Senin, 06 Mei 2013

UN-nya Anakku


Setuju atau tidak setuju, suka tidak suka, UN tetap harus diikuti. Walaupun menuai kontroversi toh UN jalan terus. Kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh ujian nasional (UN) memiliki tujuan lain yang jauh lebih penting dibandingkan persoalan kelulusan semata.UN mampu menjadi alat pembangun karakter siswa yakni melatih kejujuran.

Sebenarnya bagus ya, melatih kejujuran. Tapi pada kenyataannya UN justru menjadi ajang pelanggaran nilai-nilai kejujuran. Pelakunya mulai dari oknum Kepala Sekolah, guru, penyelenggara Bimbel, sampai kepada orang tua siswa itu sendiri. Cerita tentang kebocoran soal, beredarnya kunci jawaban, hingga guru membantu menjawab soal, mewarnai penyelenggaraan UN. Demi prestise sekolah, demi larisnya Bimbel, demi bisa masuk ke sekolah 'bagus' dan entah alasan apa lagi yang membuat mereka berlaku tidak jujur. Selain itu, pihak yang tidak setuju UN mengatakan UN menyebabkan anak-anak menjadi stress.

Hari ini giliran anak keduaku yang ikut Ujian Nasional. Stress? Alhamdulillah tidak sama sekali. Malah terlihat sangat santai. Seharian kemarin kulihat dia malah nyetel radio dan nonton TV, karena memang kularang dia main di luar dan main game PS dalam 3 hari ini. "Belajar atuh A, jangan nonton TV terus." Dia pun ke atas dan masuk ke kamarnya. Sejam gak ada suara. Kok tumben? Biasanya anakku ini gak betah diam di kamar. Kulihat ke kamarnya dan ternyataa... dia tidur dengan pulasnya. #tepokjidat

Sudah kubikin jadwal agar dia mau belajar pagi 2 jam dan sore 2 jam. Tapi pagi-pagi baru 30 menit masuk kamar dia sudah turun lagi. Buka-buka kulkas. "Bikin pizza dong Ma", katanya. Bikin pizza itu berarti dia yang bikin karena memang dia hobi masak. Setelah selesai menguleni adonan, kusuruh belajar. Seperempat jam kemudian turun lagi. Ambil minum. Godain adiknya. Nyetel TV. Dimatiin lagi. Tidur-tiduran di lantai. Ada saja alasannya kalau disuruh belajar. Mau makan lah, mau mandi lah, dan mandinya pun sengaja ditunda-tunda. Mungkin ada sekitar 2 jam dia memakai alasan mau mandi itu. Hadeuuuh...

Ya sudahlah, daripada malah stress karena dipaksa akhirnya kubebaskan dia, tapi kuingatkan untuk berhati-hati dan teliti dalam menjawab soal besok. Apa pun hasilnya, ya itulah kemampuan anakku. Waktu melakukan home visit wali kelas anakku bertanya apa targetku dalam UN. Aku bilang aku gak terlalu mementingkan angka hasil UN, yang penting anakku mengerti apa yang dipelajarinya, dan enjoy mengikuti pelajaran di sekolah. Wali kelas pun sepakat, karena sekolah mementingkan proses, bukan hasil. Yang penting anak-anak jujur.

Kalau orang tua yang lain mungkin ada yang sampai bikin resume pelajaran, cuti kerja untuk mendampingi belajar dan melatihkan soal-soal, aku mengingatkan dia untuk belajar pun rasanya sudah cukup. Suamiku menguji dia dengan soal-soal latihan UN yang ada di buku, dan dia bisa semua. Cuma 10 soal sih. Entah karena anakku memang sudah menguasai materi, atau karena soal itu sudah dia baca sebelumnya. Sudahlah, aku percaya saja dengan kesiapan anakku. Sebagai orang tua, aku hanya bisa memberikan dukungan moral dan doa.

2 komentar:

  1. "Misalnya gini, dulu waktu SD Kakak suka sama X, kayanya X ini yang paling oke, paling keren. Ketika Kakak sudah SMP dan ketemu lebih banyak temen, ternyata si X ini jadi gak oke lagi. Ternyata banyak yang jauh lebih keren dari X. Ternyata X itu culun, misalnya. Jadi enakan temenan aja kan? "

    ini mah samaaaa kayak jawabankuke anak anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbaaak... ini kayanya komen utk "Pacaran Itu Apa, Ma?" hihi.... salah posting yaa..

      Toss Mbak... jawaban kita sama hehe.. Kayanya itu yang paling masuk di logika mereka kan...

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...