Jumat, 27 Desember 2013

Oreo Cheese Cake


Sebenernya ini percobaan pertamaku, belum pernah kubikin cheese cake sebelumnya. Hasilnya pun belum memuaskan, belum seenak cheese cake-nya Bread Talk (kalo aku bisa bikin yang seenak itu, aku jualan aja kaliii... hihi..) dan bentuknya pun masih jauh dari kata rapi, atau cantik apalagi.  Tapi berhubung suka pamer di Instagram, dan sudah kupamerin pula hasil percobaan pertamaku itu di Instagaram, dan banyak yang minta resepnya (yang kalau ditulis di komennya Instagram kepanjangan) ini dia resep cheese cake yang begitu kubaca langsung pengin kucoba karena terlihat gampang.

Resepnya dikasih dari Dian, tetangga sebelahku, ngeprint dari Facebooknya mamataro.com katanya.
Karena kupakai whip cream bubuk (yang rasanya sudah manis) aku gak pakai gula lagi.
Pakai ring plastik mika? Tentu saja tidak hihi... ngebayanginnya aja ribet (dasar pemalas yaa..).
Hasilnya? Enaak... (walo teteup.... kalah kalau dibandingin sama Bread Talk atau Cheezy hihi....) dan ternyata gak sebanyak yang kubayangkan. Jadi, kueku pun tipis, kurang tinggi, karena loyang yang kupakai kegedean. Ya bayangin aja itu cream cheese satu cup ditambah whip cream sepertiga dus ( kan satu dus isi 200 gr ditambah air 400 ml) jadinya ya kira-kira segitu deh..

Kurang berasa kejunya, kurang 'tajem' menurutku. Mungkin campuran whip creamnya perlu dikurangi. Dan teksturnya agak kenyal, kurang 'kres kres' gitu, next time bubuk gelatin aku skip saja. Padahal cuma kupakai sedikit loh, gak sampai 3 sdm seperti di resep.
Dan bau gelatin itu alamaaak... aku gak suka.

Pakai loyang bongkar pasang ya kalau gak mau bikin ring plastik mika. Kalau gak punya loyang bongkar pasang (kaya aku nih) ya pakai loyang biasa yang dialasi kertas roti saja.

Eh ya, kalau gak mau pakai Oreo (sayang Oreonya, gak usah diapa-apain Oreo udah enak, kata anaknya Mbak Ika hehe...) bisa pakai biskuit marie utk alasnya, dan selai strawberry atau blueberry untuk toppingnya. Aku belum nyoba juga sih... tapi kayanya enak juga :))


 Bahan Alas:
o 150 gr biskuit Oreo, haluskan
o 75 gr mentega tawar, lelehkan -> gak punya, jd kupakai blue band
Bahan Cheesecake:
o 250 gr cream cheese
o 50 gr gula tepung -> aku skip krn whip creamnya sudah manis
o 1/8 sendok teh esens vanili
o 1 sendok teh air jeruk lemon
o 1/2 sendok teh parutan kulit jeruk lemon -> aku pakai sedikiit
o 100 gr white cooking chocolate, lelehkan
o 3 sendok makan gelatin, larutkan dengan 3 sendok makan air panas -> next time aku skip saja
o 200 gr krim kental, kocok setengah mengembang, dinginkan
o 4 keping biskuit Oreo tanpa krim

Cara Membuat:
1. Alas: Campur Oreo dan mentega tawar leleh. Aduk sampai menggumpal.
2. Buat ring bulat dengan plastik mika tinggi 5 cm dan diameter 5 cm. -> aku skip
3. Pipihkan alas di dasar loyang yang dilapis ring. Dinginkan 30 menit dalam lemari es.
4. Cheesecake: Kocok cream cheese asal lembut. Masukkan gula tepung, esens vanili, air jeruk lemon, dan kulit jeruk lemon. Kocok rata.
5. Tambahkan white cooking chocolate leleh dan gelatin. Kocok kembali.
6. Masukkan sedikit-sedikit ke dalam kocokan krim kental sambil diaduk perlahan.
7. Tuang setengah bagian cheesecake di atas alas, beri kepingan Oreo di atasnya, tuang sisa cheseecake, bekukan.

Gampang kan? Selamat mencoba.

Jumat, 06 Desember 2013

Jindra's Birthday Pudding


Hai hai.... udah lama banget rasanya gak posting apa pun di sini..
Ya biasa laah... lagi sok sibuk ini itu.

Mau nulis cerita atau opini, lagi gak ada ide.. eh banyak sih ide, tapi lagi gak bisa nulis panjang-panjang. Sebenernya mau posting resep, sudah banyak resep yang sudah dicoba, dan harus didokumentasikan biar kalau mau masak lagi gak nyari-nyari resepnya di mana (atau bbm temen minta dikirim ulang resep kemarin karena resep sebelumnya ilang *lirikSondang), tapi masih belum sempet juga nyari link, print-an resep dari Google, guntingan majalah, dan foto masakan yang sudah dicobanya.

Jadi, mo pamer foto aja ah.. Tadinya gak akan dipamerin, abis fotonya gak ada yang bagus, motretnya cuma pake hape, tapi mau dibuang sayang.. ya sudah dipamerin aja ah, siapa tau ada yang terinspirasi hehe...

Jadi ceritanya untuk ulang tahun Jindra yang pertama kemarin itu aku gak pesen kue ulang tahun ke The Harvest, Kartika Sari, toko kue deket rumah, atau Teteh Iting yang jago banget bikin kue itu, tapi bikin sendiri dooong... Wah, birthday cake? Tentu saja bukaan... hahaha... belum bisa kakaak...

Aku bikin puding saja yang gampang dan anti gagal.

Dan masih Puding Oreo dong ah yang jadi andalan. Dilapis puding coklat di bagian atas, dan puding strawberry di bagian bawah. Di sekelilingnya kupakai lapis surabaya agar pudingnya bergaris-garis cantik. Pakai lapis legit kayanya lebih cantik yaa... tapi si lapis surabaya sudah berhari-hari di kulkas, sayang kalau gak dimanfaatkan.


Aku bikin 2 loyang puding. Satu loyang untuk di rumah, satu loyang untuk dibawa ke daycare.
Untuk 2 loyang itu aku pakai 3 bungkus agar-agar ( 1 bks agar-agar plain, 1 bks agar rasa cokelat, 1 bks agar rasa strawberry), dan sekotak kue lapis surabaya ukuran (kira-kira) 7 x 20 cm. 


Pertama bikin puding coklatnya dulu. Ikuti resepnya di kemasan Agar Rasa, tapi airnya kuganti susu. Setelah puding coklat mengeras, baru kubikinlah itu 'tulisan'. Tadinya mau kutulis 'Jindra' pakai cetakan kue kering yang berbentuk huruf-huruf gitu, tapi pas nanya ke Kijang Mas harga satu set cetakan huruf-huruf itu 300 ribu. Huaa... mahal. Ya sudah kubikin inisial saja, huruf 'J' pakai sedotan juice yang bolongannya gede-gede itu. Tadinya mau kuhias pakai bentuk-bentuk bintang, love, dll menggunakan cetakan kue kering yang kupunya, eh pas mau dipakai si cetakan ngumpet entah di mana. Yang ketemu cuma cetakan bentuk ayam, hihi... yo wislah gak papa.



Di atas puding coklat, taruh irisan lapis surabaya berdiri sekeliling loyang. Rapatkan.
Berikutnya bikin puding busa oreo, tuang ke atas puding cokelat yang sudah dibolong-bolongi dan di'pagari' lapis surabaya tadi. Tunggu agak dingin, baru tuangkan puding strawberi di atasnya.
Setelah benar-benar dingin, balikkan puding, dan tadaa..... jadilah puding ulang tahun bikinan sendiri.

Gampang kaaan? Dan yang penting puas deh kalau bikin sendiri.  

Eh iya, foto si anak ultah bersama kuenya malah gak ada... hehe..
Di rumah ketika kue dipotong Jindra masih tidur. Mau dipotong nunggu dia bangun, udah ada yang gak sabar nyolek-nyolek melulu :))
Ada sih foto Jindra dan kue ultahnya di daycare, tapi fotonya masih ada di hape ibu tutor, belum kuminta copynya. Ya sudah gak papa kan ya, kan sudah banyak foto Jindra  di postingan sebelumnya. ;)

Jumat, 22 November 2013

Dan Bayi itu pun Lahir dengan Posisi Sungsang...




