Rabu, 23 Oktober 2013

Ya, Saya Ibu Beranak Empat

Baru 3, belum empat2nya naik ke punggung, itu pun sudah nyengir keberatan.
Beberapa hari yang lalu, saat jam istirahat siang aku pergi ke sebuah supermarket di dekat kantorku (mudah ditebak, pasti ke Yogya RJ :)) untuk beli susu Pedia**** buat  Javas yang baru sembuh dari sakit dan masih susah makan. Di lorong susu itu, seorang SPG susu (terlihat dari logo di bajunya) menghampiri dan menyapaku dengan ramah, "Putranya usia berapa tahun Bu?" Di keranjang belanjaku ada 3 merk susu. Selain pedia**** buat Javas, ada susu rasa vanila karamel buat para abege dan susu formula penyambung ASI buat Jindra.

"Maksudnya anak yang mana Mbak? Anakku ada 4 loh.. Ada yang sudah 15 tahun, ada ada yang masih bayi 10 bulan."

Sebenernya gak perlu pamer anak juga kali ya, tapi entah kenapa kujawab begitu si mbak SPG tersenyum saja dan mundur, gak jadi 'presentasi' produknya. Hehehe.... Mungkin yang ada di pikirannya ibu-ibu beranak 4, sudah gede-gede, percuma aja dibujuk ditawari susu ini, pasti sudah punya pilihan sendiri untuk anaknya, sudah pengalaman..

Atau jangan-jangan ini yang ada di pikirannya, ibu-ibu beranak empat, pasti pusing ngatur uang belanjanya, percuma saja nih dibujuk untuk beli susu ini, duitnya pas-pasan.. hahaha...

Atau, apa ya kira-kira yang menyebabkan si mbak SPG gak jadi menawarkan produknya? Ih ngapain juga mikirin ini yaa.. Kurang kerjaan amat.

Jadi, terprofokasi oleh tulisannya Baginda Ratu Tentang Anak Ke-4 baiklah aku tuliskan, gimana ceritanya sih, kok bisa anaknya 4, dua gede-gede dan dua kecil-kecil? <- ini pertanyaan yang seriiing banget aku terima.

Sebenernya, sejak awal menikah aku sudah pengin punya anak 4, 2 laki-laki dan 2 perempuan, seperti anak-anak ibu bapakku. Sementara itu suamiku ingin kami beranak 5, ya sama lah... seperti anak-anak mertuaku yang 5 orang juga. Tapi ketika Youri lahir di saat Neysa baru berusia 2 tahun lebih 2 bulan, kami memutuskan untuk menunda punya anak lagi. Repoott... terutama urusan mencari pengasuh yang cocok untuk anak-anak. Padahal urusan pengasuh anak adalah urusan paling penting untuk ibu bekerja sepertiku. Jaman itu belum kepikiran daycare, entah karena memang belum tersosialisasikan seperti jaman sekarang, atau memang gak kepikiran sama sekali.

Ketika Youri sudah mulai masuk TK (dan sekolah full day) ketergantungan kami kepada ART hampir gak ada. Jadi saat ART gonta ganti atau bahkan gak ada sama sekali, kami gak terlalu pusing. Dan kami pun merasa cukup dengan ART yang datang pulang pergi beberes rumah nyuci nyetrika saja. Semua aman terkendali.

Kondisi nyaman ini semakin bertambah ketika tahun 2007 aku pindah kantor yang hanya berjarak 20 menit dari rumah. (kalau naik motor mungkin malah cuma 10 menit). Dan Youri mulai masuk SD, satu sekolah dengan Neysa, yang jarak tempuh dari kantorku ke sekolah mereka cuma sekitar 5-10 menit saja.

Dan kemudahan semakin bertambah ketika ada SK mutasi dan ternyata suamiku pindah, SEKANTOR DENGANKU (belakangan diralat). Setiap hari kami berangkat berempat, ngabsen dulu di kantor, lalu aku/suamiku antar anak-anak ke sekolah, dan jam setengah 8 pun sudah ada di kantor lagi. Sore hari jemput mereka jam 4.30, dan mereka nunggu di parkiran atau di kantin sampai kami pulang jam 5.

