Kamis, 05 September 2013

Berhasilkah Puasa Kita?


Dr. Aam Amiruddin, MSi
Hari Rabu kemarin di masjid kantorku ada pengajian rutin, penceramahnya Ust. Aam Amiruddin. Seperti biasa kubikin catatan kecil saat mendengarkan ceramahnya, maksudnya sih untuk dibaca-baca ulang suatu saat nanti (tapi pada prakteknya cuma tersimpan saja di hape, gak pernah dibuka-buka lagi.. hiks.. pemalasnya diriku). Dan kutulis ulang di sini dengan maksud agar catetan itu gak ilang lagi.
Beberapa minggu yang lalu kan hapeku rusak, entah kenapa tiba-tiba reset ulang, semua kontak ilang (untung ada back up-nya di yahoo yang untungnya sudah disincronized sama BB), grup BBM ilang, dan catetan-catetan pentingku di memo pad ilang semua.... termasuk catetan-catetan kecil saat mendengarkan pengajian.

Dan yang paling kutangisi kusesali adalah hilangnya catetan perjalananku waktu melaksanakan ibadah haji. Bayangin aja, catetan selama 40 hari (dan ini sekali-kalinya aku pergi ke luar negeri! huaaa... :)), dan itu kucatetin semua walo cuma dikit-dikit. Maksudnya sih ya suatu saat mau dibikin cerita gituuh... tapi ya itu tadi, karena kemalasanku catetan itu kubiarkan saja mengendap di hapeku, dan...... HILANG! Ah sudahlah....

Kembali ke ceramahnya Ustad Aam.

Ramadhan sudah sebulan berlalu. Tercapaikah tujuan kita berpuasa? Menjadi pribadi yang lebih bertakwa? Atau Ramadhan kita berlalu begitu saja?

Inilah beberapa ciri orang yang ibadah puasanya berhasil, seperti ciri ibadurrohman dalam QS Al Furqon 63-77:

  1. Rendah hati, adabnya baik, santun. Kalau diajak berbicara oleh orang jahil (bodoh) dia menjawab dengan bijaksana. Lisan adalah etalase hati. Kalau hati bersih, lisannya bersih. Orang yang Ramadhannya berhasil pasti menjadi pribadi yang santun. Hadist: bicaralah yang baik, atau diamlah.
  2. Banyak bersujud / berdoa. Melakukan qiyamullail dan ikhlas melakukannya.
  3. Menafkahkan hartanya secara proporsional. Tidak boros, tidak pelit. Bahkan bersedekah pun harus proporsional, jangan sampai hak anak/istri terabaikan.
  4. Tidak melakukan dosa besar (menyekutukan Alloh, membunuh, berzina).
  5. Setiap berbuat salah selalu bertobat. Manusia tidak bisa suci dari dosa, akan tetapi harus selalu berusaha meninggalkan perbuatan dosa. Manusia pada dasarnya baik, tapi kadang-kadang terjerumus dosa. Alloh selalu membuka pintu maaf. Bertobatlah. QS Az Zumar (39) ayat 53: jangan berputus asa dari rahmat Alloh.
  6. Jujur dalam segala hal, meninggalkan perbuatan yang sia-sia dan menjaga kehormatan dirinya. Puasa melatih kejujuran, karena saat puasa tidak ada yang tahu dirinya puasa atau tidak kecuali dia sendiri dan Alloh.
  7. Hatinya terbuka terhadap nasehat. Dia mau menerima nasehat dari siapa pun selama isinya benar. Orang yang suka mendengarkan nasehat pikirannya sehat.
  8. Memperhatikan kualitas keluarganya. Dia tidak hanya berdoa untuk dirinya, tapi berdoa untuk kesalehan istri dan keturunan mereka. Orang yang rajin sholat, tahajud, shaum sunah, rajin dhuha, dll tapi kasar kepada istrinya, maka diragukan kualitas ibadahnya; karena orang yang ibadahanya bener pasti akan bertanggungjawab dan sayang terhadap keluarganya.
Orang-orang seperti itulah yang akan mendapatkan surga karena kesabarannya (untuk melaksanakan poin-poin tsb di atas perlu kesabaran).

Dan ini kutipan QS Al Furqon 63-77 yang kucopas dari Al Quran Online

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. 
63 
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. 
64 
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". 
65 
إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا
Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. 
66 
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. 
67 
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), 
68 
يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا
(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, 
69 
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 
70 
وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. 
71 
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. 
72 
وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. 
73 
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. 
74 
أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, 
75 
خَالِدِينَ فِيهَا ۚ حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا
mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. 
76 
قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ ۖ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا
Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): "Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)". 
77 

4 komentar:

  1. Evaluasi memang perlu kita lakukan dalam ibadah, tidak hanya evaluasi terhadap pekerjaan2 lain kita.

    Nice share mbak. Semoga kisah naik hajinya masih bisa ditulis bermodalkan rekaman ingatan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia mbak masalahnya... rekaman ingatannya ini rada-rada gak bisa diandalkan... :)
      Dan kejadiannya pun sudah lama berlalu.. tahun 2011.

      Hapus
  2. ikut nyesek sama catatan hajinya yang ilang, mbak...
    dan langsung malu diingatin sama kalimat: bicaralah yang baik, atau diam... *plester mulut* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi... sudahlah, yang hilang biarkan saja.. Nanti bikin catetan lagi kalo ke sana lagi. Mudah2an masih diberi kesempatan oleh Alloh untuk menikmati prosesi ibadah yang satu itu. Aamiin...

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...