Kamis, 25 Juli 2013

Teh Manis Spesial




Selama bulan Ramadhan ada kebijakan dari kantorku yang membolehkan kami pulang 30 menit lebih awal menjadi jam 16.30. Tidak, tidak mengurangi jam kerja kami sama sekali. Yang dipotong adalah jam istirahat siang kami. Catet ya ini, JAM ISTIRAHAT.  :)
Tapiiii..... walaupun pulang 30 menit lebih awal, tetap saja aku sampai rumah selepas maghrib. Tiap sore macetnyaaaa luar biasa. Hadeeeuh...... Ya sudah deh tiap hari buka puasa di jalan. 

Sebungkus kolak dari ibu kantin, atau sekotak teh dari minimarket seberang kantor menemani tiap soreku, menggantikan segelas teh manis hangat yang sebenarnya kuinginkan untuk berbuka puasa. Sudah menjadi kebiasaan keluarga kami, berbuka puasa dengan segelas teh manis hangat. Dan berhubung tiap hari mamanya pulang telat, Aa Youri yang berbuka di rumah menyiapkan sendiri tehnya.

Kemarin sore tumben lalu lintas Bandung bersahabat. Aku pun bisa sampai rumah sebelum maghrib. Alhamdulillah.... Biasanya jam setengah tujuh loh... Bikin apa ya untuk merayakannya? (Hehehe lebay.....)  

Cuma ada waktu 5 menit sebelum adzan maghrib kok mau macem-macem. Yang gampang-gampang sajalah.. Teh manis tetep (wajib), tapi kali ini teh manisnya aku bikin spesial.

Terinspirasi dari Milk Green Tea-nya Teh Upet yang di Riau Junction, dan pernah baca sekilas resepnya di Majalah Bobo, akhirnya kubikin teh susu ini.
Cukup siapkan teh, air panas, susu kental manis, dan cincau hitam (kebetulan ada di kulkas :)).
Seduh teh dengan air panas, tambahkan susu kental manis.
Masukkan cincau hitam yang sudah dipotong kecil-kecil ke dalam gelas, siram dengan teh susu. Jadi deh....

Nah, siapa yang kemarin minta resep gampil dan anti gagal? Ayoo cobain yang ini... super gampil!  :))

Selasa, 23 Juli 2013

Sup Ayam Klaten



Baby Jindra sudah berusia 8 bulan, sudah boleh dikenalkan pada protein hewani (Kemarin-kemarin belum kucobakan karena Jindra ini kulitnya sensitif sekali, jadi takut alergi), jadi Sabtu kemarin kubikin stok kaldu ayam untuk buburnya, mumpung lagi punya ayam kampung organik di freezer.

Bikin kaldu untuk Jindra saja? Tentu tidak..... Sekalian bikin sop ayam kampung dong... Kebetulan ada resep dari Mbak Diah Didi, Sop Ayam Pecok dari Klaten. Udah lama penasaran pengin nyobain Sop Ayam Pak Min dari Klaten, tapi belum pernah keturutan, ya sudahlah nyoba bikin sendiri saja, dan alhamdulillah pas Mbak Diah nge-share resepnya. 

Sebenernya gampang ya bikin sop ayam itu, asal kita sabar bikin kaldunya. Gunakan api keciiil, dan biarkan 1-3 jam (kalo aku biasanya 1,5 jam untuk kaldu ayam, dan minimal 2 jam untuk kaldu sapi). Tambahkan bawang bombay, seledri, daun bawang, atau wortel untuk menambah aroma. Ini resep dari mertuaku. Tapi aku gak suka pakai seledri atau daun bawang saat bikin kaldu karena kaldunya nanti akan berwarna ijo...  Jadi kupakai sebutir bawang bombay utuh.
Oh iya, selama ini aku masukkan ayam/sapi setelah air mendidih, ternyata kata Mbak Diah itu salah. Ya sudah aku nurut saja, kumasukkan ayamnya dalam air dingin, baru kunyalakan kompor.

Selain harus sabar nunggunya (gak usah ditungguin juga sih, bisa disambi ini itu kok :D) bikin kaldu itu harus telaten juga bersihin 'kotoran-kotoran' yang mengapung. Ambil pakai saringan, biar kaldu kita bening dan bersih. 

Aku contek resep Mbak Diah, karena penasaran pengin tau rasa Sop Ayam Klaten itu seperti apa. Dan ternyata mak nyuuss.... Seger banget dimakan pada saat berbuka puasa. Anak-anak yang biasanya makan nasi sehabis sholat teraweh, Sabtu kemarin langsung makan begitu adzan maghrib berkumandang (minum teh manis dulu ding.... :)). Mereka gak tahan dengan aroma sopnya yang menggoda sejak siang hari hihihi....

Ini resepnya, aku tambahkan wortel dan irisan daun bawang dan aku hilangkan kaldu ayam bubuk dari resepnya Mbak Diah.

Selamat mencoba.