Pagi itu perutku rasanya gak nyaman. Kontraksi kehamilanku yang sudah beberapa hari belakangan terasa, pagi itu semakin menguat saja rasanya. Kusibukkan diriku dengan mengerjakan beberapa kertas kerja, tapi rasa gak nyaman itu tetap ada. Ah, braxton hicks.. pikirku. Toh usia kehamilanku baru 34 minggu, masih 6 minggu lagi dari hari perkiraan lahir. Kulanjutkan pekerjaanku.

Di tengah-tengah mengetik, mmm.. tadi di rumah sudah BAB kok sekarang terasa mulas lagi ya? Aku pun pergi ke toilet. Dan masyaalloh.... betapa terkejutnya aku ketika kutemukan bercak darah di sana. Tenang... tenang.. jangan panik. Walaupun gemeteran aku berusaha berpikir dan bersikap tenang. Oke, nelpon suami, dan nelpon Pak Ucok drivernya anak-anak untuk menjemput dan mengantarku ke dokter. Kubereskan meja, berkas-berkas dan fileku, kemudian kubikin surat cuti. Kuambil cuti tahunanku yang tersisa 4 hari karena aku yakin dokter pasti menyuruhku bed rest lagi paling tidak 3 hari. Kubikin juga surat cuti melahirkan untuk berjaga-jaga siapa tahu ternyata bayiku lahir. Done.

Jemputan datang, dan aku pergi. Mau pamit sama temen seruangan, gak ada orang karena jam istirahat mereka semua sedang keluar makan siang atau sholat. Ku-SMS saja anggota timku, "Bro aku pulang ya, mau ke dokter, tolong bilangin Pak Supervisor. Kalau besok aku gak masuk berarti aku cuti. Surat cutinya ada di mejaku, tolong urusin. Kalau setelah 4 hari aku gak masuk juga, masukin cuti bersalinku yang ada di laci. Makasih yaa.."

Aku biasa periksa kehamilan ke dr. Tina Dewi di RS Hermina, tapi aku ragu-ragu mau ke sana. Takutnya ternyata bayiku lahir, aku gak mau lahiran di RS Hermina karena jauh dari rumah. Penginnya lahiran di RS Al Islam yang deket rumah saja, biar gak repot bolak balik yang nemeninnya.

Tapi di RSAI ke dokter siapa? Tiga kali melahirkan di RSAI aku selalu dibantu dr Tita, tapi dr Tita sekarang sudah gak praktek di RSAI lagi. Ada beberapa rekomendasi dokter dari temen, tapi rasanya kurang sreg. Dr Tita yang pernah kutemui di RS Hermina (ketika dr Tina Dewi gak ada aku ke dokter lain yg ada di situ dan baru tahu ternyata dr Tita praktek di Hermina juga) merekomendasikan dr Anisa di RSAI. Dr Anisa ini anak dr Tita. Pernah sih konsul ke dr Anisa, dan secara umum memuaskan. Meriksanya detil, dan gak pelit ngasih penjelasan (kalau ibunya kan agak 'pendiam'). Tapii... untuk membantu proses persalinan kok aku ragu-ragu... abis, masih muda bangeet... DSOG juga sih.. tapi aku tetep lebih mantep kalau dipegang dokter senior.

Ah melahirkan sih sama bidan juga bisa, kenapa harus dokter senior? Aku tahu. Tapi kan kehamilanku ini termasuk kehamilan beresiko, jadi ya rasanya lebih tenang aja kalau dibantu dokter senior. Beresiko? Yup. Pertama, aku hamil di usia yang sudah dianggap beresiko untuk hamil, 37 tahun. Kedua, usia kehamilanku baru 34 minggu, dan perkiraan berat janinku baru 2,2 kg. Ketiga, posisi janinku ini masih sungsang, kepalanya belum turun.

Di dekat rumahku ada RS bersalin dan temanku pernah merekomendasikan dokternya. Ya sudahlah kucoba ke sana. Masuk RSHB, celingak-celinguk sendirian, nanya-nanya, dan daftar.

"Mau kontrol Bu?"

"Mmm.. gak sih mbak, mau periksa. Ini tadi ada flek."

"Ooo.. paling sama bidan aja Bu. Dokternya sudah pulang."

Diperiksalah aku sama bidan di situ.
"Bu ini sudah bukaan 6."

Apaaa?? Tanganku langsung dingin.

"Ibu sendirian?" tanya bidan itu yang (kayanya) melihatku dengan kasihan.

"Iya. Sama sopir sih."

Kemudian kuceritakan kondisi terakhir janinku ketika kontrol. Tentang usia kehamilanku yang baru 34 minggu, tentang beratnya yang baru 2,2 dan tentang posisi sungsangnya. Bidan yang ramah itu menyarankan aku ke RSAI saja karena di RSHB tidak ada ruangan NICU seandainya nanti bayi yang kulahirkan perlu dirawat di ruang NICU.

Masuk ke UGD RSAI, setelah ditangani dan ditanya ini itu, aku ditanya, mau sama dokter siapa? Sahabatku Ami dokter di Hermina, gak bisa ngasih rekomendasi karena dia baru pindah ke Bandung dan belum tahu dokter-dokter di Bandung. Kutanya seorang teman sesama ortu di sekolah anakku, dokter di RSAI, dan dia menjawab dokter A atau B (setelah kuberikan syarat-syarat aku maunya dokter yang begini begini begitu :)) Kutanya temanku yang apoteker di situ dan dia pun merekomendasikan dokter B. Tapi aku pernah denger cerita temanku yang lahiran dibantu dokter B katanya kurang oke.

"Dokter A atau dokter B bagusan mana suster?" aku balik nanya ke suster jaga di UGD yang menanyaiku tadi.

"Sama bagusnya Bu.. sama-sama sudah senior."

Akhirnya kupilih dokter A. Dikasih obat penguat kandungan, suntikan penguat paru janin, dan diharuskan bed rest lah aku. Dan bu dokter ini menyayangkan tindakan bidan di RSHB yang melakukan pemeriksaan dalam, karena itu menambah kontraksi.

Duh inget si kecil di rumah bersama mbah pengasuhnya. Suamiku yang baru datang menemani pun kusuruh pulang saja selepas maghrib, kasihan anak-anak di rumah. Biarlah aku istirahat sendiri saja di RS, toh sudah ditangani dokter, dan ada suster yang siap siaga membantu.

Malam itu aku ditest CTG untuk mengetahui kondisi janin, detak jantung, dan kontraksiku. Gak ngerti cara baca alat-alat medis itu, kubaca wajah dua suster yang menanganiku itu.

"Kenapa Suster?" tanyakau ketika melihat ekspresi aneh mereka.

"Mm ini bu... hasil testnya belum bener kayanya. Bentar ya bu saya benerin dulu posisinya."

Mereka tetap dengan ekspresi itu.

"Ada apa sih?"

"Ini Bu, kontraksinya kuat banget kalau lihat hasil testnya."

"Oo.. emang iya sih.. kerasa."

"Loh.. ibu kerasa? Gak sakit Bu? Saya pikir alatnya yang salah, kok Ibu tenang-tenang aja gitu kaya gak kerasa apa-apa."

"Ah udah biasa Teh.. udah keempat kali, hehe.." padahal sih ya emang karena gak sakit, cuma kerasa kenceng-kenceng gitu. Udah biasa juga sih, udah beberapa hari kerasa kenceng perutnya.

"Ya sudah Bu, ibu istirahat saja ya. Ini diminum dulu obatnya. Kalau ibu perlu apa-apa, tekan tombol ini."

Dia pergi, aku pun tidur.

Keesokan paginya kusuruh suamiku ngantor saja, aku merasa baik-baik saja. Dan hari ini hasil test CTG menunjukkan kontraksi sudah berkurang. Alhamdulillah... aku sangat bersyukur. Tentu saja aku sangat menginginkan bayiku lahir sesuai tanggal perkiraan, agar dia lebih siap. Berat badannya cukup, paru-paru dan organ penting lain sudah siap, dan posisinya pun posisi siap lahir bukan sungsang seperti sekarang. Membayangkan harus melahirkan bayi berposisi sungsang membuatku ngeri. Ngeri kalau lahir spontan dan ternyata di tengah jalan aku gak kuat mengejan (faktor U dong) dan bayi terjepit lehernya.. ah.. naudzubillahi min dzalik. Ngeri juga membayangkan kalau harus melahirkan dengan operasi cesar. Aku hanya bisa berdoa dan berdoa saja. Sempat terlintas pikiran iseng, kalau lahir hari ini, tanggalnya bagus, 21.11.12. Tidak, aku tetap pengin bayiku lahir awal Januari sesuai perkiraan. Aku mencoba khusyu' berdoa lagi.

