Senin, 16 September 2013

Avocado Ice Cream & Es Krim Nangka


Siapa yang suka es krim?
Sayaaaa...!!
Wah banyak banget yang jawab ya, anak-anak, ibu-ibu, remaja, lansia daaan aku!

Aku suka es krim, terutama yang rasa tradisional Indonesia. Rasa standar seperti vanila, coklat, strobery gitu gak terlalu suka, apalagi merk-merk ngetop seperti H**gen D***,  Bask** Rob***, gak suka. Gak suka bayarnya, mahhall.... hahaha...

Dan sebenernya ada es krim rasa tradisional Indonesia yang enak banget, namanya Es Krim Gentong. Tapi sayangnya mahal juga untuk ukuran kantongku. Dulu pertama kali nemu es krim ini di PVJ (Paris van Java) Mall, aku langsung jatuh cinta. Enaak deh.. Rasanya asli banget. Maksudnya asli tuh gini, yang rasa duren ya duren banget, alpukat ya kerasa banget alpukatnya, nangka ya kerasa banget nangkanya, bahkan potongan alpukat atau nangka itu nongol di es krimnya, wuiih seksi deh.. :D

Lagi mikir-mikir pengin bikin es krim alpukat sendiri, eh temenku Lina posting resep Es Krim Durian. Dan baca cara membuatnya aku langsung semangat, gampang banget!

Javas bantu bikin es krim, bantu jilat :D
Di resepnya Lina itu pakai 250 gr whip cream. Aku beli whip cream bubuk Pondan, isinya 150 gr, dan menurut petunjuk di kemasannya harus dikocok dengan 250 ml air es. Berarti kira-kira jadi 400 gr whip cream kan? Ya sudah kubikin 2 resep es krim saja, satu alpukat, satu nangka. Kebetulan dapet nangka bagus-bagus dari Sunday Market alias pasar kaget Minggu pagi tadi di bunderan lapangan tenis.

Jadi satu resepnya kupakai kira-kira 200 gr whip cream. Gulanya kutambahi untuk resep alpukat, kalau yang nangka enggak, karena kupikir nangka dan duren kan sama-sama manis.
Aku gak pakai gelatin karena gak punya, dan kata Lina gak ngaruh kok gak pake gelatin juga.

Hihi.. Nekat ya, baru pertama kali bikin es krim tapi sok-sok ngerubah resep yang dicontek. Pikirku kalopun gagal ya tetep bisa dimakan kan, minimal jadi milk shake haha..

Daan ternyata enaak Sodara-sodara.. So creamy.. Mmm.. Mmm.. W*lls atau Ch**phina mah lewaaat... Lewat depan rumah, maksudnya. ;)

Cobain yuuk...


Bahan es krim alpukat:

300 gr daging buah alpukat
150 gr gula
100 ml susu cair
200 gr whip cream

Cara membuat:

Blender alpukat, gula dan susu sampai lembut.
Kocok whip cream sampai kaku, campurkan alpukat, aduk rata, bekukan.



Bahan es krim nangka:

300 gr nangka (tanpa biji)
100 gr gula
100 ml susu cair
200 gr whip cream

Cara membuatnya sama persis dengan es krim alpukat. Karena aku suka es krim yang lebih bertekstur dan 'seksi' (kelihatan buah aslinya) gak semua bahan kublender. Kupisahkan 5 buah nangka, potong dadu kecil, dan dicampurkan terakhir ke adonan es krim.



Jumat, 13 September 2013

Jambu Milik Bersama

Javas (2 th) nangkring di pohon jambu.


"Pak Tisnaa... Pak Tisnaaa..."

Aku yang setengah tertidur sambil ngeloni baby Jindra terbangun oleh suara riuh anak-anak di luar rumah yang memanggil-manggil suamiku. Oh sholat teraweh di masjid sebelah sudah selesai rupanya, dan seperti biasa anak-anak bubaran sholat teraweh itu ramai bermain di luar. Tapi, ada apa gerangan, kok manggil-manggil suamiku macam manggil Youri begitu? Mau minta tanda tangan rangkuman ceramah teraweh tugas dari sekolahkah? Rasanya tidak. Setahuku tahun ini suamiku cuma kebagian tugas 3 atau 4 kali sholat subuh saja, tidak ada tugas imam dan ceramah teraweh.

Terdengar suara pintu dibuka.

"Naon? Bapa urang keur makan." Suara Youri.


Rupanya sholat teraweh sudah agak lama selesainya. Suamiku sudah pulang dari masjid, dan sudah (sedang) makan malam alias buka puasa sesi 2. Kok gak kedengeran suamiku pulang ya? Aku bener-bener tertidur rupanya (padahal niatnya cuma ngeloni Jindra saja :)).

"Ada apa?" suara suamiku.

"Mau minta jambu Pak."

"Boleeh.. Tapi masih mentah-mentah tuh kayanya."