Setiap hari begitu, berempat ke mana-mana. Jalan-jalan weekend pun berempat. Dan saat itu sama sekali gak kepikiran buat nambah anak lagi. Sudah nyaman begitu. Dalam hati sih tetep pengin punya anak 4, tapi entah kapan. Tidak untuk saat itu. Ngebayangin repotnya punya bayi dan balita lagi...? Oh tidaak... belum lagi puyengnya masalah nyari pengasuh yang cocok, ngebayangin stressnya ketika ART tiba-tiba minta pulang, ah, nanti dulu deh punya anak lagi...

Tapi di sisi lain aku gak KB karena takut nyoba pil ato suntik, takut gak cocok. Pernah pasang IUD waktu habis lahiran Neysa tapi gak cocok jadi kapok. Untunglah jadwal mensturasiku teratur jadi gampang menghitung masa subur. Jadi kupakailah KB 'sistem kalender'. (Gak perlu jelasin yang ini paham kan ya?) Jadi ya meskipun dalam kondisi nyaman itu kami belum kepingin nambah momongan lagi, tapi kami juga siap kalau sewaktu-waktu ternyata aku hamil lagi. Dan ternyata sistem kalenderku berjalan aman sentausa saja tuh... (kehendak Alloh tentu saja).

Dan tiba-tiba kondisi nyaman tenteram itu berantakan. Ada SK baru (hanya sekitar 3 bulan dari SK kepindahan suamiku) yang mengharuskan suamiku pindah ke Kebumen dan aku pindah ke kantor yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah! Huaaa... bener-bener nangis nerima SK itu. Yang kepikiran tentu gimana ini anak-anak? Sekolah dianter siapa? Pulang sekolah di rumah sama siapa? Dan akhirnya kami butuh ART yang nginep lagii... dan seorang driver untuk antar jemput anak-anak. Alhamdulillah dua-duanya mudah kudapat. Rejeki.

Suamiku pulang seminggu sekali. Dan apa kabar itu KB sistem kalender? Bubar jalanlah yaa.. Masa sih udah ketemunya cuma seminggu sekali masih pake tanggal-tanggal larangan pula. Singkat cerita, hamillah aku. Kehamilan yang benar-benar disambut dengan suka cita oleh semuanya. Neysa, Youri, bahagia mau punya adik lagi. Suamiku, jangan tanya gimana senengnya. Bahkan di minggu-minggu setelah tanggal masa subur itu, suamiku tiap hari nanya, "Udah beli test pack?". Ealaah... mau ngetes apaan sih, baru juga kemarin. Dan ketika tanggal yang seharusnya aku mendapat mens ternyata tidak, aku test urinku dan ternyata (sudah sangat diduga) positif, suamiku langsung nelpon dong, nyuruh aku segera ke dokter kandungan. Di dokter kandungan, pertanyaan pertama dokter pun kujawab dengan gugup.. "Sudah telat (menstruasi) berapa hari Bu?" Errr... mmm.... belum telat sama sekali, hahaha....

Dan kelahiran bayi Javas membawa keceriaan baru di rumah. Rumah yang biasanya rame oleh omelanku terhadap dua anak gede itu (biasa kan ya, ibu-ibu mah cerewet dan galak ke anak-anaknya), sekarang rame oleh ocehan bayi. Neysa dan Youri pun seperti melihat sisi lain ibu mereka yang selama ini galak dan cerewet, ternyata begitu penyayang dan lemah lembut terhadap adik bayi mereka. Dan mereka seperti tersadar, bahwa sebenernya mereka pun disayang, dan mereka pun tahu bahwa saat mereka bayi mereka juga pasti disayang. Ini kusimpulkan dari pertanyaan polos Youri dan Neysa waktu itu, "Ma, waktu Kakak /Aa bayi dulu digituin juga gak?" Pertanyaan yang diajukan ketika mereka melihatku mengurus bayi Javas, dibedong, diurut, diminyakin, dikelonin, digendong-gendong, segala ditanya, aku dulu digituin juga atau gak. Hiks.....

Kehadiran bayi (yang sudah menjadi balita) yang sepaket dengan kebahagian dan kerepotannya itu membuat kami ingin menambah satu bayi lagi. Dan Alloh menganugerahi kami bayi Jindra, pembawa kebahagiaan berikutnya, saat Javas berumur 3 tahun 2 bulan.


