Senin, 28 Oktober 2013

Risoles Amerika Made in Bandung


Biasanya aku males bebikinan kue yang 'merepotkan' macam bikin risoles ini.  Kulitnya harus didadar satu-satu, diisi dan dilipat satu-satu, dibalur telur dan tepung panir satu-satu, baru digoreng. Maunya sih yang tinggal kocok-kocok campur-campur tuang kukus/oven/goreng, tapi setelah melihat resepnya Lianda Amarta yang kayanya gampang bikinnya dan simpel pula bahan-bahannya, (dan membayangkan lezatnya sepotong risoles hangat berisi daging asap keju telur dan mayones) tergodalah aku untuk mencoba bikin risoles yang bernama American Risoles ini. Mumpung lagi ada bala bantuan tenaga, Kakak Neysa lagi ada di rumah. Lumayan buat bantu-bantu ngaduk adonan :)

Dan ternyata gak seribet yang dibayangkan kok.. Memang kulitnya didadar satu-satu, tapi gak lama loh proses itu. Sesendok-sesendok tau-tau selesai tuh semangkuk adonan.

Dan karena kemarin cuma belanja di warung deket rumah, gak ada dong daging asap... ya sudah kuganti sosis saja. Tetep enyaaak... nyom nyom nyom..

Kulitnya lembab di dalam tapi crunchy di luar. Pakai tepung panir yang kasar, jadi renyah banget.  Enak deh... satu resep ini jadi 15 pcs risoles yang begitu mateng digoreng langsung tandas haha... Kapan-kapan bikin lagi aah....

Ini resep risoles mamanya Lia, sudah kukonversi jadi ukuran gelas tanpa timbangan.. kupersembahkan buat teman-temanku yang pada males nimbang nimbang hehe.. #nomention

Bahan kulit:
1 1/2 gelas tepung terigu (150 gr)
2 gelas susu cair (350 ml)
1 sdm mentega cair (krn males menyairkan cuma 1 sendok mentega jd kupakai olive oil dan kutambahkan 1/2 sdt garam)
1 butir telur + 1 kuning telur (putihnya dipakai untuk membalur)
Tepung panir kasar secukupnya
Bahan isi:
3 butir telur rebus
4 buah sosis (resep aslinya pakai daging asap)
Keju secukupnya
Mayonais secukupnya



Cara membuat:
  1. Campur terigu, susu, telur kocok, dan mentega cair, aduk sampai rata. Agar adonan benar-benar halus rata, boleh disaring.
  2. Panaskan wajan anti lengket, olesi dengan sedikit minyak goreng. Dadar adonan kulit tersebut satu persatu sampai adonan habis. Gunakan sendok sayur sebagai takaran.
  3. Potong-potong bahan isi sesuai selera. Susun telur, keju, daging asap/sosis di atas selembar kulit risoles, tambahkan satu sendok makan mayonais, lipat, sisihkan.
  4. Lakukan sampai seluruh kulit habis. Celupkan di kocokan putih telur, balurkan tepung panir. Simpan di freezer kurang lebih 10 menit agar tepung menempel sempurna.
  5. Goreng sampai berwarna kuning kecoklatan. Jangan pakai api kecil ya biar kulitnya renyah.. tapi jangan kegedean juga apinya, ntar gosong :))




Dan karena risoles lenyap dalam sekejap, sore-sore harus bikin camilan lagi dong.. Ada ubi ungu sisa oleh-oleh dari Pak Ucok -drivernya anak-anak- dari Cianjur. Pak ucok ini bukan orang Batak dan gak ada keturunan Batak sama sekali, asli orang Cianjur.  Entah kenapa dipanggil Ucok. :D

Ubi ungu yg biasa kubeli warnanya ungu pekat, cantik dibikin kue mangkok, tapi ubi dari Cianjur ini warna ungunya semburat saja. Dominan putih. Tadinya males bikin kue karena yakin hasilnya gak akan cantik, gak mencerminkan yang bikin banget tapi karena gak ada bahan lain lagi sore kemarin yasudahlah kubikin kue mangkok saja. Rasanya tetep enak kok cuma warnanya aja yg kurang cantik.

Yang mau resep kue mangkok ubi ungu boleh resepnya klik di sini.

Bandingkan warna ubinya...
Dan bandingkan warna kuenya..

Jumat, 25 Oktober 2013

Don't Compare Yourself to Anyone



Sambil sarapan pagi menikmati sepiring gudeg Yogya di warung tenda pinggir jalan Wastukencana, Yulie -temanku- bercerita, lebih tepatnya menceritakan seorang teman seangkatan kami yang sekarang sudah menjadi seorang pejabat eselon 3. Aku dan Yulie ini temen seangkatan, sama-sama kuliah di sebuah sekolah kedinasan di Jurangmangu, di pinggiran Jakarta Selatan. Si teman ini, sebut saja A, seorang ibu seperti kami juga. Wow... Tentu dia bisa terpilih dan menduduki jabatan itu karena prestasinya. Karena jabatan dan kedudukannya itu, A ini sering bepergian / bertugas ke luar negeri, ini yang bikin ngiri. Kerjaan dan tanggung jawab mah gak ngiri ya, hahaha.... Dan di sela-sela obrolan, di antara 'wow' dan 'wow', terselip kata-kata "Kok kita masih gini-gini aja ya?"

Hmm.... Jadi inget tulisan Sondang yang judulnya kucontek jadi judul tulisan ini. Tulisan lama sebenernya, tapi kubookmark karena rasanya sewaktu-waktu perlu kubaca ulang, untuk men'jewer' diriku sendiri.

Bagaimana gak serasa dijewer?
Amat sering kubandingkan diriku dengan teman-temanku yang 'wow' dan 'wow' itu. 'Wow' karirnya, 'wow' pendidikannya, 'wow' keberhasilan mendidik anaknya, 'wow' cantik awet muda dan langsingnya, dan 'wow'-'wow' lainnya.

