Jumat, 08 Februari 2013

Cerita tentang Separation Anxiety dan Hari-hari Pertama di Daycare



Separation anxiety adalah rasa ketakutan untuk berpisah  yang dialami seorang anak (biasanya muncul sejak usia 8 bulan) dengan orang-orang terdekatnya.
Sudah 2 minggu ini Javas (3,5 th) mengalami kecemasan SA ini, dan sudah 2 minggu ini pula kupraktekkan teori-teori yang kubaca tentang cara mengatasi separation anxiety. Mudah-mudahan berhasil.
Sebenarnya adalah hal yang sangat wajar Javas mengalami SA ini. Bagaimana tidak, selama 2 bulan aku cuti melahirkan baby Jindra, selama itu Javas selalu bersamaku. Mungkin dia tidak akan mengalami SA kalau setelah cuti dia kutinggalkan di rumah bersama pengasuh seperti sebelumnya. Akan tetapi kali ini berbeda, setelah aku kembali bekerja, dia kutitipkan di daycare bersama adiknya.

Hari #1 saat pendaftaran.
Hari ini hari terakhir cutiku, dan baru hari ini kuputuskan untuk memilih daycare Matahati untuk menitipkan anak-anakku. Saat pendaftaran sengaja kubawa Javas agar dia mengenal lingkungan barunya. Sambil mengobrol dengan pimpinan daycare, kubiarkan Javas bermain dengan (calon) teman-temannya. Hmm.. dia mau bermain, tapi belum mau bergabung dengan teman-temannya.
Setelah sekitar 1 jam aku berada di sampingnya, pelan-pelan aku bergeser dan pindah duduk ke ruang resepsionis. Olala… dia mencariku, menangis dan minta pulang. Setelah kubujuk untuk kembali bermain dan kujanjikan untuk ditemani, dia mau kembali bermain. Ketika tiba waktu tidur siang, kami pulang. Di jalan kutanya dia apakah dia senang dengan tempat bermain barunya, dia bilang senang. Besok mau ke sini lagi? Dia bilang mau. Okesip.

Hari#2
Hari ini hari pertama aku masuk bekerja, dan hari pertama anak-anak akan kutitipkan di daycare. Pagi-pagi aku sudah siap berangkat dan Javas belum bangun. Mau dibangunin, kok rasanya gak tega. Apalgi badannya agak anget, hidungnya grok-grok dan kayanya mulai batuk. Ya sudahlah aku berangkat bersama baby Jindra, dan Javas nanti biar menyusul ke daycare bersama Papa. Papa hari ini sudah ijin gak masuk kantor demi menemani Javas di hari pertama ‘sekolah’nya.
Setelah mandi dan sarapan, Javas diantar papa ke DC, dan ditemani bermain. Dia sama sekali gak mau ditinggal. Oke deh, pelan-pelan saja. Kasihan juga kalau langsung ditinggal di tempat asing bersama orang-orang yang belum dia kenal, pasti dia akan ketakutan. Javas asyik bermain, dan mau sedikit berinteraksi dengan teman-temannya. Saat waktu makan siang tiba, Javas pun mau ikut makan. Ketika tiba waktu tidur siang, Javas menolak masuk ke kamar. Dia hanya mau berbaring sambil bermain di lantai. Lama-lama dia tertidur. Saat dia tidur ini suamiku pergi meninggalkannya untuk sholat dan makan siang di kantin yang jaraknya tidak terlalu jauh dari DC. Dan tebak apa yang terjadi ketika suamiku kembali? Ya, Javas menangis histeris. Dia marah karena ditinggal. Setelah berhasil ditenangkan, kembali bermain tak lama kemudian mereka pun pulang.

Hari#3
Hari ini terpaksa Eyang diimpor dari Jakarta untuk menemani Javas. Pagi-pagi ketika aku berangkat, Javas belum bangun. Ya sudah, Javas berangkat ke DC nanti aja sebangunnya. Badannya masih agak anget, semalem juga tidurnya gelisah, jadi kubilang kepada Eyang kalau Javas nanti bangun tidur kelihatan kurang sehat ya sudah di rumah saja, gak usah dititipkan ke daycare. Dan benar, Javas hari ini gak ke DC karena kata Eyang Javas bilang gak mau ketika ditanya pagi-pagi apakah hari ini mau ke DC atau gak.