Sore hari suamiku datang bersama anak-anak, dan kerepotan membujuk Javas kecil -yang menagis tentu saja- ketika tiba waktunya pulang. Gak tega melihat anak-anak akhirnya aku menyerah dan membiarkan suamiku memanggil bala bantuan, mendatangkan mertuaku untuk menemani anak-anak di rumah.

Keesokan harinya mertuaku datang. Walau aku masih merasakan beberapa kontraksi, hasil test CTG di hari ketiga itu semakin mebaik, dan dokter pun mengijinkanku melanjutkan bed rest di rumah alias boleh pulang. Yeay... seneng dong... tapii... deg-degan juga. Bed rest di rumah, bisakah? Ibu-ibu di rumah pasti banyak urusan ini itu, dan Javas yang berusia 2 tahun pasti membutuhkan perhatian yang lumayan besar. Ah kan ada Eyang dan ada mbah pengasuh Javas.

Jam 2 siang aku sampai di rumah. Suamiku pun berangkat ke kantor lagi. Ibu mertuaku bolak-balik ke kamar nanya aku perlu apa, mau makan apa, mau diambilin apa. Javas main di luar bersama mbah pengasuhnya, Neysa dan Youri sekolah. Ya sudah aku tiduran saja. Bales BBM beberapa temen yang menanyakan aku cuti ke mana, buka-buka Facebook dan Twitter.

Mau tidur, gak bisa, perut rasanya gak nyaman. Mau makan, gak selera. Kontraksi terasa lagi. Sore hari Youri yang sudah pulang kuminta menemani dan mencatat jam tiap aku terasa kontraksi. Duh.. terasa tiap setengah jam. Selepas maghrib suamiku pulang dan kontraksi makin terasa, baik kekencangan maupun kekerapannya. "Sudah, tidur aja, obatnya diminum lagi." kata suamiku. Kuminum obat pengurang kontraksi itu, dan masih terasa saja. Kutelpon RS dan minta disambungkan ke bidan yang tadi siang berpesan kalau ada apa-apa telpon dia aja. "Istirahat saja Bu, minum obatnya. Kalau kontraksi terasa tiap 10 menit, segera ke rumah sakit."

Masih dan makin terasa. "Pa, harus ke RS lagi nih kayanya."

"Bentar lah, aku sholat Isya dulu, mandi dulu."

"Gak bisaa... ini sakit bangeet.." sambil ganti baju dan sambar tas.

Suamiku bengong. "Beneran?"

"Iyaaa..."

Pamit sama mertuaku yang lagi nonton TV bersama anak-anak, "Nitip anak-anak ya Bu, ini kerasa mau lahir kayanya."

Mertuaku pun bengong, "Loh katanya boleh istirahat di rumah? Oh ya.. ya.. sudah sana berangkat. Tenang aja, banyak-banyak berdoa saja."

Pamit ke anak-anak dan kuminta mereka mendoakan mamanya.

Masuk mobil, dan "Papaaaa.... cepeeet...."

Suamiku yang masih pakai baju kerja itu lari-lari buka pager dan berangkatlah kami ke RS.
Jalan menuju RS yang banyak berlubang membuat suamiku menyetir pelan-pelan, seperti permintaanku selama ini (ya iyalah nyetir di jalan jelek bawa orang hamil). Tapi kali ini, "Papaa.... cepeeet... ini sakiit..."

Baru sekitar 10 menit sejak berangkat, kontraksi hebat pun terasa. Aku yang sudah 3 kali melahirkan tahu betul bahwa ini sudah saatnya. Kutenangkan diri dan berusaha berkomunikasi dengan bayiku, "Tenang ya Dek... sabar ya Sayang... nurut sama Mama Sayang... jangan keluar dulu ya... bantu mama Dek.." dan suamiku pun makin panik.

Sampai di UGD RSAI, aku bertemu lagi dengan suster jaga yang menanganiku 3 hari yang lalu. "Ibu yang kemarin?" Kujelaskan secara singkat bahwa baru tadi siang aku diijinkan pulang setelah bed rest 3 hari dan ternyata sekarang terasa mau melahirkan.

"Sama dokter A ya Bu?"

"Yang lain aja deh... dokter B." Ya, aku merasa kurang puas saja dengan penanganan dokter A kemarin.
Suster itu keluar dan datang suster lain meminta data-dataku. Ough... kontraksi terasa lagi. Suster yang mendataku, menanyakan dari awal kapan mens terakhir, umur dll bla bla bla kumarahin. "Ini udah mau lahiir.... datanya ada semuaa di atass... (di ruang kebidanan maksudnya) huaa.... cepeettt....". Untung suster pertama masuk lagi dan langsung membawaku ke ruang kebidanan.

"Suamiku manaaa...."

"Tenang Bu, Bapak sedang mengurus administrasi."

Di ruang kebidanan, para suster dan bidan pun masih mengenaliku.

"Dokter A?" tanya suster kebidanan. "Bukan, ibu ini mau dokter B aja." jawab suster UGD.

"Terseraaaah... dokter siapa aja yang ada sekaraang.. ini udah kerasa bangeet...!!" ini teriakan si pasien alias aku tentu saja.

"Dokter jaga sekarang dokter A Bu, tapi masih di perjalanan," jawab suster kebidanan.

Astaghfirullah... aku beristighfar  dalam hati. Kenapa sih aku ini? Sombong dan sok tahu banget.. Kalau memang dokter A yang harus menolongmu, kenapa harus ditolak?

"Huaa,,,, suamiku mana?"

"Bentar Bu, masih di bawah."

"Kalau dokternya gak dateng-dateng gimanaaa... huhuhu...." aku setengah menangis sambil digantiin baju oleh tim suster dan bidan itu.

"Tenang aja Bu, gak akan kami biarin. Pasti kami bantu."

"Anak keempat ya Bu? Anak pertama berat lahirnya berapa? Kedua? Ketiga?"

Entah kujawab apa pertanyaan suster yang itu.

"Oh udah lengkap nih.." kata suster (atau bidan?) satu lagi yang memeriksa dilatasi servix (bukaan).

Suamiku pun muncul.

"Sudah siap ni Pak."

"Dokternya?"

"Belum datang Pak. Gak papa kok Pak, bisa kami bantu."

"Posisinya sudah benar?"

"Masih sungsang. Tapi gak papa, bayinya kecil kok. Insyaalloh gampang."

"Huaa.... cepeet....!!!"

"Ambil nafas Bu, tenang, jangan teriak-teriak, nanti tenaganya habis. Nah, ayo. Yaaa, bagus. Yaa... terus.. Ibu jangan berhenti! Jangan berhenti! Ayo dorong lagi. Nanti bayi ibu gak bisa bernafas!"

Dan tepat pukul 22.00 lahirlah bayi itu...


Sekitar 5 menit kemudian, datanglah dokter, mengeluarkan placenta, dan finishing lainnya.
Alhamdulillah... Allohu akbar..

Di usia yang sudah tidak lagi muda aku masih dikaruniai kesempatan dan kekuatan untuk merasakan sebuah proses luar biasa melahirkan seorang generasi penerus umat manusia, dengan cara mudah. Jam 9 malam berangkat ke RS, jam 9.30 masuk rumah sakit, dan jam 10 lahirlah si bayi.


Aku dan suamiku berpelukan, menangis, dan tak bisa berkata-kata.

Kami namakan bayi itu Muhammad Jindra Rafasya, seorang laki-laki berakhlak terpuji berkedudukan tinggi dengan sifat rendah hati, itu harapan kami yang tersirat dari namanya.


Dan hari ini, bayi itu berusia 1 tahun. Selamat ulang tahun sayangku.. Jadilah orang sholeh yang membawa manfaat bagi sekitarmu, dan bahagialah hidupmu, di dunia maupun akheratmu.

22 November 2012, Javas Resmi menjadi Aa Javas.
Februari 2013, setelah sembuh dari sakit.

Maret 2013, bermain cilukba bersama Aa Youri.

April 2013, nduut berkat ASIX.

Juni 2013, bersama sahabat tersayang, Aa Javas.



 
9 Agustus 2013

7 September 2013

Oktober 2013, udah kaya anak gede aja gayanya.
Nov 13, sudah setahun. Hobinya main air, merangkak naik tangga, & nyemburin makanan :D

Rabu, 13 November 2013

Mie Instan, Dicaci Tapi Dicari

Ketika jauh dari tanah air, Indomie salah satu yang dikangeni :)

Pulang ngaji sehabis Isya di masjid dekat rumah, Aa Youri langsung masuk ke dapur.

"Makan pakai apa Ma?"

