Rabu, 01 Mei 2013

May Day

May Day...  May  Day... Hari Buruh Sedunia = Hari Demo Buruh di Indonesia. Demo di mana-mana, macet di mana-mana. Tadi siang kudengar dari radio mereka (yang berdemo itu) beralasan  sekali-sekali gak papa bikin macet Bandung. What? Sekali-sekali? Gak sadarkah mereka kalau Bandung tiap hari udah macet? Hadeuuuh.....

Jadi ingat waktu masih berkantor di Cimareme. Sebelah kantorku adalah pabrik obat tetes mata. Setiap may day pasti ratusan motor ramai menderung-derung di depan pabrik, dan puluhan lainnya merangsek masuk. Mereka menjemput paksa para buruh di pabrik obat ini. Dari lantai 2 kantorku kuamati, terlihat jelas mereka sebenarnya terpaksa ikut demo. Demi solidaritas, atau takut barangkali.

Kenaikan UMR. Kenapa selalu ini yang dituntut ya? Penting banget gitu? (Uups... bisa didemo para buruh nih aku. Jangan salah, aku buruh juga kok.. buruh negara. ) Bukankah lebih penting nuntut turunkan harga sembako, misalnya, atau nuntut perbaiki infrastruktur (secara jalan di Bandung nih udah gak ada yang rata, udah ancur semua), angkutan masal yg murah dan nyaman, berobat gratis, sekolah gratis, internet gratis, #eh... :))

Maksudku, kalau harga-harga barang kebutuhan pokok murah, jalan mulus dan bebas macet, angkutan umum murah nyaman, sekolah dan sarana kesehatan gratis, gaji kecil pun akan cukup kan? Dan bukankah efeknya lebih dirasakan bersama daripada menuntut kenaikan gaji yang cuma dinikmati mereka sendiri? Ah entahlah, sebenarnya memang pengusaha yang pelit ngasih kenaikan gaji atau buruh yang kurang bersyukur. Atau mungkin sudah ada pembagian tugas? Demo turun harga sembako urusan mahasiswa, demo naikkan UMR urusan buruh.

UMR Bandung sekitar Rp 1,5 jutaan. Cukup lumayan sebenarnya. )* Tidak tahukah mereka masih sangat banyak guru yang gajinya hanya ratusan ribu rupiah per bulannya? Guru loh! Guru. Di tangan mereka terletak masa depan bangsa. Mereka yang mendidik para calon pemimpin masa depan. Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa? Kita jadi tau beraneka bidang ilmu dari siapa? Kita jadi pintar dididik Pak Guru. Kita bisa pandai dibimbing Bu Guru. Gurulah pelita penerang dalam gulita, jasamu tiada tara... eh malah nyanyi :) Jasanya tiada tara tapi penghasilannya masih banyak yang di bawah UMR.

Gak percaya? Aku ceritain ya. Kemarin siang, ketika bertugas meneliti dan menerima SPT tahunan di kantor, aku baca laporan keuangan sebuah yayasan pendidikan. Agak kaget juga ketika kubaca besaran biaya gajinya, sangat kecil. Aku tanya kepada sang pelapor berapa jumlah guru dan berapa gaji bulanannya. Dua ratus ribu rupiah per bulan per orang. Dua ratus ribu? Duh... "Iya Bu. Ya semacam sukarelawan aja para guru itu." (Mudah-mudahan Alloh yang membalas kebaikan hati dan keikhlasan para guru itu dengan pahala amal jariyah, pahala atas ilmu yang bermanfaat, yang akan terus mengalir walaupun sang guru sudah meninggal.)

Kembali ke buruh. Pusing juga kali ya jadi pengusaha, menangani ratusan atau bahkan ribuan buruh? ( lha wong aku punya pembantu 2 biji aja dibikin puyeng melulu :)). Tentu bukan perkara mudah memahami keinginan banyak orang, mensejahterakan buruh dan di sisi lain harus memikirkan laba perusahaan, cash flow, kredit bank, pajak, persaingan usaha de el el.

Yaah mudah-mudahan ke depannya buruh makin sejahtera, sehingga tidak perlu tiap tahun demo. Hubungan buruh - pengusaha makin harmonis, buruh sejahtera, pengusaha pun makin maju usahanya, dan makin gede bayar pajaknya...#eaa

)* Syarat dan ketentuan berlaku

Ditulis pada malam Hari Buruh, menjelang Hari Pendidikan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...