Hari#4
Setelah dijelaskan ke Eyang bahwa Javas jangan ditanya tapi disiapkan dan diantar saja ke DC, hari ini Javas bermain di DC ditemani Eyang. Javas mau bermain, makan siang, dan tidur siang di DC (walau gak mau tidur di kamar). Sore sehabis Ashar mereka pulang.

Hari#5
Seperti kemarin, Javas dianter ke DC oleh Eyang setelah mandi dan sarapan di rumah. Karena hari ini Eyang harus pulang ke Jakarta, sudah direncanakan Eyang hanya akan menemani  Javas setengah hari saja. Dan benar, setelah makan siang ketika Javas sedang asyik bermain Eyang diam-diam pergi meninggalkannya. Tentu saja Javas menangis. Jam 4 sore setelah pulang sekolah, Aa Youri dan Pak Ucok sopir kami menjemput Javas di DC. Saat dijemput itu Javas kembali menangis. Sepertinya dia menahan tangis dan dilampiaskan ketika bertemu orang-orang dekatnya. Aa Youri menelponku dan Javas menangis tersedu-sedu di telepon, memintaku agar cepat pulang, dan dia bilang gak mau ditinggal di DC lagi. Duh… sedihnya.
Dan malam harinya Javas tidur dengan gelisah dan rewel. Entah karena pileknya atau karena ketakutannya.

Hari#6
Duh.. stress pagi-pagi. Hari ini hari pertama Javas akan full ditinggal di DC. Mau gak ya? Rewel gak ya? Ngamuk gak ya? Dari kemarin sore dia sudah bilang gak mau ke DC pula.. hadeuh…
Jam 6 pagi saat seharusnya kami berangkat, Javas belum bangun. Okey deh kutunggu saja sebangunnya. Biarlah aku terlambat masuk kantor hari ini demi Javas. Jam 6.30 javas bangun, mandi dan kemudian minum susu. Yuk berangkat, kataku. Ke mana Ma? Ke Matahati, kan Aa Javas sama Ade Jindra mau main di Matahati.. Gak mauuu! Mau main di rumah aja!
Yaa.. mulai deh… Setelah kujanjikan akan kutemani, Javas mau berangkat. Di perjalanan selama +/- 20 menit itu dia ceria. Sesampai di DC, kuserahkan baby Jindra pada pengasuhnya dan kutemani Javas bermain. Ketika asyik bermain, Javas akan kutinggal. Tapi ternyata, susah sekali membuatnya tenang bermain. Tanganku selalu dipegangnya, dan dia bilang mama harus nemenin. Aneka jenis mainan kutawarkan dan hasilnya malah membuat dia marah. Akhirnya sang pengasuh mendapatkan ide, kita bawa aja javas jalan-jalan ke taman depan, baru nanti mama berangkat.
Ketika kami keluar, terdengar suara tukang susu dari blok sebelah. Javas minta beli susu, dan mau beli susu bersama Bu Dede pengasuhnya. Ketika Javas pergi beli susu itulah aku berangkat.
Sepanjang jalan dan sepanjang hari aku berdoa mudah-mudahan Javas tidak lama nangisnya.
Sore harinya, Javas dijemput oleh Aa Youri dan Pak Ucok. Dan Javas pun kembali menangis ketika dijemput. Ternyata Javas rewel seharian, gak mau makan sama sekali dari pagi sampai sore, dan gak mau tidur siang.
Malam harinya Javas tidur dengan gelisah, bahkan mengigau, "Gak mau.. gak mau.. mau sama mama.." Duh, sedih rasanya.. Untunglah besok hari Sabtu, libuur.. kami bisa seharian bersama, tapi bagaimana nanti hari Senin?? Pusing deh…