"Itu udah mama gorengin ayam. Ada tahu juga." Cuma dua macem itu yang kumasak dengan sisa energi sepulang bekerja dan menempuh perjalanan macet melelahkan.

"Pengin makan yang berkuah Ma, Aa bikin Ind*mie aja ya? Aa makannya pakai nasi deh.."

"Jangan lah A.. Gak sehat. Mending beli capcay aja sana. Tuh lagi berhenti di depan rumah Pak Tomy."

"Gak mau ah.. Gak enak. Eh tapi Aa mau kalau mie. Aa beli mie goreng aja ya?"

"Ya udah deh sana... Jangan lupa bilang gak pakai pecin (maksudnya vetsin alias MSG :)) yaa..."

Dan gak lama kemudian pesanan Aa pun datang. Sepiring mie goreng hangat dengan aroma yang sangat menggoda, lengkap dengan acar timun, taburan bawang goreng, dan kerupuk. Eh tapi.. tapi... di balik kerupuk ituu... mie dan kawan-kawan pelengkapnya (baso, sosis, pokcay, kol, ayam) kenapa berwarna merah menyala gitu? Hadeuh.... saosnyaa...

Ini sih namanya lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Ehhh, pas gak nih pemakaian peribahasanya? Maksudnya gini, menghindari mie instan yang -katanya- gak sehat eh malah dapet mie yang sangat boleh diragukan kesehatan dan kelayakmakanannya. 

Gini nih akibat terprofokasi media. Takuuut banget makan mie instan (ya gak takut-takut amat sih, tapi minimal makan  mie instan sambil sedikit merasa bersalah. :)) tapi hantem aja makan / jajan masakan pinggir jalan, makanan kaki lima, yang gak ada jaminan kebersihan maupun kesehatannya, dengan tanpa rasa bersalah, atau dengan rasa bersalah di bawah rasa bersalahnya makan mie instan.

Coba lihat mie gorengnya si Aa ini. Mie yang dipakai merk apa, gak tau. Teregristrasi BPOM RI atau gak, ada ijin Menkes atau gak, dan ada label halal MUI atau gak, gak tau. Bisa jadi mienya mengandung bahan pengawet, pewarna, dan bahan lain yang tidak layak konsumsi. Belum lagi basonya, sosisnya. Mengandung borax atau formalin gak tuh? Saosnya? Hii... warnanya aja merah menyala gitu. Pengawet, pasti. Pewarna non makanan? Iyaa... sering lihat berita tentang itu.

Tapi... kok ya sering ya aku beli mie, kwetiauw, atau capcay (ngerasa beli 'makanan sehat' kalau beli capcay) di abang-abang yang lewat atau yang mangkal di pinggir jalan ya? Hadeuuh...

Kayanya mending bikin Ind*mie deeh... lebih murah, lebih enak, praktis, dan bisa 'dimodifikasi' menjadi sedikit lebih menyehatkan dengan penambahan telur, pokcay, dan tomat.

Eh tapi kan mie instan itu pencetus kanker? 
Kata siapa?
Kata BBM yang beredar... kata email yang diforward entah berapa ribu kali... kata ibu-ibu di grup.... kata... kata siapa ya?
Nah....
Bisa dipertanggungjawabkan gak tuh beritanya?

Banyaaaak banget berita beredar di jaman media sosial ini. Kita jadi mudah mendapatkan informasi. Tapi sayangnya tidak semua informasi itu benar dan dapat dipercaya.
 Tentang mie instan yang bumbunya gak boleh direbus, tentang tahu yang berbahaya bila dimakan bareng sama bayem, tentang timun yang gak boleh ini itu, tentang ancaman kalau tidak memforward pesan ini, tentang fatwa-fatwa dan hukum agama yang seolah-olah benar padahal gak jelas sumbernya, dll dsb.

Nah, tentang mie instan ini, karena penasaran kenapa begitu banyak yang 'benci' (tapi diam-diam rindu) beberapa bulan yang lalu aku cari-cari informasi. Seberapa berbahayanya sih?

Dan akhirnya kutemukan sebuah blog keren milik ibu Zullies Ikawati, seorang Profesor di bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik, lulusan S1 Farmasi UGM, doktor Ehime University School of Medicine Japan, dan menjadi profesor di usia 40 tahun! Ternganga-nganga aku baca tulisannya. Ya maklum lah aku awam dengan dunia farmasi dan bahan-bahan kimia. Tapi penjelasannya masuk akal dan nalarku. Langsung follow dong pastinya...

Dan artikel yang paling kucari selain tentang mie instan adalah tentang MSG. Penting ini. Walaupun di rumah aku sama sekali gak pernah masak menggunakan tambahan MSG maupun bumbu penyedap seperti mas*ko atau r*yco, tapi sehari-hari kami sekeluarga rasanya gak pernah lepas dari mengkonsumsi MSG ini. Yakin. Makan siang kami di kantin, catering sekolah, di restoran, jajan baso, somay, kerupuk, rasanya semua gak ada yang bebas MSG.

Pembahasannya tentang mie instan baca langsung di blog bu Zullies di sini ya..
Tentang MSG klik di sini.

Intinya begini, (ini kucopy dari blog bu Zullies) Monosodium glutamate atau  MSG adalah bentuk garam natrium dari glutamat. Jika MSG ditambahkan pada makanan, ia memberikan fungsi penyedap yang mirip dengan glutamat yang alami. MSG hanya terdiri dari air, natrium, dan glutamat. Glutamat dijumpai secara alami pada keju, susu, jamur, daging, ikan, dan berbagai sayuran. Glutamat juga diproduksi oleh tubuh dan merupakan senyawa vital dalam fungsi otak.

Tubuh kita bereaksi terhadap glutamate yang berasal dari MSG dengan cara yang sama dengan terhadap glutamate alami. Tubuh hanya akan mengenali glutamate, dan tidak membedakan dari mana asalnya,  apakah berasal dari keju, tomat, jamur, atau berasal dari MSG.

Glutamat akan diabsorbsi oleh usus melalui suatu system transport aktif ke dalam sel mukosa usus di mana mereka akan dimetabolisir menjadi sumber energi yang penting. Glutamate yang bisa mencapai sirkulasi darah sangat sedikit. Kadar glutamate dalam darah baru akan meningkat signifikan hanya jika glutamate dikonsumsi dalam jumlah besar (>5 g MSG), itupun akan kembali ke level normal dalam waktu dua jam. Konsumsi MSG sangat kecil pengaruhnya terhadap kadar glutamat pada ASI, dan MSG juga tidak bisa menembus plasenta. Glutamat juga sangat sulit menembus sawar darah otak.

MSG merupakan salah satu komponen makanan yang paling banyak diteliti. Telah banyak jurnal sains internasional  yang melaporkan tentang MSG dari segala aspeknya. Di banyak negara di dunia, MSG dilaporkan aman dikonsumsi.
   
Jadii..... Tentu saja pilihan kembali ke tangan kita, mau mengkonsumsi MSG atau tidak. Tapi dengan mengetahui apa sebenarnya MSG itu mungkin akan membuat kita lebih bijak memilih, gak kaya contohku di atas. Gak mau mie instan, pilih beli mie dorong yang lewat. Gak mau pakai MSG, tapi lupa bahwa ada bahan yang jauh lebih berbahaya dan gak layak konsumsi dalam sepiring mie goreng non MSG tadi. Ya, borax, formalin, pengawet, pewarna non makanan (ini sering banget ditemui loh..) yang tentu saja harus lebih diwaspadai daripada MSG yang gurih itu..

 




Senin, 28 Oktober 2013

Risoles Amerika Made in Bandung


Biasanya aku males bebikinan kue yang 'merepotkan' macam bikin risoles ini.  Kulitnya harus didadar satu-satu, diisi dan dilipat satu-satu, dibalur telur dan tepung panir satu-satu, baru digoreng. Maunya sih yang tinggal kocok-kocok campur-campur tuang kukus/oven/goreng, tapi setelah melihat resepnya Lianda Amarta yang kayanya gampang bikinnya dan simpel pula bahan-bahannya, (dan membayangkan lezatnya sepotong risoles hangat berisi daging asap keju telur dan mayones) tergodalah aku untuk mencoba bikin risoles yang bernama American Risoles ini. Mumpung lagi ada bala bantuan tenaga, Kakak Neysa lagi ada di rumah. Lumayan buat bantu-bantu ngaduk adonan :)

Dan ternyata gak seribet yang dibayangkan kok.. Memang kulitnya didadar satu-satu, tapi gak lama loh proses itu. Sesendok-sesendok tau-tau selesai tuh semangkuk adonan.

