Jumat, 28 Juni 2013

Ayam Goreng Tradisional


Ayam goreng. Kayanya semua ibu yang memasak di rumah pernah (bahkan sering) memasak ayam goreng, dan punya resep andalan masing- masing. 
Aku pun pernah mencoba aneka resep ayam goreng. Mulai dari ayam goreng kalasan, ayam goreng lengkuas, resep ayam goreng ibuku, resep ayam goreng mertuaku, resepnya Mbak Sumi (tukang masak andalan di kampungku, kalau ada hajatan pasti Mbak Sumi ini dipanggil), dan aneka resep yang kutemukan di majalah atau tabloid masak memasak. Dan setelah berbagai eksperimen itu, aku sudah punya resep ayam goreng andalan. Sssttt... rasanya mirip Ayam Goreng Laksana loh... (orang Bandung pasti tau Rumah Makan Laksana). Kuberi nama ayam goreng tradisional sekedar untuk membedakan dengan ayam goreng ala restoran cepat saji yang disebut fried chicken itu (artinya ayam goreng juga kan? :))

Resep tidak mengikat, mau dirubah-rubah komposisinya boleh-boleh aja. Ingat kata Chef Yuda Bustara, 
You are the chef at home. Feel free to adjust any ingredients to your taste. Be creative, make mistakes & learn new things.  
Kata-kata ini bikin pede banget deh.... Pede untuk memasak ala kita sendiri.

Yang jelas saat mengungkep ayamnya pakai api kecil yaa... Ini kunci agar ayam goreng kita itu bumbunya meresap sampai ke dalam. Dan jangan lupa cicipi saat mengungkep. Jangan sampai ayam kita hambar karena kurang garam.

Bahan dan bumbu:
  • 1 kg ayam, potong-potong sesuai selera, lumuri air jeruk nipis, cuci bersih
  • 2 batang serai, memarkan
  • 3 lembar daun salam
  • 300 ml air
Bumbu yang dihaluskan:
  • 6 butir bawang merah
  • 5 butir kemiri, goreng
  • 3 siung bawang putih
  • 2 ruas jari kunyit, goreng
  • 2 ruas jari lengkuas
  • 1 ruas jari jahe
  • Garam secukupnya
Cara memasak:
  1. Masak daging ayam bersama bumbu yang dihaluskan, serai, daun salam dan air. Masak hingga air hampir habis, ayam empuk dan bumbunya meresap. Ingat, gunakan api kecil.
  2. Setelah itu angkat daging ayam yang telah empuk tadi, tiriskan.
  3. Goreng ayam hingga berwarna kuning kecokelatan.
Ayam sudah diungkep, siap untuk digoreng.

Tips tambahan: 
  • Bumbu bisa diblender bersama air (aku males ngulek :D) tapi jangan lupa kemiri dan kunyit tetap harus digoreng dulu agar tidak bau 'langu' <- entah ini Bahasa Indonesianya apa
  • Sisa air rebusan (berupa bumbu kental, bukan air lagi) bisa dimanfaatkan untuk membuat kuah soto ayam. Pernah kuceritakan di sini.
  • Ayam yang sudah diungkep bisa disimpan dalam wadah kedap udara, simpan di kulkas, dan goreng sewaktu-waktu kita butuhkan. Jangan lebih dari seminggu ya nyimpennya :D Ini tips buat ibu bekerja sepertiku yang hanya punya waktu beberapa menit di pagi hari untuk memasak.

Kamis, 27 Juni 2013

Kusemai Cinta dan Kuingin Mereka Memetik Hasilnya

Anak-anakku bersama sepupu-sepupunya di Taman Lalu Lintas Bandung Juli 2011

"Mbak gimana rencana kita ke Taman Safari? Jangan Sabtu ini ya, aku gak bisa soalnya harus ke Palembang." message dari Maya, adik iparku. Sudah sejak beberapa bulan yang lalu kami merencanakan untuk liburan bareng ke Taman Safari, tapi terus tertunda karena berbagai alasan. Karena kesibukan kami masing-masing lah yang terutama.

Duh kalau Sabtu ini gak bisa, kapan lagi ya? Sabtu depannya sudah mepet bulan Ramadhan. Dan liburan anak-anak pun sudah berakhir. Yaah.... gak jadi lagi. Sedih deh.
Gimana gak sedih. Liburan bersama ini sebenernya menjadi agenda pentingku. Aku ingin anak-anak sering berkumpul bersama sepupu-sepupunya, biar mereka akrab, dekat, dan tetap saling mencintai hinggai mereka dewasa kelak. Kalau cinta mereka tidak disemai sejak mereka kecil, aku gak yakin di saat mereka dewasa kelak akan saling mencintai, saling merindukan, dan mempunyai ikatan batin yang kuat seperti layaknya saudara. Sudah kutemukan banyak contoh yang seperti ini. Bersaudara tapi tidak merasa bersaudara. Tidak ada cinta, tidak ada rindu, tidak ada ikatan batin.

Masa kecilku yang kuhabiskan di sebuah kampung di Magelang penuh dengan cerita indah bersama saudara-saudaraku. Bapakku yang sepuluh bersaudara menikahi ibuku yang lima bersaudara dan berasal dari kampung yang tidak jauh dari kampung bapakku. Sebagian besar saudara bapak dan ibuku tinggal di Magelang. Jadi setiap liburan atau lebaran aku, kakak dan adikku, beserta sepupu-sepupuku yang sangat banyak itu pasti menghabiskan waktu bersama.