"Udah banyak yang merah-merah  Pak."

"Coba A ambil senter."

Youri pun masuk mengambil senter. Dan ternyata memang jambu di pohon kami sudah banyak yang merah ranum. Kami yang setiap hari berangkat pagi-pagi dan pulang maghrib gak pernah sempat memperhatikan  pohon kami.

"Ni pakai kresek ya.. Jangan dijatuhin. Kumpulin dulu nanti makannya rame-rame. Pilih yang sudah merah. Yang masih ijo kecil-kecil jangan dipetik dulu."

Anak-anak gembira, dan suamiku yang gak berani sempat memanjat pohon pun serasa mendapat bonus, ada yang menawarkan diri memetik jambunya. Ngantukku hilang, aku pun keluar kamar, ikut pesta jambu bersama mereka. Alhamdulillah, rejeki dari Alloh, buah jambu segar GRATIS. (Di Yogya RJ sekilo 20 ribu loh, kalau lagi musim. Kalau lagi jarang sekilonya bisa lebih mahal.. :)).

Memang pohon jambu air kami ini tidak terlalu lebat buahnya, tapi buahnya manis dan tebal. Tidak sepet seperti jambu air lain. Ada yang menyebutnya jambu cingcalo. (Di wikipedia disebut Jambu Semarang.) Ditanam di depan rumah oleh Bapakku sejak belasan tahun yang lalu, saat kami baru menempati rumah ini. Bibitnya dibawa bapakku dari Magelang, cangkokan dari pohon Paklik Hadi.
Jambu Semarang
Wax apple1.jpg
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae
Genus: Syzygium
Spesies: S. samarangense
Nama binomial
Syzygium samarangense
(Blume) Merr. & Perry, 1938
Sinonim
Eugenia javanica Lamk., 1789 (part)
Eugenia mananquil Blanco, 1845
Jambosa alba Blume, 1850
Cangkok, ada yang belum tahu bagaimana mencangkok pohon? Baiklah aku ceritakan. Sederhananya begini, mencangkok itu membuat anakan/turunan pohon dari bagian batang pohon induk. Batang / ranting pohon induk dikelupas kulitnya sepanjang ±10  cm sampai terlihat batang kayunya. Bungkus batang yang terbuka itu dengan ijuk atau sabut kelapa berisi tanah yang dicampur pupuk kandang. Siram secara rutin, nanti di tanah itu akan tumbuh akar. Ketika akar sudah kuat dan siap, potong batang itu dan tanam di tanah. Info lebih lanjut tanya Mbah Google atau Petugas Penyuluh Pertanian terdekat, hehehe...

Kembali ke Pohon Jambu.
Dalam setahun si pohon berbuah dua kali. Kadang bagus buahnya, kadang buruk berulat, atau bahkan busuk dan berjatuhan ke tanah tergantung musim. Musim kemarau menghasilkan buah yang bagus mulus dan rasanya lebih manis. Yang sebaliknya terjadi pada musim penghujan.

Tidak ada perawatan khusus yang kami lakukan terhadap si pohon jambu. Disiram pun jarang, seingetnya saja. Si pohon jambu akan sedikit terawat dan 'dimanjakan' apabila ada ibu mertuaku di sini. Beliau memang penyayang tanaman. Air cucian daging, ayam, atau beras gak boleh dibuang, tapi ditampung dan dipakai untuk menyirami tanaman-tanaman kami, termasuk pohon jambu. Begitu juga sisa susu di botol Javas dan Jindra, sesedikit apa pun pasti dibuang ke pohon. (Bahkan terkadang susu belum habis, baru ditinggal sebentar dengan maksud nanti mau diminum lagi, eh tau-tau sudah lenyap, diminum si pohon jambu, hihi....). Biar buahnya manis, kata beliau. Dan kata beliau,  tanaman itu adalah makhluk Alloh juga, jadi harus disayang. Nanti kita akan mendapat balasannya dari Alloh (ini kuartikan panen jambu :D).

Dan alhamdulillah bukan kami saja yang menikmati manisnya jambu cingcalo ini, para tetangga juga terkadang kebagian (ketika jambu berbuah lebat dan bagus), orang lewat (kadang ada yang minta), dan teman-teman Youri tentu saja. Bukan itu saja, kelelawar, burung, ulat, dan semut-semut juga hehehe.... Kami senang, kami bahagia bisa berbagi walau hanya dengan beberapa buah jambu.

Gambar dari sini.

Mudik Lebaran 10 hari ke kampung halaman kemarin, pohon jambu kutinggal (ya iyyalah masa mo diajak? :p) dengan buah masih hijau & kecil-kecil sisa dipetikin anak-anak kemarin. Pulang mudik kayanya jambu-jambu itu sudah siap petik. Mau kubawa ke Jakarta ah... mertuaku kan seneng banget kalau dibawain oleh-oleh buah dari pohon sendiri. Biasanya sepulang mudik sebagian ‘hasil bumi’ oleh-oleh dari Eyang Magelang memang kubawa ke Jakarta. Pepaya, pisang, alpukat, ubi atau apa saja yang lagi ada di kebun Eyang Magelang. Kali ini akan kutambah jambu dari kebun Bandung (halah halaman seuplek disebut kebun.. :)). 