Dan karena kemarin cuma belanja di warung deket rumah, gak ada dong daging asap... ya sudah kuganti sosis saja. Tetep enyaaak... nyom nyom nyom..

Kulitnya lembab di dalam tapi crunchy di luar. Pakai tepung panir yang kasar, jadi renyah banget.  Enak deh... satu resep ini jadi 15 pcs risoles yang begitu mateng digoreng langsung tandas haha... Kapan-kapan bikin lagi aah....

Ini resep risoles mamanya Lia, sudah kukonversi jadi ukuran gelas tanpa timbangan.. kupersembahkan buat teman-temanku yang pada males nimbang nimbang hehe.. #nomention

Bahan kulit:
1 1/2 gelas tepung terigu (150 gr)
2 gelas susu cair (350 ml)
1 sdm mentega cair (krn males menyairkan cuma 1 sendok mentega jd kupakai olive oil dan kutambahkan 1/2 sdt garam)
1 butir telur + 1 kuning telur (putihnya dipakai untuk membalur)
Tepung panir kasar secukupnya
Bahan isi:
3 butir telur rebus
4 buah sosis (resep aslinya pakai daging asap)
Keju secukupnya
Mayonais secukupnya



Cara membuat:
  1. Campur terigu, susu, telur kocok, dan mentega cair, aduk sampai rata. Agar adonan benar-benar halus rata, boleh disaring.
  2. Panaskan wajan anti lengket, olesi dengan sedikit minyak goreng. Dadar adonan kulit tersebut satu persatu sampai adonan habis. Gunakan sendok sayur sebagai takaran.
  3. Potong-potong bahan isi sesuai selera. Susun telur, keju, daging asap/sosis di atas selembar kulit risoles, tambahkan satu sendok makan mayonais, lipat, sisihkan.
  4. Lakukan sampai seluruh kulit habis. Celupkan di kocokan putih telur, balurkan tepung panir. Simpan di freezer kurang lebih 10 menit agar tepung menempel sempurna.
  5. Goreng sampai berwarna kuning kecoklatan. Jangan pakai api kecil ya biar kulitnya renyah.. tapi jangan kegedean juga apinya, ntar gosong :))




Dan karena risoles lenyap dalam sekejap, sore-sore harus bikin camilan lagi dong.. Ada ubi ungu sisa oleh-oleh dari Pak Ucok -drivernya anak-anak- dari Cianjur. Pak ucok ini bukan orang Batak dan gak ada keturunan Batak sama sekali, asli orang Cianjur.  Entah kenapa dipanggil Ucok. :D

Ubi ungu yg biasa kubeli warnanya ungu pekat, cantik dibikin kue mangkok, tapi ubi dari Cianjur ini warna ungunya semburat saja. Dominan putih. Tadinya males bikin kue karena yakin hasilnya gak akan cantik, gak mencerminkan yang bikin banget tapi karena gak ada bahan lain lagi sore kemarin yasudahlah kubikin kue mangkok saja. Rasanya tetep enak kok cuma warnanya aja yg kurang cantik.

Yang mau resep kue mangkok ubi ungu boleh resepnya klik di sini.

Bandingkan warna ubinya...
Dan bandingkan warna kuenya..

Jumat, 25 Oktober 2013

Don't Compare Yourself to Anyone



Sambil sarapan pagi menikmati sepiring gudeg Yogya di warung tenda pinggir jalan Wastukencana, Yulie -temanku- bercerita, lebih tepatnya menceritakan seorang teman seangkatan kami yang sekarang sudah menjadi seorang pejabat eselon 3. Aku dan Yulie ini temen seangkatan, sama-sama kuliah di sebuah sekolah kedinasan di Jurangmangu, di pinggiran Jakarta Selatan. Si teman ini, sebut saja A, seorang ibu seperti kami juga. Wow... Tentu dia bisa terpilih dan menduduki jabatan itu karena prestasinya. Karena jabatan dan kedudukannya itu, A ini sering bepergian / bertugas ke luar negeri, ini yang bikin ngiri. Kerjaan dan tanggung jawab mah gak ngiri ya, hahaha.... Dan di sela-sela obrolan, di antara 'wow' dan 'wow', terselip kata-kata "Kok kita masih gini-gini aja ya?"

Hmm.... Jadi inget tulisan Sondang yang judulnya kucontek jadi judul tulisan ini. Tulisan lama sebenernya, tapi kubookmark karena rasanya sewaktu-waktu perlu kubaca ulang, untuk men'jewer' diriku sendiri.

Bagaimana gak serasa dijewer?
Amat sering kubandingkan diriku dengan teman-temanku yang 'wow' dan 'wow' itu. 'Wow' karirnya, 'wow' pendidikannya, 'wow' keberhasilan mendidik anaknya, 'wow' cantik awet muda dan langsingnya, dan 'wow'-'wow' lainnya.

Ada Nur Ana, teman seangkatanku di Jurangmangu, temen selingkaran waktu jaman mentoring-mentoring dulu (tapi dia rajin sedangkan aku bolos-bolos kabur melulu hihi..) yang sekarang sedang melanjutkan studi S3 di Melbourne Australia, mengejar mimpi-mimpinya. Huhuhu... asik banget kan ya, tinggal di negara maju, menikmati dan menjalani hidup dengan sesuatu yang berbeda, menambah kaya pengalaman dan wawasan. Sedangkan aku? Lulus S1 pun sudah alhamdulillah... mau melanjutkan kuliah S2 saja kok rasanya sudah penuh isi kepala, sudah gak sanggup menampung isian ilmu-ilmu dan angka-angka lagi... Eh ya, Nur ini juga penulis. Bukan penulis blog abal-abal seperti aku ini, tapi penulis buku yang bisa menjadi referensi para akademisi. Dan penulis blog yang membahas tentang keuangan daerah / pemda. Ini linknya. Keren kan?

Ada lagi Sonne, teman seangkatan juga di Jurangmangu. Tentu saja dia ibu bekerja sepertiku. Ya, karena kami lulusan sekolah kedinasan. Bekerja full time dari pagi sampai sore, sama sepertiku. Anaknya empat, sama sepertiku. Akan tetapi bedanya, anak-anaknya Sonne ini terlihat sekali terurus dan terdidik dengan baik, walau beribukan seorang ibu bekerja. Anak-anaknya pintar dan berprestasi, shaleh dan shalihah. Hafidz, hafalan Qur'annya sudah 7 juz, padahal masih kelas 5 SD. Wow... anakku yang hafal 2 juz aja suka kupamer-pamerin, padahal murni itu hafal dari didikan sekolah, gak ada kontribusiku (lha wong hafalanku cuma surat-surat pendek). Ini hafal 7 juz pasti kontribusi orang tuanya kan? Gak ada lah SD yang target hafalannya sampai 7 juz gitu. Duh... bener-bener jadi malu. Jangankan menambah pelajaran sekolah/menambah hafalan, mengecek PR anak-anak saja jarang kulakukan.


Dan ada lagi yang bikin iri, Ani. Ani ini teman sekamarku saat kost di Jurangmangu. Kami berteman sejak SMA, karena kami satu sekolah. Sebenernya sejak SMP pun aku sudah mengenalnya. Walaupun beda sekolah tapi rumah kami sama-sama di daerah Wetan Elo di Magelang sana, dan kami sering ketemu di jalan atau di dalam angkot yang sama-sama kami tumpangi. Sesama lulusan Jurangmangu, Ani ini pun bekerja full time as PNS sepertiku, Nur Ana, dan Sonne. Dan selain bekerja sebagai abdi negara, Ani ini punya bisnis sampingan. Punya butik baju muslim dan salon jilbab yang operasionalnya dijalankan oleh adiknya. Bukan butik kecil-kecilan. Ibu Gubernur, Ibu Walikota, Ibu-ibu anggota dewan, dan banyak hijabers lainnya yang menjadi pelanggan tetapnya. Aneka fashion show di mall, di hotel, pemotretan untuk majalah, syuting untuk acara televisi, menjadi kesibukan Ani saat ini. Apalagi saat Ramadhan dan menjelang Lebaran kemarin. Banyak proyek yang bahkan terpaksa harus ditolaknya.
Sempat kuledek dia, "An... gak nyangka ya, kamu tu dulu mandi aja males, sekarang bisa cantik kaya artis gitu, ngetop, dan gaulnya sama sosialita..." hahaha.... kami hanya tertawa bersama.
Siapa yang gak iri coba? Di jaman sosial media sekarang ini, di saat semua orang hobi narsis dan mengupload foto-foto diri, Ani ini bisa tiap saat dandan cantik, difoto oleh fotografer profesional, dan masuk media massa (bukan media pribadi macam fesbuk atau instagram kita ihik..) dan dia MENDAPATKAN PENGHASILAN dari situ. Inget kata-kata Oprah? Doing something you love, and got paid for that, what else could be more fun? Huhuhu... jadi pengin kaan?

