Jumat, 13 September 2013

Jambu Milik Bersama

Javas (2 th) nangkring di pohon jambu.


"Pak Tisnaa... Pak Tisnaaa..."

Aku yang setengah tertidur sambil ngeloni baby Jindra terbangun oleh suara riuh anak-anak di luar rumah yang memanggil-manggil suamiku. Oh sholat teraweh di masjid sebelah sudah selesai rupanya, dan seperti biasa anak-anak bubaran sholat teraweh itu ramai bermain di luar. Tapi, ada apa gerangan, kok manggil-manggil suamiku macam manggil Youri begitu? Mau minta tanda tangan rangkuman ceramah teraweh tugas dari sekolahkah? Rasanya tidak. Setahuku tahun ini suamiku cuma kebagian tugas 3 atau 4 kali sholat subuh saja, tidak ada tugas imam dan ceramah teraweh.

Terdengar suara pintu dibuka.

"Naon? Bapa urang keur makan." Suara Youri.


Rupanya sholat teraweh sudah agak lama selesainya. Suamiku sudah pulang dari masjid, dan sudah (sedang) makan malam alias buka puasa sesi 2. Kok gak kedengeran suamiku pulang ya? Aku bener-bener tertidur rupanya (padahal niatnya cuma ngeloni Jindra saja :)).

"Ada apa?" suara suamiku.

"Mau minta jambu Pak."

"Boleeh.. Tapi masih mentah-mentah tuh kayanya."

"Udah banyak yang merah-merah  Pak."

"Coba A ambil senter."

Youri pun masuk mengambil senter. Dan ternyata memang jambu di pohon kami sudah banyak yang merah ranum. Kami yang setiap hari berangkat pagi-pagi dan pulang maghrib gak pernah sempat memperhatikan  pohon kami.

"Ni pakai kresek ya.. Jangan dijatuhin. Kumpulin dulu nanti makannya rame-rame. Pilih yang sudah merah. Yang masih ijo kecil-kecil jangan dipetik dulu."

Anak-anak gembira, dan suamiku yang gak berani sempat memanjat pohon pun serasa mendapat bonus, ada yang menawarkan diri memetik jambunya. Ngantukku hilang, aku pun keluar kamar, ikut pesta jambu bersama mereka. Alhamdulillah, rejeki dari Alloh, buah jambu segar GRATIS. (Di Yogya RJ sekilo 20 ribu loh, kalau lagi musim. Kalau lagi jarang sekilonya bisa lebih mahal.. :)).

Memang pohon jambu air kami ini tidak terlalu lebat buahnya, tapi buahnya manis dan tebal. Tidak sepet seperti jambu air lain. Ada yang menyebutnya jambu cingcalo. (Di wikipedia disebut Jambu Semarang.) Ditanam di depan rumah oleh Bapakku sejak belasan tahun yang lalu, saat kami baru menempati rumah ini. Bibitnya dibawa bapakku dari Magelang, cangkokan dari pohon Paklik Hadi.
Jambu Semarang
Wax apple1.jpg
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae
Genus: Syzygium
Spesies: S. samarangense
Nama binomial
Syzygium samarangense
(Blume) Merr. & Perry, 1938
Sinonim
Eugenia javanica Lamk., 1789 (part)
Eugenia mananquil Blanco, 1845
Jambosa alba Blume, 1850
Cangkok, ada yang belum tahu bagaimana mencangkok pohon? Baiklah aku ceritakan. Sederhananya begini, mencangkok itu membuat anakan/turunan pohon dari bagian batang pohon induk. Batang / ranting pohon induk dikelupas kulitnya sepanjang ±10  cm sampai terlihat batang kayunya. Bungkus batang yang terbuka itu dengan ijuk atau sabut kelapa berisi tanah yang dicampur pupuk kandang. Siram secara rutin, nanti di tanah itu akan tumbuh akar. Ketika akar sudah kuat dan siap, potong batang itu dan tanam di tanah. Info lebih lanjut tanya Mbah Google atau Petugas Penyuluh Pertanian terdekat, hehehe...