Hari#7
Hari ini ada acara parenting class di DC. Kupastikan aku dan suamiku hadir, sudah kurencanakan akan berkonsultasi dengan psikolog tentang kecemasan Javas. Kami takut salah menangani, yang nantinya malah akan menyebabkan Javas trauma, tidak mau sekolah.
Javas pun hari ini ikutan ke DC, agar dia mau bermain di DC lagi dengan nyaman, kan ditemani mama papa :).
Kata ibu Lia, psikolog yang jadi pembicara di acara parenting hari ini, kunci utama untuk meninggalkan anak di DC adalah kita percaya sepenuhnya kepada DC. Jangan cemas, jangan ragu-ragu, karena orang tua yang cemas akan menulari anaknya menjadi cemas juga. Oke deh Bu, besok Senin akan kucoba.

Hari#8
I don’t like Monday, dan terutama hari Senin ini. Aku stress memikirkan Javas bagaimana nanti di DC. Antara gak tega, takut membuatnya trauma, dan kenyataan bahwa kami tidak punya pilihan lain selain menitipkannya di DC ( untuk saat ini inilah pilihan terbaik kami).  Kuingat pesan bu Lia bahwa kami harus percaya sepenuhnya ke DC, gak boleh cemas. Okey kucoba menguatkan hati, bismillah, kuyakin kami semua bisa melalui hal ini.
Javas sudah mandi pagi-pagi, dan jam 6 pun kami berangkat. Sambil makan bakpao di mobil, Javas kuajak mengobrol tentang hal-hal lucu dan menyenangkan untuk menaikkan moodnya. Cukup berhasil. Akan tetapi ketika mobil mulai memasuki komplek tempat DC berada, Javas sudah mulai merengek. Gak mau ke DC, mau main di rumah saja.. kujelaskan bahwa dia harus main di DC karena di rumah tidak ada siapa-siapa yang menemaninya sementara mama papa bekerja. Tetap merengek.
Sesampai di DC kutemani dia masuk ke ruang bermain, kuserahkan pada bu Dede, dan semakin kencanglah tangisannya. Aku berjongkok, pamitan (aku gak mau ‘menghianatinya’ lagi dengan pergi secara diam-diam), dan berjanji akan menjemputnya sore nanti.
Aku pergi, masuk mobil, dan jerit tangisan Javas masih terdengar ketika mobil mulai berjalan. Air mataku menetes, tapi kukuatkan hati dan kuyakinkan diri bahwa kami semua akan bisa melalui ini. Bismillah, aku berangkat bekerja. Sesampainya di kantor kusempatkan untuk sholat dhuha dan berdoa khusus untuk Javas. Kemudian aku SMS ibu kepala DC dan meyakinkannya bahwa Javas gak akan bad mood seharian kalau dia mau makan (maksudnya biar beliau mau berusaha lebih keras agar Javas mau makan. :))
Sore hari pun tiba. Hujan, macet pula.. duh, deg-degan sepanjang jalan, takut kelamaan terlambat menjemput Javas. Untunglah sesampai di DC Javas masih banyak temannya. Pengamatan pertama, Javas terlihat tidak gembira.Dan benar saja, dia menyambutku dengan tangisan protes: kok mama lama jemputnyaa… :’(
Kupeluk dia, dan kuberikan oleh-oleh cokelat berbentuk bebek warna kuning. Ini oleh-oleh untuk anak hebat. Dia pun tersenyum gembira.

