerasa mau lahir kayanya."

Mertuaku pun bengong, "Loh katanya boleh istirahat di rumah? Oh ya.. ya.. sudah sana berangkat. Tenang aja, banyak-banyak berdoa saja."

Pamit ke anak-anak dan kuminta mereka mendoakan mamanya.

Masuk mobil, dan "Papaaaa.... cepeeet...."

Suamiku yang masih pakai baju kerja itu lari-lari buka pager dan berangkatlah kami ke RS.
Jalan menuju RS yang banyak berlubang membuat suamiku menyetir pelan-pelan, seperti permintaanku selama ini (ya iyalah nyetir di jalan jelek bawa orang hamil). Tapi kali ini, "Papaa.... cepeeet... ini sakiit..."

Baru sekitar 10 menit sejak berangkat, kontraksi hebat pun terasa. Aku yang sudah 3 kali melahirkan tahu betul bahwa ini sudah saatnya. Kutenangkan diri dan berusaha berkomunikasi dengan bayiku, "Tenang ya Dek... sabar ya Sayang... nurut sama Mama Sayang... jangan keluar dulu ya... bantu mama Dek.." dan suamiku pun makin panik.

Sampai di UGD RSAI, aku bertemu lagi dengan suster jaga yang menanganiku 3 hari yang lalu. "Ibu yang kemarin?" Kujelaskan secara singkat bahwa baru tadi siang aku diijinkan pulang setelah bed rest 3 hari dan ternyata sekarang terasa mau melahirkan.

"Sama dokter A ya Bu?"

"Yang lain aja deh... dokter B." Ya, aku merasa kurang puas saja dengan penanganan dokter A kemarin.
Suster itu keluar dan datang suster lain meminta data-dataku. Ough... kontraksi terasa lagi. Suster yang mendataku, menanyakan dari awal kapan mens terakhir, umur dll bla bla bla kumarahin. "Ini udah mau lahiir.... datanya ada semuaa di atass... (di ruang kebidanan maksudnya) huaa.... cepeettt....". Untung suster pertama masuk lagi dan langsung membawaku ke ruang kebidanan.

"Suamiku manaaa...."

"Tenang Bu, Bapak sedang mengurus administrasi."

Di ruang kebidanan, para suster dan bidan pun masih mengenaliku.

"Dokter A?" tanya suster kebidanan. "Bukan, ibu ini mau dokter B aja." jawab suster UGD.

"Terseraaaah... dokter siapa aja yang ada sekaraang.. ini udah kerasa bangeet...!!" ini teriakan si pasien alias aku tentu saja.

"Dokter jaga sekarang dokter A Bu, tapi masih di perjalanan," jawab suster kebidanan.

Astaghfirullah... aku beristighfar  dalam hati. Kenapa sih aku ini? Sombong dan sok tahu banget.. Kalau memang dokter A yang harus menolongmu, kenapa harus ditolak?

"Huaa,,,, suamiku mana?"

"Bentar Bu, masih di bawah."

"Kalau dokternya gak dateng-dateng gimanaaa... huhuhu...." aku setengah menangis sambil digantiin baju oleh tim suster dan bidan itu.

"Tenang aja Bu, gak akan kami biarin. Pasti kami bantu."

"Anak keempat ya Bu? Anak pertama berat lahirnya berapa? Kedua? Ketiga?"

Entah kujawab apa pertanyaan suster yang itu.

"Oh udah lengkap nih.." kata suster (atau bidan?) satu lagi yang memeriksa dilatasi servix (bukaan).

Suamiku pun muncul.

"Sudah siap ni Pak."

"Dokternya?"

"Belum datang Pak. Gak papa kok Pak, bisa kami bantu."

"Posisinya sudah benar?"

"Masih sungsang. Tapi gak papa, bayinya kecil kok. Insyaalloh gampang."

"Huaa.... cepeet....!!!"

"Ambil nafas Bu, tenang, jangan teriak-teriak, nanti tenaganya habis. Nah, ayo. Yaaa, bagus. Yaa... terus.. Ibu jangan berhenti! Jangan berhenti! Ayo dorong lagi. Nanti bayi ibu gak bisa bernafas!"

Dan tepat pukul 22.00 lahirlah bayi itu...


Sekitar 5 menit kemudian, datanglah dokter, mengeluarkan placenta, dan finishing lainnya.
Alhamdulillah... Allohu akbar..

Di usia yang sudah tidak lagi muda aku masih dikaruniai kesempatan dan kekuatan untuk merasakan sebuah proses luar biasa melahirkan seorang generasi penerus umat manusia, dengan cara mudah. Jam 9 malam berangkat ke RS, jam 9.30 masuk rumah sakit, dan jam 10 lahirlah si bayi.


