Jumat, 23 Agustus 2013

Perjalanan Mudik (dan Balik) Lebaran 2013

Baby Jindra dalam perjalanan mudik pertamanya. Terlihat bersemangat kan?
 
Huaaa.... udah lama banget gak posting tulisan. Udah sebulan! Sebenernya kangeeen pengin ketak ketik, tapi kok ya gak sempet-sempet... Sibuk menyiapkan mudik, Lebaran, dan tentu saja pekerjaan kantor yang mendekati jatuh tempo. Sengaja gak bawa modem ke kantor (biar konsen kerja, tapi teteeup buka-buka hape mah :)) dan memang gak sempet buka laptop kalau lagi di rumah. Sebenernya bisa sih kalau mau nulis dan posting pake tabletnya anak-anak, tapi malees.. jari-jari gak lentikku ini gak terbiasa ngetik-ngetik pake benda datar itu. Gak bisa cepet. Jadi selama ini kupake hape aja untuk bewe dan komen-komen di blog teman-temanku, sambil ngelonin the krucils. Posting pake hape? Gak ah, capek mata. (daritadi kok alesan mulu yak)

Dan sekarang mumpung lagi di depan komputer, mumpung lagi nyantai abis lomba agustusan, mo posting tulisan ahh...

Pertama, kuucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H yaa.... (ini masih bulan Syawal kan?) Mohon maaf lahir dan batin.

Seru-seru ya cerita Lebaran teman-teman (yang aku baca blognya). Perjalanan mudiknya, liburannya, lebarannya, dan acara kumpul-kumpul serta makan-makannya.

Lebaran tahun ini aku mudik ke Magelang. Berangkat dari Bandung hari Minggu (H-4) dini hari setelah sahur dan sampai Magelang Minggu malam sekitar jam 8. Lumayan lancar kan? Hanya 15 jam. Rata-rata waktu tempuh Bandung Magelang kan 12 jam, jadi ya cuma telat 3 jam lah... Untuk ukuran mudik lebaran itu bisa disebut lancar.

Tiga cowok yang menikmati perjalanan.
Rencananya aku mau berangkat Sabtu malam jam 8 setelah teraweh, tapi malam itu kucari info lalin Cileunyi di Twitter dan kuperoleh kabar bahwa Cilenyi macet. Cikampek macet parah dan arus lalin dialihkan ke Purbaleunyi dan keluar di GT Cileunyi. Cileunyi arah Sumedang macet total. Antrian GT Cileunyi 6 KM (ngebayanginnya aja capek kan?). Jalan bypass dari Cibiru menuju Cileunyi pun kabarnya macet. Males banget kan? Mau lewat mana lagi? Gak ada pilihan kecuali menunda jam keberangkatan. Memang Sabtu itu kayanya puncak arus mudik, karena Senin sudah mulai libur dan cuti bersama.

Ya sudah, kami sepakat berangkat tengah malam saja dengan harapan lalin sudah tidak terlalu padat. Maya adik iparku mengabarkan bahwa dia sudah start dari Jakarta malam itu.  Aku belakangan May, males masih macet, jawabku. Sambil beberes packing ini itu, gak terasa sudah jam 12 malam. Kembali kupantau berita di Twitter. Ternyata masih macet! Ya sudah kita tidur dulu aja, nanti aja jam 2 kita berangkat, kata suamiku. Jam 2 alarm berbunyi, kubangunkan suamiku. "Masih macet gak?" tanyanya. Aku gak jawab karena aku bablas tidur lagi hahaha.... Bangun-bangun jam 4, dan kami gak punya apa pun untuk sahur, karena memang rencananya pagi ini kami sahur di jalan. Nasi masih ada sih, tapi gak ada lauknya. Dan apa lagi yang kuandalkan di saat-saat genting seperti ini kalau bukan mie instan dan telur?