Ada Nur Ana, teman seangkatanku di Jurangmangu, temen selingkaran waktu jaman mentoring-mentoring dulu (tapi dia rajin sedangkan aku bolos-bolos kabur melulu hihi..) yang sekarang sedang melanjutkan studi S3 di Melbourne Australia, mengejar mimpi-mimpinya. Huhuhu... asik banget kan ya, tinggal di negara maju, menikmati dan menjalani hidup dengan sesuatu yang berbeda, menambah kaya pengalaman dan wawasan. Sedangkan aku? Lulus S1 pun sudah alhamdulillah... mau melanjutkan kuliah S2 saja kok rasanya sudah penuh isi kepala, sudah gak sanggup menampung isian ilmu-ilmu dan angka-angka lagi... Eh ya, Nur ini juga penulis. Bukan penulis blog abal-abal seperti aku ini, tapi penulis buku yang bisa menjadi referensi para akademisi. Dan penulis blog yang membahas tentang keuangan daerah / pemda. Ini linknya. Keren kan?

Ada lagi Sonne, teman seangkatan juga di Jurangmangu. Tentu saja dia ibu bekerja sepertiku. Ya, karena kami lulusan sekolah kedinasan. Bekerja full time dari pagi sampai sore, sama sepertiku. Anaknya empat, sama sepertiku. Akan tetapi bedanya, anak-anaknya Sonne ini terlihat sekali terurus dan terdidik dengan baik, walau beribukan seorang ibu bekerja. Anak-anaknya pintar dan berprestasi, shaleh dan shalihah. Hafidz, hafalan Qur'annya sudah 7 juz, padahal masih kelas 5 SD. Wow... anakku yang hafal 2 juz aja suka kupamer-pamerin, padahal murni itu hafal dari didikan sekolah, gak ada kontribusiku (lha wong hafalanku cuma surat-surat pendek). Ini hafal 7 juz pasti kontribusi orang tuanya kan? Gak ada lah SD yang target hafalannya sampai 7 juz gitu. Duh... bener-bener jadi malu. Jangankan menambah pelajaran sekolah/menambah hafalan, mengecek PR anak-anak saja jarang kulakukan.


Dan ada lagi yang bikin iri, Ani. Ani ini teman sekamarku saat kost di Jurangmangu. Kami berteman sejak SMA, karena kami satu sekolah. Sebenernya sejak SMP pun aku sudah mengenalnya. Walaupun beda sekolah tapi rumah kami sama-sama di daerah Wetan Elo di Magelang sana, dan kami sering ketemu di jalan atau di dalam angkot yang sama-sama kami tumpangi. Sesama lulusan Jurangmangu, Ani ini pun bekerja full time as PNS sepertiku, Nur Ana, dan Sonne. Dan selain bekerja sebagai abdi negara, Ani ini punya bisnis sampingan. Punya butik baju muslim dan salon jilbab yang operasionalnya dijalankan oleh adiknya. Bukan butik kecil-kecilan. Ibu Gubernur, Ibu Walikota, Ibu-ibu anggota dewan, dan banyak hijabers lainnya yang menjadi pelanggan tetapnya. Aneka fashion show di mall, di hotel, pemotretan untuk majalah, syuting untuk acara televisi, menjadi kesibukan Ani saat ini. Apalagi saat Ramadhan dan menjelang Lebaran kemarin. Banyak proyek yang bahkan terpaksa harus ditolaknya.
Sempat kuledek dia, "An... gak nyangka ya, kamu tu dulu mandi aja males, sekarang bisa cantik kaya artis gitu, ngetop, dan gaulnya sama sosialita..." hahaha.... kami hanya tertawa bersama.
Siapa yang gak iri coba? Di jaman sosial media sekarang ini, di saat semua orang hobi narsis dan mengupload foto-foto diri, Ani ini bisa tiap saat dandan cantik, difoto oleh fotografer profesional, dan masuk media massa (bukan media pribadi macam fesbuk atau instagram kita ihik..) dan dia MENDAPATKAN PENGHASILAN dari situ. Inget kata-kata Oprah? Doing something you love, and got paid for that, what else could be more fun? Huhuhu... jadi pengin kaan?

Ani di salah satu tabloid.
Dan banyaaaak lagi teman-temanku yang kujadikan benchmark. Tentu saja kuambil pembanding dari temen-temenku yang berlatar belakang kurang lebih sama dan yang ibu-ibu lah ya.. Kalau dia laki-laki dan karirnya sudah jauh melesat, aku gak merasa terintimidasi sama sekali :)

Yak mari menghela nafas dulu.
Seperti yang ditulis Sondang, ketika kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, dan kita kalah (jauh pula kalahnya), yang muncul adalah rasa minder (dan terintimidasi katanya :)) dan kemudian disadari atau tidak kita jadi mencari-cari kekurangan si teman, hanya UNTUK MEMBUAT KITA MERASA LEBIH BAIK.

Ah kalau ibu-ibu ngejar karir/ ngejar studi/ ngejar penampilan, pasti rumah tangganya gak terurus. Suaminya gak diperhatikan. Gak bisa masak. Deelel deesbe dan sejuta kenyinyiran lainnya.

Padahal tidaak..... Lihatlah contoh tiga temanku di atas. Diantara kesibukan mereka, anak-anak mereka tetap terurus dan terdidik dengan baik. Dan mereka bukanlah ibu-ibu yang ogah beranak banyak dengan alasan ogah repot atau takut karirnya terganggu. Mereka ini ibu-ibu beranak lebih dari dua.

Dan mana itu bukti bahwa ibu-ibu yang pintar sekolahnya, maju karirnya, gak bisa masak?
Sondang contohnya. Sekolah S2 di ITB dengan beasiswa (dan seleksi untuk mendapatkan besiswa ini ketat banget... susyaah dapetnya), beranak 3 yang semuanya terdidik dengan baik, aktif menulis di blog dan beberapa komunitas, menjadi co-writer untuk beberapa sinetron, dan... dan... tanpa ART di rumahnya, dia tetap memasak makanan sehat untuk anak dan suaminya. Bahkan bekal makan siang suaminya pun dia siapkan sendiri setiap pagi. Aku salut padamu, Mamak Sondang.

Ani ini beranak empat, menjalani long distance marriage karena suaminya bekerja di luar pulau sana, kebayang kan repotnya (aku masih mending kan, beranak empat tapi bisa berbagi tugas dengan suami.) Dan dia ini pintar memasak loh...Dan mengalami juga masa-masa ART-less seperti kita. Jadi ya nyuci nyetrika ngepellah dia dengan jari lentik dan kuku cantiknya. Dan dia BISA. Dan dia tetap menjadi pribadi yang humble dan bersahaja dibalik 'gemerlap' penampilannya. Oh, I love you An...

