Kamis, 27 Juni 2013

Kusemai Cinta dan Kuingin Mereka Memetik Hasilnya

Anak-anakku bersama sepupu-sepupunya di Taman Lalu Lintas Bandung Juli 2011

"Mbak gimana rencana kita ke Taman Safari? Jangan Sabtu ini ya, aku gak bisa soalnya harus ke Palembang." message dari Maya, adik iparku. Sudah sejak beberapa bulan yang lalu kami merencanakan untuk liburan bareng ke Taman Safari, tapi terus tertunda karena berbagai alasan. Karena kesibukan kami masing-masing lah yang terutama.

Duh kalau Sabtu ini gak bisa, kapan lagi ya? Sabtu depannya sudah mepet bulan Ramadhan. Dan liburan anak-anak pun sudah berakhir. Yaah.... gak jadi lagi. Sedih deh.
Gimana gak sedih. Liburan bersama ini sebenernya menjadi agenda pentingku. Aku ingin anak-anak sering berkumpul bersama sepupu-sepupunya, biar mereka akrab, dekat, dan tetap saling mencintai hinggai mereka dewasa kelak. Kalau cinta mereka tidak disemai sejak mereka kecil, aku gak yakin di saat mereka dewasa kelak akan saling mencintai, saling merindukan, dan mempunyai ikatan batin yang kuat seperti layaknya saudara. Sudah kutemukan banyak contoh yang seperti ini. Bersaudara tapi tidak merasa bersaudara. Tidak ada cinta, tidak ada rindu, tidak ada ikatan batin.

Masa kecilku yang kuhabiskan di sebuah kampung di Magelang penuh dengan cerita indah bersama saudara-saudaraku. Bapakku yang sepuluh bersaudara menikahi ibuku yang lima bersaudara dan berasal dari kampung yang tidak jauh dari kampung bapakku. Sebagian besar saudara bapak dan ibuku tinggal di Magelang. Jadi setiap liburan atau lebaran aku, kakak dan adikku, beserta sepupu-sepupuku yang sangat banyak itu pasti menghabiskan waktu bersama.

Jangan dibayangkan kami liburan bersama ke luar kota atau bahkan ke luar negeri. Bukaaan... sama sekali jauh dari itu. Liburan biasanya kami isi dengan menginap di rumah nenek (hihi.. text book banget yaa..) atau menginap di rumah Bude/Pakde atau Bulik Paklik. Kalau yang rumahnya deketan ya gak nginep laah... tapi aku bisa seharian main di situ. Saat liburan SD dulu, tempat main favoritku adalah rumah Bude Parwati, selain karena pohon jambunya yang mudah dipanjat dan berbuah lebat, juga karena Mbak Atin dan Mbak Retno sepupuku ini punya banyak koleksi majalah Bobo, majalah Ananda, dan satu set permainan monopoli, yang pada jaman itu masih jarang dimiliki oleh anak-anak di kampungku.

Libur Lebaran pun begitu, selalu diisi dengan kegiatan saling mengunjungi dan acara pertemuan keluarga besar. Kami berombongan pergi ke desa Paingan, kampung asal kakekku. Desa yang letaknya di daerah pegunungan dan berhawa sejuk ini wajib dikunjungi setiap hari keempat Lebaran. Kegiatan yang membosankan, itu yang ada di pikiran masa kecilku. Tapi sekarang sering kurindukan momen-momen itu. Bercanda bersama para sepupu, memetiki bunga liar, tiduran di rumput tebal, menghirup udara segar pegunungan, dan membiarkannya memenuhi paru-paruku (walau kadang samar-samar tercium aroma kotoran sapi hihihi....).

Desa Paingan,  Lebaran 1986
Lebaran bersama keluarga besar ibuku pun tidak jauh berbeda. Hari kedua Lebaran adalah hari wajib kami berkunjung ke desa Pucang, desa di mana keluarga kakek dari pihak ibuku tinggal. Kunjungan lebaran yang melelahkan, karena kami harus berjalan keliling kampung yang berbukit-bukit, akan tetapi menjadi kenangan indah saat dikenang sekarang. Selalu kuingat bagaimana kami bercanda di sepanjang jalan, saling menggoda, saling ejek, dan tertawa bersama. Kuingat juga rumah favorit kami yaitu rumah salah seorang Mbah di mana di rumah ini kami disuguhi minuman bersoda -Fanta, Sprite, dan Coca Cola- yang bagi kami saat itu adalah minuman mewah. Dan kami betah berlama-lama di rumah itu, menyeruput 'minuman bersemut' itu pelan-pelan,  sambil tertawa-tawa bahagia.


Masa kecil yang indah, hangat, dan penuh suasana kekeluargaan inilah yang ingin kuberikan juga kepada anak-anakku, agar saat mereka dewasa kelak mereka mempunyai kenangan indah yang menciptakan ikatan batin dan cinta terhadap saudara-saudaranya. Kalau di saat mereka kecil saja jarang bertemu, jarang berkomunikasi, atau bahkan gak kenal, bagaimana bisa di saat dewasa kelak mereka bisa saling mencintai sebagai saudara?

Aku dan sepupu-sepupuku yang dulu dekat dan akrab pun kini serasa jauh. Masing-masing telah sibuk dengan urusan pekerjaan dan keluarga kecilnya. Bertemu setahun sekali pun belum tentu bisa. Untunglah jaman sekarang jaman media sosial. Facebook, BBM (blackberry messenger), dan media sosial lainnya lah yang menjadi alat 'kumpul-kumpul' kami. Aku bikin group Keluarga Busri Jauhari dan group Darmo Sudiro Family di Facebook maupun di BBM sebagai wadah silaturahmi. Dan di grup itu serasa kutemukan kembali masa kecilku. Bercanda, saling menggoda, saling ejek dan tertawa bersama. Berbagi kebahagiaan maupun kesedihan. Suka maupun duka. Ya, walaupun terbatas, tapi cukuplah itu untuk menyemai cinta kami kembali.
 
 

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away Niken Kusumowardhani.



4 komentar:

  1. Ndaftariiin.. aku juga orang Magelang. Tempuran, Tempurejo.
    Mbak Tituk meuni punya foto foto jadul gitu... aku dah gak punya karena pindah sana pindah sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu juga ngambil di Facebook mbak.. ◦°◦ ƗƗi..ƗƗi..ƗƗi.. ◦°◦

      Hapus
  2. datang berkunjung....

    foto-fotonya kayaknya seru. jarang lho ada orang tua yang punya foto jadul yang tetep di simpen sampai sekarang. lihat yang begini jadi sedikit surprise ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung..

      Alhamdulillah masih ada, kalau jaman dulu kan foto-foto itu dicetak dan disimpan dlm album foto, jadi terdokumentasikan dengan baik, walau banyak juga yang sudah rusak atau hilang.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...