Setelah mandi dan istirahat setelah menempuh perjalanan 15 jam Magelang-Bandung, kutengok pohon jambuku yang sempat terlupakan oleh serunya mudik. Dua hari lagi kami ke Jakarta dan jambu-jambu ini besok harus sudah dipetik. Eyang pasti akan gembira menikmati jambu yang manis-manis hasil siraman air cucian daginnya. Ah, membayangkannya saja sudah membuatku bahagia. Ya, kata orang bijak kan kebahagiaan sejati adalah ketika bisa memberi. 
Lho, kok ijo semua? Gak ada sedikitpun warna merah? Sepuluh hari yang lalu jambu-jambu ijo itu sebagian sudah ada yang semburat merah. Hijau... hijau... dan hijau lagi. Mana ini merah? Mana ini jambu? JAMBU?! Iya, mana nih jambunya? Kok daun semuaaaaa...... jambunya gak ada sebutir pun! Huaaaa.... :'(


+ Lho... kok huaaa?
-      =  Iya, kesel dong jambunya ilang semua.
+ Kenapa kesel? Katanya kebahagiaan sejati adalah ketika memberi?
=  Err.. iya siih... Tapi kan... Tapi kaaan.... 



Senin, 09 September 2013

Taat Hukum dan Jujur Dimulai dari Rumah


Foto diambil dari fanpage CAMOT di Facebook.
 
Sebenernya lagi gak pengin nyinyir, tapi mendengar berita Dul -anaknya Ahmad Dhani dan Maia Estianty- yang baru berusia 13 tahun terlibat dalam kecelakaan lalu lintas di tol Jagorawi yg menewaskan 6 orang dan melukai 11 orang, sebagai ibu dari dua orang abege sepantaran Dul rasanya aku jadi gatel pengin ikutan komentar. Bukan mau ngomentari Dul, Dhani, atau Maia, itu mah tugasnya infotainmen. Aku pengin berkomentar tentang banyaknya orang tua yang mengijinkan anaknya yang masih di bawah umur mengendarai kendaraan bermotor.

Tidak sedikit orang tua yang mengijinkan atau bahkan bangga ketika anaknya yang masih abege mengendarai kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil.
 Lihat fotonya aja bikin merinding... Foto dari republika.co.id
Sebagian besar anak-anak tetanggaku seumuran Neysa dan Youri bisa dan sering mengendarai motor, bahkan sejak mereka masih SD. Dan namanya juga anak-anak, mereka kurang memperhatikan keselamatan diri sendiri maupun orang lain saat berkendara. Ngebut di jalanan di dalam komplek yang ramai anak kecil, boncengan berbanyakan, bercanda di jalanan, dll dsb. 

Bahkan terkadang kulihat mereka naik motor ke sekolah. Kok ya pihak sekolah gak melarang ya? Miris melihatnya. Seorang anak dengan seragam putih birunya (bercelana pendek) membonceng temannya sambil bercanda dengan teman di motor sebelahnya, dan di tangannya terselip sebatang ROKOK! Duh.... ke mana orang tuamu Nak?

Atau memang begitu standar didikan orang tuamu?
Maksudnya apa? Gaya? Karena memang sudah jamannya? Atau memang kebutuhan yang mengharuskan?
Apa pun alasannya, orang tua yang mengijinkan anaknya yang masih di bawah umur mengendarai motor/mobil bukanlah orang tua yang bijak. Bagaimana bisa disebut bijak jika mereka mengajarkan kepada anaknya untuk MELANGGAR HUKUM, mengendarai kendaraan bermotor tanpa ijin (SIM)? Okelah si anak punya SIM, bukankah itu berarti orang tua sudah mengajarkan anaknya TIDAK JUJUR, memalsukan umur saat membuat SIM?

Dua anak abegeku bisa mengendarai motor. Sejak mereka (terutama Youri) kelas 4 SD mereka sudah minta diajari mengendarai motor. Suamiku menolak mentah-mentah. Tapi ya namanya anak-anak, kalau dilarang mereka akan diam-diam melakukannya tanpa sepengetahuan kita.  Youri pernah kelepasan cerita dia mencoba motor Rai temannya, "Kaki Aa udah nyampe Ma." katanya. Ya sudah dari pada mereka belajar naik motor dari temannya sesama abege, suamiku mau mengajari mereka. Lebaran dua tahun yang lalu di lapangan Desa Candiretno itulah anak-anakku belajar naik motor sampai bisa dengan beberapa hari latihan.