13 tahun 9 bulan, jarak umur anak ke-1 dan ke-4

Setelah Jindra masih mau nambah lagi? Inget umur Buuu.... Suamiku yang tadinya pengin kami beranak 5 pun jadi merasa cukup dengan 4 anak saja ketika melihat aku dan kehamilanku yang keempat kemarin. Kasihan, katanya.. Ya iyyalah... beda banget stamina kehamilan ibu berumur dua puluhan awal dibanding dengan kehamilan saat aku berumur tiga puluhan menjelang akhir. Jadi, sudah cukup rasanya kami beranak 4 saja. (Ya Alloh cukupkanlah 4 anak ini bagi kami....)

Repot? Yaa itu relatif, gimana kita pinter-pinter ngatur waktunya.
Capek? Iya sih, tapi kan terganti oleh kebahagiaan melihat senyum lebar dan bening mata mereka.
Kebahagiaan dan pelajaran, itu pasti. Setiap anak membawa kebahagiaan. Setiap anak membuatku belajar, satu diantaranya adalah bahwa mereka merepotkan tidak akan lama, bahwa mereka menguras energi kita hanya sebentar saja. Lihatlah itu Kakak dan Aa... tau-tau mereka sudah gede saja.

Marah karena anak-anak balita itu gak ngerti-ngerti, susah diatur, dan gak mau ikut aturan? Aturan siapa Mama? Aturan di dunia mereka tentu berbeda. Dan kenapa kita mengharuskan mereka ikut aturan kita sementara kita gak mau ngerti aturan mereka? Dan melihat Kakak dan Aa, kemudian melihat Javas dan Jindra... terpampang nyata betapa ternyata anak umur 4 tahun itu masih kecil... kenapa dulu sudah kuterapkan banyak aturan dan tuntutan untuk anak sekecil itu? Harus ini itu begini begitu...hiks..

Kesal karena ngerasa gak punya me time, ke mana-mana harus sepaket dengan bayi di gendongan, gak bisa jalan-jalan sama teman karena buntut berderetan di belakang? Lihatlah itu Kakak dan Aa... betapa susahnya ngajak mereka jalan-jalan bersama kita sekarang...

Kehabisan kesabaran gara-gara rumah berantakan, makanan bertumpahan, mainan berceceran? Sabar Mama... karena... karena.... ternyata membuat rumah berantakan itu tetap dilakukan oleh anak-anak bahkan sampai mereka sudah abege sekarang... hahaha.... Mau marah-marah sepanjang usia mereka dari balita sampai remaja? *plaakk.... aku tertampar.

Jadi, menambah anak membuatku belajar makin sabar. Percaya deh, makin banyak anak makin penyabar. Lihat tuh Mbak Titi... anaknya 5 dan kesabarannya seluas samudra kan?
Tanpa kesabaran, hanya penyesalan yang kita dapat.

Sungguh, bukan berarti sekarang aku penyabar menghadapi anak-anakku... masih belajar juga kakaaak...
Hanya saja aku tidak terlalu terprofokasi lagi oleh berbagai macam teori tumbuh kembang maupun teori parenting itu. Tetap kubaca, tetap kupelajari dan kupraktekkan, tapi gak menjadi stress (dan marah-marah, dan anak-anak juga pelampiasannya) ketika anak-anakku tidak sesuai benchmark teori-teori itu. Setiap anak berbeda, dan tidak semua anak cocok dengan teori A misalnya. Mungin dia cocoknya dengan teori B, atau malah teori Z. Eh ya, ilmu tumbuh kembang dan parenting itu terdiri dari berbagai aliran dan teori juga kan? Yang mana antara teori satu dengan lainnya kadang gak cocok... Ya seperti teori tentang makanan sehat atau diet ituu.. Diet konvensional menyarankan makan malam buah-buahan saja, diet food combining mengatakan buah dimakannya pagi-pagi. Yang bener yang mana? Gak bisa dikatakan salah satunya salah kan yaa.... Dua-duanya bener. Tapi kalau dua-duanya diikuti ya pingsanlah aku... pagi cuma makan buah, malam pun cuma buah juga. Apalagi kalau makan siangnya kuikuti teori diet golongan darah, yang melarangku makan ayam, daging dll... misalnya.

Sekarang ini lebih kubiarkan anak-anakku tumbuh dengan santai, karena semua ada masanya. Gak mau tidur sendiri? Ah, nanti juga ada masanya dia gak mau lagi tidur bareng kita. Susah lepas ngedot dari botol? Ada masanya dia malu minum dari botol. Tugas kita sebagai orang tua hanyalah menyiapkan dia SIAP menghadapi masa-masa itu, bukan mempercepatnya.