Si cantik anak kedua Ani yang ikut membantu bisnis mamanya sebagai model.

Ini kukutip dari blognya Sondang:
Sebenernya kalo hati kita merasa nggak nyaman atau minder saat ada orang lain yang terlihat lebih segalanya dari kita (karir dan kehidupan pribadi aka keluarga ), artinya bisa jadi sebaliknya, kita akan merasa sombong saat ada orang lain yang terlihat kurang dari kita. Bukankah begitu? Harusnya kita tetap merasa bersyukur, nggak perlu dipengaruhi apakah orang lain terlihat lebih atau kurang dari kita kan.
Setiap  orang punya ‘beban’ yang harus dipikulnya masing-masing. Setiap keluarga punya ceritanya masing-masing. Dan rugi saja kalo kita membandingkan dengan orang lain. Selain nggak ada gunanya karena life is too short to fill with wishing I were as rich-as smart-as lucky-as beautiful-as other people, dan secara emosional akan bikin kita lelah karena bisa bikin kita either sombong atau minder.

Selain gak adil kalau kita hanya melihat hasilnya tanpa melihat proses mereka mendapatkan hasil itu (Kita gak lihat, mungkin di saat kita leyeh-leyeh tidur tiduran Nur Ana sedang berkerut-kerut keningnya menyelesaikan proyek disertasinya. Saat kita tertidur pulas, mungkin Sonne sedang menghafal Al Qurannya. Saat kita bermalas-malasan di depan TV mungkin Ani sedang sibuk mentraining karyawan, atau memikirkan inovasi untuk butiknya. Saat melihat tontonan yang sama, kita malas berfikir sedangkan Sondang harus mencari inspirasi untuk bahan tulisannya. Dll dsb... masa kita mengharapkan hasil yang sama untuk usaha yang jauh berbeda?) kita boleh lega Sang Maha Adil tidak meletakkan kebahagiaan HANYA pada banyaknya harta, bagusnya rupa, atau tingginya tahta. Kebahagian boleh dimiliki oleh siapa saja, bahkan oleh orang biasa sepertiku. Alloh meletakkan bahagia pada hati-hati yang bersyukur. Ya, BERSYUKUR, itu intinya.

Salah satu dari 7 indikator kebahagiaan dunia menurut Ibnu Abbas adalah Qolbun Syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Dan pasti masing-masing kita memiliki amat sangat banyak hal yang harus disyukuri, tinggal memanage hati agar mau selalu bersyukur.
Setiap orang Alloh ciptakan sepaket dengan peranannya. Kita tinggal menjalaninya. Mau pilih mana? Menjalani dengan hati bahagia penuh syukur, atau menjalani dengan hati iri dengki, keluh kesah dan rasa nelangsa?
Mau bahagia kan? Ajak hatimu untuk selalu bersyukur.
Mau ada pencapaian lebih, gak gini-gini aja? Lebihkan juga usaha dan doamu.
Yuuuk..... :))


*Tulisan ini kupersembahkan untuk sahabatku, Ani Fatihah, yang hari ini berulang tahun. Happy birthday my dear... semoga barokah sisa umurmu, makin maju bisnisnmu, makin cantik, dan terus menginspirasi.

The birthday girl. Maaf ya An, kuambil foto2 dari DPmu tanpa ijin :D
Ini alamat butiknya, kupromosiin di sini siapa tau aku tiba-tiba dapet kiriman dress cantik hahaha..
Kamila Butik dan Salon Jilbab
Jl. Majapahit 150/7 Semarang
085656025020
www.kamilahijab.com  (tapi kayanya webnya ini masih dalam proses development.. belum banyak koleksinya)




Rabu, 23 Oktober 2013

Ya, Saya Ibu Beranak Empat

Baru 3, belum empat2nya naik ke punggung, itu pun sudah nyengir keberatan.
Beberapa hari yang lalu, saat jam istirahat siang aku pergi ke sebuah supermarket di dekat kantorku (mudah ditebak, pasti ke Yogya RJ :)) untuk beli susu Pedia**** buat  Javas yang baru sembuh dari sakit dan masih susah makan. Di lorong susu itu, seorang SPG susu (terlihat dari logo di bajunya) menghampiri dan menyapaku dengan ramah, "Putranya usia berapa tahun Bu?" Di keranjang belanjaku ada 3 merk susu. Selain pedia**** buat Javas, ada susu rasa vanila karamel buat para abege dan susu formula penyambung ASI buat Jindra.

"Maksudnya anak yang mana Mbak? Anakku ada 4 loh.. Ada yang sudah 15 tahun, ada ada yang masih bayi 10 bulan."

Sebenernya gak perlu pamer anak juga kali ya, tapi entah kenapa kujawab begitu si mbak SPG tersenyum saja dan mundur, gak jadi 'presentasi' produknya. Hehehe.... Mungkin yang ada di pikirannya ibu-ibu beranak 4, sudah gede-gede, percuma aja dibujuk ditawari susu ini, pasti sudah punya pilihan sendiri untuk anaknya, sudah pengalaman..

Atau jangan-jangan ini yang ada di pikirannya, ibu-ibu beranak empat, pasti pusing ngatur uang belanjanya, percuma saja nih dibujuk untuk beli susu ini, duitnya pas-pasan.. hahaha...

Atau, apa ya kira-kira yang menyebabkan si mbak SPG gak jadi menawarkan produknya? Ih ngapain juga mikirin ini yaa.. Kurang kerjaan amat.

Jadi, terprofokasi oleh tulisannya Baginda Ratu Tentang Anak Ke-4 baiklah aku tuliskan, gimana ceritanya sih, kok bisa anaknya 4, dua gede-gede dan dua kecil-kecil? <- ini pertanyaan yang seriiing banget aku terima.

Sebenernya, sejak awal menikah aku sudah pengin punya anak 4, 2 laki-laki dan 2 perempuan, seperti anak-anak ibu bapakku. Sementara itu suamiku ingin kami beranak 5, ya sama lah... seperti anak-anak mertuaku yang 5 orang juga. Tapi ketika Youri lahir di saat Neysa baru berusia 2 tahun lebih 2 bulan, kami memutuskan untuk menunda punya anak lagi. Repoott... terutama urusan mencari pengasuh yang cocok untuk anak-anak. Padahal urusan pengasuh anak adalah urusan paling penting untuk ibu bekerja sepertiku. Jaman itu belum kepikiran daycare, entah karena memang belum tersosialisasikan seperti jaman sekarang, atau memang gak kepikiran sama sekali.