Setelah bisa diijinkan naik motor? Ya. Tapiiiiii..... dengan syarat cuma di dalam komplek perumahan kami, dan PAPA DIBONCENG DI BELAKANG. Alhamdulillah peraturan itu CUKUP bagi kami. Cukup memuaskan rasa penasaran mereka (pengin ngerasain naik motor) dan cukup memberi rasa aman bagi kami sebagai orang tuanya.

Mudah-mudahan adanya kasus Dul ini menjadi pelajaran bagi kita para orang tua yang memiliki anak pra remaja. Sudah seharusnya orang tua memikirkan kembali keputusannya untuk mengijinkan anaknya mengendarai kendaraan bermotor. Peraturan dibuat pasti untuk keselamatan bersama, patuhilah, demi keselamatan bersama. Ya kalau Anda tidak peduli keselamatan orang lain pikirkan itu demi keselamatan anak Anda sendiri.

Jumat, 06 September 2013

Mumpung Diskon


Keranjang belanjaku yang didominasi Tipco diskonan :D
Gara-gara Sondang berkali-kali nyebut "Tipco diskonan" dalam postingannya, aku yang pengin dapet diskonan juga (gak mau kalah dong urusan dapet diskon mah :)) siang tadi segera meluncur ke Yogya Riau Junction, mumpung hari Jumat istirahatnya rada lama. Dan benaarr... Tipco beli 1 gratis 1! Semua rasa, semua ukuran. Aku beli 6 kemasan 1 liter, dan 10 kemasan 200 ml dengan harga yang kubayar cuma 3x 1 liter dan 5x 200 ml. Banyak amat Mbak? Ya iyalah... mumpung diskon.

Ada gak sih ibu-ibu yang gak suka diskon? Atau gratisan? Atau berhadiah? Kayanya gak ada ya.. (Jangan menggeneralisir. Pasti ada lah.)
Pernah gak beli sesuatu yang gak perlu atau gak direncanakan cuma karena tergiur diskonnya atau hadiahnya? Kok aku rasanya sering yaa... (memalukan gak siih... :D)

Aku pernah beli hand sanitizer dan gantungan lucunya itu (padahal aku gak perlu) seharga 30 ribu hanya demi menggenapi belanjaku yang kurang 5 ribu biar berkelipatan 50 ribu demi mendapatkan selembar kupon undian plus kupon yang harus dikumpulkan 25 lembar demi mendapatkan sebotol kecil (500 ml?) minyak goreng.

Sebelum Lebaran kemarin, aku ke Matahari nyari baju biru buat Aa Youri. Ada tulisan gede-gede, belanja 300 ribu produk fashion berhadiah voucher belanja 100 ribu. Tergiur dong? Pasti. Jadinya belanjaanku yang cuma 250 ribuan kugenapi biar mencapai 300 ribu. Aku beli sepatu bayi untuk Jindra (yang harganya 80 ribu tapi diskon 50%) dan 10 ribu lagi kubeli kaos dalam Javas. Dan kudapatlah voucher belanja 100 ribu itu, yeay! Etapi.... ternyata ada syarat dan ketentuan berlaku dong.. Voucher hanya berlaku pada hari itu, barang-barang yang bertanda khusus, dan minimal belanja 200 ribu. Ya sudah, aku terpaksa belanja lagi. Kalo vouchernya gak dipake kan sayang, lha wong dapetinnya pake perjuangan :). 

Dan ternyata barang bertanda khusus itu kebanyakan barang seharga 150 ribuan, dan beli 2 gratis 1. Gak mungkin cuma beli 1 kan? Gak mencapai 200 ribu. Lagipula kalo beli 1 sayang kan tawaran beli 2 gratis 1-nya? Muter-muter milih-milih sampai kaki pegel. Ada baju muslim, celana panjang, kaos... Pilih apa ya? Gak nemu-nemu. Temenku yang entah kasihan atau udah capek menemaniku belanja akhirnya ikutan belanja, dan digabunglah belanjaan kami. Akhirnya kudapat barang yang cocok, celana panjang buat Aa Youri. Dan ketika bayar di kasir, kami dapet lagi voucher 100 ribu karena belanjaan kami mencapai 300 ribu. Dipakai lagi? Kagak! Sorry yaa... gak mau terjebak lagi. (Hihi.. padahal karena kaki udah gempoor....)

Jadi, sebenernya diskon, hadiah, atau gratisan itu menguntungkan siapa? Konsumen, atau pengusaha? Kalo dipikir-pikir kok kayanya tetep pengusaha yaa.. Lha wong kita yang tadinya gak niat belanja jadi belanja. Yang gak terlalu butuh, dibeli juga. Yang tadinya cuma mau beli 1, jadi beli 2.

Jelas pengusaha yang diuntungkan. Tapi kita sebagai konsumen diuntungkan juga sih.... karena bisa dapet barang dengan harga lebih murah, atau bahkan dapet barang gratisan.

