Jumat, 25 Oktober 2013

Don't Compare Yourself to Anyone



Sambil sarapan pagi menikmati sepiring gudeg Yogya di warung tenda pinggir jalan Wastukencana, Yulie -temanku- bercerita, lebih tepatnya menceritakan seorang teman seangkatan kami yang sekarang sudah menjadi seorang pejabat eselon 3. Aku dan Yulie ini temen seangkatan, sama-sama kuliah di sebuah sekolah kedinasan di Jurangmangu, di pinggiran Jakarta Selatan. Si teman ini, sebut saja A, seorang ibu seperti kami juga. Wow... Tentu dia bisa terpilih dan menduduki jabatan itu karena prestasinya. Karena jabatan dan kedudukannya itu, A ini sering bepergian / bertugas ke luar negeri, ini yang bikin ngiri. Kerjaan dan tanggung jawab mah gak ngiri ya, hahaha.... Dan di sela-sela obrolan, di antara 'wow' dan 'wow', terselip kata-kata "Kok kita masih gini-gini aja ya?"

Hmm.... Jadi inget tulisan Sondang yang judulnya kucontek jadi judul tulisan ini. Tulisan lama sebenernya, tapi kubookmark karena rasanya sewaktu-waktu perlu kubaca ulang, untuk men'jewer' diriku sendiri.

Bagaimana gak serasa dijewer?
Amat sering kubandingkan diriku dengan teman-temanku yang 'wow' dan 'wow' itu. 'Wow' karirnya, 'wow' pendidikannya, 'wow' keberhasilan mendidik anaknya, 'wow' cantik awet muda dan langsingnya, dan 'wow'-'wow' lainnya.

Ada Nur Ana, teman seangkatanku di Jurangmangu, temen selingkaran waktu jaman mentoring-mentoring dulu (tapi dia rajin sedangkan aku bolos-bolos kabur melulu hihi..) yang sekarang sedang melanjutkan studi S3 di Melbourne Australia, mengejar mimpi-mimpinya. Huhuhu... asik banget kan ya, tinggal di negara maju, menikmati dan menjalani hidup dengan sesuatu yang berbeda, menambah kaya pengalaman dan wawasan. Sedangkan aku? Lulus S1 pun sudah alhamdulillah... mau melanjutkan kuliah S2 saja kok rasanya sudah penuh isi kepala, sudah gak sanggup menampung isian ilmu-ilmu dan angka-angka lagi... Eh ya, Nur ini juga penulis. Bukan penulis blog abal-abal seperti aku ini, tapi penulis buku yang bisa menjadi referensi para akademisi. Dan penulis blog yang membahas tentang keuangan daerah / pemda. Ini linknya. Keren kan?

Ada lagi Sonne, teman seangkatan juga di Jurangmangu. Tentu saja dia ibu bekerja sepertiku. Ya, karena kami lulusan sekolah kedinasan. Bekerja full time dari pagi sampai sore, sama sepertiku. Anaknya empat, sama sepertiku. Akan tetapi bedanya, anak-anaknya Sonne ini terlihat sekali terurus dan terdidik dengan baik, walau beribukan seorang ibu bekerja. Anak-anaknya pintar dan berprestasi, shaleh dan shalihah. Hafidz, hafalan Qur'annya sudah 7 juz, padahal masih kelas 5 SD. Wow... anakku yang hafal 2 juz aja suka kupamer-pamerin, padahal murni itu hafal dari didikan sekolah, gak ada kontribusiku (lha wong hafalanku cuma surat-surat pendek). Ini hafal 7 juz pasti kontribusi orang tuanya kan? Gak ada lah SD yang target hafalannya sampai 7 juz gitu. Duh... bener-bener jadi malu. Jangankan menambah pelajaran sekolah/menambah hafalan, mengecek PR anak-anak saja jarang kulakukan.