Ani di salah satu tabloid.
Dan banyaaaak lagi teman-temanku yang kujadikan benchmark. Tentu saja kuambil pembanding dari temen-temenku yang berlatar belakang kurang lebih sama dan yang ibu-ibu lah ya.. Kalau dia laki-laki dan karirnya sudah jauh melesat, aku gak merasa terintimidasi sama sekali :)

Yak mari menghela nafas dulu.
Seperti yang ditulis Sondang, ketika kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, dan kita kalah (jauh pula kalahnya), yang muncul adalah rasa minder (dan terintimidasi katanya :)) dan kemudian disadari atau tidak kita jadi mencari-cari kekurangan si teman, hanya UNTUK MEMBUAT KITA MERASA LEBIH BAIK.

Ah kalau ibu-ibu ngejar karir/ ngejar studi/ ngejar penampilan, pasti rumah tangganya gak terurus. Suaminya gak diperhatikan. Gak bisa masak. Deelel deesbe dan sejuta kenyinyiran lainnya.

Padahal tidaak..... Lihatlah contoh tiga temanku di atas. Diantara kesibukan mereka, anak-anak mereka tetap terurus dan terdidik dengan baik. Dan mereka bukanlah ibu-ibu yang ogah beranak banyak dengan alasan ogah repot atau takut karirnya terganggu. Mereka ini ibu-ibu beranak lebih dari dua.

Dan mana itu bukti bahwa ibu-ibu yang pintar sekolahnya, maju karirnya, gak bisa masak?
Sondang contohnya. Sekolah S2 di ITB dengan beasiswa (dan seleksi untuk mendapatkan besiswa ini ketat banget... susyaah dapetnya), beranak 3 yang semuanya terdidik dengan baik, aktif menulis di blog dan beberapa komunitas, menjadi co-writer untuk beberapa sinetron, dan... dan... tanpa ART di rumahnya, dia tetap memasak makanan sehat untuk anak dan suaminya. Bahkan bekal makan siang suaminya pun dia siapkan sendiri setiap pagi. Aku salut padamu, Mamak Sondang.

Ani ini beranak empat, menjalani long distance marriage karena suaminya bekerja di luar pulau sana, kebayang kan repotnya (aku masih mending kan, beranak empat tapi bisa berbagi tugas dengan suami.) Dan dia ini pintar memasak loh...Dan mengalami juga masa-masa ART-less seperti kita. Jadi ya nyuci nyetrika ngepellah dia dengan jari lentik dan kuku cantiknya. Dan dia BISA. Dan dia tetap menjadi pribadi yang humble dan bersahaja dibalik 'gemerlap' penampilannya. Oh, I love you An...

Si cantik anak kedua Ani yang ikut membantu bisnis mamanya sebagai model.

Ini kukutip dari blognya Sondang:
Sebenernya kalo hati kita merasa nggak nyaman atau minder saat ada orang lain yang terlihat lebih segalanya dari kita (karir dan kehidupan pribadi aka keluarga ), artinya bisa jadi sebaliknya, kita akan merasa sombong saat ada orang lain yang terlihat kurang dari kita. Bukankah begitu? Harusnya kita tetap merasa bersyukur, nggak perlu dipengaruhi apakah orang lain terlihat lebih atau kurang dari kita kan.
Setiap  orang punya ‘beban’ yang harus dipikulnya masing-masing. Setiap keluarga punya ceritanya masing-masing. Dan rugi saja kalo kita membandingkan dengan orang lain. Selain nggak ada gunanya karena life is too short to fill with wishing I were as rich-as smart-as lucky-as beautiful-as other people, dan secara emosional akan bikin kita lelah karena bisa bikin kita either sombong atau minder.

Selain gak adil kalau kita hanya melihat hasilnya tanpa melihat proses mereka mendapatkan hasil itu (Kita gak lihat, mungkin di saat kita leyeh-leyeh tidur tiduran Nur Ana sedang berkerut-kerut keningnya menyelesaikan proyek disertasinya. Saat kita tertidur pulas, mungkin Sonne sedang menghafal Al Qurannya. Saat kita bermalas-malasan di depan TV mungkin Ani sedang sibuk mentraining karyawan, atau memikirkan inovasi untuk butiknya. Saat melihat tontonan yang sama, kita malas berfikir sedangkan Sondang harus mencari inspirasi untuk bahan tulisannya. Dll dsb... masa kita mengharapkan hasil yang sama untuk usaha yang jauh berbeda?) kita boleh lega Sang Maha Adil tidak meletakkan kebahagiaan HANYA pada banyaknya harta, bagusnya rupa, atau tingginya tahta. Kebahagian boleh dimiliki oleh siapa saja, bahkan oleh orang biasa sepertiku. Alloh meletakkan bahagia pada hati-hati yang bersyukur. Ya, BERSYUKUR, itu intinya.

Salah satu dari 7 indikator kebahagiaan dunia menurut Ibnu Abbas adalah Qolbun Syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Dan pasti masing-masing kita memiliki amat sangat banyak hal yang harus disyukuri, tinggal memanage hati agar mau selalu bersyukur.
Setiap orang Alloh ciptakan sepaket dengan peranannya. Kita tinggal menjalaninya. Mau pilih mana? Menjalani dengan hati bahagia penuh syukur, atau menjalani dengan hati iri dengki, keluh kesah dan rasa nelangsa?
Mau bahagia kan? Ajak hatimu untuk selalu bersyukur.
Mau ada pencapaian lebih, gak gini-gini aja? Lebihkan juga usaha dan doamu.
Yuuuk..... :))


*Tulisan ini kupersembahkan untuk sahabatku, Ani Fatihah, yang hari ini berulang tahun. Happy birthday my dear... semoga barokah sisa umurmu, makin maju bisnisnmu, makin cantik, dan terus menginspirasi.

The birthday girl. Maaf ya An, kuambil foto2 dari DPmu tanpa ijin :D
Ini alamat butiknya, kupromosiin di sini siapa tau aku tiba-tiba dapet kiriman dress cantik hahaha..
Kamila Butik dan Salon Jilbab
Jl. Majapahit 150/7 Semarang
085656025020
www.kamilahijab.com  (tapi kayanya webnya ini masih dalam proses development.. belum banyak koleksinya)




Rabu, 23 Oktober 2013

Ya, Saya Ibu Beranak Empat

Baru 3, belum empat2nya naik ke punggung, itu pun sudah nyengir keberatan.
Beberapa hari yang lalu, saat jam istirahat siang aku pergi ke sebuah supermarket di dekat kantorku (mudah ditebak, pasti ke Yogya RJ :)) untuk beli susu Pedia**** buat  Javas yang baru sembuh dari sakit dan masih susah makan. Di lorong susu itu, seorang SPG susu (terlihat dari logo di bajunya) menghampiri dan menyapaku dengan ramah, "Putranya usia berapa tahun Bu?" Di keranjang belanjaku ada 3 merk susu. Selain pedia**** buat Javas, ada susu rasa vanila karamel buat para abege dan susu formula penyambung ASI buat Jindra.

"Maksudnya anak yang mana Mbak? Anakku ada 4 loh.. Ada yang sudah 15 tahun, ada ada yang masih bayi 10 bulan."

Sebenernya gak perlu pamer anak juga kali ya, tapi entah kenapa kujawab begitu si mbak SPG tersenyum saja dan mundur, gak jadi 'presentasi' produknya. Hehehe.... Mungkin yang ada di pikirannya ibu-ibu beranak 4, sudah gede-gede, percuma aja dibujuk ditawari susu ini, pasti sudah punya pilihan sendiri untuk anaknya, sudah pengalaman..

Atau jangan-jangan ini yang ada di pikirannya, ibu-ibu beranak empat, pasti pusing ngatur uang belanjanya, percuma saja nih dibujuk untuk beli susu ini, duitnya pas-pasan.. hahaha...

Atau, apa ya kira-kira yang menyebabkan si mbak SPG gak jadi menawarkan produknya? Ih ngapain juga mikirin ini yaa.. Kurang kerjaan amat.

Jadi, terprofokasi oleh tulisannya Baginda Ratu Tentang Anak Ke-4 baiklah aku tuliskan, gimana ceritanya sih, kok bisa anaknya 4, dua gede-gede dan dua kecil-kecil? <- ini pertanyaan yang seriiing banget aku terima.