Jangan dibayangkan kami liburan bersama ke luar kota atau bahkan ke luar negeri. Bukaaan... sama sekali jauh dari itu. Liburan biasanya kami isi dengan menginap di rumah nenek (hihi.. text book banget yaa..) atau menginap di rumah Bude/Pakde atau Bulik Paklik. Kalau yang rumahnya deketan ya gak nginep laah... tapi aku bisa seharian main di situ. Saat liburan SD dulu, tempat main favoritku adalah rumah Bude Parwati, selain karena pohon jambunya yang mudah dipanjat dan berbuah lebat, juga karena Mbak Atin dan Mbak Retno sepupuku ini punya banyak koleksi majalah Bobo, majalah Ananda, dan satu set permainan monopoli, yang pada jaman itu masih jarang dimiliki oleh anak-anak di kampungku.

Libur Lebaran pun begitu, selalu diisi dengan kegiatan saling mengunjungi dan acara pertemuan keluarga besar. Kami berombongan pergi ke desa Paingan, kampung asal kakekku. Desa yang letaknya di daerah pegunungan dan berhawa sejuk ini wajib dikunjungi setiap hari keempat Lebaran. Kegiatan yang membosankan, itu yang ada di pikiran masa kecilku. Tapi sekarang sering kurindukan momen-momen itu. Bercanda bersama para sepupu, memetiki bunga liar, tiduran di rumput tebal, menghirup udara segar pegunungan, dan membiarkannya memenuhi paru-paruku (walau kadang samar-samar tercium aroma kotoran sapi hihihi....).

Desa Paingan,  Lebaran 1986
Lebaran bersama keluarga besar ibuku pun tidak jauh berbeda. Hari kedua Lebaran adalah hari wajib kami berkunjung ke desa Pucang, desa di mana keluarga kakek dari pihak ibuku tinggal. Kunjungan lebaran yang melelahkan, karena kami harus berjalan keliling kampung yang berbukit-bukit, akan tetapi menjadi kenangan indah saat dikenang sekarang. Selalu kuingat bagaimana kami bercanda di sepanjang jalan, saling menggoda, saling ejek, dan tertawa bersama. Kuingat juga rumah favorit kami yaitu rumah salah seorang Mbah di mana di rumah ini kami disuguhi minuman bersoda -Fanta, Sprite, dan Coca Cola- yang bagi kami saat itu adalah minuman mewah. Dan kami betah berlama-lama di rumah itu, menyeruput 'minuman bersemut' itu pelan-pelan,  sambil tertawa-tawa bahagia.


Masa kecil yang indah, hangat, dan penuh suasana kekeluargaan inilah yang ingin kuberikan juga kepada anak-anakku, agar saat mereka dewasa kelak mereka mempunyai kenangan indah yang menciptakan ikatan batin dan cinta terhadap saudara-saudaranya. Kalau di saat mereka kecil saja jarang bertemu, jarang berkomunikasi, atau bahkan gak kenal, bagaimana bisa di saat dewasa kelak mereka bisa saling mencintai sebagai saudara?

Aku dan sepupu-sepupuku yang dulu dekat dan akrab pun kini serasa jauh. Masing-masing telah sibuk dengan urusan pekerjaan dan keluarga kecilnya. Bertemu setahun sekali pun belum tentu bisa. Untunglah jaman sekarang jaman media sosial. Facebook, BBM (blackberry messenger), dan media sosial lainnya lah yang menjadi alat 'kumpul-kumpul' kami. Aku bikin group Keluarga Busri Jauhari dan group Darmo Sudiro Family di Facebook maupun di BBM sebagai wadah silaturahmi. Dan di grup itu serasa kutemukan kembali masa kecilku. Bercanda, saling menggoda, saling ejek dan tertawa bersama. Berbagi kebahagiaan maupun kesedihan. Suka maupun duka. Ya, walaupun terbatas, tapi cukuplah itu untuk menyemai cinta kami kembali.
 
 

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away Niken Kusumowardhani.



Senin, 24 Juni 2013

Bakpao Rendang


Libur tlah tiba... Libur tlah tiba... Hore.. Horee....
Anak-anak sudah mulai libur panjang, mamanya sih teteup... Gak ada libur panjang kecuali cuti hehe..
Bikin apa ya mumpung lagi pada ngumpul di rumah? 
Hmm..Mikser yang rusak masih belum diperbaiki, berarti harus bikin sesuatu yang tidak perlu menggunakan mikser. Bakpao. Ya,bakpao. Udah lama gak bikin bakpao. Biasanya aku bikin bakpao isi kacang hijau atau isi ayam, sekarang aku mau bikin bakpao varian baru, bakpao isi rendang.
Resep bakpaonya menggunakan resep yang biasa aku pakai untuk Bakpao Kacang Hijau atau Bakpao Ayam. Hanya isinya saja yang kuganti.
Ternyata enak lho... Beneran, enak. Mungkin karena rendangnya emang udah enak sih, hihi... Aku pakai rendang kemasan siap pakai yang rasa original, gak pedes, jadi anak-anak pun suka.    