Sahur, cek timeline di Twitter (gak ada lagi berita Cileunyi macet), sholat subuh, dan berangkatlah kami berenam ke Magelang. Gak ada yang mandi dulu, hihi... Bahkan ganti baju pun enggak, karena anak-anak tidur sudah siap pakai baju pergi. Mau mandi kok dingiin dan lagi pula sudah buru-buru mau berangkat. #alesan

Maya cerita kalau dia pun terpaksa lewat Bandung dan Cileunyi juga, karena Cikampek ditutup.

Keluar komplek masih sepii (ya iyyalah dini hari gitu), bypass lancaarrr (andai tiap hari) dan Cileunyi pun lancar. Sampai Nagrek baru tersendat. Ternyata ada kecelakaan. Bus remnya blong dan nabrak 2 kendaraan pribadi, Avanza dan CRV kalau gak salah lihat. Alhamdulillah gak ada korban jiwa maupun korban luka (kata berita di radio).

Setelah melewati bus itu lalin kembali lancar. Tapi cuma sebentar. Lalin Nagrek sd menjelang Limbangan merayap teruuss... Ya kita nikmati saja, mau gimana lagi? Justru katanya seninya mudik itu di macetnya kan? Ah ini mah jawaban menghibur diri kali ya? haha... Javas takjub melihat jalanan di Nagrek yang naik turun berkelok-kelok tajam itu. Dan dia yang selalu kagum melihat bus terpuaskan di sini, karena kami berpapasan dengan banyak sekali bus yang ke arah Bandung. "Woow.. itu bisnya gede banget!" atau "Waaah bagus banget!" atau "Keren itu!" atau "Hebat!" dsb..

Jindra mulai bangun dan kusuapin makan dulu sebelum dilap dan ganti diaper serta ganti baju. Dua abege seperti biasa sibuk rebutan milih lagu yang disetel di mobil, dan pemenangnya adalah Javas yang memilih lagu anak-anak TK klasik macam balonku dan pelangi-pelangi. Dua abege pun manyun sambil masang headset dari hape masing-masing, hahaha....

Setelah Limbangan lancar sampai Jl Raya Ciamis Banjar. Kemudian kembali macet merayap. Youri mulai mengeluh pusing. Ya sudah makan saja, jangan puasa, kataku. Tapi dia ragu-ragu karena melihat yang lain tetap berpuasa. Si Kakak diajak batal gak mau dengan alasan utang puasa dia udah banyak, males nanti bayarnya. Youri ambil minum, ditaruh lagi. Belum 5 menit, diambil lagi, dibuka, ditaruh lagi. Mau tidur aja ah biar gak pusing, katanya. Etapi minuman diambil lagi, dicium-cium, ditutup lagi. Halah Aaaa... macam anak TK baru belajar puasa saja hahaha... "Udaaah minum aja." kata kami. "Gak papa gitu?" tanyanya. Oalaah rupanya dia masih ragu-ragu dengan hukumnya. "Boleh A, kan kalo kita lagi bepergian itu ada keringanan, boleh gak berpuasa asal diganti di lain waktu. Kan sholat juga boleh dijamak dan diqosor kalau kita bepergian." Dan dia pun minum sebotol teh hijau dengan mantapnyaa hihi...

Perjalanan lancar kembali, anak-anak mulai ngantuk dan tidur. Beberapa kali berhenti di pom bensin untuk pipis, semua penumpang harus ikutan turun dan pipis. Iya, walaupun gak kerasa pengin pipis. Ya daripada nanti baru sejam dua jam jalan kersa pengin pipis kan repot, gak nyampe-nyampe lah kita kalau berhenti-berhenti melulu.

