Selasa, 04 Juni 2013

Urusan SIM Mahal dan Ribet?

Sabtu pagi itu seperti biasa suamiku masih tidur. Meskipun telah tidur semalaman di bus dalam perjalanan panjang Kebumen-Bandung, tapi katanya belum hilang lelah kalau belum tidur di kasur. Sudah kusampaikan bahwa Sabtu ini aku harus mengurus perpanjangan SIM-ku, dan suamiku bersedia mengantar, tapi nanti setelah tidur.

Jam 8 kubangunkan suamiku yang masih pulas tertidur itu, mandi, sarapan dan jam 9 berangkatlah kami ke Polres Bandung. Perjalanan yang lumayan jauh ini lumayan lancar, dan sampailah kami di Polres Bandung sekitar jam 10.30. Langsung kucari loket Pelayanan SIM. Daaaan…..

Pendaftaran SIM hari Sabtu cuma sampai jam 10??? Tidaaaak...... Masa sih perjalanan jauh di hari Sabtu yang sangat berharga ini harus berakhir sia-sia?
Bukan ibu-ibu namanya kalau menyerah begitu saja. Aku coba bicara dengan polisi yang sedang ngobrol di meja pendaftaran itu.

"Bisa dibantu Bu?" sapanya ramah.

"Mau perpanjangan SIM Pak." jawabku.

"Sudah tutup Bu, kami cuma menerima pendaftaran sampai jam 10 saja kalau hari Sabtu."

"Cuma perpanjangan aja kok Pak."

"Gak bisa Bu."

"Tolonglah Pak.. Saya kan kerja, jadi bisanya cuma hari Sabtu aja."

"Sabtu depan aja Ibu ke sini lagi yaa.."

"Rumah Saya jauh Pak. Dan suami saya itu kerjanya di luar kota Pak, pulangnya cuma seminggu sekali, gak setiap saat bisa nganter Saya." <- sumpah ini malu-maluin banget ya, kenapa jadi curhat sama polisi yang sama sekali gak kukenal itu?

"Maaf Bu, gak bisa." 

Walaupun polisi itu tetap menjawab dengan ramah, tapi tetap saja aku gondok luar biasa, mengutuki diri sendiri. Kenapa aku gak nyari info sebelumnya? Kenapa aku gak nelpon dulu? Kenapa.. Kenapa... Ah sudahlah...

Sabtu berikutnya pagi-pagi suamiku sudah rapi. Melihat aku belum mandi dan masih 'riweuh' di dapur, dia pun sedikit mengomel. " Ayo laah.. jangan sampai telat lagi. Udah tau kemarin telat, eh sekarang nyantai-nyantai. Bukannya siap-siap dari pagi. Suka banget sih mepet-mepet?"

Nah lo... diomelin deh... bukannya nyantai-nyantai Papaaa.. Tapi kan yang namanya emak-emak pasti repot lah pagi-pagi. Nyiapin ini itu, begini begitu dlldsb. 

Okey, aku pun mandi secepat kilat, ganti baju, sambar jilbab, sambar tas, masuk mobil. Pakai jilbab, sarapan, dandan, nanti di mobil saja. Jam 8 kami pun berangkat dari rumah.  Untung anakku gak rewel saat kami tinggal bersama pengasuhnya.

Dan ternyata macet! Jalan Dayeuh Kolot itu sedang diperbaiki. Panik deh aku... 

Selepas macet di Dayeuh Kolot itu suamiku memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Salip ini, salip itu, klakson-klakson pengendara motor yang menghalangi, bahkan jalan rusak pun dilewati dengan kecepatan tinggi. Dan akhirnyaa.. Jam 9.55 sudah kulihat plang Kepolisian Negara Republik Indonesia Resort Bandung itu. Aku turun di pelataran dan langsung berlari ke meja pendaftaran, sementara suamiku memarkirkan mobil.

"Mau perpanjangan SIM Pak, masih bisa kan?" ujarku sambil ngos-ngosan, efek lari.

"Sudah tes kesehatan Bu?" jawab Bapak Polisi itu.

Apaaaa??? Harus tes kesehatan dulu? Kenapa Sabtu kemarin aku gak nanya prosedur?? Kembali aku mengutuki diri sendiri.  Aduuh... sia-sia lagi deh. 
"Belum Pak." aku menjawab dengan putus asa dan (mungkin) wajah memelas.

"Ibu tes kesehatan dulu, nanti kalau sudah punya surat hasil tes kesehatan itu baru daftar ke sini."

"Tesnya di mana Pak?"

"Di klinik, itu Bu, seberang kantor." kata Polisi itu sambil menunjuk ke kejauhan. Dan klinik yang dia tunjukkan itu sama sekali gak terlihat olehku.

"Pak, saya daftar dulu aja ya, nanti baru tes kesehatan." (Keluar lagi deh jurus ngeyelnya emak-emak).

"Tes dulu Bu, baru daftar."

"Tapi kalau tes dulu baru daftar nanti Saya balik ke sini pendaftaran sudah tutup Pak."

"Enggak Bu, Saya tungguin deh."

"Bener Pak? Bener ya ditungguin. Tolong ya Pak, soalnya Sabtu kemarin Saya udah ke sini dan telat daftar. Balik lagi deh, padahal rumah saya jauh Pak." <- curhat lagiii :D

"Catet aja namanya Bu, nanti kalau bohong laporin KAPOLRI" kata Polisi yang duduk di sebelahnya sambil tertawa.