Bahan: 

Bahan Biang:
  • 500 gr tepung terigu protein rendah
  • 1 bks / 11 gr ragi instan
  • 300 ml air
Bahan lain:
  • 300 gr tepung terigu protein rendah
  • 2 sdt baking powder
  • 150 gr gula bubuk -> aku pakai gula pasir
  • 100 gr mentega putih -> aku pakai mentega biasa (kuning)
  • 100 ml air
Isi: 
  • 300 gr rendang, suwir-suwir dagingnya -> pilih rendang yang kering, tidak berkuah
 

Cara membuat:

  1. Adonan Biang: Taruh tepung terigu dan ragi dalam mangkuk, aduk rata lalu tuangi air sedikit demi sedikit sambil diuleni sampai kalis. Tutup adonan dengan plastik atau serbet lembap, diamkan adonan selama kurang lebih 1 jam sampai mengembang 2 kali lipat.  
  2. Masukkan tepung terigu, baking powder, gula, dan mentega ke dalam adonan biang. Uleni lagi sambil ditambahkan air sedikit demi sedikit sampai adonan rata dan kalis.
  3. Setelah kalis, ambil adonan kira-kira lebih besar dari bola pingpong atau timbang adonan masing-masing 30 gr lalu bulatkan. Diamkan lagi 10 menit.
  4. Ambil satu bagian adonan, pipihkan, isi dengan rendang, bulatkan lagi.
  5. Letakkan tiap bagian di atas potongan kertas roti atau mangkuk kertas.
  6. Panaskan panci pengukus sampai airnya mendidih, lalu kukus bakpao selama ± 15 menit. 


Resep ini diikutsertakan dalam Giveaway Randang Padang Restu Mande, Fanpage :https://www.facebook.com/restumande?ref=tn_tnmn dan Twitter @restumande.

Selasa, 11 Juni 2013

Salon, Hijab Stylist, I Need You... (Tumben)

Jadi ceritanya kemarin sore itu aku janjian sama anakku di PUSDAI sepulang bekerja. Anakku berada di PUSDAI dalam rangka gladi resik acara Wisuda Siswa besok paginya.

M: Gimana Kak, udah beres semua persiapannya? Harus berangkat jam berapa besok?
K: Biasa aja kaya ke sekolah, Kakak dari rumah jam setengah enam.
M: Emang acaranya jam berapa?
K: Jam 7. Tapi kan panitia mah harus datang pagi-pagi.
M: Ooo.. Keburu gitu? Kan Kakak dimake up dulu?
K: Ya dimake up dari rumah.
M: Hah? Make up sendiri? Kirain dimakeupin sama sekolah...

Panik deeh.... Dari kemarin dia gak bilang kalau harus make up sendiri. Cuma bilang harus pakai dress warna merah maroon, dan urusan dress ini sudah beres seminggu sebelumnya. (Baca ceritaku yang ini.). Waduuh... di mana ya nyari salon atau tukang make up plus hijab stylist subuh-subuh gitu? Panik.. paniik.. ini sekarang udah maghrib. 

Sambil jalan pulang harus nemu salon yang masih buka nih! Oh iyaa... manfaatin dunia maya. Sambil nyetir -untungnya lalu lintas Bandung petang itu macet seperti biasa- aku update status di Facebook dan BBM (Blackberry Messenger). "Help.. Need hijab stylist & make up utk besok pagi2. Ada info please.." Dan respon pun berdatangan. 
Kebanyakan menyarankan untuk ke Shafira, Rabbani, atau Alisha yang emang ngetop di Bandung. Tapii... kan jauh dari rumah.. perlunya subuh-subuh gitu, harus berangkat jam berapa? Coret. Ada juga yang menyarankan salon ini, salon itu, mamanya si ini, temen kuliahnya dll... tetep aja jauh.. Coret juga. Ada juga sih yang bersedia dipanggil ke rumah. Tapi rumahnya jauh dari rumahku. Dipertimbangkan, jangan dicoret dulu. Sambil nyetir dan bales beberapa BBM aku celingak celinguk di sepanjang jalan yang kulalui mencari salon yang masih buka. Dan tahukah Saudara, apakah yang dilakukan anakku ketika mamanya pontang panting panik begini? Tidur pulas di mobil....!! Badanmu memang sudah besar Nak, tinggimu bahkan melebihi Mama.. tapi kelakuanmu tetep masih anak-anak.. Dan Kamu memang masih anak-anak sih... masih sangat berhak merepotkan mamamu ini. (Jadi mellow deh..)

Oke lanjuut...  Beberapa temanku ada yang menyarankan untuk dimakeupin sendiri saja, buat anak SMP kan make upnya gak terlalu macem-macem, katanya. Huaaa.... mana bisa? Aku gak pernah make up-an. Buat dandanin diri sendiri aja -yang cuma bedak sama lipstick- gak bisa rapi atau bagus. Kalau terlihat cantik ya itu sih udah dari sononya.. <- ini dicoret karena takut diprotes dan blogku direport as SPAM.
Udah gitu acara wisudanya ini di PUSDAI which is gedung acara pernikahan paling keren kedua di Bandung setelah SABUGA. Menurutku siih..Gak tau deh kalau ada yang lebih keren lagi, yang jelas aku gak tau karena belum pernah dapet undangan nikah di tempat yang lebih keren tersebut hehe...

Panik, mikir, nyetir. Nah sudah hampir masuk komplek perumahan tempat tinggalku, di pinggir jalan ada tulisan ZOUFA Salon Muslimah. Aku lihat lampunya menyala. Tadaa...! Berhentilah aku di situ. Kuketok-ketok pintunya, sepi, gak ada yang bukain pintu. Ada nomer telponnya yang ditulis di spanduk. Kutelpon, gak diangkat. Gontai, kembali ke mobil. Aku cek HP-ku dan beberapa BBM dari teman-temanku. Ada notifikasi dari Facebook juga. Kubaca sekilas, belum ada solusi. Eh ada BBM dari Diah, sepupuku yang dulu kuliah di Bandung dan pernah tinggal bersamaku. "Salon yang deket Masjid Muhajirin udah gak ada Mbak? Yang dulu make up aku pas wisuda." O iyaaa...... gara-gara panik aku malah lupa sama salon dekat rumah. Benny Salon. Dulu waktu Diah wisuda juga kan Om Beny ini mau  dibangunin subuh-subuh untuk merias Diah. Mampirlah aku ke situ, dan dia bisa. Alhamdulillah.... *bernafaslega
 Eh tapi bisa gak Om kalo dandanin jilbab? Bisa, katanya. Beres deh.