Ketika Youri sudah mulai masuk TK (dan sekolah full day) ketergantungan kami kepada ART hampir gak ada. Jadi saat ART gonta ganti atau bahkan gak ada sama sekali, kami gak terlalu pusing. Dan kami pun merasa cukup dengan ART yang datang pulang pergi beberes rumah nyuci nyetrika saja. Semua aman terkendali.

Kondisi nyaman ini semakin bertambah ketika tahun 2007 aku pindah kantor yang hanya berjarak 20 menit dari rumah. (kalau naik motor mungkin malah cuma 10 menit). Dan Youri mulai masuk SD, satu sekolah dengan Neysa, yang jarak tempuh dari kantorku ke sekolah mereka cuma sekitar 5-10 menit saja.

Dan kemudahan semakin bertambah ketika ada SK mutasi dan ternyata suamiku pindah, SEKANTOR DENGANKU (belakangan diralat). Setiap hari kami berangkat berempat, ngabsen dulu di kantor, lalu aku/suamiku antar anak-anak ke sekolah, dan jam setengah 8 pun sudah ada di kantor lagi. Sore hari jemput mereka jam 4.30, dan mereka nunggu di parkiran atau di kantin sampai kami pulang jam 5.

Setiap hari begitu, berempat ke mana-mana. Jalan-jalan weekend pun berempat. Dan saat itu sama sekali gak kepikiran buat nambah anak lagi. Sudah nyaman begitu. Dalam hati sih tetep pengin punya anak 4, tapi entah kapan. Tidak untuk saat itu. Ngebayangin repotnya punya bayi dan balita lagi...? Oh tidaak... belum lagi puyengnya masalah nyari pengasuh yang cocok, ngebayangin stressnya ketika ART tiba-tiba minta pulang, ah, nanti dulu deh punya anak lagi...

Tapi di sisi lain aku gak KB karena takut nyoba pil ato suntik, takut gak cocok. Pernah pasang IUD waktu habis lahiran Neysa tapi gak cocok jadi kapok. Untunglah jadwal mensturasiku teratur jadi gampang menghitung masa subur. Jadi kupakailah KB 'sistem kalender'. (Gak perlu jelasin yang ini paham kan ya?) Jadi ya meskipun dalam kondisi nyaman itu kami belum kepingin nambah momongan lagi, tapi kami juga siap kalau sewaktu-waktu ternyata aku hamil lagi. Dan ternyata sistem kalenderku berjalan aman sentausa saja tuh... (kehendak Alloh tentu saja).

Dan tiba-tiba kondisi nyaman tenteram itu berantakan. Ada SK baru (hanya sekitar 3 bulan dari SK kepindahan suamiku) yang mengharuskan suamiku pindah ke Kebumen dan aku pindah ke kantor yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah! Huaaa... bener-bener nangis nerima SK itu. Yang kepikiran tentu gimana ini anak-anak? Sekolah dianter siapa? Pulang sekolah di rumah sama siapa? Dan akhirnya kami butuh ART yang nginep lagii... dan seorang driver untuk antar jemput anak-anak. Alhamdulillah dua-duanya mudah kudapat. Rejeki.

Suamiku pulang seminggu sekali. Dan apa kabar itu KB sistem kalender? Bubar jalanlah yaa.. Masa sih udah ketemunya cuma seminggu sekali masih pake tanggal-tanggal larangan pula. Singkat cerita, hamillah aku. Kehamilan yang benar-benar disambut dengan suka cita oleh semuanya. Neysa, Youri, bahagia mau punya adik lagi. Suamiku, jangan tanya gimana senengnya. Bahkan di minggu-minggu setelah tanggal masa subur itu, suamiku tiap hari nanya, "Udah beli test pack?". Ealaah... mau ngetes apaan sih, baru juga kemarin. Dan ketika tanggal yang seharusnya aku mendapat mens ternyata tidak, aku test urinku dan ternyata (sudah sangat diduga) positif, suamiku langsung nelpon dong, nyuruh aku segera ke dokter kandungan. Di dokter kandungan, pertanyaan pertama dokter pun kujawab dengan gugup.. "Sudah telat (menstruasi) berapa hari Bu?" Errr... mmm.... belum telat sama sekali, hahaha....

Dan kelahiran bayi Javas membawa keceriaan baru di rumah. Rumah yang biasanya rame oleh omelanku terhadap dua anak gede itu (biasa kan ya, ibu-ibu mah cerewet dan galak ke anak-anaknya), sekarang rame oleh ocehan bayi. Neysa dan Youri pun seperti melihat sisi lain ibu mereka yang selama ini galak dan cerewet, ternyata begitu penyayang dan lemah lembut terhadap adik bayi mereka. Dan mereka seperti tersadar, bahwa sebenernya mereka pun disayang, dan mereka pun tahu bahwa saat mereka bayi mereka juga pasti disayang. Ini kusimpulkan dari pertanyaan polos Youri dan Neysa waktu itu, "Ma, waktu Kakak /Aa bayi dulu digituin juga gak?" Pertanyaan yang diajukan ketika mereka melihatku mengurus bayi Javas, dibedong, diurut, diminyakin, dikelonin, digendong-gendong, segala ditanya, aku dulu digituin juga atau gak. Hiks.....

Kehadiran bayi (yang sudah menjadi balita) yang sepaket dengan kebahagian dan kerepotannya itu membuat kami ingin menambah satu bayi lagi. Dan Alloh menganugerahi kami bayi Jindra, pembawa kebahagiaan berikutnya, saat Javas berumur 3 tahun 2 bulan.


13 tahun 9 bulan, jarak umur anak ke-1 dan ke-4

Setelah Jindra masih mau nambah lagi? Inget umur Buuu.... Suamiku yang tadinya pengin kami beranak 5 pun jadi merasa cukup dengan 4 anak saja ketika melihat aku dan kehamilanku yang keempat kemarin. Kasihan, katanya.. Ya iyyalah... beda banget stamina kehamilan ibu berumur dua puluhan awal dibanding dengan kehamilan saat aku berumur tiga puluhan menjelang akhir. Jadi, sudah cukup rasanya kami beranak 4 saja. (Ya Alloh cukupkanlah 4 anak ini bagi kami....)