 Bahan dan Bumbu:
  • 1 ekor ayam kampung, potong-potong
  • 2500 ml air
  • seledri, daun bawang, iris halus, dan bawang goreng -> untuk taburan
  • 2 buah wortel,potong sesuai selera
  • 4 cm jahe, kupas dan memarkan
  • 1/2 buah pala, geprek
  • 2 cm kayu manis
  • 6 siung bawang putih, geprek sampai hancur
  • 1 sdt merica bubuk
  • 1 sdt gula pasir
  • garam secukupnya

Cara Membuat:

1. Rebus ayam dengan api kecil. (Boleh ditambahkan sebutir bawang bombay agar kaldu lebih harum dan gurih). Saring dan buang kotoran yang mengapung. Rebus selama 1 jam. Buang bawang bombay (atau penambah aroma lainnya).
2.  Tumis bawang putih dan merica sampai harum, masukkan ke dalam rebusan ayam. Masukkan bumbu lain. Cicipi. Rebus lagi hingga bumbu meresap.
3. Masukkan wortel, tunggu sampai wortel matang, matikan api.
4. Sajikan sop bersama taburan seledri, daun bawang dan bawang goreng.

Selamat mencoba....

Puding Oreo Cokelat




Sabtu kemarin Aa Youri minta dibikinin lagi Puding Oreo buat buka puasa. Siaaap... bikinnya gampang, bahannya gampang, boleh lah minta tiap hari juga hehehe.... 

Tapi Kakak pengin puding cokelat katanya. Boleeeh... tinggal tambahkan cokelat bubuk ke larutan agar-agarnya, jadi rasa cokelat deh.. :D

Resepnya sama persis dengan resep yang kemarin yaa.. (buka di sini) tapi kali ini lebih sederhana, karena kubikin puding busanya saja, tanpa lapisan buah-buahan di atasnya (belajar dari pengalaman, ternyata anak-anak gak suka lapisan buahnya). Dan kutambahkan sebungkus Delfi Hot Cocoa Indulgence untuk rasa cokelatnya.

Okey deh kutulis ulang resepnya.

Bahan-bahan:
  • 3 putih telur
  • 1/2 sdt garam
  • 50 gram gula
  • 10 keping oreo, hancurkan
  • 500 ml susu cair
  • 1 bks agar-agar bubuk plain
  • 50 gram gula
  • 2 sdm cokelat bubuk (aku pakai 1 bks Delfi Hot Cocoa)
 Cara Membuat:

  1. Kocok putih telur dan garam, masukkan gula sedikit demi sedikit sambil terus dikocok dengan kecepatan tinggi sampai kaku.
  2. Sementara itu campur susu, bubuk agar-agar, dan gula di dalam panci. Rebus sampai mendidih.
  3. Masukkan rebusan agar-agar ke dlam kocokan putih telur, aduk dengan kecepatan rendah sampai tercampur rata. Matikan mikser, masukkan oreo, aduk.
  4. Bagi dua adonan, tambahkan cokelat bubuk ke salah satu adonan, aduk rata. Tuang ke dalam cetakan yang telah dibasahi air, adonan putih dan adonan cokelat berselang seling. Dinginkan.

    Jadi deh puding busa oreo cokelat yang lezat. Gampang kaaan.... 

    Jangan lupa basahi cetakan sebelum menuangkan adonan yaa... Biar pudingnya gak susah dilepas ketika sudah mengeras.




Kamis, 18 Juli 2013

Blogku...




Blogku ini 'didirikan' pada tanggal 18 Januari 2013, jadi hari ini tepat berusia 1/2 tahun. Yeay!... happy half birthday my blog... (hi hi hi... baru denger deh ada istilah half birthday :D)

Kulihat statistik hari ini. Total pageviews 10.742. Wooow.... seneng deh.. ternyata blogku ada yang baca! Padahal niat awal bikin blog cuma iseng-iseng, nulis nulis perkembangan baby Jindra (bikin blog ketika cuti melahirkan baby Jindra), cerita tentang anak-anak (untuk dikenang suatu saat nanti), dan nyimpen resep-resep yang sudah kucoba.

Enam bulan yang lalu blogku ini gak ada yang baca kecuali aku, suamiku (yang kupaksa baca :p) dan segelintir temanku (yang mungkin terpaksa juga ngeklik link yang kushare di facebook). Wajar dong kalo enam bulan kemudian ternyata sudah di atas 10.000 pageviews dan aku seneeeeng? Ya walaupun masih sangat jauuuuh dibanding blog teman-temanku yang keren-keren itu,  baik jumlah pengunjungnya, tampilannya, cara menulisnya maupun isinya, tapi boleh kan aku berharap blog ini membawa manfaat? Memberi manfaat bagi diriku, dan manfaat bagi yang membacanya, itu saja tujuanku.

Blogku mulai dibaca orang ketika ceritaku tentang anakku yang berteman dengan anak Ridwan Kamil (dan harapanku terhadap masa depan Bandung) dishare di Facebook oleh fanpage Ridwan Kamil Untuk Bandung. Saat itu Ridwan Kamil  mencalonkan diri sebagai wali kota Bandung. Blogku yang biasanya cuma diilihat oleh 5-10 orang per hari, hari itu dilihat oleh lebih dari 600 orang. Semua ini atas jasa Mbak Titi yang menshare cerita itu di twitter dan mention ke tim kampanyenya RIDO. Matur suwun Mbak Titi.... *sungkem.