Aku pulang dengan gembira. Tapi si Kakak yang baru bangun tidur masih males-malesan gitu ekspresinya. Protes. "Kenapa sih gak Mama aja (yang dandanin)?" Iiih... ni anak, gak tau kalau mamanya gak bisa. Sedangkan dua orang temannya aja pada manggil perias dan hijab stylist dari Shafira, masa anakku dibedak-lipstickin doang? Oh ya just FYI, Wisuda Siswa Darul Hikam ini -dan acara DH lainnya juga- menggunakan 3 bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris, jadi MC-nya 3 orang. Satu siswa SMA, satu siswa DHIS (SMA juga), dan anakku satu-satunya siswa SMP. Dia bertugas membawakan acara dalam Bahasa Arab.
"Gak papa Kak, Mama udah bilang ke Om Beny kok kalau Kakak maunya dimakeup minimalis aja."
Anakku setuju, tapi dia mau jilbabnya dipasangin sama mama aja. Baeklaaah... Dan malam itu pun kami berdua mencoba aneka gaya jilbab dengan panduan Buku Tutorial Hijab. Pake buku? Iyaa... abis emaknya ini gak bisa juga masang jilbab yang dimacem-macemin gitu. Ndeso yaa? *tutupmuka

Dan akhirnya yang dipilih pun gaya yang paling simple. Selain karena anakku gak mau macem-macem (takut malah aneh katanya) aku juga lebih merasa nyaman ngeliat anakku dengan gaya polosnya itu. She's just a child...

Pagi-pagi setelah sholat subuh anakku berangkat sendiri ke salon Om Beny itu. Jam setengah 6 dia nelpon minta dijemput. Dan hasilnya adalaaah... anakku cemberut. Aneh! katanya. "Ih Kak, cantik.. Bagus kok. Malah menurut mama kurang kelihatan. Kaya gak pake make up kok. Coba sini difoto.. biar Kakak lihat kalau bagus."

Gak mauuu... lihat nih dia cemberut dan gak mau difoto... 

 Ah ya sudahlah...
Mudah-mudahan sukses nge-MC-nya ya Kak..

Dan tahu gak kenapa dia cemberut sesorean kemarin? Ternyata teman-teman sekelasnya hari ini pada mau ke TSB (Trans Studio Bandung). Mumpung libur, dan yang lain belum libur. Kalau ke TSB di musim liburan dijamin ngantrii... Dan kalau ke TSB hari ini (hari Selasa = hari kerja) harga tiketnya lebih murah. Dan Kakak kesel banget gak bisa ikutan temen-temannya ke TSB, karena dia harus bertugas. Oalaah...





 *Sebagai mama ndeso, mama bangga padamu Kak. Lha wong mama ini Bahasa Arab bisanya cuma 'assalamu alaikum' doang Kakak bisa terpilih nge-MC berbahasa Arab. Terima kasih guru-guru di SDIT Luqmanul Hakim, terima kasih ustadz-ustadz di Madrasah Al Amanah, terima kasih guru-guru di Darul Hikam, yang telah mengajari anakku berbahasa Arab.

Senin, 10 Juni 2013

Puding Telur Ceplok


Semenjak gabung di group Kumpulan Emak Blogger di Facebook, aku jadi rajin melakukan blogwalking, mengunjungi blog emak-emak yang ternyata keren-keren itu, menimba ilmu baik ilmu tentang blogging, kepenulisan, masakan, dan all about emak-emak lainnya.

Malam Sabtu kemarin ada yang posting resep Puding Telor Ceplok yaitu Mbak Julia, dan aku langsung pengin bikiiin... Gemeeess... abis pudingnya lucuu.. hihi.... Dan pengin manfaatin secuil labu kuning yang udah sebulan lebih ngumpet di pojok kulkas, sisa bikin Pumpkin Cake.

Ini dia resepnya, aku contek dari blognya Mbak Julia, dengan sedikit modifikasi. Cetakannya aku pakai cetakan kue cubit untuk 'kuning telur'nya dan tatakan gelas serta wajan telur ceplok untuk 'putih telur'nya. Let's see...

Bahan I:
  • 200 gram labu kuning, dikukus, dihaluskan
  • 300 ml santan
  • 50 gram gula pasir
  • 1/4 sdt garam
  • 1 bks (7 gr) agar-agar bubuk plain
  • 1 tetes pewarna orange
Bahan II:
  • 500 susu cair -> resep aslinya pakai santan, tapi kuganti susu karena kalau pakai santan takut bagian putihnya terpisah dan pudingnya jadi gak cantik lagi..  Yang jelas sih anak-anak lebih suka rasa susu dari pada santan.
  • 125 gr gula pasir
  • 1/2 bks agar-agar bubuk
  • 1/2 bks jeli bubuk
  • 1/4 sdt garam 
Cara Membuat:

 
1. Campur dan aduk bahan I kecuali labu. Rebus hingga mendidih, masukkan labu, aduk, matikan api. Tuang ke dalam cetakan kue cubit. Dinginkan sampai beku. 
2. Campur dan aduk bahan II. Rebus hingga mendidih, matikan api. Sisihkan. 
3. Lepaskan puding yg dicetak dalam cetakan kue cubit. Taruh ke dalam tatakan gelas atau wajan telur ceplok. Letakkan terbalik, bagian pantat di atas. Tuang adonan puding putih (bahanII) ke dalam mangkok lalu dinginkan hingga beku.
Tadaa.... jadi deh telur mata sapi... hehe... Teksturnya mirip telur beneran loh.. Yang putihnya licin dan kenyal karena pakai jelly, yang kuning agak padat dan bertekstur karena pakai labu kuning. Oh ya, labu kuning bisa diganti ubi kuning yaa... 