Menjelang sore kami beristirahat untuk sholat dan memberi kesempatan makan beneran (dari tadi cuma cemal cemil di mobil) bagi duo Aa yang tidak puasa, di daerah Kemranjen, Jl Buntu-Gombong. Pilihannya adalah RM Bakmi Nyemek Bu Seto. Sudah beberapa kali kami mampir ke sini dan mienya memang maknyuss banget. Di Bandung aku belum pernah nemu Mie Jawa yang seenak ini. Bumbunya mentep, kuah kaldunya gurih (aku yakin terbuat dari kaldu ayam kampung), dan suwiran ayam kampungnya mmmmm.... asli ngebayanginnya aja bikin laper. Bungkus Bu, tiga! Ya, buat buka puasa nanti kami beli mie goreng (kalau mie nyemek atau mie godog susyaah makannya di mobil) tiga bungkus.

Lanjuut.... Menjelang Gombong adzan maghrib berbunyi, dan Maya baru bales BBMku tadi siang yang nanyain posisinya. "Aku lagi istirahat di Alun-alun Kebumen Mbak," katanya. What? Baru sampai Kebumen? Kirain udah sampe rumah dari tadi. Jarak Gombong Kebumen mah paling setengah jam sampai satu jam dengan kondisi lalin sore itu. Ya sudah kami janjian untuk buka puasa bareng, eh tapi ternyata mereka sudah lanjut jalan lagi. 

 Sekitar jam 8 malem kami sampai rumah Eyang di Magelang. Maya and the gank sudah sampai di rumah sejam yang lalu katanya, padahal mereka berangkat dari Jakarta malem Minggu sedangkan kami Minggu dini hari (lumayan dapet tidur di rumah, mereka tidur di jalan hihi..).

Eyang Kakung dan Eyang Putri baru pada pulang dari masjid habis teraweh, dan langsung menyambut cucu-cucunya dengan sukacita. Ah, melihat binar-binar kebahagiaan itu capek dan lelahku langsung sirna. Menyaksikan mereka bahagia, dan melihat mereka sehat wal afiat adalah karunia luar biasa.

Sungguh rasa 'pulang kampung' ini sifatnya personal sekali, mungkin gak akan bisa dibayangkan oleh orang yang tidak pernah mengalaminya. Kita saksikan di TV bagaimana perjuangan orang untuk pulang kampung. Berjubel di kendaraan umum, masuk lewat jendela kereta, ngantri tiket sehari semalam, motor yang penuh beban, macet belasan jam, semua rela dijalani demi pulang ke kampung halaman.  Bagi yang mengalaminya semua hal tadi bisa dimaklumi.

Mudah-mudahan Alloh memberi kami banyak kesempatan untuk mudik mengunjungi orang tua - orang tua kami.  Aamiin..

Jadi begitulah cerita perjalanan mudikku. Alhamdulillah secara umum lancar dan menyenangkan. Bayi dan balita gak rewel, dua abege enjoy, parents gak senewen.

Dan perjalanan balik dari Magelang ke Bandung pun alhamdulillah tidak jauh berbeda. Sama-sama ditempuh dalam waktu 15 jam. Bedanya ketika mudik kami jarang berhenti, ketika kembali ke Bandung kami beberapa kali berhenti. Apa lagi kalau bukan makan dan beli makanan?

Jam setengah 1 siang kami berangkat dari rumah. Rencananya sih pagi-pagi berangkat, tapiii ya biasalah,,, packing itu kan ternyata butuh waktu. Mana baju tercampur teraduk di ruang setrika itu kan baju milik 4 keluarga.. Nyarinya lama laah....

Jam 1 kami mampir (hah, kan baru setengah jam jalan? :)) di toko oleh-oleh. Gak terlalu banyak yang dibeli karena dari rumah ibuku sudah membekali kami aneka makanan. Cuma beli oleh-oleh standar dari Magelang, getuk tiga warna alias getuk trio. Sebenernya menurutku jauh lebih enak getuk Magelang yang warna warni berlapis lapis itu loh, yang pakai taburan kelapa parut. Tapi ya getuk ini gak bisa dibawa sebagai oleh-oleh karena gak tahan lama. Aku beli 1 bungkus saja untuk dimakan di jalan. 

Getuk Magelang yang inuk... Yang ini lebih terasa getuknya dibanding getuk mahal yang biasa dibawa sebagai oleh-oleh itu.