Sampai dengan hari ini ceritaku tentang Ridwan Kamil itu sudah dilihat orang sebanyak 1.115 kali, menduduki peringkat kedua dalam kejuaraan postingan yang dilihat terbanyak di blogku. Peringkat pertama untuk saat ini diduduki oleh resep puding nan cantik imut tapi gampang bikinnya yaitu Puding Telur Ceplok, yang foto dan resepnya pernah aku share di grup Homemade Healthy Baby Food (HHBF) di Facebook, yang sudah dilihat sebanyak 1.523 kali.


Peringkat ketiga adalah postingan tentang daycare, yang banyak dilihat orang saat pergantian tahun ajaran kemarin. Pada bulan Ramadhan sekarang ini, postingan yang banyak dicari adalah resep pisang, mie dingin, labu kuning, dan beberapa resep lainnya. Mencari ide untuk berbuka puasa kali yaa...




Selamat 6 bulan blogku, mudah-mudahan panjang umur, makin pinter, cantik, dan memberi manfaat.
Ada yang mau ngasih kado? Ditunggu..... :D


Catatan: jangan mencari manfaat dari tulisan ini, gak akan ketemu, karena ini adalah jenis postingan pamer, bukan postingan bermanfaat. Maaf yaaa..... sekali sekali pamer boleh kan? :p
(Hanya mengingatkan diri sendiri agar lebih hati-hati dan cermat menulis, dan lebih bersemangat menulis tulisan-tulisan yang bermanfaat.)



Rabu, 17 Juli 2013

Jadilah InspirASI Writing Competition

Freezer di kulkas lamaku yang sudah penuh dengan ASIP.
 
Lactamil mengadakan lomba menulis #jadilahinspirASI Writing Competition. "Ayo Mama sebarkan inspirasi dan tuliskan pengalaman, dukungan atau harapan Mama seputar pemberian ASI" begitu bunyi pengumumannya. 

Sebagai praktisi (ciee bahasanya) dan pendukung ASI pasti aku langsung bersemangat ikutan lomba untuk berbagi inspirasi dong.. Dan ngiler sama Samsung Galaxy Note 8-nya ituuuu.......

Ketak ketik ketak ketik, lancaar... lha wong isinya cuma berbagi pengalaman. Kalau bercerita tentang manfaat ASI pasti sudah pada tahu laah... Aku berbagi pengalamanku saja, dengan harapan ada yang terinspirasi dari tulisanku. "Ibu ini bekerja full time dari pagi sampai sore, mengurusi 4 anak pula, tapi tetep memberikan ASI untuk bayinya. Aku juga harus bisa ah..." begitulah kira-kira kata orang yang terinspirasi. Dan jadilah 2 halaman tulisan di MS Word. Eh iya, syarat lombanya bukankah maksimal 500 kata? Yaaah harus diedit deh. Aku edit tulisanku, banyak kalimat dan kata yang terpaksa kubuang, sambil berharap tulisanku tetap enak dibaca dan menginspirasi. 


Terpaksa beli freezer (catat, bukan kulkas) baru 4 rak :)

Dan inilah jadinya tulisanku, 469 kata.


Sedih, itu pasti. Siapa sih ibu yang tidak sedih ketika harus meninggalkan bayinya, dan menyerahkannya pada pengasuhan orang lain? Walau hanya untuk beberapa saat, perpisahan itu tetap menyisakan kesedihan. Kesedihan itulah yang kurasakan saat masa cuti bersalinku berakhir dan aku harus segera masuk kerja lagi. Aku yang selama dua bulan terakhir ini bisa seharian bersama bayiku, merawatnya sepenuh waktu yang kumiliki, dan bisa mencium wanginya setiap saat, kini harus bersiap menyerahkan pengasuhannya pada orang lain. Sedih.
Tapi di balik kesedihan itu  ada rasa aman dan tenang, karena meskipun kutinggal bekerja seharian, untuk bayiku sudah kusediakan ASIP (ASI Perah). Gak tanggung-tanggung, ada lebih dari 150 botol berkapasitas 125 ml ASIP yang telah kusediakan untuknya. “Banyak amat Mbak? Gimana caranya bisa nyetok ASI sebanyak itu?” tanya temanku. Aku pun awalnya gak percaya dalam dua bulan bisa menabung ASIP sebanyak itu, sampai aku beli freezer 4 rak baru. Aku terinspirasi oleh Wida, temanku yang memposting foto ASIPnya yang satu freezer 4 rak itu di Facebook. Wida bisa, aku pun harus bisa, tekadku. Dan ternyata tidak sulit kok untuk mewujudkannya, asal kita punya kemauan yang kuat untuk itu.
Hindari stress, makan makanan yang bergizi, minum susu, dan istirahat yang cukup, insyaalloh produksi ASI kita akan banyak. Produksi ASI yang banyak akan sia-sia kalau tidak kita manfaatkan secara maksimal. Jadi selama cuti itu aku tiap hari pumping ASI. Sehari 2-4 kali pumping, disamping menyusui bayi secara langsung, tentu merangsang produksi ASIku menjadi semakin banyak. Bukankah ASI itu semakin banyak dikeluarkan maka akan semakin banyak diproduksi?
Selama bekerja, aku selalu menyempatkan untuk pumping ASI di sela-sela waktu luangku. Aku bertekad akan memberikan ASI kepada anakku sampai dia berumur 2 tahun.
Tapi ternyata, pumping ASI setelah kembali bekerja tidaklah semudah yang dibayangkan. Tidak seindah yang diceritakan orang-orang. Sibuk, banyak pekerjaan, dikejar deadline, ada tamu, tugas lapangan,  bahkan rasa malas kadang mengganggu. Produksi ASIP yang dulu bisa 4-6 botol per hari, kini cuma 1-2 botol saja. Tentu saja persediaan ASIP di freezer semakin menipis dan bahkan hampir habis. Duh…
 Aku pun kembali memotivasi diriku agar bisa banyak memproduksi ASIP lagi.
Apa yang bisa memotivasiku? Cinta tentu saja. Segala sesuatu bila dilakukan dengan cinta akan terasa mudah.  Dengan cinta yang sulit jadi mudah, yang rumit jadi indah, dan yang berat pun jadi terasa ringan. Jadi ketika rasa malas melanda, kupandangi foto bayiku, melihat bening matanya aku pasti langsung tersentuh. Aku  mencintainya, dan pasti  ingin selalu memberikan yang terbaik untuknya. Ketika rasa lelah mendera, aku pun berdoa, agar setiap tetes ASI yang kupompa memberikan kebaikan untuknya. Dan selain kekuatan cinta Tuhan kepada makhlukNya, kekuatan apakah yang bisa mengalahkan kekuatan cinta seorang ibu kepada anaknya? Aku rasa tidak ada. Dengan kekuatan cinta itulah aku kembali bangkit, mengusir jauh-jauh rasa malas, rasa lelah,  alasan kesibukan, dan berjuta alasan lainnya.