 

MPASI : Bubur Beras Merah Tempe

Setelah pisang, MPASI kedua Jindra adalah Bubur Beras Merah Tempe. Kenapa bubur beras merah? Karena beras aman dan jarang menimbulkan alergi. Kupilih Tepung Gasol Beras Merah sebagai bahannya, karena Tepung Gasol ini terbuat dari beras merah organik yang masih memiliki kulit ari. Kubikin sekaligus untuk beberapa porsi pemberian, biar praktis. Kusimpan di freezer dan nanti tinggal dihangatkan menjelang diberikan.

Percobaan pertama lumayan, berhasil masuk setengah porsi. Javas yang penasaran dan amazing karena adiknya sudah mulai makan bubur, mencicipi buburnya Jindra. Dan.... "Yaks.. gak enak!", katanya.... Hahaha... ya iyyalah A, bubur Jindra ini plain tanpa rasa karena gak kutambahkan garam dan gula. Berdasarkan beberapa artikel yang kubaca, makanan bayi tidak perlu ditambahi garam maupun gula karena garam dan gula tidak memberikan tambahan nutrisi, tetapi akan memperkenalkan suatu standar rasa enak pada lidah. Pemberian garam pada makanan bayi akan membuat ginjal bekerja berat. Sedangkan pemberian gula pada makan atau minuman bayi akan mengakibatkan kerusakan pada gigi saat gigi susu bayi tumbuh. Sabar ya De, nanti deh beberapa bulan ke depan baru kenalan sama garam dan gula... dikit-dikit aja tapi..

Bahan:
  • 50 gram Tepung Gasol Beras Merah
  • 50 gram tempe
  • 700 ml air
Caranya:
  • Blender tempe sampai halus, campurkan tepung beras, aduk rata, jerang di atas api, aduk sampai matang (kurang lebih 10 menit), angkat.
  • Catatan : Kalau  tepung dimasukkan ke air mendidih akan timbul gumpalan dan sulit dihaluskan. Jadi tepung dan air harus diaduk dulu pada suhu ruang.
 
 
 
 
 

Pisang Aroma


Punya pisang nangka dan bosen dengan pisang goreng atau pisang kukus? Bikin pisang aroma aja... pisang aroma atau ada yang menyebutnya pisang karamel. Gampang kok... Segampang bikin pisang goreng. Cukup sediakan kulit lumpia dan gula. Dan minyak goreng tentu saja hehehe...

BAHAN:

  • 4 buah pisang nangka (pisang tanduk juga boleh)
  • 30 lembar kulit lumpia
  • 75 gr gula pasir
  • 1 sdm terigu, larutkan dlm sedikit air utk merekatkan

CARA:

  • Potong pisang kecil memanjang, berukuran kira-kira 10x1x1 cm.
  •  Letakkan potongan pisang di atas selembar kulit lumpia, taburi sedikit gula pasir, gulung, rekatkan dengan terigu, goreng.
Selain pisang, keju enak juga loh dibikin 'Keju Aroma'. Cara membuatnya sama persis dengan cara membuat pisang aroma. Cobain deh...

Jumat, 07 Juni 2013

Popcorn Cokelat

Nyoba lagi resep simple-nya Chef Yuda Bustara host acara Urban Cook di Kompas TV, popcorn manis rasa cokelat. Bikinnya gampang banget, hasilnya oke banget. Dari pada beli popcorn di mall mahal banget, mending bikin sendiri yuk... :)

Bahannya...

• 1/4 cangkir biji jagung
• 1 sendok teh minyak zaitun
• 1 sendok makan cocoa powder
• 2 sendok teh tepung gula
• 1/8 sendok teh kayu manis
• 1/8 sendok teh garam -> aku gak pake karena masak popcornnya pake mentega asin
 

Caranya...

1. Masak jagung dengan sedikit minyak atau mentega sampai menjadi popcorn dalam panci.
2. Beri popcorn dengan minyak zaitun, lalu aduk dengan sisa bahan.


Klepon Ubi Ungu


Berhubung mikserku rusak,  bikin klepon aja yuk..
Aku belajar bikin klepon pertama kali saat masih SD, entah kelas berapa, kayanya kelas kelas awal gitu deh. Tetangga sekaligus tukang bantu nyuci ibuku, Yu Sinah, yang mengajariku. Yu Sinah dan Kang Badri suaminya memang tiap hari bikin klepon dan getuk lindri untuk dijual dititipkan di warung dekat rumah. 

Cara membuatnya sangat mudah, bahkan aku waktu itu pun bisa langsung praktek sendiri bikin klepon di rumah. Tepung ketan dicampur air, garam dan pewarna hijau, diuleni sebentar, dipulung, diisi gula merah, rebus, gulingkan di kelapa parut, jadi deh. O iya, Yu Sinah mengajari juga untuk menambahkan sedikit air kapur sirih di adonan, maksudnya agar nanti kleponnya 'gempi'. Aku gak tahu apa padanan kata Bahasa Indonesia yang pas untuk 'gempi' ini. Kenyal? Rasanya bukan. Tidak benyek, tidak buyar, semacam itulah..