Jadii... bagaimana Baginda Ratu? Siap untuk anak keempat?  :)))


28 komentar:

  1. Mbak Tituuuukkkk! Ini aku baca sambil makan siang, eh lah kok mataku langsung ngembeng beginiiiii... :')
    Benerrrrr banget ya, dimensi waktu anak2 itu bedaaa sama kita. Dan teori itu baru kupahami justru setelah adik2nya andro lahir. Jadi akhirnya aku simpulkan, makin nambah anak, akan makin nambah ilmu dan pengetahuan kita. Benerrrr ya, jadi orangtua itu sejatinya proses pembelajaran seumur hidup.
    Haha, aku suka juga loh ditawarin susu dan persiiiiisss ditanyain kayak mbak Tituk begitu, umur berapa anaknya, trus kujawab: anak yang keberapa, mbak? Yang pertama, kedua apa ketiga? haha.. ada bangga-nya dikit, punya anak banyak..hahaha...
    Aku kok nggak ngeliat jelas ya, kalimat yang terakhir itu? Tulisan apa sih, tuh? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah tuh kaan... makin nambah anak bukan makin menguras kesabaran kok.. malah menambah.. jadiii... jadiii... siap kan untuk anak keempat?
      Bener2 proses belajar terus menerus yaa... ini bisa nulis begini, bisa bilang bahwa masa beranak dua adalah masa nyaman, kan sekarang aja. Dulu sih pas ngejalaninnya ya tetep penuh dnegan suara tinggi dan wajah galak tiap hari.... sarapan lelet lah.. belum nyiapin buku lah.. botol minum ilang lah.. dan sejuta hal gak penting lainnya... huhuhu.... nyeselnya sekarang... Betapa hal yg seharusnya sangat kusyukuri waktu itu, kok kujalani dengan cara seperti itu.

      Hapus
  2. Eh ya, itu foto Neysa sama Jindra, pernah muncul di postingan mudik kan, ya? Ya ampuuunnn...! Kupikir itu Jindra lagi dipangku tantenya, looohhhh! Hahaha....
    Gilingan ya, beneran udah gede aja, kak Neysa. Cantik, tik, tik pulaaaa... *mirip mama lah, mana boleh mirip papa* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa.... ini foto2nya kuambil dari foto postingan lebaran...
      dan terima kasih tante udah bilang Kakak cantik... kan kakak mirip mama... :p

      Hapus
  3. wooooww..woooww....#speechless.....heheee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku speechless juga mau bales komen apa hehehe....

      sungguh, mempunyai empat anak bukanlah sesuatu hal yang kusombongkan, pun bukan hal yang membuatku minder (walau terkadang ada yg menatapku dg tatapan gimanaaa... :))... semua ini amanah dan kehendak Sang Maha Sutradara...

      Hapus
  4. Jempool buat mba Tituk. Mama juara deh ....
    Memang ya... sekarang bisa nyeritain masa-masa sulit dulu dengan 'enteng' ... dan time flies.. anak anak udah gede aja hehe...
    Nesya cantik, aku aja pangling. Padahal dulu hampir tiap hari lihat dia bermain di parkiran pas nunggu beberapa menit untuk pulang bareng Mama itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Titi lah yang umi juara.... sabarmu itu lho mbaak.... aku pengin berguru.
      Cerita masa lalu enteng ya mbak... lha wong udah lewat hehe.... tinggal kita ambil pelajaran saja,, yang kita sesali ya jangan diulangi... (tapi tinggal ngambil pelajaran aja kok ya kadang susah ya...)
      Hahaha.... yang dulu segedung di bypas 781 (eh bener gak nomernya) pasti pada pangling yaaa.... anak2 kecil yang suka main2 di parkiran, dekil, main tanah, perosotan di tanjakan, eh sekarang tau2 sudah jadi anak gadis saja.. dan cantik.. #ehm... :))

      Hapus
  5. Betul ini, si mama juara... dan seperti juga aku bilang ke mbak Fitri... Allah itu memang kasih jatah ya sesuai porsi kita ya mbak... kayak mbak Tituk ama mbak Titi yang termasuk penyabar (kudu banyak belajar dari mereka berdua)... jadiiii, siapa takut punya anak 4??