Anakku, aku mencintaimu, dan akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu.

Siap diposting.. Aku log in ke webnya Lactamil Mama, dan kubaca lagi Syarat dan Ketentuan lombanya. Appaaaa??!! Maksimal 500 karakter? KARAKTER! Haduuuh... udah capek-capek ngedit menjadi 500 kata dan ternyata maksimal hanya 500 karakter...Dan tulisanku ini? Tiga ribu dua ratus tiga karakter!

Huh, aku pun pundung, ya sudahlah males ngedit lagi, gak jadi ikutan aja. Kubiarkan tulisanku itu berhari-hari lamanya. Gak kubaca lagi, gak kuingat-ingat lagi. Tapii.... Galaxy Note itu memanggil-manggil hahaha.... Dan inilah jadinya,  Judulnya ASI, Bukti Cintaku, http://www.lactamilmama.com/jadilahinspirasi/asi/show/393

Doain menang yaa... dan bantu vote juga. Terima kasiiiiih....

Selasa, 16 Juli 2013

Liburan di Lembang 2 (De Ranch)


De Ranch Lembang, 30 Juni 2013

Cerita ini lanjutan dari cerita sebelumnya tentang liburan kami di Lembang. Sebenernya sudah banyak lupa detailnya karena kelamaan gak ditulis, dibiarkan mengendap di kepala, dan menguap entah ke mana. Agak males juga nulisnya karena sudah banyak yang terlupa, tapi berhubung sudah janji akan dilanjutkan ceritanya, dan ditagih-tagih mulu sama  temen (colek Baginda Ratu) okey deh, ini foto-fotonya (hihi... foto-foto aja yaa... biarkan foto yang bercerita (lagi).)

Kemarin ceritanya sampai Floating Market kan ya? Nah setelah puas bermain di Floating Market, kami kembali pulang ke hotel, istirahat, sholat, mandi dan bersiap untuk makan malam. Makan di mana? Di Ayam Brebes tentu saja. Sudah beberapa kali kami makan di sini, dan gak pernah bosen. Ayam bakar maupun gorengnya sama-sama enak. Usus gorengnya pun enak, renyah dan gurih. Dan malam itu suasana di Rumah Makan Ayam Brebes ramai banget, penuuuh... Kami jadi terlayani agak lama, dan bahkan pete goreng pesenan suamiku belum datang juga sampai makanan kami habis. Ya sudahlah.. kami maklum saja, namanya juga lagi musim liburan.

Keesokan paginya, kami berencana sarapan roti bakar dan susu murni di Cafe Sumur (Susu Murni), tapi ternyata belum buka. Ya sudahlah kami sarapan di warung tenda di depan Cafe Sumur. Suamiku memesan lontong kari, aku dan Kakak kupat tahu, duo Aa pesan bubur ayam. Dan semua kecewa. Baik lontong kari, kupat tahu, maupun bubur ayamnya rasanya jauh dari standar rasa jajanan serupa di Bandung, tapi harganya jauh melampaui harga di Bandung. Yo wislah gak papa... Lagi liburan... :))



Wajah-wajah belum mandi, berjalan kaki mencari sarapan di Lembang.