Sebenernya, sejak awal menikah aku sudah pengin punya anak 4, 2 laki-laki dan 2 perempuan, seperti anak-anak ibu bapakku. Sementara itu suamiku ingin kami beranak 5, ya sama lah... seperti anak-anak mertuaku yang 5 orang juga. Tapi ketika Youri lahir di saat Neysa baru berusia 2 tahun lebih 2 bulan, kami memutuskan untuk menunda punya anak lagi. Repoott... terutama urusan mencari pengasuh yang cocok untuk anak-anak. Padahal urusan pengasuh anak adalah urusan paling penting untuk ibu bekerja sepertiku. Jaman itu belum kepikiran daycare, entah karena memang belum tersosialisasikan seperti jaman sekarang, atau memang gak kepikiran sama sekali.

Ketika Youri sudah mulai masuk TK (dan sekolah full day) ketergantungan kami kepada ART hampir gak ada. Jadi saat ART gonta ganti atau bahkan gak ada sama sekali, kami gak terlalu pusing. Dan kami pun merasa cukup dengan ART yang datang pulang pergi beberes rumah nyuci nyetrika saja. Semua aman terkendali.

Kondisi nyaman ini semakin bertambah ketika tahun 2007 aku pindah kantor yang hanya berjarak 20 menit dari rumah. (kalau naik motor mungkin malah cuma 10 menit). Dan Youri mulai masuk SD, satu sekolah dengan Neysa, yang jarak tempuh dari kantorku ke sekolah mereka cuma sekitar 5-10 menit saja.

Dan kemudahan semakin bertambah ketika ada SK mutasi dan ternyata suamiku pindah, SEKANTOR DENGANKU (belakangan diralat). Setiap hari kami berangkat berempat, ngabsen dulu di kantor, lalu aku/suamiku antar anak-anak ke sekolah, dan jam setengah 8 pun sudah ada di kantor lagi. Sore hari jemput mereka jam 4.30, dan mereka nunggu di parkiran atau di kantin sampai kami pulang jam 5.

Setiap hari begitu, berempat ke mana-mana. Jalan-jalan weekend pun berempat. Dan saat itu sama sekali gak kepikiran buat nambah anak lagi. Sudah nyaman begitu. Dalam hati sih tetep pengin punya anak 4, tapi entah kapan. Tidak untuk saat itu. Ngebayangin repotnya punya bayi dan balita lagi...? Oh tidaak... belum lagi puyengnya masalah nyari pengasuh yang cocok, ngebayangin stressnya ketika ART tiba-tiba minta pulang, ah, nanti dulu deh punya anak lagi...

Tapi di sisi lain aku gak KB karena takut nyoba pil ato suntik, takut gak cocok. Pernah pasang IUD waktu habis lahiran Neysa tapi gak cocok jadi kapok. Untunglah jadwal mensturasiku teratur jadi gampang menghitung masa subur. Jadi kupakailah KB 'sistem kalender'. (Gak perlu jelasin yang ini paham kan ya?) Jadi ya meskipun dalam kondisi nyaman itu kami belum kepingin nambah momongan lagi, tapi kami juga siap kalau sewaktu-waktu ternyata aku hamil lagi. Dan ternyata sistem kalenderku berjalan aman sentausa saja tuh... (kehendak Alloh tentu saja).

Dan tiba-tiba kondisi nyaman tenteram itu berantakan. Ada SK baru (hanya sekitar 3 bulan dari SK kepindahan suamiku) yang mengharuskan suamiku pindah ke Kebumen dan aku pindah ke kantor yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah! Huaaa... bener-bener nangis nerima SK itu. Yang kepikiran tentu gimana ini anak-anak? Sekolah dianter siapa? Pulang sekolah di rumah sama siapa? Dan akhirnya kami butuh ART yang nginep lagii... dan seorang driver untuk antar jemput anak-anak. Alhamdulillah dua-duanya mudah kudapat. Rejeki.

Suamiku pulang seminggu sekali. Dan apa kabar itu KB sistem kalender? Bubar jalanlah yaa.. Masa sih udah ketemunya cuma seminggu sekali masih pake tanggal-tanggal larangan pula. Singkat cerita, hamillah aku. Kehamilan yang benar-benar disambut dengan suka cita oleh semuanya. Neysa, Youri, bahagia mau punya adik lagi. Suamiku, jangan tanya gimana senengnya. Bahkan di minggu-minggu setelah tanggal masa subur itu, suamiku tiap hari nanya, "Udah beli test pack?". Ealaah... mau ngetes apaan sih, baru juga kemarin. Dan ketika tanggal yang seharusnya aku mendapat mens ternyata tidak, aku test urinku dan ternyata (sudah sangat diduga) positif, suamiku langsung nelpon dong, nyuruh aku segera ke dokter kandungan. Di dokter kandungan, pertanyaan pertama dokter pun kujawab dengan gugup.. "Sudah telat (menstruasi) berapa hari Bu?" Errr... mmm.... belum telat sama sekali, hahaha....

Dan kelahiran bayi Javas membawa keceriaan baru di rumah. Rumah yang biasanya rame oleh omelanku terhadap dua anak gede itu (biasa kan ya, ibu-ibu mah cerewet dan galak ke anak-anaknya), sekarang rame oleh ocehan bayi. Neysa dan Youri pun seperti melihat sisi lain ibu mereka yang selama ini galak dan cerewet, ternyata begitu penyayang dan lemah lembut terhadap adik bayi mereka. Dan mereka seperti tersadar, bahwa sebenernya mereka pun disayang, dan mereka pun tahu bahwa saat mereka bayi mereka juga pasti disayang. Ini kusimpulkan dari pertanyaan polos Youri dan Neysa waktu itu, "Ma, waktu Kakak /Aa bayi dulu digituin juga gak?" Pertanyaan yang diajukan ketika mereka melihatku mengurus bayi Javas, dibedong, diurut, diminyakin, dikelonin, digendong-gendong, segala ditanya, aku dulu digituin juga atau gak. Hiks.....

Kehadiran bayi (yang sudah menjadi balita) yang sepaket dengan kebahagian dan kerepotannya itu membuat kami ingin menambah satu bayi lagi. Dan Alloh menganugerahi kami bayi Jindra, pembawa kebahagiaan berikutnya, saat Javas berumur 3 tahun 2 bulan.


13 tahun 9 bulan, jarak umur anak ke-1 dan ke-4

Setelah Jindra masih mau nambah lagi? Inget umur Buuu.... Suamiku yang tadinya pengin kami beranak 5 pun jadi merasa cukup dengan 4 anak saja ketika melihat aku dan kehamilanku yang keempat kemarin. Kasihan, katanya.. Ya iyyalah... beda banget stamina kehamilan ibu berumur dua puluhan awal dibanding dengan kehamilan saat aku berumur tiga puluhan menjelang akhir. Jadi, sudah cukup rasanya kami beranak 4 saja. (Ya Alloh cukupkanlah 4 anak ini bagi kami....)

Repot? Yaa itu relatif, gimana kita pinter-pinter ngatur waktunya.
Capek? Iya sih, tapi kan terganti oleh kebahagiaan melihat senyum lebar dan bening mata mereka.
Kebahagiaan dan pelajaran, itu pasti. Setiap anak membawa kebahagiaan. Setiap anak membuatku belajar, satu diantaranya adalah bahwa mereka merepotkan tidak akan lama, bahwa mereka menguras energi kita hanya sebentar saja. Lihatlah itu Kakak dan Aa... tau-tau mereka sudah gede saja.

Marah karena anak-anak balita itu gak ngerti-ngerti, susah diatur, dan gak mau ikut aturan? Aturan siapa Mama? Aturan di dunia mereka tentu berbeda. Dan kenapa kita mengharuskan mereka ikut aturan kita sementara kita gak mau ngerti aturan mereka? Dan melihat Kakak dan Aa, kemudian melihat Javas dan Jindra... terpampang nyata betapa ternyata anak umur 4 tahun itu masih kecil... kenapa dulu sudah kuterapkan banyak aturan dan tuntutan untuk anak sekecil itu? Harus ini itu begini begitu...hiks..

Kesal karena ngerasa gak punya me time, ke mana-mana harus sepaket dengan bayi di gendongan, gak bisa jalan-jalan sama teman karena buntut berderetan di belakang? Lihatlah itu Kakak dan Aa... betapa susahnya ngajak mereka jalan-jalan bersama kita sekarang...

