Rabu, 27 Maret 2013

Mangan Ora Mangan Asal Kumpul?



Bapak yang duduk di depanku ini kutaksir berumur 50-an. Walau rambutnya telah banyak yang memutih, namun beliau masih nampak bugar.
“O… Sudah pensiun Pak?” tanyaku sambil meneliti SPT yang diserahkannya. SPT Tahunan PPh Orang Pribadi yang dilaporkannya menunjukkan bahwa beliau ini seorang pensiunan PT Telkom. Istri beliau pun sama, seorang pensiunan.

“Iya mbak, sudah sejak tahun 2005.”

“Wah, sudah lama juga ya Pak… Tapi Bapak masih terlihat muda loh..”

“Hahaha… saya sudah punya cucu Mbak, anak saya dua-duanya sudah menikah. Yang satu jadi dokter, kerja di Jakarta. Satu lagi juga di Jakarta.”

 “Enak ya Pak, tinggal menikmati masa pensiun bersama ibu, gak ada tanggungan lagi.”

“Masih ada Mbak, saya ini baru datang lho dari Solo. Saya sering ada di Solo, ngerawat ibu saya. Jadi istri saya ya sering tinggal sendirian saja di Bandung”

“O gitu Pak? Kenapa gak dibawa ke Bandung saja ibunya?”

“Gak mau Mbak. Beliau itu pengin meninggalnya di Solo, dan dimakamkan di Solo.”

“Oo gitu ya… Jadi ibu (istri bapak) tinggal sendirian di Bandung? Kenapa gak tinggal di Jakarta saja bersama anak Bapak? Sekalian nemenin cucu..”

Aku sungguh ingin tahu apa alasan orang tua menolak tinggal bersama anaknya. Kasus yang kualami sama. Walaupun bapak dan ibuku tinggal berdua saja di sebuah desa di Jawa Tengah sana, sudah pensiun, dan tidak punya tanggungan apa-apa, tapi beliau berdua tidak mau tinggal bersama salah satu anaknya. Baik itu di Jakarta, Bandung, maupun di Pekanbaru. Padahal anak-anak akan dengan sangat senang hati menampung ibu dan bapak apabila beliau berdua berkenan tinggal bersama, terutama para cucu. Pasti mereka akan lebih terurus apabila ada Eyang di rumah.

“Istri saya gak mau Mbak.. saya juga gak mau kok kalo disuruh tinggal sama anak saya.”

“Lho kenapa Pak? Kan sama anak sendiri. Lagipula kalo ibu ato bapak tinggal di Jakarta kan mungkin cucu Bapak lebih terurus Pak daripada sama pembantu doang.”

Jangan-jangan si Bapak mikir, ni petugas pajak kepo amat yak.. Lagian bukannya nanya-nanya penghasilan malah nanya yang enggak-enggak.. hihi… Ah biarin aja, dari pada si Bapak bengong nunngguin tanda terima, kan mending diajak ngobrol :D

“Hahaha… iya sih.. Tapi gak enak ah tinggal sama anak. Enakan tinggal di rumah sendiri. Lebih bebas.”

Hmm… alasannya sesederhana itu…. Gak bebas.

“Oke Pak, ini tanda terima SPT-nya. Terima kasih sudah melaporkan SPT Tahunan Bapak tepat waktu.”

Setelah mengambil tanda terima dan mengucapkan terima kasih bapak itu pergi.

Ya… memang idealnya sebuah keluarga itu berkumpul , setiap hari bertemu, sarapan bareng, makan malam bareng, ngobrol di meja makan, sholat berjamaah... Akan tetapi karena tuntutan pekerjaan, karir, pendidikan, atau hal lain, sebuah keluarga harus terpisahkan jarak dan waktu.

Karena tuntutan hal-hal itu saja? Ternyata tidak. Buktinya para orang tua itu gak terikat tuntutan karir dan tempat kerja yang mengharuskan mereka tinggal di suatu kota. Ikatan emosional dengan rumah dan lingkungan sosiallah yang membuat mereka enggan pindah. Kalau mereka meninggalkan rumah dan ikut tinggal bersama anaknya mereka akan kehilangan teman-teman ‘gaul’ mereka. Entah itu kelompok pengajian, grup arisan, teman senam jantung, jamaah masjid, atau bahkan murid-murid ngaji Iqra-nya (seperti ibuku). Kita sebagai anaknya tentu tidak bisa memboyong lingkungan sosial mereka ikut serta pindah kan?

Dan dengan alasan takut kehilangan kebebasan apabila ikut tinggal bersama anaknya. Oke, ini sangat bisa dimengerti. Sebebas-bebasnya tinggal bersama anak (dan mantu), tentu lebih bebas tinggal di rumah sendiri.

Mungkin  falsafah Jawa “Mangan ora mangan asal kumpul” saat ini sudah kurang laku, berganti menjadi “Kumpul ora kumpul asal mangan.”  

Beda jaman beda  semboyan. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...