Mampir di Pasar Lembang sebelum sarapan. Beli talas, kesemek, ganyong, pisang, alpukat dan jeruk baby.  Sebenernya pengin banget beli labu kabocha yang cantik-cantik ini, tapi di rumah masih ada. Murah banget loh.. sebutir Rp 5.000. Yang ada di rumah masih ada tempelan harganya, aku cek lagi (bandingin harga) Rp 17.000 dan langsung nyesel kenapa di Lembang gak beliii.

Setelah sarapan dan mandi, kami menuju next destination: De Ranch. Tiket masuk Rp 5.000 dan bisa ditukar minuman (tapi aku lupa nuker, malah dibuang :D)


Ternyata di De Ranch pun penuh pengunjung, bahkan kami harus parkir di Puri Lembang. Papa dan Aa yang berencana belajar berkuda di De Ranch terpaksa kecewa karena sudah tidak bisa mendaftar lagi. Seharusnya kami datang lebih pagi. Ya sudah main lari-larian di lapangan saja :p


Aa Youri mencoba trampolin. Hiii..... ngeriii, katanya. Ngeri tapi tertawa-tawa :D
Aa Javas pun gak mau kalah. Berani, katanya. Tapi baru 5 kali tarikan dia sudah menangis minta berhenti, hahaha...

Berteduh di tenda Indian, menunggu anak-anak bermain. Tenda ini gratis, tidak disewakan seperti di tempat wisata sebelumnya (aku gak nyebut nama loh yaa ;)

Kakak Echa memanjat dinding, mau mencoba flyng fox.

Aa Youri pun mencoba Flyng Fox. Kurang menantang, kata Kakak dan Aa. (Ya iyyalaah... mereka kan pernah outbond di Treetop Adventure Park yang tantangannya terdiri dari beberapa level itu).



Aa Javas naik kuda dan berdandan ala koboy. Yiiiiihaa!
Main perosotan...

jungkat-jungkit...

dan puas berlarian, berlompatan, guling-gulingan di trampolin mini ini (gak nangis lagi dong:))


Dan Aa, Kakak, serta Papa pun bosan menunggu, hahaha.... Sebenernya ada beberapa pilihan permainan, tapi gak ada yang menarik minat mereka. Selain malas karena panas sedang terik-teriknya, mereka malas juga mengantri beli tiketnya. Mau makan, malas juga karena tadi sudah nyoba bubur kacang ijo yang rasanya jauuh dari bayangan dan harganya pun mahall. Sebenernya di mobil banyak camilan, tapi kami gak diijinkan membawa makanan dari luar. Ya sudah deh, main game atau internetan, menunggu Javas sampai bosan bermain.

Capek (menunggu Javas) bermain, kami pun pulang ke Bandung. Gak langsung pulang dong, beli tahu tauhid dulu, dan itu pun ngantriii.... Antrian tahu mentah jauh lebih panjang dibanding antrian membeli tahu matang. Ya sudah kami beli tahu dan lontong untuk dimakan di mobil saja, tahu tauhid mentah sih di Griya atau Yogya (supermarket) juga ada.

Dan belum ke Lembang rasanya kalo belum membeli es potong aneka rasa ini. Ada rasa cokelat, stroberi, nangka, alpukat, kolang kaling, mocca, kacang hijau, kelapa, dll. Semua rasa aku beli. Harganya Rp 2.000 per buah. Dan aku beli yoghurtnya juga yang mantap juga rasanya. Ada rasa lechi, mocca, anggur, dan stroberi. Harganya Rp 7.000 per bungkus. Sluurp.....

 

Simple Marmer Cake

 

Memanfaatkan kuning telur sisa bikin Puding Busa Oreo aku bikin cake marmer. Yang simple-simple aja, karena diburu waktu maghrib, waktu berbuka puasa, dan aku harus menyediakan tajil untuk berbuka di masjid. (Baca ceritanya di sini.)

Walau simple, tapi terkadang gagal juga membuat cake simple ini, jadi kubaca dulu tips membuat butter cake dari blog My Simple Kitcen.


BAHAN :

  • 250 gram mentega
  • 200 gram gula pasir
  • 4 butir telur (aku tambahin 3 kuning telur sisa bikin puding busa, makin enak deh..)
  • 250 gram tepung terigu
  • 1/2 sdt baking powder
  • 1 sdm cokelat bubuk

CARA MEMBUAT:

1. Kocok mentega sampai lembut, masukkan gula sedikit demi sedikit, kocok terus sampai ringan dan lembut. Masukkan telur satu per satu, kocok hingga rata setiap penambahan telur.

2. Tambahkan tepung terigu dan baking powder yang telah diayak. Aduk rata.

3. Ambil sepertiga adonan, beri coklat bubuk, aduk rata. Tuang adonan putih dan coklat berselang seling ke loyang, buat motif marmer dengan garpu. Oven sampai matang.

Gampang banget kan?
Ingat ya, ini jenis pound cake, bukan sponge cake, jadi teksturnya agak padat, tapi tetap empuk.
Selamat mencoba..

Puding Busa Oreo



Pernah kuceritakan sebelumnya di sini, aku kebagian piket menyediakan tajil berbuka puasa di masjid dekat rumahku, dan kubikin puding busa oreo ini.