Dan kali ini aku pengin bikin klepon ubi ungu, memanfaatkan ubi ungu yang tersisa. Tetep pakai ketan sebagai campuran. Tapi aku gak pake air kapur sirih. Selain gak punya, aku juga gak tahu air kapur sirih itu aman atau tidak dikonsumsi. Dan hasilnya tetep bagus kok, legit.. ketan gitu loh..

Bahan-bahan:

  • 250 gr ubi ungu, kukus, haluskan
  • 250 gr tepung ketan putih
  • 150 ml air / secukupnya
  • garam secukupnya
  • 150 gr gula merah, potong kecil-kecil
  • 200 gr kelapa parut, kukus dengan tambahkan sedikit garam

Cara Membuat:

  1.  Campur ubi, tepung ketan, garam. Tambahkan air sedikit demi sedikit sampai adonan dapat dipulung.
  2. Bulatkan adonan sebesar kelereng, pipihkan, isi gula merah, bulatkan kembali. 
  3. Rebus dalam air mendidih sampai mengapung, angkat, tiriskan.
  4. Gulingkan klepon dalam kelapa parut. 

Selamatkan Pangan

Sejak kecil aku sudah dibiasakan oleh ibuku untuk tidak membuang-buang makanan. Ora ilok, katanya. Pamali mungkin bahasa Sundanya. Konon katanya makanan yang kita buang itu akan menangis, mengadu kepada Gusti Alloh, mengadukan perbuatan kita menyia-nyiakannya. Dan kelak Gusti Alloh akan menghukum kita dan anak cucu kita dengan tidak memberi rejeki berupa makanan lagi. Tidak punya makanan, alias jatuh miskin. Bahkan ibuku memberi contoh, seorang tetangga yang miskin, dulu adalah orang kaya. Tapi karena suka menyia-nyiakan makanan maka sekarang di masa tuanya jadi miskin.

Entah itu cara ibuku menanamkan kebiasaan untuk tidak memubazirkan makanan, atau trik agar kami anak-anaknya mau menghabiskan makanan kami. Yang jelas, sampai dengan hari ini aku termasuk orang yang anti dengan pemubadziran makanan. Kalau ada makanan, sikaat.. Hehehe... Bukan itu. Aku adalah orang yang selalu merasa berat hati, 'eman-eman' kalau harus membuang makanan. Sebisa mungkin makanan itu dimanfaatkan selama masih bisa dikonsumsi.
 
Hari ini (5 Juni)adalah Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Indonesia mengusung tema Ubah Perilaku dan Pola Konsumsi Untuk Selamatkan Lingkungan, yang selaras dengan tema yang dikeluarkan oleh Badan Lingkungan Hidup Dunia, United Nations Environment Programme (UNEP), yaitu “Think, Eat, Save”. Tema Hari Lingkungan Hidup yang diusung adalah “Ubah Perilaku dan Pola Konsumsi Untuk Selamatkan Lingkungan” dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang mudah serta membuka kesadaran kita semua/masyarakat atas pentingnya menyikapi pemanfaatan makanan dan sumber daya alam termasuk pemanfaatan bahan makanan secara bijak.(Sumber : Kementerian Lingkungan Hidup )

Himbauan untuk tidak membuang-buang makanan. Hmm... aku jadi terisnpirasi untuk berbagi cerita mengenai apa yang sudah kulakukan untuk menghindari terbuangnya makanan. Cekidot.

Yang pertama adalah nasi. Nasi yang tersisa sedikit di Magic Com memang menimbulkan dilema (halah.....). Mau masak lagi, tanggung. Gak masak, kurang. Ya sudah akhirnya masak lagi, dan bisa ditebak, kalau sudah ada nasi baru pasti nasi sisa tadi/kemarin jadi gak laku. Dibuang? Jangan dong... Dibikin nasi goreng? Bosen lah tiap hari bikin nasi goreng.Tiap hari ada nasi sisa di dapurku. Yang aku lakukan adalah memasukkan nasi itu ke dalam wadah kedap udara, dan simpan di kulkas. Kalau besok ada nasi sisa lagi, gabungkan. Untuk apa? Ya dibikin nasi goreng hehehe... Tapi kan gak tiap hari bikin nasi gorengnya... :)


Yang kedua lauk teman nasi. Lauk yang banyak dan belum habis, kemudian dihangatkan berulang kali, dijamin gak laku di meja makanku. Lebih baik hidangkan secukupnya, sisanya simpan di kulkas. Dan dia baru boleh muncul 2 atau 3 hari kemudian, dengan teman pendamping yang berbeda. Misalnya ayam goreng. Hari Senin dia tampil bersama sayur sop dan tahu, hari Kamis dia boleh muncul bersama urap dan tempe goreng tepung. Atau boleh juga 'berganti baju', ditambahi bumbu merah jadi ayam balado, dibumbui kecap jadi ayam semur. Atau bisa 'berubah wujud' disuwir-suwir dicampur ke bihun goreng. Apa saja yang penting si ayam goreng tadi gak terbuang.


Kemudian buah-buahan. Ada beberapa buah tertentu yang cepat matang dan tidak tahan lama walau disimpan di kulkas. Pisang, sirsak, nanas, strawberry, dll. Dari pada kematengan, atau benyek walau sudah disimpan di kulkas, lebih baik bersihkan (kupas), masukkan dalam kantong plastik, dan simpan di freezer. Bisa dibikin jus sewaktu-waktu kita pengin, atau pisang bisa dibikin Banana Cake atau diblender bersama susu dan strawberry jadi jus pisang yang lezat.