Hari#9
Sepanjang jalan ke DC Javas diam saja, terlihat tegang. Kucoba bercerita hal lucu dan menyenangkan, tapi dia tidak terlalu menanggapi.
Sedih hatiku melihatnya, gak tega, tapi harus kukuatkan hati. Diam-diam aku berdoa agar hari ini di DC Javas mau makan, mau tidur siang, tidak berkepanjangan nangisnya, dan mau bermain dengan gembira. Kemarin Javas tidak mau tidur siang, dan tidak mau bermain. Dia hanya mondar mandir di DC mengamati teman-temannya bermain sambil membawa-bawa tasnya. Di mana pun tasnya itu tidak pernah lepas, kata ibu pengasuh. Jadi dia bawa-bawa terus tas itu karena dia mau pulang…
Aku pamit padanya, salim, kupeluk, dan berangkat meninggalkannya menangis keras dan meronta dipegang pengasuhnya. Ya Alloh kuatkan hati-hati kami, doaku sambil menutup pintu pagar DC.
Sore harinya dia terlihat sedih seperti kemarin dan di jalan bilang bahwa besok gak mau ke DC lagi. Kualihkan perhatiannya dengan dua kaleng keripik Pringles rasa keju dan rasa rumput laut kesukaannya. Dan kujanjikan besok sepulang kerja kubelikan lagi Pringles rasa yang lainnya? A Javas mau yang rasa apa? Warna apa? Jadi deh sepanjang jalan pulang kami membahas aneka rasa Pringles dan apa warna kemasannya.

Hari#10
Rengekan pagi ini sudah berbeda. Javas tidak melarangku bekerja lagi, tidak menolak dititipin di DC lagi, tapi merengek minta ditemani dulu sebentar. Oke, ini selangkah lebih maju. Rupanya dia mulai tahu bahwa percuma saja menangis, toh mama tetap pada keputusannya.
Setelah kutemani sebentar, meskipun dia masih merengek, aku berangkat. Dan dia kembali menangis keras...
Petang harinya kulihat buku catatan hariannya: makan pagi siang sore, snack, tidur siang, bermain sendirian. Kata pengasuhnya sih masih nangis sesekali, dan tas teteup.. menemani di mana pun dia berada.

Hari#11
Saat mandi pagi javas tidak nangis lagi, dia mulai sadar dengan rutinitas barunya. Dan walaupun masih merengek-rengek sepanjang jalan (terutama ketika sudah masuk komplek tempat DC berada) tapi Javas cenderung lebih tenang dibanding kemarin.  Tidak melarangku bekerja, tidak menolak dititipin di DC, tapi merengek mama gak boleh lama jemputnya, mama kerjanya sebentar aja.
Turun dari mobil merengek minta ditemani sebentar, dan tas gak boleh diturunin. Terpaksa deh mindah-mindahin dulu perbekalan Javas ke tas baby Jindra.
Turun, aku pamit, dan dia nangis sambil bilang mama jangan lama-lama jemputnya. Oke, aku keluar  dan Javas melepasku di pintu (gak pake dipegangin pengasuh, karena dia menolak dipegang, mungkin kemarin dia gak nyaman meronta-ronta dipegangin pengasuhnya) menangis sambil bilang mama nanti beliin somay sama susu.. okey, mama berangkat, assalamu’alaikum…
Mobil kujalankan pelan-pelan dan tangisannya masih terdengar sampai beberapa meter di depan.

Sungguh, ini dua minggu yang panjang, dua minggu yang berat, melelahkan baik fisik maupun mental. Tapi aku yakin dengan usaha yang pantang menyerah, dan doa tentunya, kami akan berhasil melewati ini semua. Doain yaa….

Okey deh sekian dulu ceritanya, dan ini kesimpulanku selama dua minggu ini tentang cara mengatasi separation anxiety atau judulnya Tips Mengatasi Separation Anxiety pada Hari pertama Sekolah / Daycare:   

  • Komunikasikan kepada anak bahwa dia akan ditinggal untuk sementara. Jelaskan pada anak, mengapa kita harus pergi/bekerja.
  • Tetap tenang dan konsisten. Saat kita harus pergi, lakukan ritual perpisahan yang menyenangkan. Kita harus tetap tenang dan percaya diri di depan anak. Bersikap konsisten dengan tidak kembali saat anak menangis, karena hal ini hanya akan saat perpisahan jadi semakin sulit.

  • Penuhi janji. Pastikan kita kembali di waktu yang kita janjikan pada anak, dan memberikan reward yang telah kita janjikan.

  • Develop a “goodbye” ritual.  Usahakan anak ditinggal dalam keadaan senang, dan kita berpamitan padanya. Jangan ditinggal diam-diam karena dia akan merasa dikhianati dan cemas ketika dia lengah kita akan meninggalkannya.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...