Dan ada lagi yang bikin iri, Ani. Ani ini teman sekamarku saat kost di Jurangmangu. Kami berteman sejak SMA, karena kami satu sekolah. Sebenernya sejak SMP pun aku sudah mengenalnya. Walaupun beda sekolah tapi rumah kami sama-sama di daerah Wetan Elo di Magelang sana, dan kami sering ketemu di jalan atau di dalam angkot yang sama-sama kami tumpangi. Sesama lulusan Jurangmangu, Ani ini pun bekerja full time as PNS sepertiku, Nur Ana, dan Sonne. Dan selain bekerja sebagai abdi negara, Ani ini punya bisnis sampingan. Punya butik baju muslim dan salon jilbab yang operasionalnya dijalankan oleh adiknya. Bukan butik kecil-kecilan. Ibu Gubernur, Ibu Walikota, Ibu-ibu anggota dewan, dan banyak hijabers lainnya yang menjadi pelanggan tetapnya. Aneka fashion show di mall, di hotel, pemotretan untuk majalah, syuting untuk acara televisi, menjadi kesibukan Ani saat ini. Apalagi saat Ramadhan dan menjelang Lebaran kemarin. Banyak proyek yang bahkan terpaksa harus ditolaknya.
Sempat kuledek dia, "An... gak nyangka ya, kamu tu dulu mandi aja males, sekarang bisa cantik kaya artis gitu, ngetop, dan gaulnya sama sosialita..." hahaha.... kami hanya tertawa bersama.
Siapa yang gak iri coba? Di jaman sosial media sekarang ini, di saat semua orang hobi narsis dan mengupload foto-foto diri, Ani ini bisa tiap saat dandan cantik, difoto oleh fotografer profesional, dan masuk media massa (bukan media pribadi macam fesbuk atau instagram kita ihik..) dan dia MENDAPATKAN PENGHASILAN dari situ. Inget kata-kata Oprah? Doing something you love, and got paid for that, what else could be more fun? Huhuhu... jadi pengin kaan?

Ani di salah satu tabloid.
Dan banyaaaak lagi teman-temanku yang kujadikan benchmark. Tentu saja kuambil pembanding dari temen-temenku yang berlatar belakang kurang lebih sama dan yang ibu-ibu lah ya.. Kalau dia laki-laki dan karirnya sudah jauh melesat, aku gak merasa terintimidasi sama sekali :)

Yak mari menghela nafas dulu.
Seperti yang ditulis Sondang, ketika kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, dan kita kalah (jauh pula kalahnya), yang muncul adalah rasa minder (dan terintimidasi katanya :)) dan kemudian disadari atau tidak kita jadi mencari-cari kekurangan si teman, hanya UNTUK MEMBUAT KITA MERASA LEBIH BAIK.

Ah kalau ibu-ibu ngejar karir/ ngejar studi/ ngejar penampilan, pasti rumah tangganya gak terurus. Suaminya gak diperhatikan. Gak bisa masak. Deelel deesbe dan sejuta kenyinyiran lainnya.

Padahal tidaak..... Lihatlah contoh tiga temanku di atas. Diantara kesibukan mereka, anak-anak mereka tetap terurus dan terdidik dengan baik. Dan mereka bukanlah ibu-ibu yang ogah beranak banyak dengan alasan ogah repot atau takut karirnya terganggu. Mereka ini ibu-ibu beranak lebih dari dua.

Dan mana itu bukti bahwa ibu-ibu yang pintar sekolahnya, maju karirnya, gak bisa masak?
Sondang contohnya. Sekolah S2 di ITB dengan beasiswa (dan seleksi untuk mendapatkan besiswa ini ketat banget... susyaah dapetnya), beranak 3 yang semuanya terdidik dengan baik, aktif menulis di blog dan beberapa komunitas, menjadi co-writer untuk beberapa sinetron, dan... dan... tanpa ART di rumahnya, dia tetap memasak makanan sehat untuk anak dan suaminya. Bahkan bekal makan siang suaminya pun dia siapkan sendiri setiap pagi. Aku salut padamu, Mamak Sondang.

Ani ini beranak empat, menjalani long distance marriage karena suaminya bekerja di luar pulau sana, kebayang kan repotnya (aku masih mending kan, beranak empat tapi bisa berbagi tugas dengan suami.) Dan dia ini pintar memasak loh...Dan mengalami juga masa-masa ART-less seperti kita. Jadi ya nyuci nyetrika ngepellah dia dengan jari lentik dan kuku cantiknya. Dan dia BISA. Dan dia tetap menjadi pribadi yang humble dan bersahaja dibalik 'gemerlap' penampilannya. Oh, I love you An...