Repot? Yaa itu relatif, gimana kita pinter-pinter ngatur waktunya.
Capek? Iya sih, tapi kan terganti oleh kebahagiaan melihat senyum lebar dan bening mata mereka.
Kebahagiaan dan pelajaran, itu pasti. Setiap anak membawa kebahagiaan. Setiap anak membuatku belajar, satu diantaranya adalah bahwa mereka merepotkan tidak akan lama, bahwa mereka menguras energi kita hanya sebentar saja. Lihatlah itu Kakak dan Aa... tau-tau mereka sudah gede saja.

Marah karena anak-anak balita itu gak ngerti-ngerti, susah diatur, dan gak mau ikut aturan? Aturan siapa Mama? Aturan di dunia mereka tentu berbeda. Dan kenapa kita mengharuskan mereka ikut aturan kita sementara kita gak mau ngerti aturan mereka? Dan melihat Kakak dan Aa, kemudian melihat Javas dan Jindra... terpampang nyata betapa ternyata anak umur 4 tahun itu masih kecil... kenapa dulu sudah kuterapkan banyak aturan dan tuntutan untuk anak sekecil itu? Harus ini itu begini begitu...hiks..

Kesal karena ngerasa gak punya me time, ke mana-mana harus sepaket dengan bayi di gendongan, gak bisa jalan-jalan sama teman karena buntut berderetan di belakang? Lihatlah itu Kakak dan Aa... betapa susahnya ngajak mereka jalan-jalan bersama kita sekarang...

Kehabisan kesabaran gara-gara rumah berantakan, makanan bertumpahan, mainan berceceran? Sabar Mama... karena... karena.... ternyata membuat rumah berantakan itu tetap dilakukan oleh anak-anak bahkan sampai mereka sudah abege sekarang... hahaha.... Mau marah-marah sepanjang usia mereka dari balita sampai remaja? *plaakk.... aku tertampar.

Jadi, menambah anak membuatku belajar makin sabar. Percaya deh, makin banyak anak makin penyabar. Lihat tuh Mbak Titi... anaknya 5 dan kesabarannya seluas samudra kan?
Tanpa kesabaran, hanya penyesalan yang kita dapat.

Sungguh, bukan berarti sekarang aku penyabar menghadapi anak-anakku... masih belajar juga kakaaak...
Hanya saja aku tidak terlalu terprofokasi lagi oleh berbagai macam teori tumbuh kembang maupun teori parenting itu. Tetap kubaca, tetap kupelajari dan kupraktekkan, tapi gak menjadi stress (dan marah-marah, dan anak-anak juga pelampiasannya) ketika anak-anakku tidak sesuai benchmark teori-teori itu. Setiap anak berbeda, dan tidak semua anak cocok dengan teori A misalnya. Mungin dia cocoknya dengan teori B, atau malah teori Z. Eh ya, ilmu tumbuh kembang dan parenting itu terdiri dari berbagai aliran dan teori juga kan? Yang mana antara teori satu dengan lainnya kadang gak cocok... Ya seperti teori tentang makanan sehat atau diet ituu.. Diet konvensional menyarankan makan malam buah-buahan saja, diet food combining mengatakan buah dimakannya pagi-pagi. Yang bener yang mana? Gak bisa dikatakan salah satunya salah kan yaa.... Dua-duanya bener. Tapi kalau dua-duanya diikuti ya pingsanlah aku... pagi cuma makan buah, malam pun cuma buah juga. Apalagi kalau makan siangnya kuikuti teori diet golongan darah, yang melarangku makan ayam, daging dll... misalnya.

Sekarang ini lebih kubiarkan anak-anakku tumbuh dengan santai, karena semua ada masanya. Gak mau tidur sendiri? Ah, nanti juga ada masanya dia gak mau lagi tidur bareng kita. Susah lepas ngedot dari botol? Ada masanya dia malu minum dari botol. Tugas kita sebagai orang tua hanyalah menyiapkan dia SIAP menghadapi masa-masa itu, bukan mempercepatnya.

Jadii... bagaimana Baginda Ratu? Siap untuk anak keempat?  :)))


Kamis, 17 Oktober 2013

Banana Choco Vanila Muffin

Kalau gak punya loyang muffin gak usah khawatir.... bisa pakai loyang / cetakan bolu kukus yang bolong-bolong itu... asal cetakannya tidak terbuat dari plastik lho yaa.... Kalau gak punya juga, tetep bisa bikin muffin kok... pakai muffin cup kertas, dan ditaruh di atas loyang biasa. Muffin cupnya kaya yang di gambar muffin pisang di atas itu yaa... klo yang gambar lain-lainnya aku pakai paper cupnya bolu kukus... Kalo pakai ini ya wajib pakai loyang muffin biar gak mbledrek adonannya :))

Selasa, 08 Oktober 2013

Kabayan Saba Kota

Sebenernya ini cerita lama, dan masuk folder draft juga sudah lama, tinggal rapi-rapiin dikit dan klik tab 'publish' saja sih sebenernya, tapi gak sempet-sempet aja... Basi gak ya? Mudah-mudahan sih masih enak.. #apasih

Jadi ceritanya pada sebuah hari Sabtu kami ke rumah Eyang Jakarta. Selain mengunjungi Eyang, liburan kali ini bisa disebut 'piknik', jalan-jalan ke kota doong... Nurutin keinginan Javas, naik busway  alias bus Trans Jakarta :D

Berangkat Sabtu siang dari Bandung (karena nunggu Aa Youri pulang sekolah) dan belum apa-apa sudah kena macet di Jl. Ciwastra. Alhasil kami baru masuk tol Buah Batu jam 1 siang, padahal berangkat dari rumah sebelum dzuhur.

Istirahat sholat dan makan siang di Rest Area KM 97 Tol Cipularang. Masjidnya bagus dan bersih, suasananya pun enak. Pilihan tempat makan pun banyak, kami memilih makan di Soto Sadang. Rame dan penuh, kupikir karena sotonya yang lezat... Tapi kata Aa Youri yang pesen sop iga, "Enakan sop bikinan Mama." Hihi... (maaf ya pemilik RM Soto Sadang... anak-anak memang begitu,, apa-apa pasti Mama deh yang paling top... :))

Bola Terbesar (dan terberat mungkin) di Indonesia. Bola ini mengapung dan berputar di atas air.