Resepnya dari Teteh Iting, kakak iparku yang jago banget bikin kue itu. Tapi aku lupa-lupa inget komposisi pastinya, jadi resep ini ya seingetku saja, bikin puding mah insyaalloh anti gagal lah hehe... Dan hasilnya enak looh... segeer banget dinikmati saat berbuka puasa. Anak-anak suka banget puding busanya yang kres-kres dan rasa oreo ituu...

Oh ya, penambahan buah-buahan di atas puding itu selain untuk mempercantik tampilan, juga bikin rasa puding makin segeerr loh... Tapi ternyata anak-anak gak suka, kalau makan disisihkan puding buahnya, cuma dimakan puding busanya, hiks.. Jadi lain kali kalau  kira-kira buahnya gak akan dimakan dan bukan untuk hantaran, gak usah pakai buah aja deh :))

BAHAN-BAHAN

Puding Busa:
  • 3 putih telur
  • 1/2 sdt garam
  • 50 gram gula
  • 10 keping oreo, hancurkan
  • 500 ml susu cair
  • 1 bks agar-agar bubuk plain
  • 50 gram gula
Puding Buah:
  • 1/2 bks agar-agar bubuk (aku pakai agar rasa nanas)
  • 300 ml air
  • 50 gram gula
  • aneka buah sesuai selera

 

CARA MEMBUAT:



  1. Kocok putih telur dan garam, masukkan gula sedikit demi sedikit sambil terus dikocok dengan kecepatan tinggi sampai kaku.
  2. Sementara itu campur susu, bubuk agar-agar, dan gula di dalam panci. Rebus sampai mendidih.
  3. Masukkan rebusan agar-agar ke dlam kocokan putih telur, aduk dengan kecepatan rendah sampai tercampur rata. Matikan mikser, masukkan oreo, aduk.
  4. Tuang ke dalam loyang yang telah dibasahi air, biarkan setengah beku.
  5. Campur bubuk agar untuk puding buah, air dan gula. Rebus sampai mendidih.
  6. Susun irisan buah di atas puding busa, siram dengan rebusan agar-agar bening. Bekukan.
  7. Keluarkan dari loyang, balik, dan jadilah puding nan cantik dan segar ini. Gampang kan? Selamat mencoba....

 

A DIY Tajil Project

*DIY = do it yourself

Sabtu kemarin aku mendapat giliran piket menyediakan tajil / hidangan pembuka puasa di masjid dekat rumahku bersama dua orang  tetangga.  Seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya kami (tiga orang ibu yang mendapat giliran pilet tajil) berbagi tugas, berkoordinasi, siapa menyiapkan apa. Selain minuman manis seperti cendol, sop buah, es campur, atau aneka kolak, menu wajib tajil di masjid dekat rumahku adalah gorengan. Bakwan (di Bandung disebut bala-bala), pisang goreng, tempe tepung, tahu isi (gehu), cireng, lumpia dll. Tanpa gorengan gak afdol, kata bapak-bapak yang sering berbuka di masjid. Selain minuman manis dan gorengan, ada juga aneka kue. Kadang-kadang ada juga hidangan khas Ramadhan seperti kerupuk banjur, tutut, cilok, dan bahkan terkadang ada juga hidangan agak berat seperti mie atau bihun goreng.

Hmm Sabtu ini enaknya  beli apa ya? Biasanya aku beli cendol elisabeth di supermarket, atau beli gorengan di tukang gorengan, atau mampir beli aneka kue di toko kue. Eh beli? Kenapa gak bikin sendiri saja? Tiba-tiba aku pengin 'menyalurkan hobi' sekalian nyobain mikser baru ( setelah mikser lama yg telah berumur 13 tahun itu mengajukan pensiun dini alias rusak).

Bikin puding busa ah... pake oreo dan topping buah seperti yang dulu sering dibikin Teteh Iting, kakak iparku yang jago banget bikin kue itu. Puding dan apa ya? Oh ya... marmer cake saja, manfaatin sisa kuning telur yang gak kepake untuk puding busa.

"Yakin sanggup?" tanya suamiku ketika kusampaikan rencanaku membuat sendiri tajil.
"Insyaalloh bisa lah.. Pagi-pagi aku mulai masaknya, biar gak buru-buru."

Jumat siang aku belanja bahan-bahan ke Yogya Riau Junction. Mau beli buah kiwi, eh lagi kosong, ya sudahlah Sabtu pagi aja ke Griya Margahayu yang deket rumah.
Rencana Sabtu pagi-pagi mulai masak ternyata tinggal rencana. Lha wong berangkat belanja aja jam 11 siang. Pagi-pagi suamiku yang berjanji mau nganter masih tidur, dan aku juga masih riweuh urusan duo krucils. Mandiin Jindra, (mandiin Javas urusan papa :)), nyiapin makan duo krucils, nyuapin Jindra, nyuapin Javas, dan ngelonin Jindra sampai tidur (catet, Jindranya yang tidur lho yaa, bukan yang ngelonin :)).