Si cantik anak kedua Ani yang ikut membantu bisnis mamanya sebagai model.

Ini kukutip dari blognya Sondang:
Sebenernya kalo hati kita merasa nggak nyaman atau minder saat ada orang lain yang terlihat lebih segalanya dari kita (karir dan kehidupan pribadi aka keluarga ), artinya bisa jadi sebaliknya, kita akan merasa sombong saat ada orang lain yang terlihat kurang dari kita. Bukankah begitu? Harusnya kita tetap merasa bersyukur, nggak perlu dipengaruhi apakah orang lain terlihat lebih atau kurang dari kita kan.
Setiap  orang punya ‘beban’ yang harus dipikulnya masing-masing. Setiap keluarga punya ceritanya masing-masing. Dan rugi saja kalo kita membandingkan dengan orang lain. Selain nggak ada gunanya karena life is too short to fill with wishing I were as rich-as smart-as lucky-as beautiful-as other people, dan secara emosional akan bikin kita lelah karena bisa bikin kita either sombong atau minder.

Selain gak adil kalau kita hanya melihat hasilnya tanpa melihat proses mereka mendapatkan hasil itu (Kita gak lihat, mungkin di saat kita leyeh-leyeh tidur tiduran Nur Ana sedang berkerut-kerut keningnya menyelesaikan proyek disertasinya. Saat kita tertidur pulas, mungkin Sonne sedang menghafal Al Qurannya. Saat kita bermalas-malasan di depan TV mungkin Ani sedang sibuk mentraining karyawan, atau memikirkan inovasi untuk butiknya. Saat melihat tontonan yang sama, kita malas berfikir sedangkan Sondang harus mencari inspirasi untuk bahan tulisannya. Dll dsb... masa kita mengharapkan hasil yang sama untuk usaha yang jauh berbeda?) kita boleh lega Sang Maha Adil tidak meletakkan kebahagiaan HANYA pada banyaknya harta, bagusnya rupa, atau tingginya tahta. Kebahagian boleh dimiliki oleh siapa saja, bahkan oleh orang biasa sepertiku. Alloh meletakkan bahagia pada hati-hati yang bersyukur. Ya, BERSYUKUR, itu intinya.

Salah satu dari 7 indikator kebahagiaan dunia menurut Ibnu Abbas adalah Qolbun Syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Dan pasti masing-masing kita memiliki amat sangat banyak hal yang harus disyukuri, tinggal memanage hati agar mau selalu bersyukur.
Setiap orang Alloh ciptakan sepaket dengan peranannya. Kita tinggal menjalaninya. Mau pilih mana? Menjalani dengan hati bahagia penuh syukur, atau menjalani dengan hati iri dengki, keluh kesah dan rasa nelangsa?
Mau bahagia kan? Ajak hatimu untuk selalu bersyukur.
Mau ada pencapaian lebih, gak gini-gini aja? Lebihkan juga usaha dan doamu.
Yuuuk..... :))


*Tulisan ini kupersembahkan untuk sahabatku, Ani Fatihah, yang hari ini berulang tahun. Happy birthday my dear... semoga barokah sisa umurmu, makin maju bisnisnmu, makin cantik, dan terus menginspirasi.

The birthday girl. Maaf ya An, kuambil foto2 dari DPmu tanpa ijin :D
Ini alamat butiknya, kupromosiin di sini siapa tau aku tiba-tiba dapet kiriman dress cantik hahaha..
Kamila Butik dan Salon Jilbab
Jl. Majapahit 150/7 Semarang
085656025020
www.kamilahijab.com  (tapi kayanya webnya ini masih dalam proses development.. belum banyak koleksinya)




34 komentar:

  1. Belum membaca tulisan ini sj aku udh senang dan penasaran.. dan stelah membaca apa yg terjadi??? Speechless dan perasaan terharu berkecamuk... dan tak terasa air mata mulai menetes... ada rasa bangga pd diri sendiri dan temen2 nur anna dan sonne tp tentu saja perasaan bangga padamu tuk... betapa sebenarnya bukan aku dan temen2 yg kamu sbutkan yg sjatinya menginspirasi.. tp kamulah yg menginspirasi... dgn tulisan2 cerdasmu dan tulisan2 indahmu itu bener2 membuatku bangga skaligus iri hehee... pikiranku jd jauh menerawang ke jaman2 kita skolah dulu.. saat kita brangkat dan pulang bersma ke rumah kita yg ndueessoo itu.. ( kalo udh ksorean ga kedapatan angkot). Wkt kita belajar bersama meskipun kita beda jurusan ( kamu belajar rumus2 yg aku ga pernah ngerti sama skali, smntara kamu terbengong2 melihatku dgn gampangnya menghapal pelajaran2 sosial).. ada jg cerita2 lucu saat kita berusaha menyesuaikan diri dgn kampus jurang mangu.. smua itu mengharukan utk dikenang.. tp sjatinya kita harus bangga lo tuk.. krn kita dulu menjadi anak2 sekolah yg punya motivasi tinggi utk berhasil. (bandingin deh dgn anak2 jaman skrg).. waah kok jadi ngelantur ya ngomongnya...
    Tp aku cm mau menggambarkan bhw masa lalu itu indah utk dikenang tp masa dpn jg menyenangkan utk digapai.... di usia kita yg tdk muda lagi ternyata smangat utk maju tetap harus ada... dibalik smua pencapaian yg kita capai sjatinya msh byk kekurangan dan tambal sulam yg hanya diri kita sndiri yg tau. tp tetaplah berusaha utk lbh baik lagi
    Maaf kalo aku tdk bs menulis sbagus penulis.

    La mau kasih koment ke blog ini aja caranya ga ngerti mesti coba2 dulu.
    Maaf gaptek.banget.
    Maklummm ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaa.... akhirnya komen di blogku juga ibu sosialita ini...
      Aku mrebes mili An baca komemu... huhuhu... jadi kangen...
      Ah masa muda....
      Aku inget banget saat awal2 belajar akuntansi di stan, dan aku gak tau apa2 bahkan gak tau bedanya utang dan piutang, sementara kamu yg anak ips begitu jagonya, kamu tetap sabar mengajariku padahal aku sudah hampir menyerah saja rasanya. ..
      Dan yg paling kuingat adalah saat pertama kalinya kita ke jakarta nebeng mobil riana. Ah.. i miss you both..
      Semangatmu an, semangat mu yang selalu ingin kutiru. Dan quotemu masa lalu memang indah dikenang tapi masa depan juga menyenangkan untuk digapai itu aku sukaaaa...
      Jadi gak ada kata terlambat untuk memulai walau usia sudah gak muda lagi ya an... yg penting semangat tetep muda teruuus....

      Hapus
    2. itu hijabnya ketje abiissss... mau dongggg...! :D

      Hapus
    3. Ituuuh... itu sudah kucantumkan nomer telponnya khusus buat baginda ratu :p telpon ato sms ajaaa....
      bukan cuma jilbabnya yang kece2, dressnya juga cantik-cantik looh...

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Waaaa... kok keluarnya 2 tukk.
    Piye cara ngapus satunya..??

    BalasHapus
  4. Waaaa.... aku ingat Nur Sonne... hebat ya... mbak Tituk juga hebat.
    Kebahagiaan itu ada di hati yang selalu bersyukur, kalau bhs Jawa dulu ibuku bilang 'atine ora kemrungsung'.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetanggaku ada yang temen SMAnya nur sonne mbak.. aku dpt cerita ini dari dia. Hebat ya.. anak2 mbak titi juga pasti hafalannya banyak2..
      Ora kemrungsung = semeleh ya mbak..

      Hapus
  5. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain itu amat melelahkan. Tak ada kebahagiaan di situ. Jadi memang sudah keharusan kita bersyukur dengan semua pemberian Alloh. Sekecil apapun itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi manusiawi ya mbak membandingkan diri dg orang lain... tinggal gimana menata hatinya. Mau ikut berbahagia saat teman bahagia atau nelangsa saat orang lain bahagia.
      Ya mending ikut seneng kan yaa... :)