Kembali ke Pohon Jambu.
Dalam setahun si pohon berbuah dua kali. Kadang bagus buahnya, kadang buruk berulat, atau bahkan busuk dan berjatuhan ke tanah tergantung musim. Musim kemarau menghasilkan buah yang bagus mulus dan rasanya lebih manis. Yang sebaliknya terjadi pada musim penghujan.

Tidak ada perawatan khusus yang kami lakukan terhadap si pohon jambu. Disiram pun jarang, seingetnya saja. Si pohon jambu akan sedikit terawat dan 'dimanjakan' apabila ada ibu mertuaku di sini. Beliau memang penyayang tanaman. Air cucian daging, ayam, atau beras gak boleh dibuang, tapi ditampung dan dipakai untuk menyirami tanaman-tanaman kami, termasuk pohon jambu. Begitu juga sisa susu di botol Javas dan Jindra, sesedikit apa pun pasti dibuang ke pohon. (Bahkan terkadang susu belum habis, baru ditinggal sebentar dengan maksud nanti mau diminum lagi, eh tau-tau sudah lenyap, diminum si pohon jambu, hihi....). Biar buahnya manis, kata beliau. Dan kata beliau,  tanaman itu adalah makhluk Alloh juga, jadi harus disayang. Nanti kita akan mendapat balasannya dari Alloh (ini kuartikan panen jambu :D).

Dan alhamdulillah bukan kami saja yang menikmati manisnya jambu cingcalo ini, para tetangga juga terkadang kebagian (ketika jambu berbuah lebat dan bagus), orang lewat (kadang ada yang minta), dan teman-teman Youri tentu saja. Bukan itu saja, kelelawar, burung, ulat, dan semut-semut juga hehehe.... Kami senang, kami bahagia bisa berbagi walau hanya dengan beberapa buah jambu.

Gambar dari sini.

Mudik Lebaran 10 hari ke kampung halaman kemarin, pohon jambu kutinggal (ya iyyalah masa mo diajak? :p) dengan buah masih hijau & kecil-kecil sisa dipetikin anak-anak kemarin. Pulang mudik kayanya jambu-jambu itu sudah siap petik. Mau kubawa ke Jakarta ah... mertuaku kan seneng banget kalau dibawain oleh-oleh buah dari pohon sendiri. Biasanya sepulang mudik sebagian ‘hasil bumi’ oleh-oleh dari Eyang Magelang memang kubawa ke Jakarta. Pepaya, pisang, alpukat, ubi atau apa saja yang lagi ada di kebun Eyang Magelang. Kali ini akan kutambah jambu dari kebun Bandung (halah halaman seuplek disebut kebun.. :)). 

Setelah mandi dan istirahat setelah menempuh perjalanan 15 jam Magelang-Bandung, kutengok pohon jambuku yang sempat terlupakan oleh serunya mudik. Dua hari lagi kami ke Jakarta dan jambu-jambu ini besok harus sudah dipetik. Eyang pasti akan gembira menikmati jambu yang manis-manis hasil siraman air cucian daginnya. Ah, membayangkannya saja sudah membuatku bahagia. Ya, kata orang bijak kan kebahagiaan sejati adalah ketika bisa memberi. 
Lho, kok ijo semua? Gak ada sedikitpun warna merah? Sepuluh hari yang lalu jambu-jambu ijo itu sebagian sudah ada yang semburat merah. Hijau... hijau... dan hijau lagi. Mana ini merah? Mana ini jambu? JAMBU?! Iya, mana nih jambunya? Kok daun semuaaaaa...... jambunya gak ada sebutir pun! Huaaaa.... :'(


+ Lho... kok huaaa?
-      =  Iya, kesel dong jambunya ilang semua.
+ Kenapa kesel? Katanya kebahagiaan sejati adalah ketika memberi?
=  Err.. iya siih... Tapi kan... Tapi kaaan.... 