Pernah dirugikan? Pernah doong... 
Jadi ceritanya Sabtu kemarin sepulang dari acara rapat ortu - guru di sekolah Aa Youri aku mampir ke Toserba Griya, biasa lah belanja mingguan. Beli buah, susu, telur, sabun dan ini itu. Oh ya, minyak goreng juga. Kan aku punya voucher belanja Rp 2.500 yang berlaku untuk pembelian minyak goreng merk apa pun, dan voucher itu berlaku sd tanggal 31 Agustus (hari Sabtu kemarin itu). Minyak goreng di rumah masih ada 2 pouch lagi, tapi karena sayang dari pada voucher hangus gak papalah kubeli minyak goreng, toh minyak goreng bisa disimpen, gak basi ini.
Dan susu Hilo Teen buat para abege kubeli yang kemasan gede 750 gram, karena berhadiah mug. Kalau kubeli kemasan 300 gram (seperti biasa) sayang kan gak dapet mug. Toh susu juga awet lama, bisa disimpen.
Antrian di kassa agak panjang, jadi aku dan dua krucils keluar duluan, suamiku yang ngantri bayar. Eh di depan ada yang jual VCD... jadi sambil nunggu lihat-lihat VCD dan beli VCD Teletubbies pilihan Javas. Di mobil langsung disetel film Teletubbies itu, aku dan suamiku cekikikan aja lihat Javas yang begitu excited-nya nonton Teletubbies, inget 10 tahun yang lalu menyaksikan Kakak dengan ekspresi yang sama ketika nonton Teletubbies (padahal apa sih menariknya cerita Teletubbies? :p)

Tiba-tiba aku inget.....
Hadiah mug belum diambil....
Bayar minyak goreng gak pakai voucher....
Dan kami sudah di mobil, nonton Teletubbies, jauh meninggalkan supermarket.
Huaaa.... rugiii.... rugii....



Kamis, 05 September 2013

Berhasilkah Puasa Kita?


Dr. Aam Amiruddin, MSi
Hari Rabu kemarin di masjid kantorku ada pengajian rutin, penceramahnya Ust. Aam Amiruddin. Seperti biasa kubikin catatan kecil saat mendengarkan ceramahnya, maksudnya sih untuk dibaca-baca ulang suatu saat nanti (tapi pada prakteknya cuma tersimpan saja di hape, gak pernah dibuka-buka lagi.. hiks.. pemalasnya diriku). Dan kutulis ulang di sini dengan maksud agar catetan itu gak ilang lagi.
Beberapa minggu yang lalu kan hapeku rusak, entah kenapa tiba-tiba reset ulang, semua kontak ilang (untung ada back up-nya di yahoo yang untungnya sudah disincronized sama BB), grup BBM ilang, dan catetan-catetan pentingku di memo pad ilang semua.... termasuk catetan-catetan kecil saat mendengarkan pengajian.

Dan yang paling kutangisi kusesali adalah hilangnya catetan perjalananku waktu melaksanakan ibadah haji. Bayangin aja, catetan selama 40 hari (dan ini sekali-kalinya aku pergi ke luar negeri! huaaa... :)), dan itu kucatetin semua walo cuma dikit-dikit. Maksudnya sih ya suatu saat mau dibikin cerita gituuh... tapi ya itu tadi, karena kemalasanku catetan itu kubiarkan saja mengendap di hapeku, dan...... HILANG! Ah sudahlah....

Kembali ke ceramahnya Ustad Aam.

Ramadhan sudah sebulan berlalu. Tercapaikah tujuan kita berpuasa? Menjadi pribadi yang lebih bertakwa? Atau Ramadhan kita berlalu begitu saja?

Inilah beberapa ciri orang yang ibadah puasanya berhasil, seperti ciri ibadurrohman dalam QS Al Furqon 63-77:

  1. Rendah hati, adabnya baik, santun. Kalau diajak berbicara oleh orang jahil (bodoh) dia menjawab dengan bijaksana. Lisan adalah etalase hati. Kalau hati bersih, lisannya bersih. Orang yang Ramadhannya berhasil pasti menjadi pribadi yang santun. Hadist: bicaralah yang baik, atau diamlah.
  2. Banyak bersujud / berdoa. Melakukan qiyamullail dan ikhlas melakukannya.
  3. Menafkahkan hartanya secara proporsional. Tidak boros, tidak pelit. Bahkan bersedekah pun harus proporsional, jangan sampai hak anak/istri terabaikan.
  4. Tidak melakukan dosa besar (menyekutukan Alloh, membunuh, berzina).
  5. Setiap berbuat salah selalu bertobat. Manusia tidak bisa suci dari dosa, akan tetapi harus selalu berusaha meninggalkan perbuatan dosa. Manusia pada dasarnya baik, tapi kadang-kadang terjerumus dosa. Alloh selalu membuka pintu maaf. Bertobatlah. QS Az Zumar (39) ayat 53: jangan berputus asa dari rahmat Alloh.
  6. Jujur dalam segala hal, meninggalkan perbuatan yang sia-sia dan menjaga kehormatan dirinya. Puasa melatih kejujuran, karena saat puasa tidak ada yang tahu dirinya puasa atau tidak kecuali dia sendiri dan Alloh.
  7. Hatinya terbuka terhadap nasehat. Dia mau menerima nasehat dari siapa pun selama isinya benar. Orang yang suka mendengarkan nasehat pikirannya sehat.
  8. Memperhatikan kualitas keluarganya. Dia tidak hanya berdoa untuk dirinya, tapi berdoa untuk kesalehan istri dan keturunan mereka. Orang yang rajin sholat, tahajud, shaum sunah, rajin dhuha, dll tapi kasar kepada istrinya, maka diragukan kualitas ibadahnya; karena orang yang ibadahanya bener pasti akan bertanggungjawab dan sayang terhadap keluarganya.
Orang-orang seperti itulah yang akan mendapatkan surga karena kesabarannya (untuk melaksanakan poin-poin tsb di atas perlu kesabaran).

Dan ini kutipan QS Al Furqon 63-77 yang kucopas dari Al Quran Online

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. 
63 
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. 
64 
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". 
65 
إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا
Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. 
66 
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. 
67 
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), 
68 
يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا
(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, 
69 
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 
70 
وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. 
71 
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. 
72 
وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. 
73 
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. 
74 
أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, 
75 
خَالِدِينَ فِيهَا ۚ حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا
mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. 
76 
قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ ۖ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا
Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): "Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)". 
77 

Senin, 02 September 2013

Cerita Mudik Hari 4-9


Memenuhi janji, ini lanjutan cerita mudik kemarin.

Hari Keempat

Yeay... Lebaran...!! Pagi-pagi heboh rebutan kamar mandi. Semua ngejar jadwal sholat Ied. Duo Eyang sholat Ied di masjid deket rumah, jadwalnya jam 6.30, dan kami yang memilih sholat Ied di lapangan Rindam IV Diponegoro harus sampai di lapang sebelum jam 7.00.
Jindra yang belum bangun kuangkut saja, nantilah kugantiin bajunya saja di mobil. Semua sudah siap berangkat pakai Si Biru Avanza, tiba-tiba Javas ngambek gak mau masuk mobil. Mau pakai mobil Om Uluk aja yang ada tivinya. Hadeuuh... lagi buru-buru gitu kan hal sepele bisa bikin senewen ya.. Tapi sabaaarr... ini kan Lebaran :))

Dan di lapang pun sudah rame banget. Untung gak telat. Pas. Begitu gelar tikar dan sajadah, sholat dimulai.
Jindra bangun pas sampe lapang. Aku lupa gak bawa stroller, jadi kutaruh saja dia di bawah. Alhamdulillah anteng, gak nangis sedikit pun sepanjang sholat.
Saat sholat ini kan kami terpisah antara rombongan laki-laki dan rombongan perempuan (plus bayi & balita), dan kami rombongan ibu-ibu ini gak ada yang bawa uang dong.... Haduh... Alyvia sudah merengek-rengek pengin beli balon. Selesai khotbah, orang-orang pun bubar, dan barulah kami ketemuan dengan rombongan cowok. Tapiii.... tukang balon sudah pada pergi. Masih ada satu dua sih, dan itu pun ramee banget dikerubutin anak-anak. Dan akhirnyaaa... Alyvia kebagian balon kumbang, Javas cuma kebagian balon bulet bertuliskan Selamat Idul Fitri (padahal dari tadi ngincer balon angry bird). Kami semua nahan ketawa, demi supaya Javas gak nangis. Dan ternyata, Javas bangga dengan balonnya! Ini balon belajar baca, katanya. Hahahaha......

Javas dan balon 'belajar baca'nya :D

Abis dengerin khotbah foto-foto dulu dong, trus anak-anak pada jajan es krim, dan kami as usual makan baso!



Bayi ini napsu banget makan es krim :p

Duo Aa main lompat-lompatan di tempat tentara latihan. Duh, plis deh itu bajunya kan putih..

Nungguin baso.
Pulang ke rumah ternyata udah rame, udah banyak tetangga berkeliling lebaranan. Kami sungkem dulu sama Eyang, trus aku mandiin Jindra, trus berangkat ngider ke tetangga-tetangga. Eh tunggu, ada yang kelewat, sebelum ngider kami makan dulu. Makan? Iya lahh... mana bisa mengabaikan ketupat dan kawan-kawannya yang sangat menggoda itu? Lah, tadi kan udah makan baso? Ah baso mah cemilan doang.... (hihi puasanya pada gak ngefek sama sekali ni kayanya)

Hari Kelima


Lebaran hari kedua jadwalnya adalah rumah mbah-mbah di kampung asal ibuku.