Bayi pun kagum pada bola raksasa itu....
Sampai rumah Eyang sore menjelang maghrib, karena ternyata menjelang masuk Jakarta pun macetnyaaa.. 

Hari Minggu pagi jalan-jalan (ini beneran jalan kaki loh dari rumah Eyang) ke CFD (car free day maksudnyah :)) Sudirman, sayang lupa gak bawa sepeda.

Olah raga? Enggak... sarapan bubur, hehe... Tampilan buburnya beda dengan bubur ayam Bandung. Ayamnya dicincang dadu, bukan disuwir, dan ada taburan soun gorengnya.

Bubur ayam CFD.


Menara Da Vinci.
Para bikers di CFD Sudirman.
Javas happy main helikopter hadiah dari Eyang.
Setelah sarapan, naik buswaaay......
Emang mau ke mana? Gak ke mana-mana. Bener-bener CUMA naik busway. Dari Halte Setiabudi, turun di halte terakhir di Kota, trus naik lagi (dan gak bayar lagi dong, kan gak keluar halte) dan turun di Halte Karet. Gak turun di Setiabudi lagi, karena sudah siang, panas, jadi males jalan lagi ke rumah Eyang, dan kami naik angkot.

Bener-bener piknik yang murah meriah, cuma bayar tiket  Rp 3.500 saja per orangnya. Dan inilah foto-foto kenorakan orang kampung yang piknik ke kota hahaha....


Halte Trans Jakarta Setiabudi, masih agak lengang, Javas lari-larian.
Wajah-wajah belum mandi mejeng di atas jembatan busway.
Javas (dan para abege) seneng banget nemu mesin minuman ini, kaya di luar negri katanya haha... Di sini harga aneka minuman botol itu cuma 5 ribuan, sedangkan di pinggir jalan di CFD tadi 8 ribuan.

Duduk nyaman di dalam bus, di ruangan khusus wanita, bersama dua LAKI-LAKI :D
Dan puaslah Javas hari itu, keturutan keinginannya naik bus. Siangnya adikku Shofa dateng. Eh ya Sabtu sore kemarin Maya juga dateng, pada belum lebaranan sama Eyang Setiabudi katanya... Halah-halah Lebaran udah lewat kapan tahun kali... Maafkan adik-adikku ini Eyang...

Adiknya Jindra nih, Zafran. Selisih 6 bulan umurnya.
Minggu sore capcuss ke Bandung, dengan oleh-oleh bejibun :D
Ada bolu ketan hitam (yang diaku Javas sebagai kue ultahnya :)), aneka kue Lebaran (dibikinin lagi dong...), lontong request anak kesayangan, tahu tempe bacem siap goreng, risoles, cumi, teri daan semuanya dibikinin tanpa dibantu oleh menantu / adik ipar yang gak sopan ini. 

Oleh-oleh :9
Alhamdulillah perjalanan pulang sangat lancar, cuma 2 jam saja dari rumah Eyang sampe rumah kami di Bandung coret. Gak banyak berhenti, cuma mampir di Rest Area KM 19 saja beli bensin dan mampir di Drive Thru-nya Burger King.

Wajib mampir ke sini kalo pergi bareng para abege.
Dan berhubung dapet kue ultah gratis (kue ketan item ituu..) jadi anggaran kue bisa dialihkan ke snack bingkisan untuk teman-teman Javas di DC.

Si Tipco diskonan muncul lagi di sini hihi...

Kebetulan di kulkas masih ada roti Sponge Bob, ya sudah kutempelin saja di atas 'kue ultah' Javas biar agak cantik dan terlihat seperti kue ultah beneran... Sayang roti Patricknya sudah dimakan.. coba kalo sepasang kayanya lebih cantik deh kuenya..


Lihat deh bayi ituu... gak sabar pengin 'ngrues-ngrues' kue, hihi...

The birthday boy and his cute brother.
Sekian ceritanya, mudah-mudahan belum basi, masih bisa dinikmati :))



Senin, 07 Oktober 2013

Bolu Karamel


Satu lagi resep bolu yang gampang banget bikinnya, yaitu bolu karamel alias kue sarang semut. Gak perlu mikser, gak perlu timbangan (bahan-bahan diukur pakai gelas belimbing). Bahkan dulu waktu pertama kali bikin tahun 1995-an  aku gak pake oven (karena memang gak punya). Aku panggang pake cetakan bolu bluder jadul punya ibuku. Itu loh yang bentuknya loyang tulban, tebel, ada tutupnya, dan ada tatakannya yang ditaruh di atas kompor. O ya, di bagian tutupnya ada lubang kaca berdiameter ± 5 cm, untuk 'ngintip' bolu kita ngembang ato bantat . Tau kan?  Kayanya ibu-ibu kita jaman dulu pada punya deh panggangan bolu seperti itu. Gak kebayang kaya apa bentuknya? Ah ya sudah, berarti kita hidup di jaman yang berbeda hehe..

Temen kuliahku Tuti yang mengajariku bikin bolu karamel ini dengan resep andalan ibunya. Dan berhubung waktu itu loyang tulban yang dimiliki ibuku berukuran kecil (diameter 20 cm) Tuti pakai setengah resep. Dan aku pun sampai sekarang selalu pakai setengah resepnya itu, karena loyangku pun berukuran 20 cm. Setengah resep aja jadinya banyak kok.. Dan lagi pula takut gagal klo nyoba 1 resep full, sayang telurnya 8 butir. Telur lagi mahal kaaan..

Ini dia setengah resepnya.