Magelang, Purworejo, Kutoarjo, lancar. Dan di Kutoarjo kami berhenti lagi dong, beli Bakso Sedap Pak Sukar. Kayanya rugi kalau lewat Kutoarjo gak beli bakso ini hehehe... Suamiku itu kan penggila bakso banget. Cuma suamiku saja yang turun karena semua anak tidur. Jadi cuma beli basonya aja gak pake kuah dan dicemilin di mobil sambil jalan... :D

Bakso Pak Sukar yang dicemil di mobil. Sebenernya lebih enak pakai kecap saos ya.. :))
 
Belum sejam melanjutkan perjalanan, kami mampir lagi beli dawet ireng (dawet hitam). Lagi-lagi cuma suamiku yang turun karena anak-anak belum ada yang bangun. Sepanjang jalan jalur selatan dari daerah Kebumen sampai Purworejo banyak banget penjual dawet ireng di pinggir jalan. Nah yang dipilih suamiku ini adalah penjual dawet ireng Wetan Jembatan Butuh. Katanya ini yang paling enak. Ya aku sih percaya sajalah, lha wong beliau ini kan 4 tahun bertugas di Kebumen.. pasti sudah membanding-bandingkan lah yaa....

Penjual dawet ireng yang ramai pembeli. Belinya yang di dalem pos itu ya, jangan yang di luar.

Tongseng dan gule bebek.
Dan di Kebumen pun kami berhenti lagi. Kali ini bukan untuk jajan, tapi suamiku janjian sama cleaning service di kantornya dulu untuk silaturahim dan berbagi sedikit rejeki. Lanjut perjalanan sebentar (paling sekitar 10 menit) sudah berhenti lagi mampir ke Alfamart. Hadeuh,,, ini kapan nyampainya ya berhenti melulu? Tapi kami gak menargetkan harus sampai Bandung jam berapa, yang penting kami enjoy. Dan memang aku juga lebih suka menikmati perjalanan dengan menyinggahi kota-kota yang dilalui, ya minimal untuk mencicipi jajanan khasnya. Teteup.... makanan. :p


Di daerah Tambak Sumpyuh (Banyumas) lalin mulai merayap. Dan seperti rencana semula kami istirahat sholat dan makan di daerah ini, ngincer sate bebeknya :)). Dan diantara puluhan rumah makan atau warung sate bebek di Sumpyuh ini, suamiku merekomendasikan RM Sate Bebek Wetan Kali. Selain sate bebek, ada juga gule dan tongseng bebek di sini. Dan ternyata pilihan orang yang selama 4 tahun tinggal di Kebumen ini memang gak salah. Satenya yummy bangeeet.... Sate-sate bebek di daerah Sumpyuh ini, yang pernah kucicipi dan kupilih secara acak tanpa rekomendasi siapa pun, memang enak-enak semua, tapi yang di RM Wetan Kali ini paling enak banget deh. Satenya empuk, dagingnya tuh masih juicy, matengnya pas gitu loh.. (kalo istilah kematangan steak mungkin medium welldone) dan gak amis sama sekali.

Sate bebek Wetan Kali yang maknyussss banget.

Perjalanan pun berlanjut. Hari menjelang sore. Maghrib. Wangon - Karangpucung lancar. Pemandangan di kiri kanan jalan masih sama. Sawah, mobil pemudik (dengan ciri khas 'buntelan' di atas atap mobil), dan foto-foto calon wakil rakyat, atau calon pemimpin daerah. Senyum mereka bertebaran di sepanjang jalan di jalur selatan. Slogan dan janji pun besar-besar dituliskan. Ah semoga kalau mereka terpilih mereka menepati janji dan amanah. Aku mulai ngantuk.. Berusaha merem tapi gak bisa tidur. Ya sudahlah lanjut ngetwit dan fesbukan. Sepanjang jalan sejak berangkat dari Bandung sampai akan kembali ke Bandung ini aku selalu mentwit kondisi lalin. Ya mudah-mudahan berguna bagi orang lain. Bagiku twit orang-orang yang mengabarkan kondisi lalin itu sangat berguna. Sangat membantu untuk menyiasati perjalan mudik, jam berangkatnya maupun rutenya.