Di rumah Mbah Ropi', buliknya ibuku.
Javas rewel sedari pagi. Rupanya dia sariawan. Jadi di rumah siapa pun dia bikin ulah. Marah-marah melulu. Untung di belakang rumah Mbah Ropi' gak sengaja kutemukan ayunan yang terbuat dari ban bekas, dan cerialah Javas.

Narsis dulu pake baju biru. Abaikan itu jemuran :D

Hari Keenam

Hari ini gak ada jadwal ke mana-mana. Kami di rumah saja. Bosen dengan makanan berat bersantan (kecuali suamiku yang belum bosen), pagi-pagi aku masak sop bakso sayuran. Dan Eyang Putri yang sudah niat puasa syawal hari itu membatalkan puasanya gara-gara pengin makan sop, hahaha...


Javas tetap sibuk dg merpati - merpati 'peliharaannya'.
Sore-sore kami jalan-jalan ke sawah .

Semua patuh mengikuti Aa Youri.

Main layangan di sawah. Kesempatan langka kan?

Kakak lebih asyik dengan kameranya, berburu capung.



Udah tau pada ngikutin, si Aa ini ngasih contoh yang enggak-enggak deh...

Dan Javas pun basah kecebur.. ya sudah main air sekalian.

Hari Ketujuh

Hari ini jadwalnya halal bi halal dan pertemuan keluarga. Pagi-pagi pertemuan keluarga dan halal bi halal keluarga Raden Munawar, siangnya keluarga Bani Nuh. Di keluarga besar Raden Munawar ini konon katanya aku keturunan ketujuh. Kebayang kan rame dan banyak yang gak kenalnya? Lha wong kalau ada acara pertemuan gini ya ngumpulnya tetep bersama keluarga besar masing-masing. Kecuali yang sepuh-sepuh sih pada kenal ya...

Sok sibuk ikutan ngurusin konsumsi, padahal males ikutan acaranya. Jangan dicontoh!

Jindra selalu jadi 'rebutan' gadis-gadis. Eh, ini bukan gadis lagi.. Ibu-ibu... :D

Sesi foto bersama keluarga Boesri Djauhari. Nah, anak siapa tuh yang dengan pedenya nongol di depan?

Hari Kedelapan

Seharian di rumah, tapi sorenya kami ke kota, karena Kakak merengek terus pengin ke Gramedia. Dia ini memang gak bisa hidup tanpa buku kayanya :)
Sebelum nge-mall, kami makan siang di RM Djamoeran. Masakannya serba jamur di sini, enak. Tapi nunggunya lamaaaaa.... Untung Javas masih tidur di mobil, jadi sekalian nunggu Javas kenyang tidurnya. Gak ada foto makanan di Djamoeran, udah gak mood motret-motret karena kelamaan nunggu, dan udah kelaparan juga. Begitu makanan dateng, sikaattt, dan langsung habis semua haha....
Dan mampir dulu ke rumah seorang kerabat yang kompleknya di deket mall Artos itu. Dan Jindra ngantuk. Ya sudah aku ngelonin Jindra di sini, yang lain pada jalan-jalan ke mall. Lagipula aku lupa dateng ke sini gak bawa oleh-oleh apa-apa, padahal ada anaknya yang masih kecil, jadi aku nitip beli JCo aja. Biarin lah oleh-oleh dari Bandungnya kan udah habis, anggap aja donat ini dari Bandung... :))
Dan ternyata gak ada Gramedia di mall itu... hihi... jadinya cuma pada main di Timezone.

Mirip tempat penampungan pengungsi ya?

Nunggu giliran. Tsabita full puasanya dan dijanjikan dapet hadiah tablet, jd sekarang 'belajar' dulu. :p

Jamur di RM Djamoeran.

Sekalinya ngemall, aku cuma liat dari jauh. Gak ikutan.

Hari Kesembilan

Dari pagi udah packing-packing. Penginnya berangkat pagi-pagi, tapi realisasinya jam setengah 1 siang baru start dari rumah Eyang. Selain lama ngumpulin baju yang bercampur aduk milik 4 keluarga, juga faktor males bikin gerakan packing ini lambat, gak segesit packing waktu berangkatnya...

Lele kesayangan Eyang akhirnya dipanen juga. Beratnya 6,5 kg!
Seperti biasa mobil sarat dengan beban (oleh-oleh dong..). Beras, pisang, pepaya, macem -macem kue, serundeng, Indonesian salad dressing a.k.a bumbu pecel, dan lele yang sudah digoreng kering. Di Bandung lele ini kumasak cabe ijo, pakai tauco dan santan kaya yang di RM Bu Mus ituu.. tapi kalo yang di Bu Mus kan ikan tengiri. Ternyata lele pun enak looh....