Bahan:

4 butir telur
1 gelas gula (± 250 gr)
1 gelas munjung terigu (± 200 gr)
1 gelas air panas (± 220 ml)
1/2 bks margarin ( 100 gr)
1/2 kaleng susu kental manis ( 100 ml)
1 sdt soda kue
1 sdt kayu manis bubuk (bisa diskip kalo gak suka)



Cara membuat:

  1. Buat karamel. Panaskan gula di atas wajan dengan api kecil sampai gula mencair dan berwarna kecoklatan. Hati-hati jangan sampai gosong.
  2. Tambahkan air, aduk sampai karamel larut semua. Hati-hati saat memasukkan air karena karamel meletup-letup dan sangat panas. Setelah karamel larut, matikan api.
  3. Masukkan margarin, aduk sampai margarin meleleh semua. Dinginkan.
  4. Dalam baskom terpisah, campur terigu, soda kue dan kayu manis bubuk. Ayak.
  5. Kocok telur sampai berbusa, masukkan sebagian kocokan ke dalam baskom terigu, berselang seling dengan larutan karamel. Masukkan susu kental manis, aduk rata.
  6. Tuang ke dalam loyang tulban yang telah diolesi margarin dan ditaburi terigu. Pastikan loyangnya gak bocor ya, soalnya adonan bolu karamel ini cair, gak sekental adonan bolu biasa.
  7. Oven sampai matang. Aku pakai suhu 170'C selama 45 menit.
Jadilah kue bolu berwarna coklat gelap dan bolong-bolong berongga, seperti bika ambon, atau seperti sarang semut mungkin... :)

Selamat mencoba..

Jumat, 04 Oktober 2013

Antara Tumpukan Pekerjaan, Sepatu Branded, dan DVD Bajakan

Senyum lebarnya ini loh... bikin nyesss... lupa deh semua deadline ituu....

Huuuft.... akhirnyaaaaa.... ketemu lagi sama tab  'create new post' (*kecup mesra icon pensil).
Dua minggu yang benar-benar hetctic. Ada 8 laporan yang harus selesai akhir bulan September ini. Delapan! Duuh... kok ya timku yang kebetulan punya utang G30S (sebutan kami untuk laporan yang harus selesai akhir September ini) paling banyak. Tim lain paling cuma punya tunggakan  3 sampai 5. Ada yang dibela-belain tiap hari pulang malem, ada yang lembur hari Sabtu Minggu, dan aku yang gak mungkin pulang malem ato kerja Sabtu Minggu bener-bener manfaatin tiap detik dalam dua minggu kemarin itu berkutat di depan komputer di antara tumpukan berkas-berkas. Bahkan kegiatan pumping ASI pun gak sempat kulakukan lagi, hiks... Kaki di kepala, kepala di kaki deh... <- lebay ini mah..  Untunglah dari 8 itu 6 sudah separo jalan, dan 2 saja yang bener-bener mulai dari awal. Dan untung juga anggota timku bisa diandalkan.

Walo cuma duduk di depan komputer, tapi tiap pulang tu rasanya capeeek.... Weekend pun jadinya pengin tidur-tiduran aja, males ngapa-ngapain. Etapi malah minggu kemarin lusa itu pas jadwalnya pengajian rutin bulanan di masjid deket rumah, dan seperti biasa aku harus menyiapkan snacknya. Cuma pesen-pesen by phone sih, tapi tetep aja repot.. Untung banyak yang bantuin. Dan hari minggunya sebenernya masih males ngapa-ngapain, tapi udah terlanjur menyanggupi rikues Kakak untuk bikin puding oreo buat temen-temennya. Ya sudah.. kalo udah masuk dapur kan jadinya pengin masak ini itu.. Gak jadi deh weekend males-malesan tidur-tidurannya.

Jadi ceritanya weekend kemarin ini pengin jalan-jalan, refreshing gitu, biar gak ngebul ini kepala. Sabtu sekalian jemput Kakak di sekolah, semua ikut (kan judulnya mau jalan-jalan). 
Suamiku dan Aa Youri mau beli sepatu futsal, Kakak mau beli sepatu sekolah dan aku jadi inget sepatu ketsku yang sudah mangap karena kelamaan disimpan manis di dusnya dan keinginanku untuk beli sepatu baru mulai berolah raga. Karena sekolah Kakak ada di Dago, jadi rencana kami mau ke Nike Factory Store yang ada di Dago juga, biar sekali jalan.

Ternyata, keputusan untuk jalan-jalan di hari Sabtu kemarin adalah sebuah kesalahan. Bandung macetnyaaa.... Ada Braga Festival, acara (entah apa) motor-motor gede gitu di Gasibu, dan Jabex (Jawa Barat Expo) di Graha Manggala Siliwangi. Kakak minta dijemput jam setengah satu, dan setengah satu itu kami masih di Jl. Supratman. Menghindari Dago yang macet (ekor macetnya sudah terlihat) kami masuk jalan depan Unisba, mau ke Tamansari. Ternyata arah Tamansari mampet gak bergerak. Belakangan baru aku tahu ternyata hari Sabtu itu ada wisuda di Sabuga yang lokasinya di Jalan Tamansari. Ya sudah balik arah deh... muter di Sulanjana, dan kutelpon Kakak, kusuruh naik angkot saja dan kami janjian di Pizza Hut Dago.

Selesai makan dan sholat, sekitar jam setengah 3 jalan Dago sudah mulai bersahabat. Sesuai rencana semula, kami ke NFS untuk belanja sepatu. Karena ada kata 'factory'nya yang ada di pikiranku NFS itu adalah semacam factory outletnya sepatu Nike, dan harganya ya harga factory outlet laah... Sebelumnya aku pernah juga sih ke situ nemenin suami nyari sepatu tenis, tapi waktu itu aku gak merhatiin harga karena suamiku gak nemu sepatu yang cocok. 

Menyebarlah kami mencari sepatu keperluan masing-masing.
Belum 10 menit melihat-lihat, kukumpulkan lagi mereka... "Jangan beli di sini ah, mahalll..." (aku udah langsung ngitung-ngitung aja, empat pasang sepatu dibandingkan gaji sebulanku, kayanya langsung abis deh gajiku). Suamiku udah dapet sepatu pilihannya, sepatu futsal warna orange ngejreng.

"Pa, kita ke Sport Station aja yuk.. kayanya di sana lebih banyak pilihan deh."  <- sebenernya karena tadi pas berangkat lewat jalan Aceh kulihat tulisan DISKON 50% gede-gedenya :)

"Ah belum tentu ada yang cocok," kata suamiku.

"Di sini mahaall..." aku bisik-bisik.

"Ya mahalan di sana lah... di sini kan factory outletnya..." Nah suamiku pun beranggapan sama denganku bahwa barang/harga di sini adalah barang/harga FO.