Baby Jindra ditaruh di kursi panjang RM Sate Bebek meanwhile kami pesta sate gule tongseng.
Ciamis mulai sayup-sayup di mataku, tidur, dan aku terbangun ketika merasa mobil berhenti dan sayup-sayup terdengar suara suamiku, "Ma cek twitter Ma." 
"Hah, di mana ini? Kenapa berhenti?"
"Rajapolah. Macet ni kayanya. Udah 10 menit gak bergerak sama sekali. Coba cek twitter Ma."

Kulihat jam di mobil. Tengah malam. Udara dingin mulai terasa. Kulihat anak-anak pules semua. Kuselimuti Jindra, kubetulkan posisi tidur Javas yang menyandar pada Kakak Echa. Youri duduk di depan di sebalah papanya, ceritanya sih mau nemenin papa nyetir, ternyata pules juga. Cek info di twitter. Pakai kata kunci 'Rajapolah'. Ada beberapa twit yang menceritakan macet. Kata 'Tasikmalaya' gak ada yang muncul. Kata 'Gentong' banyak yang  menceritakan keparahan macetnya.

"Macet panjang ni Pa. Bahkan sampai Gentong kayanya nih."
"Kita coba lewat Garut yuk.."
"Tau jalannya? Dan emangnya lancar gitu?"
"Ya kita coba saja. Lewat Singaparna. Kalau macet ya kita nginep saja di Garut. Coba cek Singaparna macet gak."

Singaparna... gak ada yang ngetwit dengan kata Singaparna saat itu. Kusimpulkan berarti lancar. Bukankah kalau macet orang tulis, update status, dan ketika lancar lupa nulis?

Dan kami pun memutar arah. Untung lalin dari arah sebaliknya lengang, jadi kami gak mengalami hambatan.  
Singaparna lancar. Kami yang buta arah mengandalkan rambu-rambu jalan. Pokoknya cari arah Garut.
 Lalu lintas ramai lancar. Banyak juga bus arah Bandung yang lewat. Rupanya bukan cuma kami yang putar arah mencari jalan alternatif. Entah di daerah mana lalu lintas mulai merayap. Daerah yang gelap dengan tebing tinggi di sebelah kiri jalan. Hiiy kalau longsor gimana ya? Jalanan berliku-liku. 

Aku cari info tentang Garut, tapi tidak ada kejelasan bagaimana kondisi lalinnya. Tidak ada tweet terbaru. Ah ya sudahlah, yang penting sampai Garut, dan kami bisa beristirahat dulu.
Aa Youri terbangun dan aku tiba-tiba jadi ngantuk lagi hehe... Tidur lagi aahh.. toh suamiku sudah ada yang menemani ngobrol.

Aku (merasa) baru sebentar tertidur dan terbangun di entah di mana. Jalanan luas dan sepi. 
"Di mana ini Pa? Belum sampai Garut?"
"Garut??? Ini Gedebage!"
What? Gedebage? Kutajamkan pandangan mataku. Oh iyaa... ini kan jalan bypass! Omaigat... berapa lama aku tertidur? (dan pulas bener kayanya)
Rupanya jalanan lancarr... Garut lancarr... Rancaekek lancarr... Alhamdulillah.
Dan sekitar jam setengah 4 kami sampai rumah. Home sweet home.
Bebersih diri, sholat subuh, dan tiduuur....

Etapiii... si bayi tiba-tiba bangun. Kukelonin lah sambil aku pun terkantuk-kantuk hampir tertidur. Dan bayi ini tetep gak mau tidur, malah bangun seger buger ketawa-ketawa ngoceh-ngoceh. Hadeuuh.... Mama kan mau tidur Naak...