    BalasHapus
    Balasan
    1. haduh Ka... juara apane? juara galaknya iya kayanya....
      kalo mbak titi emang iya penyabar, lha kalo akuuu... haduh,,, meskipun sering nyesel dulu galak ke anak2, eh sekarang masih sering galak jugaa....
      coba tanya Javas...
      dirimulah ya yg penyabar Ka... beranak empat tapi gak pernah ngeluh.. dan selalu energik. kalo aku kok kayanya banyak beralasan capek ya ketika diminta ini itu sama anak2... (ya eyyalah... umur gak bohong buuu.... :))

      Hapus
    2. Kalo mbak Titi yakinlah itu... dan mbak Tituk sudah membuktikan. Lha kalo aku?? nampaknya aja mbak sabar.. sabar dan 'ora urus' itu beda tipis keliatannya ya mbak, hihihihihi. Yuk saling mendoakan biar bisa lebih sabar.. amien

      Hapus
    3. 'ora urus'... hahaha... udah lama banget gak denger kata itu...

      Hapus
  6. Mbak Tituk, salam kenal yaaaaa :D

    Aku ngerasain beda 11 tahun 4 bulan sama adik bungsuku. Dan emang beda rasanya cara ayah ibu memperlakukan kami :P Iyaa, Lebih lowong di aturan :P

    Mungkin karena emang mereka udah lebih dewasa jadi sabarnya udah lebih banyak. MUngkin juga kayaka Mbak Tituk, karena udah sadar anak-anak g selamanya kecil, nih udah 2 aja anaknya yang merantau :')

    Makasih mbak Tituk untuk postingan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Kiky... salam kenal juga...
      waaah gimana nih pendapat seorang kakak yang beda jauh sama adiknya? kerasa beda ya, sering iri gak sih? merasa gak disayang gak?
      Hiks aku takut anak-anakku merasa gak disayang karena aku banyak aturan, cerewet atau bahkan galak... padahal aturan2 dan kecerewetan itu kan untuk kebaikan kalian, anak-anakku.... kalo galak sih ya bukan untuk kebaikan kalian, itu mama khilaf.... itu murni karena ketidaksabaran mama... huhu..
      eh bener juga ya mungkin aku skrg agak sedikit (agak, sedikit pula :)) lebih sabar karena lebih dewasa (lebih berumur, tepatnya :)) dan energi untuk marah-marah pun sedikit berkurang hehehe...
      Makasih Kiky udah mampir..

      Hapus
    2. Aku suka protes sih sama ayah ibu. Tapiii, aku sendiri udah merasakan manfaat 'dikerasin' dulu. G mau ngulang sih, tapi aku juga g benci kok sama mereka.

      Anak-anak juga punya hati untuk mengerti kok mbaaaaak :D

      *akan sering mampir kook :D

      *ini maaf komennya pake blog jadul. Abisnya g ada pilihan yg bisa masukin blog sekarang :P

      Hapus
    3. iya sih... walo galak (galak ini menurutku sih ya... siapa tau ternyata menurut mereka aku mama yg gak galak sama sekali.. ihiy... :)) tapi teteeeup... apa2 mama... nempel2 sama mama... :D
      blog jadul di komen ini tapi tetep kutemukan blog terbarumu kan... :)
      pake id blog sekarang gak bisa? nah itu aku gak tau kenapa... lha wong gaptek gini diriku...