Aku berlari keluar. Menyeberangi lapangan parkir, celingak celinguk, mencari-cari tulisan Klinik Dokter. Tidak ada. "Itu Bu, sebelah kantin. Tah eta.. yang pintunya terbuka," kata aki-aki tukang rumput.

Oalaah... yang disebut ‘klinik’ ternyata hanyalah sebuah ruangan dengan seorang petugas dan sebuah mesin ketik di mejanya. Petugas itu meminta SIM lamaku untuk melihat identitas, menanyakan berat badan tinggi badan, dan golongan darahku. Ketak-ketik sebentar, dan jadilah surat hasil 'tes kesehatan'ku. Setelah membayar Rp 15.000, aku buru-buru pergi dan kembali  berlari menuju meja pendaftaran. Polisi yang tadi masih ada! Legaa….

Polisi itu memberikan formulir untuk aku isi data pribadi, formulir pembayaran, dan meminta KTP dan SIM lamaku. KTP? Waduuuh... kubawa gak ya? KTP-ku itu tidak muat kumasukkan dalam card holder di dompetku, jadi sering kumasukkan ke dalam kantong kecil di dalam tas coklatku. Eh, tas coklat atau tas hitam ya? Atau tas putih? Panik. Dag dig dug... dag dig dug. Jantungku berdegub sangat kencang saat itu. Perpaduan antara ngos-ngosan akibat lari dan panik. Duuh... kenapa  Sabtu kemarin gak nanya syarat-syarat? Gemetar tanganku saat menelusuri isi tas, dan alhamdulillah KTP-ku ada di sana! *Pengin sujud syukur saking senangnya.

Setelah menyerahkan formulir di loket 3, bayar di bank, aku mengantri lagi di loket 5. Antrian lumayan panjang. Hmm... rupanya banyak juga para pemohon SIM hari ini. Antrian pun maju satu-satu. Saat itulah seorang polisi menghampiriku. "Ke sini aja Bu, ikuti saya." Waduh, apaan nih? Walaupun hatiku bertanya-tanya aku ikuti saja polisi itu, menuju loket 5. Aku tanda tangan di secari kertas, dan prosedur selanjutnya aku seharusnya mengantri untuk diambil foto. Tapi aku dibawa Bapak Polisi itu langsung masuk ke ruang foto, melewati orang-orang yang antri. "Duduk sini Bu," katanya, lalu keluar ruang pemotretan. Aku bertanya-tanya dalam hati, curiga. “Jalur Khusus' nih..” pikirku, “Harus bayar ‘uang rokok’ deh.” :(

Ketika namaku dipanggil oleh petugas foto, kudengar suara polisi yang tadi mengantarku, "Ayo-ayo, masuk ke sini." Dan masuklah serombongan orang  ke ruang foto. Polisi itu keluar lagi dan kudengar suaranya, "Ibu-ibu.. ayo mana lagi ibu-ibu. Sini, yang ibu-ibu lewat sini saja. Ikuti Saya. Ayo masuk."

Ooo... baru paham aku sekarang. Rupanya kami para wanita ini dibebaskan dari antrian. Setelah difoto, aku keluar dan menunggu sebentar untuk mengambil SIM yang sudah jadi. Dua-duanya. Lega dan bahagia rasanya menerima 2 lembar SIM itu.


Lega karena kudapatkan SIM itu dengan harga resmi, tanpa harus membayar uang lain-lain. Aku cuma membayar Rp 155.000 untuk perpanjangan dua SIM itu. Rp 80.000 untuk SIM A dan Rp 75.000 untuk SIM C.

Bahagia karena ternyata urusan memperpanjang SIM itu tak seribet yang aku duga. Bahagia karena bapak-bapak polisi itu baik hati, memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa embel-embel 'uang rokok' lagi. 

Dengan senyum sumringah kutemui suamiku yang duduk di ruang tunggu. Tumpukan majalah itu bahkan masih utuh, belum dibacanya. "Sudah?" tanyanya gak percaya ketika kutunjukkan dua SIM baruku. "Sudah doong..."

Terima kasih Pak Polisi! Maafkan aku telah berburuk sangka.

Cerita yang terjadi di tahun 2011 ini diikutsertakan dalam Kinzihana's Give Away.

6 komentar:

  1. Lo kok beda di kemayoran pek go waaaaaa
    Mana disodorin kotak tissue. Cm daku ga mudeng maksudnya suruh ngisi sogokan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perpanjangan juga? Atau bikin baru? Kalau perpanjangan pek go, Anda belum beruntung hahahha.....
      Disodorin kotak tissue? Nangis kali Mbak waktu itu hihi.....

      Hapus
  2. sampe sekarang aku belum pernah ngurus sim. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoo urusin dulu... biar aman di jalan, gak kena semprit :)

      Hapus
  3. euleuh euleuh di dayeuh kolot bu? berasa mudik jadinya hehehe

    makasih ya sudah berpartisipasi :)

    senengnya dapet SIm hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa.... serasa pulang kampung.. melewati beberapa persawahan, perkampungan, dan pegunungan (halah, ini lebay.. :))

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...