Aku dan suamiku berpelukan, menangis, dan tak bisa berkata-kata.

Kami namakan bayi itu Muhammad Jindra Rafasya, seorang laki-laki berakhlak terpuji berkedudukan tinggi dengan sifat rendah hati, itu harapan kami yang tersirat dari namanya.


Dan hari ini, bayi itu berusia 1 tahun. Selamat ulang tahun sayangku.. Jadilah orang sholeh yang membawa manfaat bagi sekitarmu, dan bahagialah hidupmu, di dunia maupun akheratmu.

22 November 2012, Javas Resmi menjadi Aa Javas.
Februari 2013, setelah sembuh dari sakit.

Maret 2013, bermain cilukba bersama Aa Youri.

April 2013, nduut berkat ASIX.

Juni 2013, bersama sahabat tersayang, Aa Javas.



 
9 Agustus 2013

7 September 2013

Oktober 2013, udah kaya anak gede aja gayanya.
Nov 13, sudah setahun. Hobinya main air, merangkak naik tangga, & nyemburin makanan :D

Rabu, 13 November 2013

Mie Instan, Dicaci Tapi Dicari

Ketika jauh dari tanah air, Indomie salah satu yang dikangeni :)

Pulang ngaji sehabis Isya di masjid dekat rumah, Aa Youri langsung masuk ke dapur.

"Makan pakai apa Ma?"

"Itu udah mama gorengin ayam. Ada tahu juga." Cuma dua macem itu yang kumasak dengan sisa energi sepulang bekerja dan menempuh perjalanan macet melelahkan.

"Pengin makan yang berkuah Ma, Aa bikin Ind*mie aja ya? Aa makannya pakai nasi deh.."

"Jangan lah A.. Gak sehat. Mending beli capcay aja sana. Tuh lagi berhenti di depan rumah Pak Tomy."

"Gak mau ah.. Gak enak. Eh tapi Aa mau kalau mie. Aa beli mie goreng aja ya?"

"Ya udah deh sana... Jangan lupa bilang gak pakai pecin (maksudnya vetsin alias MSG :)) yaa..."

Dan gak lama kemudian pesanan Aa pun datang. Sepiring mie goreng hangat dengan aroma yang sangat menggoda, lengkap dengan acar timun, taburan bawang goreng, dan kerupuk. Eh tapi.. tapi... di balik kerupuk ituu... mie dan kawan-kawan pelengkapnya (baso, sosis, pokcay, kol, ayam) kenapa berwarna merah menyala gitu? Hadeuh.... saosnyaa...

Ini sih namanya lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Ehhh, pas gak nih pemakaian peribahasanya? Maksudnya gini, menghindari mie instan yang -katanya- gak sehat eh malah dapet mie yang sangat boleh diragukan kesehatan dan kelayakmakanannya. 

Gini nih akibat terprofokasi media. Takuuut banget makan mie instan (ya gak takut-takut amat sih, tapi minimal makan  mie instan sambil sedikit merasa bersalah. :)) tapi hantem aja makan / jajan masakan pinggir jalan, makanan kaki lima, yang gak ada jaminan kebersihan maupun kesehatannya, dengan tanpa rasa bersalah, atau dengan rasa bersalah di bawah rasa bersalahnya makan mie instan.

Coba lihat mie gorengnya si Aa ini. Mie yang dipakai merk apa, gak tau. Teregristrasi BPOM RI atau gak, ada ijin Menkes atau gak, dan ada label halal MUI atau gak, gak tau. Bisa jadi mienya mengandung bahan pengawet, pewarna, dan bahan lain yang tidak layak konsumsi. Belum lagi basonya, sosisnya. Mengandung borax atau formalin gak tuh? Saosnya? Hii... warnanya aja merah menyala gitu. Pengawet, pasti. Pewarna non makanan? Iyaa... sering lihat berita tentang itu.

Tapi... kok ya sering ya aku beli mie, kwetiauw, atau capcay (ngerasa beli 'makanan sehat' kalau beli capcay) di abang-abang yang lewat atau yang mangkal di pinggir jalan ya? Hadeuuh...

Kayanya mending bikin Ind*mie deeh... lebih murah, lebih enak, praktis, dan bisa 'dimodifikasi' menjadi sedikit lebih menyehatkan dengan penambahan telur, pokcay, dan tomat.