      Hapus
  6. Mbaaaak hahahahaa aduh ini postingan bikin besar kepalakuuuu dan gak kau tulis pula tukang merepet nenek sihir dan juteknya aku ya pencitraan yang sangat bagus ini di sini hahaha dan untuuung saja ada profil Mbak Ani dan Nur Anak, mereka itu contoh sukses di mataku dan sejujurnya, kalo itu yang terjadi di temen-temen deketku, kayaknya aku terintimidasi deh. Temen deket , gitu loh. Untuk merasakan kesedihan temen kan banyak orang bisa melakukannya, taopi yg berat itu bisa berbahagia dengan tulis akan kesuksesan temen. Salut mbak sama temen-temenmu, dan sebenernyaaaa akupun salut samamu Mbaaaak. Aku dari pertama baca blogmu udah kagum-kagum, and I think that explains kenapa aku gak pede menyapamu di awal baca , sampe ketemu alasan yang tepat buat komen doang pun pas mau ngasih selamat ya huahahhahaa. Apalagi pas tau kau lulus umptn juga di UGM TI. Aiyah, harusnya udah macam Jihan ya takpapalah, ketemu jodoh di stan kan huahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuhu.... kebalik kali Ndang... aku yang diem2 jadi silent readermu,, takut2 mo komen sampai akhirnya kau komen duluan di blogku hahaha.....
      Dan banyaaak ndang yang begitu.. jadi silent readermu... kaya Enuy yg komen di bawah..
      Jangan2 pd jd silent reader dan takut komen karena keneneksihiran dan kejutekanmu ndang..... hahahha..... kabur aah... sebelum disihir jadi kodok cantik....

      Hapus
    2. hahahahahahaha iya apalagi kalo ketemu duluan ya, kayaknya lebih takut deh orang mbak. Suara gede dan turbo speedku ini mengintmidasi banyak orang. Makanya aku suka banget bw, aku bisa tau pikiran dan opini banyak orang, yg mungkin kalo ketemu sama aku gak berani diomongin takut dinyinyirin atau malah kalah suaranya sangking gedenya suaraku ihik makanya kalo sama yang udah kenal aku suka bilang "kalo kalian mau ngomong dankayaknya aku nggak berhenti berhenti juga, POTONG aja omonganku hahaha*

      Hapus
  7. hahaha... ternyata itulah perasaan semua orang... aku sampe ga pede lagi menyapa teman dekatku waktu smp dulu, krn minder dia sudah sekolah dan menetap di jerman sono... sedangkan aku masih di cibiru-cibiru aja. wekekekek....
    dear mba sondang, sebenernya aku jg silent reader mu lohh... kadang suka sampe ngecesss klo baca postingan-postingamu itu.. kereennn....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa... keren ya Nuy baca2 gimana dia bisa memanange waktunya, dan gimana dia mendisiplinkan anak2nya...
      dan ternyata nuy, lebih melegakan rasanya ketika rasa minder pun kita ungkapkan.... karena.... karena ternyata banyak teman sesama yg suka minder juga hahaha...

      Hapus
    2. ih ko manggil mbak sih *manyun dan sambit pake tongkat nenek sihir* . Aku kan manggil mas-mu Mas Fitrah jadi...kita sama umurnya *ihiiiik denial to the max* aku baru liat link blogmu Nuy, kok dikit amaaaaat

      Hapus
    3. hahaha... itulah resep awet muda yang sebenernya... "tetaplah merasa muda" wekekekkeek.... yaahhhh gini deh klo blogger abal-abal... :)

      Hapus
  8. Subhanallah... setuju sama tulisan mbak Tituk... dan semakin kagum sama mbak, karena bisa ambil hikmah dari apa yang sudah dicapai teman-temannya. Dan bener kok mbak, semuanya kan sawang-sinawang ya mbak... apa yang orang lain capai dan kayaknya lebih bagus dan lebih sukses ya pastinya karena ada usaha yang lebih.. jangan ngarep kalo yang kita lakukan masih segitu-gitu aja, bisa dapat yang maksimal, hiks.
    Ma kasih sudah mengingatkan mbak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa... itu dia... kita eh aku ini pemalas yang banyak maunya... usahanya gini-gini aja kok hasilnya pengin seperti mereka hihi....