Selanjutnya apa lagi ya? Roti tawar bisa dibikin puding. Cake atau brownies bisa dibikin Ice Cream Cake. Sisa bumbu ngungkep ayam pun bisa dimanfaatkan. Tambahkan air, didihkan, masukkan bawang merah + putih goreng, garam, merica bubuk. Tambahkan irisan daun bawang seledri. Tadaa... Jadilah kuah soto ayam. Tinggal tambah soun, tauge, dan ayam suwir, jadi deh soto ayam. 


Percayalah, masih banyak orang yang kelaparan di luar sana. Sebisa mungkin tidak ada makanan terbuang. Masak secukupnya, belanja seperlunya. Makanan yang tidak habis jangan langsung dibuang. Yang bisa didaur ulang ya daur ulang. Kalau gak bisa, ya habiskan. Biasanya para ibu nih yang jadi tempat penampungan makanan sisa, dengan alasan sayang kalau mubadzir. Dan hasilnya  badan makin melar hihi... Bagi-bagi ke tetangga, kasih ke tukang cuci di rumah, tukang rumput, atau tukang sampah. Atau bawa keluar, di perempatan jalan kan banyak anak jalanan, berikan. Atau bungkus rapi, masukkan kresek, gantung di pagar rumah, kasih tulisan : "Makanan masih layak makan, silahkan ambil". Apa pun deh, asal jangan dibuang. Lakukan segera selama makanan masih layak makan, daripada masuk ke tempat sampah, nanti dia menangis..... :)


Selasa, 04 Juni 2013

Urusan SIM Mahal dan Ribet?

Sabtu pagi itu seperti biasa suamiku masih tidur. Meskipun telah tidur semalaman di bus dalam perjalanan panjang Kebumen-Bandung, tapi katanya belum hilang lelah kalau belum tidur di kasur. Sudah kusampaikan bahwa Sabtu ini aku harus mengurus perpanjangan SIM-ku, dan suamiku bersedia mengantar, tapi nanti setelah tidur.

Jam 8 kubangunkan suamiku yang masih pulas tertidur itu, mandi, sarapan dan jam 9 berangkatlah kami ke Polres Bandung. Perjalanan yang lumayan jauh ini lumayan lancar, dan sampailah kami di Polres Bandung sekitar jam 10.30. Langsung kucari loket Pelayanan SIM. Daaaan…..

Pendaftaran SIM hari Sabtu cuma sampai jam 10??? Tidaaaak...... Masa sih perjalanan jauh di hari Sabtu yang sangat berharga ini harus berakhir sia-sia?
Bukan ibu-ibu namanya kalau menyerah begitu saja. Aku coba bicara dengan polisi yang sedang ngobrol di meja pendaftaran itu.

"Bisa dibantu Bu?" sapanya ramah.

"Mau perpanjangan SIM Pak." jawabku.

"Sudah tutup Bu, kami cuma menerima pendaftaran sampai jam 10 saja kalau hari Sabtu."

"Cuma perpanjangan aja kok Pak."

"Gak bisa Bu."

"Tolonglah Pak.. Saya kan kerja, jadi bisanya cuma hari Sabtu aja."

"Sabtu depan aja Ibu ke sini lagi yaa.."

"Rumah Saya jauh Pak. Dan suami saya itu kerjanya di luar kota Pak, pulangnya cuma seminggu sekali, gak setiap saat bisa nganter Saya." <- sumpah ini malu-maluin banget ya, kenapa jadi curhat sama polisi yang sama sekali gak kukenal itu?

"Maaf Bu, gak bisa." 

Walaupun polisi itu tetap menjawab dengan ramah, tapi tetap saja aku gondok luar biasa, mengutuki diri sendiri. Kenapa aku gak nyari info sebelumnya? Kenapa aku gak nelpon dulu? Kenapa.. Kenapa... Ah sudahlah...

Sabtu berikutnya pagi-pagi suamiku sudah rapi. Melihat aku belum mandi dan masih 'riweuh' di dapur, dia pun sedikit mengomel. " Ayo laah.. jangan sampai telat lagi. Udah tau kemarin telat, eh sekarang nyantai-nyantai. Bukannya siap-siap dari pagi. Suka banget sih mepet-mepet?"

Nah lo... diomelin deh... bukannya nyantai-nyantai Papaaa.. Tapi kan yang namanya emak-emak pasti repot lah pagi-pagi. Nyiapin ini itu, begini begitu dlldsb. 

Okey, aku pun mandi secepat kilat, ganti baju, sambar jilbab, sambar tas, masuk mobil. Pakai jilbab, sarapan, dandan, nanti di mobil saja. Jam 8 kami pun berangkat dari rumah.  Untung anakku gak rewel saat kami tinggal bersama pengasuhnya.

Dan ternyata macet! Jalan Dayeuh Kolot itu sedang diperbaiki. Panik deh aku... 

Selepas macet di Dayeuh Kolot itu suamiku memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Salip ini, salip itu, klakson-klakson pengendara motor yang menghalangi, bahkan jalan rusak pun dilewati dengan kecepatan tinggi. Dan akhirnyaa.. Jam 9.55 sudah kulihat plang Kepolisian Negara Republik Indonesia Resort Bandung itu. Aku turun di pelataran dan langsung berlari ke meja pendaftaran, sementara suamiku memarkirkan mobil.

"Mau perpanjangan SIM Pak, masih bisa kan?" ujarku sambil ngos-ngosan, efek lari.

"Sudah tes kesehatan Bu?" jawab Bapak Polisi itu.