Di Griya Margahayu buah kiwi ada, eh stroberinya gak ada.  Ya sudah deh pindah ke Superindo Metro. Untung ada. Jam setengah satu barulah aku sampai ke rumah. Dan di pos hansip di seberang rumah suami Teh Siti sudah nangkring di atas motornya, nunggu istrinya untuk dijemput pulang. Biasanya dijemput jam 2, ini baru jam setengah satu sudah ditunggu. Ah sudahlah biarin, kan lagi puasa, kasihan juga kalau jam kerjanya gak dikurangi.  Dan untungnya Jindra masih tidur, bisa langsung masak deeh.... 

Baru mulai ngocok putih telur, Jindra bangun. Entah kenapa sura mikser Phillips ini memang berisik banget,  bahkan lebih berisik dibanding seri lamanya (yang sudah rusak itu). Ya sudah deh megang Jindra dulu.. bikin kenyang dan nyaman baby Jindra, baru kasihin ke Papa.

Bikin puding sambil nyuapin Javas, ini itu anu dll dsb alkhirnya selesai juga. Kubikin 2 loyang, 1 untuk di masjid 1 untuk di rumah.

Puding done. Next, marmer cake.

Jam setengah lima suamiku nganter Aa Youri yang punya janji temu dengan dokter gigi untuk pasang kawat gigi. Jindra 'dikembalikan' padaku. Hadeuh... belum bikin cake.

"Mau nitip beli kue?" suamiku menawarkan diri. Ah gak usah, bikin kue bisa kok disambi ini itu. Kan cuma ngocok, campur, masukin oven, beres. Optimis... Mulai kukocok mentega untuk cake, sambil nyuapin Jindra (lagi) dan nimbang-nimbang bahan lain. Duh... Jindra mulai rewel.. Maunya digendong terus. Ngantuk sepertinya. Selesai makan, Jindra kumandiin, lalu kukelonin biar tidur. (dengan catatan, sambil tetep bikin kue lho yaa.. Masukin gula, ngecek kocokan, masukin telur satu-satu, ngolesin loyang dengan mentega, masukin terigu dll).

Dan ternyata tidak mudah.. Jindra gak tidur-tidur, malah rewel karena sangat mengantuk tapi prosesi tidurnya terganggu ini itu. Haduuuh, jam setengah enam! Mulai agak panik deeh... Kubuka oven, tes tusuk, fyuuh... alhamdulillah kueku sudah matang.
"Pa tolong pulang dulu sebentar, anterin kue ke masjid." kutelpon suamiku.

Javas membantu Papa membawa kue. Berat iiih, katanya.
Kukeluarkan puding dari kullas, alhamdulillah sudah beku mengeras. Cake kupotong-potong dulu, karena cuma bikin 1 loyang dan Javas pengin nyicipin. Suamiku datang, puding dan cake sudah siap diantar ke masjid. Legaa..

Kembali ke Jindra yang rewel, nangis sendirian di kamar, kukelonin sebentar, dan gak sampe lima menit kemudian tertidur. Sudah ngantuk berat.. Javas pun ngantuk sebenernya karena belum tidur siang, tapi belum mandi, jadi gak ditidurin dulu... Ah kasihan kau Nak.
Javas pun ikut papa ke masjid nganterin kue, biar gak ngantuk di rumah.

Kembali ke dapur.... Panci, loyang, mangkok, sendok, berantakan dan memanggil-manggil untuk dicuci. Dan apa itu di meja dapur? Irisan wortel dan kol tadi pagi masih teronggok di mangkok. Tak tersentuh sama sekali. Rencananya mau kubikin bakwan, request suamiku sejak 3 hari yang lalu, dan kujanjikan kupenuhi Sabtu ini. Tapiiii apa daya  tanganku cuma dua.... Maaf ya Paa....

Allohu akbar, allohu akbar.... Adzan Maghrib berkumandang. Kuminum segelas teh manis dan sepotong cake marmer untuk berbuka puasa. Alhamdulillaaah... nikmatnya. 
Lupakan dulu loyang dan panci, lupakan dulu memasak sayur dan lauk teman nasi yg belum ada sama sekali di meja makan itu.
Eh tapi kalau dilupakan, mana bisa matang sebelum Youri dan Papa datang? 
Aaaah.... ayoo cemungudh kakaaa....




PS: resep puding busa oreo dan simple marmer cake tunggu ya di postingan selanjutnyaa...

Jumat, 05 Juli 2013

Liburan di Lembang (Floating Market)



Sudah dua minggu anak-anak liburan di rumah, gak ke mana-mana. Ditawari liburan ke rumah Eyang gak mau, ditanya pengin ke mana gak tau. Yo wis, di rumah saja. Dan mereka kayanya enjoy banget tuh di rumah, bebas main game, internetan, nonton TV, gak mandi pagi, males-malesan, kapan lagi coba kalau bukan saat libur panjang gini? 

Tapi kalau gak diajak (pergi) ke mana-mana kok kasihan, kayanya belum 'Liburan' beneran hehe... Akhirnya disepakati bersama kami pergi ke Lembang saja. Masih Bandung-Bandung juga kan? Ya, memang kami semua males bepergian ke luar kota. Males macetnya.