Eh tapi kan mie instan itu pencetus kanker? 
Kata siapa?
Kata BBM yang beredar... kata email yang diforward entah berapa ribu kali... kata ibu-ibu di grup.... kata... kata siapa ya?
Nah....
Bisa dipertanggungjawabkan gak tuh beritanya?

Banyaaaak banget berita beredar di jaman media sosial ini. Kita jadi mudah mendapatkan informasi. Tapi sayangnya tidak semua informasi itu benar dan dapat dipercaya.
 Tentang mie instan yang bumbunya gak boleh direbus, tentang tahu yang berbahaya bila dimakan bareng sama bayem, tentang timun yang gak boleh ini itu, tentang ancaman kalau tidak memforward pesan ini, tentang fatwa-fatwa dan hukum agama yang seolah-olah benar padahal gak jelas sumbernya, dll dsb.

Nah, tentang mie instan ini, karena penasaran kenapa begitu banyak yang 'benci' (tapi diam-diam rindu) beberapa bulan yang lalu aku cari-cari informasi. Seberapa berbahayanya sih?

Dan akhirnya kutemukan sebuah blog keren milik ibu Zullies Ikawati, seorang Profesor di bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik, lulusan S1 Farmasi UGM, doktor Ehime University School of Medicine Japan, dan menjadi profesor di usia 40 tahun! Ternganga-nganga aku baca tulisannya. Ya maklum lah aku awam dengan dunia farmasi dan bahan-bahan kimia. Tapi penjelasannya masuk akal dan nalarku. Langsung follow dong pastinya...

Dan artikel yang paling kucari selain tentang mie instan adalah tentang MSG. Penting ini. Walaupun di rumah aku sama sekali gak pernah masak menggunakan tambahan MSG maupun bumbu penyedap seperti mas*ko atau r*yco, tapi sehari-hari kami sekeluarga rasanya gak pernah lepas dari mengkonsumsi MSG ini. Yakin. Makan siang kami di kantin, catering sekolah, di restoran, jajan baso, somay, kerupuk, rasanya semua gak ada yang bebas MSG.

Pembahasannya tentang mie instan baca langsung di blog bu Zullies di sini ya..
Tentang MSG klik di sini.

Intinya begini, (ini kucopy dari blog bu Zullies) Monosodium glutamate atau  MSG adalah bentuk garam natrium dari glutamat. Jika MSG ditambahkan pada makanan, ia memberikan fungsi penyedap yang mirip dengan glutamat yang alami. MSG hanya terdiri dari air, natrium, dan glutamat. Glutamat dijumpai secara alami pada keju, susu, jamur, daging, ikan, dan berbagai sayuran. Glutamat juga diproduksi oleh tubuh dan merupakan senyawa vital dalam fungsi otak.

Tubuh kita bereaksi terhadap glutamate yang berasal dari MSG dengan cara yang sama dengan terhadap glutamate alami. Tubuh hanya akan mengenali glutamate, dan tidak membedakan dari mana asalnya,  apakah berasal dari keju, tomat, jamur, atau berasal dari MSG.

Glutamat akan diabsorbsi oleh usus melalui suatu system transport aktif ke dalam sel mukosa usus di mana mereka akan dimetabolisir menjadi sumber energi yang penting. Glutamate yang bisa mencapai sirkulasi darah sangat sedikit. Kadar glutamate dalam darah baru akan meningkat signifikan hanya jika glutamate dikonsumsi dalam jumlah besar (>5 g MSG), itupun akan kembali ke level normal dalam waktu dua jam. Konsumsi MSG sangat kecil pengaruhnya terhadap kadar glutamat pada ASI, dan MSG juga tidak bisa menembus plasenta. Glutamat juga sangat sulit menembus sawar darah otak.

MSG merupakan salah satu komponen makanan yang paling banyak diteliti. Telah banyak jurnal sains internasional  yang melaporkan tentang MSG dari segala aspeknya. Di banyak negara di dunia, MSG dilaporkan aman dikonsumsi.
   
Jadii..... Tentu saja pilihan kembali ke tangan kita, mau mengkonsumsi MSG atau tidak. Tapi dengan mengetahui apa sebenarnya MSG itu mungkin akan membuat kita lebih bijak memilih, gak kaya contohku di atas. Gak mau mie instan, pilih beli mie dorong yang lewat. Gak mau pakai MSG, tapi lupa bahwa ada bahan yang jauh lebih berbahaya dan gak layak konsumsi dalam sepiring mie goreng non MSG tadi. Ya, borax, formalin, pengawet, pewarna non makanan (ini sering banget ditemui loh..) yang tentu saja harus lebih diwaspadai daripada MSG yang gurih itu..

 




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...