Kehabisan kesabaran gara-gara rumah berantakan, makanan bertumpahan, mainan berceceran? Sabar Mama... karena... karena.... ternyata membuat rumah berantakan itu tetap dilakukan oleh anak-anak bahkan sampai mereka sudah abege sekarang... hahaha.... Mau marah-marah sepanjang usia mereka dari balita sampai remaja? *plaakk.... aku tertampar.

Jadi, menambah anak membuatku belajar makin sabar. Percaya deh, makin banyak anak makin penyabar. Lihat tuh Mbak Titi... anaknya 5 dan kesabarannya seluas samudra kan?
Tanpa kesabaran, hanya penyesalan yang kita dapat.

Sungguh, bukan berarti sekarang aku penyabar menghadapi anak-anakku... masih belajar juga kakaaak...
Hanya saja aku tidak terlalu terprofokasi lagi oleh berbagai macam teori tumbuh kembang maupun teori parenting itu. Tetap kubaca, tetap kupelajari dan kupraktekkan, tapi gak menjadi stress (dan marah-marah, dan anak-anak juga pelampiasannya) ketika anak-anakku tidak sesuai benchmark teori-teori itu. Setiap anak berbeda, dan tidak semua anak cocok dengan teori A misalnya. Mungin dia cocoknya dengan teori B, atau malah teori Z. Eh ya, ilmu tumbuh kembang dan parenting itu terdiri dari berbagai aliran dan teori juga kan? Yang mana antara teori satu dengan lainnya kadang gak cocok... Ya seperti teori tentang makanan sehat atau diet ituu.. Diet konvensional menyarankan makan malam buah-buahan saja, diet food combining mengatakan buah dimakannya pagi-pagi. Yang bener yang mana? Gak bisa dikatakan salah satunya salah kan yaa.... Dua-duanya bener. Tapi kalau dua-duanya diikuti ya pingsanlah aku... pagi cuma makan buah, malam pun cuma buah juga. Apalagi kalau makan siangnya kuikuti teori diet golongan darah, yang melarangku makan ayam, daging dll... misalnya.

Sekarang ini lebih kubiarkan anak-anakku tumbuh dengan santai, karena semua ada masanya. Gak mau tidur sendiri? Ah, nanti juga ada masanya dia gak mau lagi tidur bareng kita. Susah lepas ngedot dari botol? Ada masanya dia malu minum dari botol. Tugas kita sebagai orang tua hanyalah menyiapkan dia SIAP menghadapi masa-masa itu, bukan mempercepatnya.

Jadii... bagaimana Baginda Ratu? Siap untuk anak keempat?  :)))


Kamis, 17 Oktober 2013

Banana Choco Vanila Muffin

Kalau gak punya loyang muffin gak usah khawatir.... bisa pakai loyang / cetakan bolu kukus yang bolong-bolong itu... asal cetakannya tidak terbuat dari plastik lho yaa.... Kalau gak punya juga, tetep bisa bikin muffin kok... pakai muffin cup kertas, dan ditaruh di atas loyang biasa. Muffin cupnya kaya yang di gambar muffin pisang di atas itu yaa... klo yang gambar lain-lainnya aku pakai paper cupnya bolu kukus... Kalo pakai ini ya wajib pakai loyang muffin biar gak mbledrek adonannya :))

Selasa, 08 Oktober 2013

Kabayan Saba Kota

Sebenernya ini cerita lama, dan masuk folder draft juga sudah lama, tinggal rapi-rapiin dikit dan klik tab 'publish' saja sih sebenernya, tapi gak sempet-sempet aja... Basi gak ya? Mudah-mudahan sih masih enak.. #apasih

Jadi ceritanya pada sebuah hari Sabtu kami ke rumah Eyang Jakarta. Selain mengunjungi Eyang, liburan kali ini bisa disebut 'piknik', jalan-jalan ke kota doong... Nurutin keinginan Javas, naik busway  alias bus Trans Jakarta :D

Berangkat Sabtu siang dari Bandung (karena nunggu Aa Youri pulang sekolah) dan belum apa-apa sudah kena macet di Jl. Ciwastra. Alhasil kami baru masuk tol Buah Batu jam 1 siang, padahal berangkat dari rumah sebelum dzuhur.

Istirahat sholat dan makan siang di Rest Area KM 97 Tol Cipularang. Masjidnya bagus dan bersih, suasananya pun enak. Pilihan tempat makan pun banyak, kami memilih makan di Soto Sadang. Rame dan penuh, kupikir karena sotonya yang lezat... Tapi kata Aa Youri yang pesen sop iga, "Enakan sop bikinan Mama." Hihi... (maaf ya pemilik RM Soto Sadang... anak-anak memang begitu,, apa-apa pasti Mama deh yang paling top... :))

Bola Terbesar (dan terberat mungkin) di Indonesia. Bola ini mengapung dan berputar di atas air.

Bayi pun kagum pada bola raksasa itu....
Sampai rumah Eyang sore menjelang maghrib, karena ternyata menjelang masuk Jakarta pun macetnyaaa.. 

Hari Minggu pagi jalan-jalan (ini beneran jalan kaki loh dari rumah Eyang) ke CFD (car free day maksudnyah :)) Sudirman, sayang lupa gak bawa sepeda.

Olah raga? Enggak... sarapan bubur, hehe... Tampilan buburnya beda dengan bubur ayam Bandung. Ayamnya dicincang dadu, bukan disuwir, dan ada taburan soun gorengnya.

Bubur ayam CFD.


Menara Da Vinci.
Para bikers di CFD Sudirman.
Javas happy main helikopter hadiah dari Eyang.
Setelah sarapan, naik buswaaay......
Emang mau ke mana? Gak ke mana-mana. Bener-bener CUMA naik busway. Dari Halte Setiabudi, turun di halte terakhir di Kota, trus naik lagi (dan gak bayar lagi dong, kan gak keluar halte) dan turun di Halte Karet. Gak turun di Setiabudi lagi, karena sudah siang, panas, jadi males jalan lagi ke rumah Eyang, dan kami naik angkot.

Bener-bener piknik yang murah meriah, cuma bayar tiket  Rp 3.500 saja per orangnya. Dan inilah foto-foto kenorakan orang kampung yang piknik ke kota hahaha....


Halte Trans Jakarta Setiabudi, masih agak lengang, Javas lari-larian.
Wajah-wajah belum mandi mejeng di atas jembatan busway.
Javas (dan para abege) seneng banget nemu mesin minuman ini, kaya di luar negri katanya haha... Di sini harga aneka minuman botol itu cuma 5 ribuan, sedangkan di pinggir jalan di CFD tadi 8 ribuan.

Duduk nyaman di dalam bus, di ruangan khusus wanita, bersama dua LAKI-LAKI :D
Dan puaslah Javas hari itu, keturutan keinginannya naik bus. Siangnya adikku Shofa dateng. Eh ya Sabtu sore kemarin Maya juga dateng, pada belum lebaranan sama Eyang Setiabudi katanya... Halah-halah Lebaran udah lewat kapan tahun kali... Maafkan adik-adikku ini Eyang...

Adiknya Jindra nih, Zafran. Selisih 6 bulan umurnya.
Minggu sore capcuss ke Bandung, dengan oleh-oleh bejibun :D
Ada bolu ketan hitam (yang diaku Javas sebagai kue ultahnya :)), aneka kue Lebaran (dibikinin lagi dong...), lontong request anak kesayangan, tahu tempe bacem siap goreng, risoles, cumi, teri daan semuanya dibikinin tanpa dibantu oleh menantu / adik ipar yang gak sopan ini. 

Oleh-oleh :9
Alhamdulillah perjalanan pulang sangat lancar, cuma 2 jam saja dari rumah Eyang sampe rumah kami di Bandung coret. Gak banyak berhenti, cuma mampir di Rest Area KM 19 saja beli bensin dan mampir di Drive Thru-nya Burger King.

Wajib mampir ke sini kalo pergi bareng para abege.
Dan berhubung dapet kue ultah gratis (kue ketan item ituu..) jadi anggaran kue bisa dialihkan ke snack bingkisan untuk teman-teman Javas di DC.

Si Tipco diskonan muncul lagi di sini hihi...

Kebetulan di kulkas masih ada roti Sponge Bob, ya sudah kutempelin saja di atas 'kue ultah' Javas biar agak cantik dan terlihat seperti kue ultah beneran... Sayang roti Patricknya sudah dimakan.. coba kalo sepasang kayanya lebih cantik deh kuenya..


Lihat deh bayi ituu... gak sabar pengin 'ngrues-ngrues' kue, hihi...

The birthday boy and his cute brother.
Sekian ceritanya, mudah-mudahan belum basi, masih bisa dinikmati :))



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...