Orang-orang langsung pules tidur dan bayi ini malah seger buger :D
 Sekitar jam 8 sang bayi mulai ngantuk. Dia mau menyusu dan kemudian tidur, alhamdulillaaah... 
Tapi tiba-tiba, terdengar suara serak-serak ngantuk "Maaa... bikinin susuu...." Yaaaah... Javas bangun! Maaaak kapan aku tidooor???


  

14 komentar:

  1. Waduuuuuhhh.... serrruuu banget mudikmu mbaak. Itu wiskul meuni subhanallah yaaa.... bikin ngiler.
    Aku sempat lihat statusmu yang bilang itu baby Jindra segeerrr bugerrr...
    Klo aku acara pulang mudik adalah nyapu-ngepel (klo kotor banget) - sarapan dan tidooooor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halah mbaak.. Boro2 inget nyapu ngepel.. Aku mah yg penting ganti seprei, trus tiduurr... Hihi..
      Tapi kemarin itu aku udah nelpon si teteh tukang beberes utk dateng sehari sebelum aku sampai bandung. Jadi aku sampai rumah sudah bersih rapi, langsung bisa tidur.. Tapi tetep gak bisa ding, lha itu bayi mau dititipin ke siapa kalo kutinggal tidur?

      Hapus
  2. Jindraaaa...! Lucukkkk buangett mbak, itu pipinyaaa...! *smoochesss*
    Haha, akhirnya muncul cerita mudiknya, untuunggg msh inget semua detailnya ya, mbak. :)
    Aku ngakak di bagian bapaknya anak2 bela2in beli baksonya DOANG trus dicemil. Haha, emang enak bgt ya? Buatku bakso ya musti komplit sama kuah yg buanyaaak, panas dan.. pedess...! *eh jd ngiler*
    Dan oh, ngakak juga di paragraf akhir. Huaha, i feel youuuuu! Langsung kangen pengen punya ART ya, mbak. Minimal bisa menyerahterimakan si bontot, kan? Hihi.. tahun ini amartha udh asyik diajak bepergian, kalo pulang emaknya tepar, langsung sogok film di laptop/dvd, anteng dia minimal sejam kan lumayaaaannn! Haha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inget doong.. Lha wong nulisnya sambil buka timelineku di twitter dan foursquare haha...
      Bagi suamiku bakso itu cuma ada dua macem, enak dan enak banget. Jadi di freezer di rumah hampir selalu ada baso. Belanja basonya di Holis, di pabrik Baso Cihampelas. Di sana kan ada semacam supermarket basonya. Baso aneka rasa, aneka jenis dan ukuran ada di sana. Surga banget tuh bagi suamiku :p Dan murah-muraah.. Harganya bisa setengah dari harga baso yg sudah masuk restonya dia (padahal restonya itu letaknya di sebelah supermarketnya) Jadi emang di rumah pun beliau itu kalo lagi laper, iseng, ya ngerebus baso trus dicemil gitu aja hihi....

      Hapus
    2. Oooohh, pantessss...
      berarti musti bikin bakso sendiri tuh, mbak. Udah pernah, belon? Kalo belon, ayo bikiiinn.. :)
      Btw, kmrn udah niattt bgt bikin puding oreo. Cuma telor tinggal 2 biji, euy. Kalo pake putih telornya cuma 2, kira2 ngaruh ke hasil akhir nggak sih? Aku masih sieun gagal euy...! *tidak berani ambil resiko* hihihi...