"Di sana kan banyak pilihan, ga cuma merk ini aja..  Pasti ada yang lebih murahnya. Sayang beli sepatu anak-anak semahal ini, dipakenya cuma sebentar, cepet sempit. Lagi diskon pula di sana Pa."

Walau (sepertinya) dengan berat hati, ditaruh lagi lah sepatu pilihan suamiku itu.
Kami meluncur ke SS di Jl. Aceh. Bukan meluncur deng.... Gak meluncur sama sekali, tapi merayaapp.. Jl Trunojoyo, Diponegoro, macett semua. Muter lagi ke jalan Dago, lewat Jalan Riau. Maghrib kami sampai di SS. Dan suamiku ketemu lagi dengan sepatu pujaannya. 

"Tuh kan mahalan di sini. Tadi di sana cuma Rp xxx ini di sini Rp xxx." katanya sambil cemberut.

"Ih itu kan harga sebelum diskon... Coba tanyain dulu deh... "

Dan ternyata harga setelah diskon di sini sama dengan harga di sana, jadi dibelilah sepatu futsal warna orange ungu ngejreng itu. Aku gak habis pikir kok dia bisa suka sepatu kaya gitu... Tapi katanya sepatu futsal itu emang ngejreng-ngejreng gitu warnanya. Ya sudah deeeh.... 
Anak-anak gak ketemu sepatu yang cocok di sini, aku masih milih-milih. Banyak yang kusuka, banyak yang cocok sebenernya (kecuali harganya :)). Kuperhitungkan, aku olahraga paling cuma seminggu sekali, Jumat pagi senam di kantor. Sayang ah beli mahal-mahal. Jadi kupikir akan lebih ekonomis kalau aku memilih sepatu yang unisex, instead of girlie, karena ukuran kakiku 38 sama dengan ukuran kaki Aa Youri. Pilah pilih, timbang-timbang ini itu, ujung-ujungnya ragu-ragu. 

"Udah, yang ini aja, bagus kok..." kata suamiku. 

"Mmm... gak ah, nanti si Aa gak mau pake kalo modelnya kaya gitu."

"Loh... nyari buat Mama atau buat Aa sih?"

"Nyari yang bisa dipakai berdua... Abis sayang, mahal-mahal kok cuma dipakai seminggu sekali."

Pletakk.... aku pun dijitak.... hihihi....

"Kita ke Kosambi aja yuk Pa."

Just info buat yang bukan orang Bandung. Kosambi ini daerah pertokoan lama di Bandung. Sebelum bermunculan mall-mall, orang Bandung belanjanya ke Kosambi ini. Sepatu, seragam sekolah, jeans, kaos, dll. Katanya sih.. Aku gak tau juga Kosambi seperti apa jaman dulunya, lha wong aku juga bukan penduduk asli Bandung. Ada pasar juga di daerah ini, Pasar Kosambi namanya. Pasarnya gede, tapi di lantai atasnya banyak ruangan kosong, kumuh tak terawat. Terlihat jelas masa kejayaan pasar itu telah lewat.

Ada salah satu toko sepatu di daerah Kosambi yang pernah beberapa kali kami datangi. Koleksi sepatunya  banyak. Sepatu kantor banyak, sepatu olahraga pun banyak. Dan yang jelas, harganya bersahabat dengan dompet kami. Merk-merk sepatu 'keren' standar aku SMA dulu macam Eagle, Kasogi, Precise, Piero, (yang gak ada di NFS maupun SS) ada di sini. 

Aku milih-milih, Kakak milih-milih, Aa milih-milih, dan suamiku pegang Javas & Jindra. Aku dapet sepatu yang cocok, Kakak dapet, Aa dapet. Dibayarlah 3 pasang sepatu itu, dan totalnya cuma lebih mahal 50 ribu dibanding harga sepasang sepatu bertanda check list yang dibeli suamiku. Uuuh.. legaa.. semua bahagia. (Hahaha... sok sokan mau belanja ke Nike FS ato Sport Station, eksekusinya di Kosambi juga..) Etapi.. Aa javas cemberut. Bosen ah beli sepatu melulu, katanya. Hahaha... maaf ya Sayang, A Javas kan gak perlu sepatu, masa mau ikut-ikutan beli. 

Untuk menghibur hatinya, kuajak dia mencari toko mainan. Tapi gak ada di deretan toko-toko itu. "Beli CD aja mau A?" tanyaku. Mauuu... Yasudah, kubelikan dia CD BAJAKAN di emperan toko sepatu tadi. Dua buah DVD harganya 12 ribu rupiah. Satu buah DVD kompilasi Thomas (isinya 8 film) dan satu lagi kompilasi Cars (isinya 6 film, Cars 1, Cars 2, Plane, Monster University, dan entah apa lagi lupa). Catet ya, dua belas ribu dan dapet 14 judul film. Biasanya kubeli CD Thomas di Gramed itu harganya 15 ribu, isinya 1 cerita saja. CD Cars dll itu entah berapa harganya, kayanya 100 ribuan lebih deh per filmnya.. Gimana bisa diberantas ya pembajakan ini? Lha wong pembeli sangat diuntungkan (dan penjual juga pasti). Gak bisa ngomong kualitas sih memang... Belum lagi masalah pelanggaran hak ciptanya itu loh.. Tapi, ah entahlah, yang jelas Javas pun hari itu senang meski gak beli sepatu.

Sampe rumah jam setengah sembilan. Mandi, sholat, nidurin krucils. Anak-anak dan bapaknya pada norak-norakan dong nyobain sepatu baru. Suara mereka makin sayup-sayup terdengar, aku pun tertidur.

Hari Minggu seharian di rumah saja. Pagi-pagi cuma bikin muffin buat sarapan, bikin bubur Jindra, dan sudah, gak masak apa-apa lagi. Makan siang dan sore beli masakan mateng saja, Mama lagi maleesss...

Dan hari Senin rutinitas seperti biasa. Sudah agak lega karena laporan bisa dikatakan beres walau belum 100%. Tinggal nunggu tanggapan dan closing conference dalam seminggu dua minggu ke depan. Bisa nyantai? Tentu saja TIDAK. Karena oh karena... ada 7 Surat Perintah yang laporannya harus selesai 31 Oktober ini. Hadeuh.......

(Mudah-mudahan setelah 31 Oktober aku jadi langsing karena tumpukan kerjaan ini hihi...)





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...