      Hapus
  7. Mbaaaak, kereeeen.Suka tulisannyaaaa, ini encouraging banget yang buat NIAT ya. Dikau memang dari awal udah niat 4 anak ya mbak. Dan kmrn Mbak Titi cerita soal Bu Endang yang anaknya 6 dan 2 di antaranya ngambil fast track di ITB dan kami terkagum-kagum lagiiii. Aku tauuuu mbak, emang harus dinikmatiii. .Kalo nggak bakal marah-marah terus ya kan dan nyesel kemudian. Tapi pas prakteknya suka lupaa huhuhuhu. Ke Gama juga kami udah jauh lebih longgar (baik ke diri sendiri sebagai ortu maupun ke anaknya ya) jadinya emang lebih menikmati padahal pas Gama kayaknya lagi hectic hecticnya. Kayaknya itu yg bikin Edi malah ngerasa enjoy dan masih kepikiran anak lagi ya. Tapi bener, umur kan juga ngaruh mbaaak , sedangkan hamil Ephraim Gaoqi aja beda dengan Gama yang ngelahirin di 33.Aku sukaaa tulisanmu ini, analoginya pas banget yang soal diet itu. ihihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Marah2 ke anak tu kaya lingkaran setan ya... marah2, nyesel, ngerasa gak bisa jd ortu yg baik, guilty feeling yg berujung pada stress, stress yg berakibat jd mudah marah2... gitu terus. Cara memutusnya ya dengan menurunkan standar tuntutan kita thd anak, atau menaikkan level kesabaran.
      Iyaaa.... sekarang ini kalo dipikir aku juga lagi hectic2nya, anak 4, no ART nginep, kerjaan banyak, kantor jauh. Tapi enjoy... Makanya suka mikir, kok bisa ya dulu itu anak baru 2, kantor deket, kerjaan juga gak banyak, tapi asa riweuh... ngomel2 (hampir) tiap hari. Ih bener2 gak bersyukur...
      Jadii... gimana Ndang? siap anak keempat juga? yuuk... :))

      Hapus
    2. Tunggu Mbak tungguuuuuu hahahaha. I will enjoy this dulu yaaak , tapi ilmu-mu buat menguatkanku menjalani yang sekarang with joyful heart

      Hapus
  8. aah jd pengen hamil lagi hihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. monggo.... tinggal lapor sama pak suami,, hehe....

      Hapus
  9. Tituuukkk... ini mirip banget ama ceritakuu... ternyata punya anak 4 jauh lbh ringan ketimbang jaman punya anak 2 dulu.. tentu saja sebabnya bukan krn pekerjaan atau kerepotan yg berkurang.. tp krn hati kita lbh legowo dan santai menghadapinya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benerrr. . Lebih legowo dan santai mungkin karena kita sudah lebih dewasa (gak mau bilang tua hihi) ya an... jadi lebih siap mental.
      Kita memang punya anaknya kemudaan kayanya an, hahaha....

      Hapus
  10. aku tertampar.hiks..
    anakku baru satu mbak dan aku udah merasa trauma aja (dimulai dari kehamilan sampe lahiran). sampe sekarang masih ngeri. tapi baca ini, aku berterima kasih sudah membuka pikiranku mbak. makasih banyak ya (beneran tulus ngucapinnya)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Proses melahirkan emang kadang bikin trauma yaa... jadi setiap menjelang lahiran itu mindsetku udah kubikin gini, "Melahirkan itu proses alami. Semua wanita pada dasarnya bisa melalui proses ini. Gak perlu khawatir ini itu, toh ibu2 jaman dulu, dan bahkan ibu2 di perkampungan primitif yang gak kenal dokter pun bisa melahirkan."
      Walopun kalo udah masuk ruang bersalin tetep aja nervous haha...
      Coba follow @bidankita di twitter... pasti jadi yakin deh (minimal percaya diri) bahwa hamil dan melahirkan itu mudah.

      Hapus
    2. sebenernya sih aku mau melahirkan normal atau caesar, aku bahagia mbak. namanya buat anak. cuma kemaren emang dari hamil, lahiran setelah lahiran pun banyak banget masalahnya. trauma lebih karena anakku sakit jadinya yg keinget saat di neonatus lah, saat harus puasanya padahal masih bayi, saat ambil darah seminggu sekali. hal-hal ini yg bikin trauma. hiks..

      Hapus
    3. hmmm.... ternyata kita pernah punya pengalaman yg hampir sama... baby jindra pernah dirawat 5 hari di PICU.. memang bikin trauma. Mengingatnya saja kadang bikin hati perih...
      Melihat plang rumah sakitnya saja masih bikin aku deg2an. Begitu juga kalau mendengar suara ambulan.
      Ah sudahlah...
      Aku berusaha melupakan.. yang kulihat sekarang Jindra yang sehat, lucu, menggemaskan :))

      Hapus
  11. Seneng nemu blog ini.. Saya ya gt mba.. Lg hamil anak ke 4.. Cm sedihnya tiap ktemu knalan n sodara yg tau saya hamil lg malah d cemooh, katana gini hari cari penyakit punya anak banyak.. Hikss.. Wong aku gak minta makan sama orang kok.. Semangat truss ya mba..

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...