14 komentar:

  1. Saya juga minta jambunya doong... #bawa kantong plastik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sini sini Mbak Niken... tinggal daunnya niiy, hehe... lumayan buat bungkus tape :D

      Hapus
  2. bagian nyusuin trus ikut (ke)tidur(an) ituuuu... AKU banget! hahaha. Nikmat ya mbak, tidur bareng baby... 5 menit serasa sejam, dah! :D
    Mbak, masih bagus loh bisa nanem pohon jambu di depan rumah. Artinya halaman rumah kalian lumayan luas. Nah itu, halaman rumah kami asliiii cuma 2 m x 1 m doang. Tanem apaan, cobaaa...?
    Btw, gudlak yaaaa... giveaway-nyaaa.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh luas doong halaman rumah kami... seluas 2x1 meter! :D
      Toss... sama lah kitaa...
      Tapi para Eyang ini pada rajin menanam di halaman rumahku yg secuil itu, jadi selain pohon jambu, ada juga pohon sirsak dan pepaya loh.... sini sini mampiir...

      Hapus
  3. kalau jambunya sudah panen, boleh minta nggak mbak, hehe

    semoga sukses GA nya mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah panen, dipanen orang lain, hehe....
      Makasih yaa..

      Hapus
  4. ya ampun mbaak, this is one of my fave buah juga. Yoiii di RJ tuh harganya gak syopaaan, 25-30 rebuan kan. Emang bagus bagus sih tapi itu mah sekali makan sekeluarga. Ini kan makannya nagih. Nanti kalo berbuah lagi kabarin aku, mbak, hihihi kusamperin ke sana deh mau pagi atau malam ihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa menurutku juga jambu di supermarket mahhall.... Makanya blm pernah beli hehe.. Dan juga karena merasa di rumah punya pohonnya jadi asa rugi kalau beli. Padahal berbuahnya juga entah berapa bulan sekali :D
      Drpd beli jambu aér mending beli jambu merah, jambu bangkok, atau kambu kristal yg non biji itu enak banget loh..
      Yuk ntar kalau panen jambu lagi kita kopdaran lagi, potluck ya kubawa jambu, kalian bawa hasil masakan kalian :)

      Hapus
  5. Kemariiin lihat waktu lewat pasar baruuuu.... udah banyak mamang mamang yg memajang pikulan isi jambu ini... tapi kayaknya gak bakal semahal RJ.
    Akhirnya dia ikut kontessss..... sukses yaaa...
    Aku banyak cerita dengan pohon, tp males bagian bikin link. Modemnya blm dikasih makan lagi *efekcutibesar* Jadi kulewat sajalah ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama aja mbaak.. Di depan Pasar Baru atau King itu mahal-mahal jugaa.. Tapi emang bagus2 sih barangnya. Yang murah sih di pasar Caringin atau Gedebage, tapi belinyA harus sepeti hihi...
      Ayo ikutan mbaak.. Kalo dirimu ikutan pasti menang lagi deh.. Eh udah lewat deadline kayanya. Yo wis, tularkan keberuntunganmu itu padaku yaa.. :))

      Hapus
    2. Amiiiiin... kudoakan dengan tulus mbaak... karena kali ini enggak rival-an hahaha

      Hapus
  6. Kemarin baca postingan ini pake iphone.. mau komen gak masuk-masuk.. jadi baru bisa sekarang mbak...
    Waaah, kok samaan kayak aku ya.. di rumah temanggung sana, kalo ada pohon pepaya, jambu bangkok, atau apa aja panen, tetangga malah dah tau duluan dan tiba-tiba aja ada yang datang ke rumah buat minta.
    Lha di yogya sini, kan di kebun ada pohon salam, pernah sore-sore aku lagi duduk-duduk di pintu keluar sama anak-anak, tetiba ada ibu-ibu teriak minta tolong ma bapak-bapak yang ada di deket kebunku tuk minta diambilin sala, dan si bapak dengan cueknya ambil salam itu tanpa sedikitpun bicara padaku, seolah-oleh biasa aja itu pohon milik umum, hihihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Ka.. Sebenernya kan kita seneng ya bisa berbagi, ikhlas, tapi ketika caranya seperti itu kok tiba2 jd agak2 gak ikhlas ya? Manusiawi kan... :D

      Hapus
    2. betul mbak... seneng banget sebenarnya kalo bisa berbagi yang kita punya... alhamdulillah ada celah tuk sadaqah kan ya?? tapi emang suka bikin mengurangi keikhlasan hal-hal yang kayak gitu, hehehhee.. masih kudu banyak belajar nih..
      Btw, sukses GAnya mbak Tituk ^_^

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...