      Hapus
    3. Bikin baso? gak deh... resiko gagalnya sangat besar.. (beraninya nyoba resep yg anti gagal hihi...) paling aku bawa daging ke tukang baso deket rumah minta dibikinin dg request gak pake obat2an.. tp lama2 gak enak juga sm dia, kayanya ngeganggu, cuma bikin sekilo dua kilo tp harus bikin adonan tersendiri. Apalagi sejak nemu baso cihampelas itu, jd gak pernah lagi deh pesen2 bikin baso. Beli di supermarket aja gak pernah... rasanya bedaa.. baso supermarket udah gak seger, kadang semacam ada bau2 plastik gitu.....
      Puding oreo itu bisa pake 2 putih telur saja... gak akan gagal laah... bikin ager mah pasti beku kan? hehe... Cuma mungkin nanti kalo telurnya cuma 2 akan ada bagian ager yg gak kena telur, jadinya ya ager bening gitu. Gak papa, malah bagus cantik kaya berlapis2 gituu... ayooo... cobain ya nanti malem..

      Hapus
  3. Ini bacanya pas jam makan siang pulaaaa, aku nakserrr makanannya. Eh mbak baksoi cihampelas itu bukannya dijual juga di RJ ? Aku langganan itu, ada bakso urat dan bakso biasa, 13 rebuan per 10 biji (yg urat).Aku juga suka banget, itu bakso yang paling masuk akal deh menurutku kualitasnya. Kalo dikau ke RJ tolong coba beli dan rasain deh mbak , sama nggak dengan yang dirimu beli selama ini mbak hihihi . Dulu bakso aku beli di tukang daging di Kosambi, tp sejak ngerasa lebih simpel beli di RJ, eh ketemu juga sama bakso cihampelas ini. EH ada delieverynya ka mbak di 6001234.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah dapet dari mana itu nomer delivery service nya? Aku malah gak tau.... Kusimpen ah.. Tapi kayanya tetep lebih puas dateng ke tempatnya langsung yaa.. bisa milih macem2 basonya. Baso urat, baso gepeng, baso sosis, baso smoked beef, baso bawang, baso telur, baso restoran dll dsb. Bisa beli daging juga di situ. Mie telur juga ada, macem2 juga pilihannya. Mie yg dipakai bikin yamin itu loh.. mie telur bukan sih namanya? :D
      Aku pernah beli baso cihampelas versi supermarket, tetep bedaa... asli loh kalo dateng ke sana tu ngerasa yakin basonya masih seger2.. gak tau sugesti gak tau emang lebih seger :))
      Bahkan kalo males bikin kuahnya, udah ada juga yg siap pakai. Bumbu yamin juga ada. Kayanya kalo ada arisan di rumah bisa ni dijadikan pilihan.. (tapi arisan apaan ya? aku gak pernah ikutan arisan di rumah)

      Hapus
  4. wallsticker yang dibelakang jindra sama kaya punyaku mba *salah fokus*

    Liburannya seru banget yah mba, tapi emang rata2 cerita tentang liburan pasti UUM (Ujung Ujungnya Makanan) :))

    Salam kenal mba, aku pembaca baru nih, baca blognya seru2 udah gitu tips2 resep masakannya cihuy abis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi emang itu wall sticker sejuta umat, banyak banget yg punya.. Abis lucuu..
      Salam kenal juga dian.. Blogmu seru2 juga loh ceritanya..

      Hapus
  5. Salam kenal mbak Tituk. Sambil membayangkan acara mudiknya, aku sambil membayangkan makanannya. Terutama getuk itu, ah hampir 8 tahun gak makan getuk. Dulu saat di Yogya, tinggal ke pasar, bisa beli aneka getuk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Fety...
      Udah pernah nyobain getuk Magelang? sama gak dg getuk Yogya? aku blm pernah nyobain getuk yogya....

      Hapus
  6. Salam kenal mbak Tituk... Mampir setelah main ke mb titi.. Magelangnya mana mbak? saya asli Temanggung...
    Seru banget ya mudiknya... itu suami nyetir sendiri mbak?? huebatt poll dong??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Ika... kita tetanggaan ternyata, tetangga kota kelahiran hehe...
      Suamiku nyetir sendiri, udah biasa kok.... Kalo dulu sih suka gantian sama aku (walopun gantiannya dia 12 jam aku 2 jam hihi...) sekarang gak bisa, kan aku megang bayi...

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...