      Hapus
  9. "Seperti yang ditulis Sondang, ketika kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, dan kita kalah (jauh pula kalahnya), yang muncul adalah rasa minder (dan terintimidasi katanya :)) dan kemudian disadari atau tidak kita jadi mencari-cari kekurangan si teman, hanya UNTUK MEMBUAT KITA MERASA LEBIH BAIK."

    Wow wow wow...kesimpulannya bisa keren begini yaaaa? Makin kagum aku sama Mbak Sondang sama Mbak Tituk ini :D

    Izin berguru ya mbak-mbaaak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah Kiky.... bukan keren karena lebih pintar atau lebih bijak Ky.... lebih lama menjalani hidup alias lebih tua saja sebenernya aku ini... jd lebih lama mengalami pahit manis asam garam kehidupan ( ciyeeh bahasanya...)
      Tapi bener kan, disadari atau gak kadang kita mencari2 kekurangan orang yang begitu 'sempurna' demi kita merasa lebih baik.... padahal ketika kita gak nemu juga kekurangannya kita makin ternganga-nganga saja hahaha... Gak adil kan ya, demi membuat kita merasa nyaman kok orang lain yang harus menunjukkan kekurangan.

      Hapus
  10. Mbak, kalo aku malah sampe sekarang masih ngiri sama temen kuliah yang lulus D3 dulu itu, langsung nikah, jadi di umurnya yang 34 tahun ini, anaknya udah masuk SMP. Keren, yah! Ibunya lagi seger2nya, anaknya udah SMP.. :)
    Kalo ngiri ke temen yang udah eselon 4, ehm... belum, tuh. Kalo ngiri sama yang kuliah di luar negeri... iyaaaaa... hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iiih itu aku... aku... akuu.... Ibunya masih seger, anaknya udah SMP (udah mau SMA malah) huahaha..... *ditimpuki pembaca nyonyasutisna.blogspot.com
      Ngiri sama temen yg udah eselon atau temen yang kuliah di luar negri kalo aku mah ngiri enak-enak dan seru-seruannya aja.... kalo bagian tanggung jawabnya, tugasnya, mikirnya, aku gak ngiri sama sekali hahaha.... biarlah itu jadi bagian mereka.

      Hapus
    2. Eh iya Fit... kalo mau kagum sama ibu2 yg masih seger padahal anaknya udah SMP Ani itu anak pertamanya seumuran Neysa, jadi tahun depan udah mau SMA juga... dan dia masih cantik langsing seger gitu kaaan?? huhuhu.... *merasa terintimidasi lagi

      Hapus
  11. Kalo Papa nya py sering ngomong, kamu klo mo bandingin diri ke orang lain harus bener caranya. Kelebihan sama kelebihan, kekurangan sama kekurangan. Sampe kapanpun kamu ga akan pernah bersyukur klo yg dibandingin itu kekurangan kamu dengan kelebihan dia. Begitu kira2 mba :D

    Thanks for sharing Mba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget.... kalo yang dibandingin kekurangan kita dengan kelebihan orang lain, sampe kapanpun kita gak akan pernah bersyukur. noted..
      yang ada malah capek hati dan lelah perasaan yaa... :))
      Makasih juga udah komen py...

      Hapus
  12. Huff.... berasa kangen sekali dengan penulis dan teman sekamarnya.......
    Jadi inget saat kita sering jalan2 ke Tanah Abang.....
    Now....Tiap hari aku melewatinya.... tanpa kalian.... tuk mencari kain kiloan......
    Hehehe..... itu sekitar 20 tahun yg lalu........
    Sukses De' Ani Cantiq...... Dulu saat antara kita ulang tahun.... kita rayakan bersama.... dg lantunan surat Ar Rahman.....
    Tituk.......3 th bersamanya..... sungguh sangat menginspirasi.....

    Mari berusaha menjadi yang terbaik di mata Alloh............
    (Peluk)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak enjiiiiiii...... suatu kehormatan mbak NJ mampir di sini.
      Mbak, sungguh, ketika kutulis kata "dan masih banyak lagi teman yang kujadikan pembanding" yang ada di pikiranku salah satunya adalah dirimu mbak... Tadinya ingin kutuliskan juga kehebatan2mu yang membuatku kagum dan salut, tapi karena aku takut tulisanku kepanjangan, jadi kuambil 3 contoh itu saja... hiks....
      Sebenernya ingin kutuliskan betapa dirimu yang beranak lima, bisa mendidik dan mendisiplinkan anak2mu menjadi anak yg shalih shalihah dan berprestasi. Ingin kutuliskan betapa aku terpana melihat deretan piala yang terpampang di rumahmu atas prestasi anak2mu... (padahal itu 7 tahun yg lalu ya mbak.. sekarang pasti udah penuh lemari2mu itu).