Apaaaa??? Harus tes kesehatan dulu? Kenapa Sabtu kemarin aku gak nanya prosedur?? Kembali aku mengutuki diri sendiri.  Aduuh... sia-sia lagi deh. 
"Belum Pak." aku menjawab dengan putus asa dan (mungkin) wajah memelas.

"Ibu tes kesehatan dulu, nanti kalau sudah punya surat hasil tes kesehatan itu baru daftar ke sini."

"Tesnya di mana Pak?"

"Di klinik, itu Bu, seberang kantor." kata Polisi itu sambil menunjuk ke kejauhan. Dan klinik yang dia tunjukkan itu sama sekali gak terlihat olehku.

"Pak, saya daftar dulu aja ya, nanti baru tes kesehatan." (Keluar lagi deh jurus ngeyelnya emak-emak).

"Tes dulu Bu, baru daftar."

"Tapi kalau tes dulu baru daftar nanti Saya balik ke sini pendaftaran sudah tutup Pak."

"Enggak Bu, Saya tungguin deh."

"Bener Pak? Bener ya ditungguin. Tolong ya Pak, soalnya Sabtu kemarin Saya udah ke sini dan telat daftar. Balik lagi deh, padahal rumah saya jauh Pak." <- curhat lagiii :D

"Catet aja namanya Bu, nanti kalau bohong laporin KAPOLRI" kata Polisi yang duduk di sebelahnya sambil tertawa.

Aku berlari keluar. Menyeberangi lapangan parkir, celingak celinguk, mencari-cari tulisan Klinik Dokter. Tidak ada. "Itu Bu, sebelah kantin. Tah eta.. yang pintunya terbuka," kata aki-aki tukang rumput.

Oalaah... yang disebut ‘klinik’ ternyata hanyalah sebuah ruangan dengan seorang petugas dan sebuah mesin ketik di mejanya. Petugas itu meminta SIM lamaku untuk melihat identitas, menanyakan berat badan tinggi badan, dan golongan darahku. Ketak-ketik sebentar, dan jadilah surat hasil 'tes kesehatan'ku. Setelah membayar Rp 15.000, aku buru-buru pergi dan kembali  berlari menuju meja pendaftaran. Polisi yang tadi masih ada! Legaa….

Polisi itu memberikan formulir untuk aku isi data pribadi, formulir pembayaran, dan meminta KTP dan SIM lamaku. KTP? Waduuuh... kubawa gak ya? KTP-ku itu tidak muat kumasukkan dalam card holder di dompetku, jadi sering kumasukkan ke dalam kantong kecil di dalam tas coklatku. Eh, tas coklat atau tas hitam ya? Atau tas putih? Panik. Dag dig dug... dag dig dug. Jantungku berdegub sangat kencang saat itu. Perpaduan antara ngos-ngosan akibat lari dan panik. Duuh... kenapa  Sabtu kemarin gak nanya syarat-syarat? Gemetar tanganku saat menelusuri isi tas, dan alhamdulillah KTP-ku ada di sana! *Pengin sujud syukur saking senangnya.

Setelah menyerahkan formulir di loket 3, bayar di bank, aku mengantri lagi di loket 5. Antrian lumayan panjang. Hmm... rupanya banyak juga para pemohon SIM hari ini. Antrian pun maju satu-satu. Saat itulah seorang polisi menghampiriku. "Ke sini aja Bu, ikuti saya." Waduh, apaan nih? Walaupun hatiku bertanya-tanya aku ikuti saja polisi itu, menuju loket 5. Aku tanda tangan di secari kertas, dan prosedur selanjutnya aku seharusnya mengantri untuk diambil foto. Tapi aku dibawa Bapak Polisi itu langsung masuk ke ruang foto, melewati orang-orang yang antri. "Duduk sini Bu," katanya, lalu keluar ruang pemotretan. Aku bertanya-tanya dalam hati, curiga. “Jalur Khusus' nih..” pikirku, “Harus bayar ‘uang rokok’ deh.” :(

Ketika namaku dipanggil oleh petugas foto, kudengar suara polisi yang tadi mengantarku, "Ayo-ayo, masuk ke sini." Dan masuklah serombongan orang  ke ruang foto. Polisi itu keluar lagi dan kudengar suaranya, "Ibu-ibu.. ayo mana lagi ibu-ibu. Sini, yang ibu-ibu lewat sini saja. Ikuti Saya. Ayo masuk."

Ooo... baru paham aku sekarang. Rupanya kami para wanita ini dibebaskan dari antrian. Setelah difoto, aku keluar dan menunggu sebentar untuk mengambil SIM yang sudah jadi. Dua-duanya. Lega dan bahagia rasanya menerima 2 lembar SIM itu.


Lega karena kudapatkan SIM itu dengan harga resmi, tanpa harus membayar uang lain-lain. Aku cuma membayar Rp 155.000 untuk perpanjangan dua SIM itu. Rp 80.000 untuk SIM A dan Rp 75.000 untuk SIM C.

Bahagia karena ternyata urusan memperpanjang SIM itu tak seribet yang aku duga. Bahagia karena bapak-bapak polisi itu baik hati, memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa embel-embel 'uang rokok' lagi. 

Dengan senyum sumringah kutemui suamiku yang duduk di ruang tunggu. Tumpukan majalah itu bahkan masih utuh, belum dibacanya. "Sudah?" tanyanya gak percaya ketika kutunjukkan dua SIM baruku. "Sudah doong..."

Terima kasih Pak Polisi! Maafkan aku telah berburuk sangka.

Cerita yang terjadi di tahun 2011 ini diikutsertakan dalam Kinzihana's Give Away.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...