Dan Sabtu pagi kami berangkat. Rencananya sih berangkat pagi-pagi biar gak kena macet di Jl. Setiabudi. Realisasinya? Bisa ditebak laah... Empat anak, suasana libur, mana bisa bergegas-gegas pagi-pagi? Ya sudahlah... berharap saja belum macet. Berangkat jam setengah delapan pagi, kami sarapan ubi rebus di mobil. Sengaja aku gak masak karena berencana berangkat pagi-pagi dan mau sarapan di jalan, ternyata berangkat sudah agak siang, ya sudah aku kukus ubi saja buat ganjel perut. 

Tadinya kami berencana mau sarapan di Antapani. Lontong Kari Turuntung, atau Bubur Ayam H Lili Udin. Tapi ternyata melewati Antapani kami belum lapar gara-gara ubi tadi. Akhirnya kami beli gorengan di  Lapang Saparua yang selalu rame pembeli itu. Tempe Mendoan, Tahu Bletok, Gehu Pedas, dan Pisang Goreng. Kenyaaaang... (ya iyyalaah lha wong gorengannya itu gede-gede bangeeet....).

Sekitar jam sepuluh kami check in di Hotel Bumi Makmur Indah yang terletak di Jl. Raya Lembang. Nama hotelnya kaya nama komplek perumahan ya? Hihihi.... Tentu saja kami sudah booking kamar dari kemarin. Kalau gak booking dulu kayanya susah deh dapat kamar di musim liburan gini. Niatnya sih cuma mau check in, dan naruh koper di kamar, trus mau jalan-jalan ke Floating Market. Tapi begitu udah masuk kamar malah pada betah gogoleran, leyeh-leyeh. Habis, udaranya dingiiin... enak buat tiduran hehe... Dan Javas pun seneng banget main lompat-lompat di kasur. Ya sudah deh, aku suapin Jindra dulu aja.




















Setelah Javas puas main lompat-lompat kasur dan Jindra selesai makan, kami pun menuju Floating Market yang jaraknya tidak jauh dari hotel tempat kami menginap, yaitu di Jl Grand Hotel Lembang.

Floating Market, Pasar Terapung? Kaya gimana sih? Penasaran karena arena wisata ini masih baru di Lembang, jadi inilah tujuan kami.

Cerita selanjutnya lewat foto aja yaa... biarkan gambar yang berbicara :))

Harga tiket masuk Rp 10.000, bisa ditukar dengan welcome drink. Ada Milo, Lemon Tea, dll.

Di dalam arena wisata, uang kita 'gak laku', karena yang bisa dipakai untuk membeli tiket arena bermain, sewa perahu, membeli makanan dll adalah Koin Floating Market ini. Ada pecahan 5.000, 10.000, 50.000 dan 100.000 yang nilainya sama dengan nilai rupiah.

Ini dia loket penukaran koinnya. harap antri yaa.. Tapi jangan khawatir, loket penukaran koin ini gak cuma ada di front office. Di dalam arena wisata juga banyak, jadi kalau sewaktu-waktu koin kita habis, kita bisa menukar di beberapa tempat di dalam, tidak harus keluar ke front office lagi.

Berbagai pilihan permainan di air antara lain Sepeda Air, Kanoe, Dayung Sampan, dan Paddle Boat, dengan harga sewa mulai Rp 30.000 s.d Rp 70.000 per 30 menit.

Gunung Tangkuban Parahu di kejauhan. Mushola terapung di sebelah kiri (kebayang gak, sholat sambil goyang-goyang hihi...) dan perahu penjual makanan di sebelah kanan.
Banyak sekali pilihan jajanan di Floating Market yang dijajakan di atas perahu ini.  Aneka makanan khas Sunda, seperti colenak, soto bandung, tutut, dll, bahkan makanan asal Jogja yaitu gudeg pun ada. Makanan internasional seperti pizza (di sini pizzanya unik loh.. volcano pizza), kebab, french fries, dll pun ada. Otak-otak, sate kelinci, es cincau, mie goreng, wedang ronde dan banyaaak lagi. Harganya memang lebih mahal dibanding harga di pasaran, ya wajarlah untuk harga di sebuah tempat wisata. Sepincuk nasi gudeg ini harganya 30.000 koin alias Rp 30.000. (Tanya wongg Jogja deh..... sepincuk gudeg di Jogja harganya pasti jauuh lebih murah kan? :))
  
Javas petik strawberry. Dengan membayar 20.000 koin, kita berhak untuk memetik dan membawa pulang satu cup strawberry segar.

Ada sawah juga di sini. Sayang belum siap panen, belum ada padinya. Padahal kalau ada padinya pengin kutunjukkan pada Javas padi yang berisi beras itu, biar dia tau asal muasalnya nasi.



Di arena sekitar sawah dan kebun strawberry, banyak tersedia saung-saung untuk beristirahat atau sekedar berteduh dari terik matahari. Tapi sayang saung-saung ini tidak gratis, disewakan Rp 50.000 per 2 jam. kalau cuma berteduh sebentar sampai 5 menit sih gak papa katanya.. gratis :)

Sekian dulu yaa foto dan cerita Liburan di Lembangnya.. besok disambung lagi. Kalau mau tau lebih banyak tentang Floating Market Lembang, buka aja akun Facebooknya di sini.

... b e r s a m b u n g ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...