      Dan betapa aku kagum pada caramu mendidik anak2mu shg kakak fathya bahkan di usia msh SD dulu sudah bisa bertanggung jawab, bangun malam sendiri tanpa kau bangunkan, untuk belajar ketika menghadapi ujian.
      Dan ingin kutuliskan bahwa diantara segudang kesibukanmu, dirimu tetap sempat menjahitkan baju anak2mu, menyiapkan mereka pentas, lomba, dan menemani apa saja aktivitas mereka. Dari dulu dirimu memang multi talenta. Nyanyi, ngaji, nari, puisi, masak, jahit, nulis (ayo dong mbak bikin blog....)
      Dan siapa bilang kalau ibu yang disibukkan oleh urusan anaknya gak akan berprestasi di kantornya? Dirimu mematahkan anggapan itu. Selalu ditempatkan di kantor2 pilihan, dan sekarang bahkan di kantor pelayanan nomer satu seindonesia, tentu itu terjadi karena prestasi kerjamu.
      Mbaaaaak.... sungguh sangat banyak yg ingin kutuliskan tentangmuu...

      Jadi kangen kaliaaan... ke tanah abang naik kereta... sampe kucel2 kita. Gak nyangka ya salah satu dari anak kucel itu sekarang ada yg cantik bak artis ternama.
      Dan inget gak mbak kita ke pantai carita, pergi diam-diam janjian di jalan, biar teman2 yg bukan gank kita gak ikut? Duh jahatnyaaaa... hahaha.. tapi itulah masa muda.
      Dan apa pula itu 3 tahun bersamaku tetinspirasi? Lha wong aku ini begitu culunnya dulu... kalau dirimu mbak dari dulu sudah jadi panutan. Ketegasan, kepemimpinan dan bahkan ke'galak'anmu masih kuingat.
      Gak segan2 kau tegur kami2 ini ketika sedikit menyimpang...
      Dan bahkan komenmu ini jleb jleb di hatiku. "Mari berusaha untuk menjadi yang terbaik di mata Alloh". Huaaa.... mbak enjiiiiiii. .. I love youuuu....

      Hapus
  13. Waaaa... mba enjiii.. tituk.. kangen banget.. jd teringat jaman2 kucel dulu di kalimangso 45.. nonton tv sm separo aja masih ditegur mba2 mentorrr... aku baca tulisan ini sambil nangis n ketawa sendiri... mba enjiii pa kabaaarr??? lama skali ga jumpa.. tp aku yakin mba enji pasti msh mungil sptku.... rasanya pengen kutulisskann smua hal yg udh kita lalui di blog ini... tp takut pembaca lain protessss hahaa.... pokoknya salut dgn temen2ku smua... mjd org2 yg terbaik dengan caranya masing2..

    Tp membaca komenmu tuk ttg mba enji... terus terang aku iriii banget.. krn sbnrnya disitulah aku paling mjd pribadi yg gagal... msh sangat byk kekurangann... bagi resepnya mba enjiiii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya loh An, anak-anak mbak NJ itu hebat2.. mandiri, dan pinter2..

      Hapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  15. aku pun mulai ada di masa ini mbak tituk. temen satu kontrakan di pjmi (kami dulu di pjmi. tapi sempet deng di kalimongso setahun) mulai mentas satu persatu. yg s2 di LN ada. yg juara satu di ui ada. yg masih di situ-situ aja juga ada (ahemm, yg ini aku). tapi kebahagiaan itu sederhana kok mbak. lulus s1 aja udah alhamdulillah, xixi,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Vi.... kebahagian adanya di hati yang bersyukur...
      Walaupun mupeng melihat pencapaian teman2 kita (ini manusiawi kan.. suka melihat ke atas :)) tapi kita tetap bisa bahagia asalkan kita pandai bersyukur.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...