Kue sagon kelapa. Salah satu kue yang 'diangkut' :D


Singkong Goreng Meletus dan Singkong Thailand


Biar terlihat meyakinkan pakai background souvenir dari Thailand :p


Sabtu pagi seperti biasa aku ke warung Abang Batak di dekat rumah untuk belanja mingguan sayur dkk. Si Abang Batak yang ramah murah senyum dan selalu berbahasa Sunda (dengan logat Batak tentunya) menawariku singkong. 

Singkongnya lagi bagus-bagus ni Bu, katanya. 

Aku gak tau bagaimana cara memilih singkong yang bagus dengan melihat penampilan luarnya. Katanya sih yang kulitnya keriting seperti terkelupas - kelupas itu yang bagus, tapi ternyata belum tentu juga. Pernah kubeli singkong berkulit keriting ternyata gak bagus,  mogol,  ngganyong (Apa sih istilah yang tepat untuk singkong yang gak pulen atau gak mempur ituuu?). 

Cara bodohku untuk mengetahui bagus enggakmya singkong ya dengan cara merebusnya. Rebus sepotong kecil singkong,  dan lihat hasilnya.  Kalau mempur bagus ya berarti enak dibikin apa saja,  kalau mogol / ngganyong enaknya diparut dibikin ketimus/kelemet atau dibikin misro atau combro. 

Singkong yang mempur.
Kubeli 2 kilo singkong si Abang, rencananya mau kurebus kubikin singkong thailand. Tapi suamiku mimta singkong goreng. Baiklah.... Kubikin 2 macem saja, toh ngerebusnya bisa sekaligus. Rebus singkong sampai matang, bagi dua. Satu bagian direndam air bumbu bawang, satu bagian lagi yang masih di panci ku tambahin gula dan santan.

Aku lihat cara membuat singkong goreng yang empuk di abang tukang Singkong Meletus di jalan Kiaracondong. Dulu ketika tukang  singkong goreng belum sebanyak sekarang, singkong goreng di jalan Kiaracondong itu selalu ramai pembeli.  Bahkan aku inget pernah beli singkong di situ dan diberi nomor antrian. Hehe macam ke dokter saja ya.. Mungkin karena dia pernah masuk TV di acaranya Pak Bondan. Kalau sekarang sih udah gak pakai nomer antrian lagi, bahkan sepertinya sepi pembeli.  Mungkin karena sudah banyak saingan (ada singkong melepuh, singkong keju,  singkong murupuy dll yang sebenarnya singkong goreng -singkong goreng juga :)) atau kalah populer dengan gehu pedas atau seblak basah yang sekarang ngehits, atau mungkin juga karena orang orang sudah bisa bikin singkong goreng empuk sendiri? #ehm

Di tukang singkong goreng itu singkong digoreng dulu, kemudian panas-panas direndam dalam air bumbu yang dingin. Ada juga yang bilang bukan digoreng tapi direbus atau dikukus dulu. Aku memilih cara lebih cepat yaitu direbus, dan kemudian dibumbui. Bumbunya seperti yang kulihat di singkong kemasan siap goreng di supermarket. Yaitu garam,  bawang putih, ketumbar,  dan kunyit.


Ini resep nya :
  • 1 kg singkong 
  • 4 siung bawang putih 
  • 1sdt ketumbar 
  • 2 cm kunyit 
  • 1 sdm garam
  • 2 gelas air 
Caranya :

Rebus / kukus singkong sampai matang.
Haluskan bumbu, tambahkan air.
Masukkan singkong rebus ke dalam air bumbu,  biarkan dingin, tiriskan.
Goreng sampai matang kecokelatan.

Kalau kebanyakan,  simpan sisa singkong di kulkas , dan bisa digoreng sewaktu waktu.




Dan ini resep singkong thailandnya.  Walaupun belum seenak singkong thailandnya Hanamasa, tapi ya lumayan lah daripada harus ke Hanamasa demi singkong thailand (dapet singkong sekarung kali yaa.. hihi...)

Bahan:
  • 1 kg singkong
  • 100 gr gula pasir
  • 1 sdt garam
  • 1 gelas santan kental
  • 1/2 sdt vanili bubuk (atau 2 lembar daun pandan)

Caranya :
Rebus singkong sampai matang, masukkan gula, garam, vanili dan santan.  Aduk, didihkan kembali dan angkat.

Sebenernya mirip kolak singkong ya. Bedanya kalau kolak pakai gula merah dan santan nya banyak.

Kue Cente Manis. Foto dari sini.
Singkong thailand yang di toko kue Kartika Sari lebih unik lagi, berpenampilan seperti kue Cente Manis, dibungkus plastik kecil. Jadi kayanya singkongnya dipotong dadu kecil trus direbus pakai gula dan toping santannya dimasak terpisah, dikentalkan dengan maizena.  Enak juga sih. Legit. Dan cantik tentu saja. Tapi belum pernah kucoba yang model begini,  males bungkusinnya hehe....


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...